Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 63


__ADS_3

Hari berlalu membawa Intan pada suasana hati yang baru. Perubahan sikap yang ia lakukan mendapat respon yang baik dari Sabiel. Lelaki itu akhirnya tidak lagi membahas perkara cerai di hadapannya. Tampaknya usaha Intan untuk meluluhkan hati Sabiel telah berhasil. Hal itu ia yakini dari sikap Sabiel yang dengan bijaksana membagi perhatian dengan adil kepada Intan dan Laura. Sabiel tidak lagi hanya memperhatikan Laura, lelaki itu juga mulai menunjukkan rasa perhatian dan kasih sayangnya pada Intan. Bahkan setiap malam, Sabiel selalu bergantian menemani kedua wanita itu tidur, tanpa harus Intan paksa.


Hanya satu hal yang amat sangat disayangkan oleh Intan. Setiap Sabiel tidur bersamanya, entah mengapa ia selalu saja tertidur lebih dulu. Alhasil, selama ia berada di Indonesia. Ia belum pernah sempat untuk bercinta kembali dengan suaminya. Intan yang tengah bahagia menikmati perubahan baik Sabiel, tidak sedikit pun curiga atas kejanggalan dirinya yang mudah tertidur. Dengan bodohnya wanita itu lebih terpaku pada sikap Sabiel yang dinilainya penuh pengertian.


Setelah memastikan bahwa Sabiel dan Laura menerima keberadaannya, Intan memutuskan untuk segera kembali ke Singapura.


Intan berulang kali melirik pada Sabiel yang tengah duduk disampingnya. Intan tersenyum, merasa bahagia karena lelaki itu mau menemaninya menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawanya terbang menuju Singapura.


"Sayang, setelah aku pikir-pikir, kehadiran Laura ternyata ada baiknya juga" ucap Intan memecah konsentrasi Sabiel yang tengah melihat ponselnya. "Dia membuatku tenang meninggalkanmu disini" sambungnya lagi.


Sabiel tersenyum. "Begitukah menurutmu?"


"Ya. Setidaknya dia bisa menggantikanku menemanimu" Intan menyandarkan kepalanya di bahu Sabiel. "Kau jangan membuatku tak tenang lagi, sayang" keluhnya.


Sabiel menegakkan tubuhnya, membuat kepala Intan secara otomatis menyingkir dari bahunya. Pandangannya menoleh pada Intan, melihat bola mata sendu yang penuh dengan kepalsuan.


"Kau tenang saja, aku tidak akan membuatmu tidak tenang lagi" ujar Sabiel meyakinkan.


Intan tersenyum, "Oh ya, aku belum meminta maaf padamu mengenai omset outlet itu" ujar Intan mengingatkan Sabiel pada kucuran dana gelapnya. "Maafkan aku, karena ketakutanku sendiri, aku sampai nekat melakukan hal itu" ucapnya tanpa tahu malu.


Sabiel menyunggingkan senyumnya, hatinya merasa geli mendengar ucapan Intan yang terkesan meminta pemakluman pada dirinya. Selama ini Sabiel tak lagi menyinggung masalah itu, karena ia sudah tak peduli dengan apa yang ingin Intan ambil darinya. Lagipula apa yang Intan ambil, hanyalah bagian terkecil dari seluruh warisan orang tuanya. Fokusnya kini bukan lagi terletak pada nominal yang wanita itu keruk darinya, melainkan pada keberadaan Intan yang membuatnya merasa terganggu.


"Aku sudah melupakan itu. Lagipula ada hakmu disana" ucapnya sembari mengelus rambut Intan. Sementara itu, dalam hatinya Intan bersorak senang mendengar ucapan Sabiel. Itu artinya kini dia bisa leluasa menguasai bisnis outlet Sabiel.


Sabiel berdiri dari duduknya ketika pengumuman keberangkatan pesawat jurusan Singapura sudah berkumandang memenuhi ruang bandara yang luas.


"Kau harus segera pergi" ucapnya mengingatkan Intan yang tampak berdiri dengan enggan.


Wanita itu menghembuskan nafasnya berat, seolah ia tak rela harus berpisah dengan suaminya. "Ya. Aku harus pergi" ucapnya lesu.


Intan menerima koper yang Sabiel pegang sejak tadi. "Salam untuk Laura, bilang padanya bahwa aku senang dengan kehadirannya ditengah kita"


Sabiel mengangguk tanpa kata. Ia membiarkan Intan lebih dulu pergi meninggalkannya. Setelah Intan terlihat cukup jauh dari pandangannya, lelaki itu segera merogoh ponselnya.


"Tom, Intan sudah pergi. Kau sudah menyiapkan semuanya, bukan?!" tanyanya sembari menatap tajam punggung Intan yang mulai tenggelam dalam lautan manusia .


"Sudah Tuan. Semua persiapan misi telah rampung. Tuan tinggal menunggu sebentar lagi" sahut Tomi diseberang sana.


"Bagus. Aku harap kau tak membuatku menunggu lebih lama" ucap Sabiel sebelum mematikan ponselnya.


Matanya menerawang menatap koridor yang tadi dilalui Intan, ia menyeringai tak sabar dengan hasil dari upayanya mengelabui Intan selama tinggal bersama.


🍁🍁🍁


Di sela-sela kegiatannya yang telah rampung. Laura memakan kembali rujak buah yang tadi dibuatkan oleh Mbok Suti. Matanya masih memperhatikan layar laptop yang terbuka di meja makan. Sementara mulutnya sibuk mengunyah buah kedongdong yang terasa segar di mulutnya.


"Sepagi ini kau sudah makan rujak itu?"


Suara Sabiel yang menggema membuat Laura langsung menoleh padanya. Dia tersenyum manis melihat langkah tegap Sabiel yang memancarkan aura maskulinnya. Lelaki itu membuka jaketnya, dan meletakkan jaket itu di ujung meja makan yang panjang. Sorot matanya tak pernah terlihat selega itu sebelumnya.


Mungkin karena ia baru saja mengantarkan beban terbesarnya pergi dari Indonesia tadi.


"Dia sudah pergi?" tanya Laura yang tidak mengindahkan pertanyaan Sabiel.


Sabiel tersenyum lebar, "Sudah" ucapnya sembari mengecup bibir Laura dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Mata Sabiel melirik rujak buah yang berada di sisi kanan lengan Laura. Pandangannya beralih pada mulut Laura yang mengunyah rujak itu dengan penuh nikmat.


"Sayang, kapan terakhir kau menstruasi?" tanyanya curiga.


Laura yang sedang melihat tulisan barunya di laptop, menoleh pada Sabiel yang memperhatikannya. "Kau pikir aku hamil?!" tebaknya sambil mengingat kapan ia menstruasi.


"Selera makanmu berubah sayang, akhir-akhir ini kau bahkan sering merengek memintaku membelikan makanan. Sebelumnya kau tidak pernah seperti itu" ucap Sabiel. "Kemarin pulang mengajar, kau memintaku membawakan rambutan diluar musimnya, kau ingat?"


Laura menggigit bibir bawahnya, benaknya mulai mengingat kembali beberapa hal ganjil yang ia lakukan tanpa sadari. Makanan yang biasanya ia tak suka, kini mulai ia sukai. Porsi makannya pun kini bertambah besar. Laura terus mengingat-ngingat hal janggal itu kemudian ia mencocokannya dengan period menstruasinya yang ternyata sudah lewat beberapa minggu lalu.


"Ah sayang!" seru Laura sembari membelalakan mata.


Sabiel menaikan alisnya dengan hati yang berdebar senang meyakini apa yang ia pikirkan. "Apa?" tanyanya.


"Sepertinya aku sudah terlambat menstruasi beberapa minggu yang lalu" raut wajah Laura tampak tegang menyimpulkan apa yang terjadi pada dirinya. "Mungkinkah?!" tanyanya ragu.


Seketika seulas senyuman merekah sempurna pada paras tampan Sabiel, lelaki itu menatap Laura dengan binar kebahagiaan. "Kau hamil sayang?!" perasaan cemas dan bahagia berpadu dalam hatinya.


"Aku tidak tahu pas...."


"Ayo berdiri, kita periksa sekarang juga" potong Sabiel tak sabar. Lelaki itu menjulang dihadapan Laura dan menarik lembut lengan istri mudanya itu.


Laura mendongah, "Nanti dulu, aku selesaikan pekerjaanku. Lagipula aku masih ingin makan ini" timpal Laura menunjuk rujak buah yang belum habis ia makan.


Sabiel mendesah. Ia duduk kembali dengan wajah lesu, "Baiklah. Segera kau selesaikan, aku tak sabar ingin memastikan kehadiran benihku disini" ujar Sabiel sembari mengelus lembut perut Laura yang datar.


Laura tersenyum, matanya kembali fokus pada layar laptop. Jemarinya lincah menari di permukaan keyboard. Hatinya sedang senang saat ini, hal itu memancing daya imajinasinya keluar begitu mudah.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Sabiel melihat laptop Laura. Matanya langsung membaca barisan kata disana.


"Itu bagus. Dengan begitu, penulis muda jadi memiliki tempat untuk berkarya" timpal Sabiel. "Aku pernah katakan, suatu saat kau akan menjadi penulis hebat, bukan?" Sabiel mengusap lembut pipi istrinya.


Laura tersenyum. "Perjalanannya masih panjang, aku hanya ingin membuka peruntungan baru saat ini" tukasnya.


"Itu awal yang baik. Aku yakin kau bisa sampai ke tahap itu. Kau berbakat sayang!" serunya senang melihat Laura kembali menekuni hobinya.


"Kita lihat saja, kemana Tuhan akan mengarahkan bakat yang Dia berikan"


Laura meneruskan ketikan jemarinya, sementara Sabiel menyuapinya rujak. Sesekali lelaki itu tertarik untuk memakannya juga, namun segera ia keluarkan karena rasa asam yang membuat gerahamnya terasa ngilu.


🍁🍁🍁


J A K A R T A


Bimasakti duduk membisu tanpa niat untuk menoleh kesekeliling ruangan yang ramai oleh hiruk pikuk manusia. Pemuda itu memandang gerimis dari balik jendela sebuah cafe di Kota Tua. Matanya menatap bangunan bergaya kolonial yang berpuluhan tahun menjadi saksi dari jiwa-jiwa serakah penjajah yang menguasai bumi pertiwi hingga tiga setengah abad lamanya.


Setiap penjajah, memang akan selalu meninggalkan beberapa cendramata untuk daerah jajahannya. Sebagai bukti betapa besar kekuasaan mereka saat itu. Selain rute transportasi, hal lain yang ditinggalkan meneer itu disini adalah bangunannya yang khas. Bimasakti salah satu pengangum peninggalan sejarah itu. Lelaki itu selalu terpana melihat kemegahan bangunan berpilar tinggi nan kokoh, dengan ketinggian atap lebih dari empat meter. Baginya, struktur bangunan Belanda selalu terlihat lebih unik dari bangunan lain.


Gerimis yang mereda, memaksanya untuk segera kembali ke markas. Tanpa berlama lagi, lelaki itu menyampirkan tas ranselnya di pundak, dan berjalan santai menuju tempat kasir, meninggalkan capucinno yang tinggal genangan dalam cangkir hitam di mejanya tadi. Ekor matanya melirik beberapa gadis yang berbisik lirih dengan bola mata mengarah pada dirinya. Mereka tidak bisa memungkiri, wajah tampan yang tertutup jenggot dan rambut gondrong itu masih menguarkan pesonanya. Namun Bimasakti tidak peduli. Sejak hubungannya berakhir dengan Laura, tak ada gadis lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.


Bimasakti merogoh kantung celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk ia berikan pada kasir di hadapannya. Pemuda itu tak menyadari sepasang mata tertutup kacamata, tengah memperhatikan dirinya sejak tadi.


Lelaki paruh baya itu menelisik wajah familiar disampingnya, ia menurunkan kaca matanya hanya untuk memastikan apakah dugaannya benar atau salah.


"Kau...kau teman Laura, bukan?" ucapnya ragu.

__ADS_1


Deg!


Bimasakti terkesiap ketika nama kramat itu diucapkan. Kepalanya menoleh secara perlahan, menatap penuh selidik pada wajah tua yang familiar dalam ingatannya. Matanya memincing mengingat akan dimana wajah itu pernah ia lihat.


"Kau teman keponakanku, Laura. Dia pernah mengenalkanmu saat di rumah sakit" ungkap lelaki itu mengingatkan.


Ucapan lelaki asing itu membuat Bimasakti membelalakan matanya. Ia ingat, lelaki di sebelahnya ini adalah paman Laura. Paman Ali.


"Paman Ali?" tanyanya memastikan.


Lelaki itu tersenyum lega, dugaannya tepat. "Ya. kau ingat namaku ternyata" senyum lembut terpatri dalam wajah kebapakannya.


Tentu saja Bimasakti ingat, semua tentang gadis itu tak kan pernah bisa ia lupakan begitu saja.


"Paman sedang apa disini?" tanyanya kemudian.


Kedua lelaki berbeda generasi itu sedikit bergeser dari tempat meja kasir.


"Paman sedang menunggu klien paman. Mereka meminta bertemu disini" ucapnya sembari melihat arloji di pergelangan tangannya. "Tampaknya dia akan sedikit terlambat" sambungnya kemudian.


"Kau sendiri sedang apa sendiri disini?" tanya Ali menatap lembut Bimasakti. "Maaf, namamu.....?" Ali menggantung ucapannya karena lupa akan nama pemuda dihadapannya.


Bimasakti tersenyum maklum, "Bimasakti, paman. Panggil saja Bima" ungkapnya


"Oh ya, Bima. Aku lupa namamu, tapi aku ingat wajahmu" ujarnya sedikit terkekeh. "Kau tampak berbeda dari terakhir kita bertemu" matanya memandang keseluruhan penampilan Bimasakti.


Pemuda itu tersenyum malu, ia menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal. "Waktu membuatku banyak berubah, paman" sahutnya.


"Kau masih berhubungan dengan Laura? Anak itu akhir-akhir ini lebih sulit dihubungi" tanya Ali mengingat ponsel Laura yang lebih sering mati belakangan ini. Sampai membuat ayahnya sendiri cemas.


Bimasakti tampak kikuk dengan pertanyaan itu, "Tidak paman, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya." ungkap Bimasakti menahan sembilu yang kembali muncul dalam hatinya. "Lagipula dia sudah bersuami, tak enak rasanya jika aku menghubunginya terus"


"Bersuami? Maksudmu?" Ali tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Bimasakti melihat itu. Matanya sedikit ragu melihat bola mata paman Laura yang menatapnya seperti orang tak percaya.


"Ya. Bukankah Laura sudah menikah? Aku sempat bertemu suaminya di Bandung" ujarnya.


Entah apa yang melanda perasaan Ali saat mendengar keponakannya menikah dan memiliki suami tanpa ia ketahui. Rasa tak percaya dengan apa yang didengarnya, membuat Ali menganggap ucapan Bimasakti hanya omong kosong. Mana mungkin Laura menikah tanpa sepengetahuan keluarganya sendiri?! Namun hati kecilnya tak berbohong, melihat kesungguhan dari raut wajah Bima, membuat hatinya dilanda kebimbangan yang terasa menyakitkan.


"Ali?" seseorang menepuk pundak Ali lembut.


Lelaki itu menolehkan kepalanya dan tersenyum kaku melihat teman yang tadi sedang dia tunggu berdiri dibelakangnya.


"Ah kau sudah datang" jawabnya terbata.


Bimasakti yang merasa sudah waktunya ia pergi, berucap "Paman, sepertinya aku harus segera pergi. Salam untuk keluarga Laura" pemuda itu pamit.


Ali yang masih didera kebingungan mengangguk dengan ragu. Matanya mengawasi Bimasakti yang berjalan melewatinya menuju pintu cafe. Apa yang di ucapkan pemuda itu membekas dalam ingatannya.


"Laura menikah? Hal gila apa yang sedang dilakukannya disana?" gumamnya dalam hati.


Ali duduk bersama temannya dengan hati yang tak tenang. Pikirannya melayang pada keponakan satu-satunya di Bandung. Ia merasa harus memastikan sendiri kabar tak terduga itu. Ia berharap, kabar itu hanyalah kebohongan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2