
Sebulan berlalu tanpa terasa. Laura beranjak dari duduk santainya di ruang keluarga ketika deru suara mobil Sabiel terdengar memasuki teras apartemen.
Laura langsung menyambut suaminya di depan pintu. Udara menjelang malam yang mulai dingin membuatnya mengeratkan jubah piyamanya. Rambutnya terikat dengan acak, sementara kacamata baca bertengger manis di hidung mancungnya.
Kedua tangannya menyilang di depan dada. Senyuman semanis madu ia tunjukkan pada lelaki tampan yang kini tengah menatapnya lembut begitu pintu mobil terbuka.
"Mereka sudah pergi?" tanya Laura.
Sabiel baru saja mengantar keluarga Laura ke stasiun Kota Bandung. Hari itu mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah cukup lama membuat ramai apartemen itu.
Sabiel mengangguk, "Sudah. Aku menunggu mereka sampai kereta api berangkat" ujarnya sembari menyematkan kecupan di bibir ranum istrinya.
Sabiel membawa Laura masuk dengan merangkul pinggangnya. "Apa yang ayah katakan padamu? Ayah pasti mengatakan sesuatu, bukan?!" tanya Laura.
Sabiel tersenyum lembut, "Ya. Kau benar. Ayah memang mengatakan sesuatu padaku"
"Apa itu?"
"Dia mengatakan bahwa aku harus memperlakukanmu seperti seorang ratu. Menjaga hatimu agar selalu bahagia bersamaku" ucap Sabiel mengingat pesan mertuanya.
"Berlebihan" cibir Laura.
Sabiel menghentikan langkahnya tepat di hadapan anak tangga. Sorot matanya menghangat menatap bola mata coklat yang kini menatapnya penuh tanya.
"Tidak berlebihan untukku. Apa yang ayah katakan, sesuai dengan apa yang ingin aku lakukan padamu" ujar Sabiel membelai lembut pipi Laura.
"Ish! Dasar gombal!" ledek Laura dengan pipi merona.
Tiba-tiba Sabiel merunduk, dan langsung mengendong Laura ala bridal. "Kau ratuku. Tidak ada kegombalan dalam ucapanku" ucapnya lirih di cuping telinga istrinya.
Laura yang tengah meredakan malu, melingkarkan tangannya pada leher Sabiel. "Kau rajaku, dan tak ada kegombalan pula dari ucapanku" balasnya sebelum ia mengecup bibir suaminya.
Sabiel mengangkat alisnya, seringai tipis terlukis dalam paras maskulinnya. "Kita sudah bisa bercinta dengan tenang kan, sayang?" ucapan vulgar membuat Laura tersipu malu. Wanita itu mengangguk perlahan.
Persetujuan tersirat Laura membuat Sabiel melangkah sedikit tergesa menaiki anak tangga. Lelaki itu ingin segera sampai di dalam kamarnya. Sejak kepulangan Laura dari rumah sakit ditambah kehadiran keluarga Laura. Sabiel bersusah payah mengendalikan keinginannya untuk menyatu bersama istrinya. Kini setelah semuanya kembali seperti semula, tentu lelaki itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memuaskan bahaga erotisnya akan tubuh indah Laura.
Sabiel meletakkan Laura di atas ranjang dengan lembut. Lalu ia menyusul merapatkan diri di atas tubuh istrinya. Ia menjadikan sikunya sebagai tumpuan agar Laura tidak tertindih berat badannya. Kedua mata mereka bertemu, saling terikat oleh rasa rindu akan sentuhan sensual yang lama terpendam.
Laura kehilangan konsentrasi ketika bibir kenyal Sabiel berlabuh perlahan disela bibirnya. Wanita itu membiarkan kedua tangan suaminya bergerak serampangan melucuti piyama yang melekat di tubuhnya.
Ciuman Sabiel mulai tak terkendali, lidahnya menyusup dan melilit lidah Laura dengan begitu merajuk. Bunyi decak pertautan bibir membuat siapapun akan merasa malu jika mendengarnya. Laura mengalungkan kedua tangannya di leher Sabiel. Mengeratkan kepala suaminya agar ciuman itu semakin dalam.
Bola mata Sabiel berkabut menatap kelopak mata terpejam Laura tepat di depan matanya. Lelaki itu begitu mencintai segala yang Laura miliki. Mata bulat coklat, hidung mancung mungil, bulu mata lentik, aroma tubuh Laura, bahkan rasa manis dari bibir Laura yang ingin terus Sabiel cecap. Ah, Sabiel sudah lama tergila-gila pada jelemaan bidadari ini.
Kulit mulus Laura selalu berhasil melumpuhkan batas kewarasannya. Kedua tangan Sabiel benar-benar dimanjakan oleh kelembutan kulit istrinya. Tangan itu bergerak gemulai menggerayangi tubuh polos Laura. Merangkup dua bukit kembarnya, memainkan puncak Laura dengan gerakan erotis yang selalu Laura rindukan.
__ADS_1
"Hmmm"
Tubuh Laura bergerak naik turun dengan penuh nikmat. Bola matanya terpejam. Bibir merekah itu berkali-kali mengeluarkan suara kenikmatan. Sabiel menyeringai ketika mendengarnya, lelaki itu belum puas membuat tubuh Laura meremang. Ia ingin melakukan hal yang lebih. Ia ingin Laura menggila bersamanya malam ini.
Bibir keras nan basah itu bergerak meninggalkan tempat pertapaannya dalam rongga mulut Laura. Bibir itu menyusuri dagu dan leher Laura, lalu berhenti tepat di tengah kedua bukit untuk menyematkan tanda cinta disana. Tak berapa lama, bibir itu kembali turun, membuat gerakan melingkar dengan lidahnya di area perut sebelum kemudian menghentikan perjalanannya di area sensitif Laura.
Tubuh mungil itu melenting seketika, jemarinya meremas seprei dengan kuat, ketika lidah Sabiel bergerak merayu dan memujanya di bawah sana.
"Ah, sayang..." desah Laura tak tahan.
Sabiel belum selesai merayunya. Lelaki itu ingin membuat Laura hilang akal oleh gairah seksual yang membara. Ia ingin memerangkap Laura dalam kobar api gairahnya. Meluluh lantahkan jiwa lembut istrinya dan merubahnya menjadi liar. Seliar apa yang akan ia persembahkan padanya di malam sakral itu.
Sabiel melucuti pakaiannya dan melemparnya menjadi onggokan kain tak berguna di kaki ranjang. Membalik posisinya dengan Laura, hingga kini Laura lah yang menduduki perut liatnya. Ia membimbing jemari mungil Laura untuk memberikan sentuhan ringan disekujur tubuh kekarnya. Oh Tuhan, tubuh Sabiel meremang menikmati sentuhan istrinya. Kenikmatan ini yang beberapa waktu lalu ia inginkan.
Jemarinya menggenggam jemari Laura, dan membawanya pada mulutnya yang menganga. Lidahnya menjulur ingin mencecap rasa jemari Laura. Menggigit ujung jari dengan gemas. Sementara wajah Laura sudah merah padam melihat Sabiel yang mulai mengulum telunjuknya.
Laura tak tahan menanggung godaan itu. Tanpa menunggu lama, ia menciumi bibir Sabiel dengan rakus. Sabiel berhasil membuatnya kecanduan. Lelaki itu berhasil memancing gairah erotis Laura sampai dasar. Membuka tabir rasa malu yang menjadi ciri khasnya setiap melakukan adegan erotis selama hidup bersama Sabiel.
Kini Laura merasa berani untuk menjadi pemimpin tanpa diminta oleh suaminya. Sabiel tersenyum penuh nikmat, ketika Laura memulai percintaan mereka dengan goyangan ringan di pinggulnya. Sesekali Sabiel meraih leher Laura agar mendekat pada wajahnya, lelaki itu tak sanggup membiarkan bibir manis kekasihnya merasakan kekosongan tanpa sapuan bibirnya.
"Laura...sayang.." desah Sabiel menatap sayu wajah merona istrinya.
"Hmmm.."
Kenikmatan membuat Laura tak sanggup mengeluarkan ucapan apapun. Pinggulnya semakin liar bergerak, memutar dan naik turun dengan tak sabaran. Laura sudah terbakar. Dia tak tahan ingin mencapai kepuasan bersama.
Nafas keduanya terengah hebat, peluh keringat membasahi tubuh mereka. Hawa panas menguar dari pori-pori dua tubuh polos itu. Laura lelah. Ia merapatkan dadanya dengan dada Sabiel. Sementara tangan Sabiel, mengelus lembut punggung wanitanya.
"Sayang, kau membuatku gila" ucap Sabiel sembari mengecup pelipis istrinya.
Laura tersenyum sambil terpejam mendengar pujian itu. Hatinya merasa bahagia. Tubuhnya terasa begitu relaks, sepintas ia berpikir bahwa ia telah mati, dan kini tengah berada di surga.
🍁🍁🍁
Pagi itu, Sabiel tengah serius melihat berita pagi di tv. Sorot matanya menatap tajam tayangan seorang reporter tv swasta yang tengah menyiarkan berita sekelompok massa yang berdiri penuh amarah di depan gedung legislatif.
"Bebaskan kawan kami!" teriak seorang wanita dengan toa merah mengarah pada tempat para wakil rakyat itu.
"...Aksi yang diprakarsai ormas buruh meminta pemerintah untuk mengusut kasus dua orang aktivis yang hilang secara misterius. Salah satu aktivis mengatakan kejadian menghilangnya Bimasakti (satu dari aktivis yang menghilang tiba-tiba), terjadi pada saat aksi damai menuntut pemerintah untuk mencari seorang aktivis buruh bernama Sukanta yang raib beberapa bulan lalu..."
Sabiel menegakkan punggungnya di hadapan layar tv yang saat itu sedang ia lihat. Berita pagi itu menampilkan tayangan aksi para aktivis buruh Jakarta. Yang membuat Sabiel tampak serius adalah kalimat dalam spanduk yang di pegang oleh beberapa massa di hadapan benteng pertahanan kepolisian. Dalam spanduk itu terdapat kata #savebimasakti.
Ingatan Sabiel langsung kembali pada satu sosok pemuda yang diwaktu lampau berkelahi dengannya. Pemuda yang Sabiel benci karena ia memiliki hubungan khusus dengan Laura.
"Sayang" Sabiel memanggil Laura.
__ADS_1
"Ya?" dari arah dapur Laura menyahuti. Wanita itu sedang sibuk membuat sarapan.
Sabiel menoleh sekilas pada istrinya, "Kemari sebentar. Ada yang harus kau lihat" pintanya membuat Laura mengernyitkan dahi karena penasaran.
Wanita itu mencuci tangannya, mengeringkannya dengan lap sebelum berjalan menghampiri suaminya. "Ada apa?" tanyanya heran.
Sabiel mendongahkan kepalanya menatap singkat istrinya yang berdiri diujung sofa. Laura belum menyadari berita yang tengah suaminya lihat. Dia menatap mata Sabiel penuh tanya.
"Duduk dan lihat itu" tunjuk Sabiel pada layar tv.
"...Bimasakti yang saat itu menjadi penanggungjawab aksi menghilang tiba-tiba. Seorang saksi mengatakan bahwa pemida tersebut dibawa pergi oleh mobil van putih yang saat itu berada di barikade kepolisian. Apakah ini berarti ada kaitannya dengan pihak keamanan? Kami saat ini masih menunggu konfirmasi..."
Laura bergerak untuk duduk sambil menatap layar tv. Raut wajahnya menjadi serius dalam sekejap waktu. Tangannya langsung meraih remote tv di sebelah Sabiel, membesarkan volume suara tanpa menghiraukan tatapan Sabiel yang tengah mengawasinya.
Bimasakti hilang? Lelaki itu menghilang? Apa yang sedang menimpanya? Mengapa bisa ia menghilang tiba-tiba?
Benak Laura terus bertanya dalam diam. Pupil mata wanita itu menajam ketika melihat tayangan cctv yang memperlihatkan sosok Bimasakti berjalan meninggalkan kerumunan massa dengan seseorang yang tidak jelas wajahnya.
Sabiel melihat kekhawatiran menyelimuti wajah istrinya. Ia menggenggam jemari Laura, meremasnya perlahan.
"Dia..." Laura tak sanggup berucap.
Sabiel mengerti kondisi Laura. Lelaki itu dengan lembut mengusap punggung istrinya. Bagaimana pun Laura pernah memiliki sejarah yang panjang dengan aktivis itu. Hatinya pernah dimiliki oleh aktivis itu, sebelum akhirnya dimiliki olehnya. Sabiel memaklumi hal itu.
Sampai tayangan berita berakhir, Laura masih diam terpaku. Hatinya dilanda perasaan cemas, gelisah dan khawatir yang membuatnya melupakan keberadaan sang suami. Wanita itu termangu dengan sorot mata yang kosong. Pikirannya berkelana memikirkan nasib dari Bimasakti yang bahkan sebulan ini tak terdeteksi keberadaannya.
Tiba-tiba Laura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ketika pikirannya memberi kemungkinan tragis dari kematian Bimasakti yang disembunyikan oleh pihak tertentu. Mereka bisa saja membunuhnya dan membuang mayat Bimasakti di tempat yang bahkan tidak terpikirkan oleh manusia.
"Sayang?"
Panggilan Sabiel menyadarkan Laura dari halusinasinya. Lelaki itu melihat jelas raut wajah Laura yang kebingungan. Sorot bola mata coklat itu berpendar mencari sesuatu yang bisa menenangkannya.
"Maafkan aku" tiba-tiba Laura merasa bersalah karena tenggelam memikirkan lelaki lain disaat ia sedang bersama suaminya.
Sabiel menarik tubuh Laura untuk menyadarkannya di dada, "Maaf untuk apa?" tanya Sabiel yang sebenarnya paham dengan maksud istrinya.
"Aku..." ucap Laura terbata.
"Ssstt. Aku mengerti, sayang. Tidak apa-apa, wajar jika kau memikirkannya. Dia menghilang dan hingga kini belum juga ditemukan. Siapapun yang kenal dengannya, pasti akan melakukan hal yang sama denganmu" ujar Sabiel penuh pengertian.
Laura mendongahkan kepalanya, menatap bola mata suaminya yang sedang menatapnya pula. "Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya" ucap Laura tiba-tiba.
Sabiel tersenyum hangat, "Aku tahu" jawabnya sembari mempererat pelukan.
Laura terdiam mencoba mencari ketenangan dalam dekapan hangat suaminya, meski begitu jauh dalam hatinya ia terus merapalkan doa tulusnya untuk lelaki yang pernah mengisi hatinya di masa lalu. Dia berharap, dimanapun lelaki itu berada. Tuhan akan selalu menjaganya.
__ADS_1
🍁🍁🍁