
"Aaakkhhh" Intan memijat kepalanya ketika kesadarannya sudah mulai terkumpul. Matanya melirik pada jendela balkon yang terbuka, menampilkan sinar mentari yang berpijar gagah.
"Kau sudah bangun?"
Intan menolehkan kepalanya pada sumber suara sembari bangkit dari tidurnya. Matanya langsung disuguhi pemandangan indah dari tampilan gagah dan berwibawa suaminya. Kemeja hitam panjang dengan model slim fit, melekat menutupi bentuk tubuh atletis Sabiel. Wajahnya segar dengan sorot matanya yang hitam legam menatap Intan di tempat tidur.
"Sayang.." Intan bangkit dari tempat tidur, ia berjalan menghampiri Sabiel di sofa yang bersebrangan dengan posisinya.
Lelaki itu menyeruput kopinya perlahan, pembawaannya yang sangat santai membuat Intan tersenyum lembut memandangnya.
"Kau akan pergi?" tanya Intan melihat jas putih di tergelantung di sisi sofa.
"Ya. Aku akan ke kampus." sahutnya santai.
Intan mendudukan dirinya disamping Sabiel. Tangannya bergerak memijat pelipis kepalanya yang masih terasa pusing akibat mabuk semalam.
"Kepalamu masih pusing?" Sabiel memperhatikan.
"Ya. Rasanya sakit sekali." Intan mengangguk lemas.
"Itu karna kau mabuk parah semalam. Berapa banyak minuman yang kau tenggak?" tanya Sabiel pura-pura perhatian.
"Entahlah, kau tahu sendiri bukan jika aku sudah berkumpul dengan teman-temanku? Mereka tidak akan membiarkanku duduk tanpa meneguk minuman." ujar Intan santai.
Intan menyandarkan kepalanya di bahu Sabiel, bibirnya mengerucut manja.
"Kemarin kau tega sekali menolak bercinta denganku." gerutu Intan. "Bagaimana jika kau meliburkan diri saja, aku rindu padamu." pinta Intan merajuk.
Sabiel menegakkan tubuhnya, ia menghela kepala Intan dari bahunya.
"Kau ingat apa yang kau katakan semalam? Saat mabuk kau meracau parah." ucap Sabiel.
"Semalam? Memang apa yang aku katakan?" Intan mencoba mengingat ucapannya semalam.
"Kau menyebut nama lelaki lain dihadapanku"
Ucapan Sabiel membuat Intan menatap penuh antisipasi. Jantungnya berdetak cepat karna rasa takut seketika menghinggapi dirinya. Perlahan apa yang terjadi semalam mulai bisa ia ingat.
"Nama lelaki?" Intan berusaha menutupi kegugupannya dengan percuma. Wanita itu meremas jemarinya yang mulai berkeringat.
Telinga Sabiel yang tajam ditambah matanya yang menatap jeli tak bisa ia tipu. Intan jelas gugup, dan kegugupannya itu membuat Sabiel merasa yakin dengan apa yang ia pikirkan. Namun Sabiel tak ingin Intan mengetahui bahwa dirinya sudah menaruh curiga. Dia ingin Intan merasa aman dengan apa yang ia coba sembunyikan, sampai tiba di satu waktu, saat semua bukti nyata ada dalam genggaman Sabiel, barulah Sabiel bongkar kecurigaannya itu. Dengan begitu, Ia bisa memukul mundur Intan tanpa bisa Intan melakukan pembelaan.
"Ya. Kalau tidak salah Dato'. Siapa dia sayang?" tanya Sabiel berpura-pura penasaran.
"Dato'? Kau salah dengar mungkin sayang. Aku tidak tahu siapa Dato'." ucap Intan pura-pura tak tahu. "Lagipula untuk apa kau menanggapi rancauan orang yang sedang mabuk? tidak ada kerjaan" sambung Intan sambil terkekeh kaku.
Sabiel kembali menyeruput kopinya, dia merasa sudah puas melihat kegugupan Intan pagi ini, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk memulai penyelidikan tentang Intan selama di Singapura.
"Ya, mungkin kau benar. Aku salah dengar." ucapnya sembari berdiri. "Aku hanya merasa cemburu ketika mendengar nama lelaki lain kau sebut" Sabiel mengambil jas putihnya.
"Untuk apa kau cemburu pada rancauan tak jelas" Intan dengan percaya dirinya berdiri mengikuti Sabiel. Tangannya menarik dasi hitam suaminya itu hingga tubuh Sabiel tertarik ke arahnya.
Cup.
Bibir Intan mendarat mulus pada bibir Sabiel. Rasa kopi langsung memenuhi mulutnya.
__ADS_1
"Lain kali cemburulah pada hal yang nyata, bukan pada kata-kata yang keluar dari mulut orang mabuk" ujar Intan sambil tersenyum tanpa dosa.
"Baiklah. Sekarang aku harus berangkat. Baik-baiklah di rumah." ucap Sabiel hangat.
"Tidak apa-apa jika aku tak mengantarmu?" tanya Intan. "Kepalaku masih sedikit pusing"
"Tak masalah. Kau istirahat saja dulu." ucap Sabiel sambil mulai berjalan meninggalkan Intan.
Ceklek.
Pintu yang tertutup dari luar, membawa rasa lega di hati keduanya. Di dalam kamar, Intan mengelus dadanya. Meyakinkan bahwa Sabiel tidak tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Diam-diam, Intan merutuki kebodohannya karena pulang dalam kondisi mabuk parah, hingga tak bisa mengontrol perkataannya.
Sementara, diluar sana. Mata Sabiel berkilat penuh siasat. Ia menyeringai sembari menghapus jejak ciuman Intan dengan kasar.
"Sampai sejauh mana kau menyembunyikan hal itu, Intan" gumamnya dalam hati.
Sabiel melangkah dengan sangat ringan, tampaknya keinginan untuk berpisah dengan Intan akan terwujud dengan sempurna. Dia tak sabar menantikan saat itu.
.
.
Laura baru saja sampai di pelataran parkir kampusnya. Wajahnya tampak menyimpan gurat kegelisahan, di sepanjang perjalanan tadi wanita itu hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan ia tak mendengarkan apa yang tadi Tomi katakan saat di dalam mobil.
Pandangan matanya lurus menatap jalanan kampus yang tampak suram karena awan mendung memayunginya dengan tiba-tiba.
Benak Laura terus saja berputar dengan ide kabur yang entah mengapa menjadi terlihat tak mungkin untuk dilakukan. Sabiel memasang cctv di penjuru apartemen itu, bagaimana caranya dia bisa menemukan foto-foto itu? Belum lagi dengan bayangan ayah di pelupuk matanya. Jika ia nekat untuk pergi dari lelaki itu, apa yang nanti terjadi pada ayahnya? Ah, memikirkan hal itu membuat kepala Laura berdenyut merasa sakit.
"Tidak ada pilihan lain" gumam Laura pasrah.
Laura berjalan semakin cepat ketika matanya melihat gedung tempatnya berkuliah hanya tinggal beberapa meter saja.
Laura meronta ketika seseorang yang belum diketahuinya itu membawa ia ke pojokan rak buku, tempat skripsi para alumnus dipajang. Seseorang itu langsung membalikkan tubuh Laura dan menempelkan punggung wanita itu pada dinding.
Mata Laura melebar ketika melihat sosok lelaki menyebalkan menyeringai senang dihadapannya.
"Hai sayang.."
"Sabiel?!!" pekik Laura
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Mata Laura berkeliaran memandang nanar ruang perpustakaan, ia takut ada yang memergoki mereka berdua.
"Tenang saja sayang, tidak akan ada yang tahu kita disini." ucap Sabiel seolah tahu ketakutan Laura.
"Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk?" bisik Laura.
"Aku sudah meminta penjaga perpus untuk mengosongkan ruangan ini sementara, dan meminta Tomi berjaga di luar. Jadi tidak akan ada yang perlu kau takutkan." ungkap Sabiel sembari mengelus lembut pipi Laura.
"Lepaskan!" Laura menepis tangan Sabiel yang terus membelai pipinya. "Jika mereka melihat kita keluar berdua dari sini, tetap saja mereka akan curiga" ucap Laura mendorong tubuh Sabiel kesamping dan melewatinya.
Sabiel menatap punggung Laura yang berjalan didepannya. Lelaki itu melepas dasi hitam di lehernya, dan berjalan lebar mengimbangi Laura.
Belum sempat Laura sampai di depan pintu, Sabiel berhasil membuatnya berhenti. Lelaki itu dengan tiba-tiba mengikatkan dasi hitamnya pada mata Laura dari arah belakang.
"Diam dan ingatlah ayahmu, sayang." ucapan Sabiel membuat Laura tak berkutik.
__ADS_1
Lelaki itu membopong tubuh Laura kembali ketempat semula. Ia menurunkan Laura di pojokan, langsung menghimpit tubuh Laura hingga menempel pada tembok.
Matanya berkabut oleh gairah, memandang wajah Laura yang mendongah dengan mata terikat oleh dasi. Laura sudah menjadi candu baginya, sehari saja ia tak berjumpa sudah cukup membuat nafsu di dalam dirinya meronta merindukan tubuh mungil itu.
"Sabiel hentikan, aku harus masuk kelas" ucap Laura ketika Sabiel memaku kedua tangannya diatas kepala.
Sabiel sudah tak tahan. Tubuhnya setengah sekarat mendamba aroma menggoda yang merebak dari dalam tubuh mungil dihadapannya. Nafasnya mulai mendesah, ketika merundukkan kepalanya mendekati bibir Laura yang indah.
"Sa.."
Ucapan Laura tersedat oleh bibir kenyal dan keras milik Sabiel. Kali ini rasa kopi yang samar memenuhi rongga mulut Laura. Lelaki itu mencium bibirnya dengan liar, seolah sedang melepaskan hasratnya yang terkurung lama. Lidah keduanya bertemu dalam jalinan benang saliva yang basah dan lengket. Menggoda untuk terus mencecap rasa manis yang entah berasal dari mana.
Sabiel tak puas dengan bibir Laura, tangannya melepas kedua tangan Laura dari atas kepala, dan beralih pada kerah kemeja putih dengan garis biru vertikal yang sedang dikenakan Laura. Dia membuka beberapa kancing kemeja itu, menurunkannya secara perlahan hingga terlihatlah bahu putih mulus Laura. Tangannya membelai bahu setengah telanjang itu dengan gerakan yang halus, tanpa melepas pertautan bibirnya dengan bibir Laura.
Laura terhuyung oleh rasa nikmat yang baru ia sadari. Ia terkejut mendapati bahwa tubuhnya lebih dulu menerima Sabiel daripada hatinya. Nafasnya naik turun dengan cepat, seiring kelihaian Sabiel mencumbui lekukan leher dan dadanya.
"Aaah"
Satu desahan tak dapat ditahan lagi oleh keduanya. Sabiel mencumbu tubuh Laura dengan rakus dan tak tahu malu. Dia berhasil menorehkan noda-noda merah pekat di beberapa bagian dalam pundak dan dada Laura.
"Sabiel. Sudah!" Laura tak sanggup. "Ini di kampus, hentikan! Sudah...sudah!" Laura mencoba menghentikan Sabiel mencumbui tubuhnya.
Mendengar peringatan Laura, membuat Sabiel memaksakan dirinya untuk berhenti, meski tidak rela. Dia membalikkan posisinya dengan menarik Laura dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Tangannya langsung merengkuh tubuh Laura, menyusupkannya dalam pelukan hangat dengan jantung berdenyut hebat. Laura merasakannya. Jantung Sabiel terdengar memompa darahnya dengan kuat dan cepat.
"Kau membuatku gila sayang" ucap Sabiel ditengah usahanya menetralkan libido yang masih tinggi.
Lelaki itu melepaskan pelukannya, mendorong sedikit bahu Laura selebaran tangannya agar ia bisa memandangi keseluruhan tubuh istrinya yang tampak bersemu merah.
Sabiel melepas ikatan dasinya, dia memandang lembut wajah Laura yang mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang tiba-tiba membuatnya silau.
Mata Sabiel menyusuri kerah baju dan noda-noda merah yang ia tinggalkan. Ia tersenyum tipis, melihat Laura menggerutu tak jelas melihat hasil perbuatan Sabiel di tubuhnya.
"Itu tanda cinta" ucap Sabiel dengan pongahnya. Tangannya bergerak membantu Laura mengancingi kemejanya.
"Kau membuatku berantakan" gerutu Laura memukul dada Sabiel.
"Salahmu sendiri memiliki tubuh menggoda seperti itu" ujar Sabiel tak tahu malu.
"Alasan macam apa itu?!" Laura tak percaya Sabiel malah melempar kesalahan padanya.
Sabiel terkekeh menatap mata coklat itu membulat dengan sempurna. Dia menyampirkan rambut Laura dibelakang telinganya. Tubuhnya bergerak untuk memberi kecupan kecil di pelipis dan telinga Laura.
"Sabiel!!" Laura bergidik merasa geli ketika Sabiel memberi kecupan disertai hembusan nafas di telinganya.
"Kau keluarlah lebih dulu. Aku akan berdiam diri lebih lama disini. Menunggu beberapa saat agar tak ada yang curiga" Sabiel menjelaskan.
"Cih! Kau ternyata takut ketahuan juga." ledek Laura.
"Bukan aku yang takut sayang. Tapi kau." Sabiel memeluk kembali Laura. "Kau ketakutan tadi, maka dari itu aku membuat pengaturan bodoh seperti yang aku katakan"
"Sudahlah. Terserah padamu, aku harus segera keluar" Laura melepaskan diri dari pelukan Sabiel dan beranjak dari sana.
Sabiel menatap lembut punggung Laura yang menjauh. Dia memasang kembali dasinya dan mulai merapikan penampilannya yang sedikit 'berantakan'.
"Andai saja kau tahu Laura, betapa besarnya keinginanku untuk memamerkan kau sebagai milikku pada dunia. Menunjukkan bahwa kaulah istri yang amat aku cintai" gumam Sabiel ketika mendengar suara pintu tertutup.
__ADS_1
🍁🍁🍁