Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 14


__ADS_3

Sabiel tampak kesal pagi itu. Pasalnya sejak beberapa saat yang lalu ia menghubungi Laura, namun panggilannya tak kunjung mendapat jawaban. Saat ini Sabiel sedang berada dirumahnya. Dia tidak ada jadwal mengajar hari ini. Tadinya ini akan menjadikan kesempatan ia untuk berbicara dengan Laura. Gadisnya.


Gadisnya?


Sabiel tersenyum malu ketika hatinya mulai berani mengklaim Laura menjadi gadisnya. Bagaimana bisa Laura menjadi gadisnya, sedangkan Laura sendiri tidak tahu tentang perasaan Sabiel padanya. Terlebih lagi dengan statusnya sebagai lelaki beristri. Mana mungkin Laura mau menjadi gadisnya. Menjadi miliknya.


Tapi Sabiel sudah bertekad sejak awal saat ia mulai merasa tertarik pada Laura. Bagaimana pun caranya, Laura harus berakhir menjadi istrinya. Titik!


Sejauh ini usaha Sabiel untuk terus dekat dengan Laura berjalan mulus. Laura pun terlihat seperti sudah terbiasa dengan kehadiran Sabiel disekelilingnya. Kedekatan pertemanan sepertinya berhasil menjadi modus terselubungnya dalam rangka mendapatkan Laura. Sekarang, Sabiel tinggal membuat beberapa rencana lagi untuk melangkah pada rencana yang lebih serius. Rencana yang bisa jadi berpengaruh besar dalam hidupnya, hidup Laura juga hidup Intan. Sembari menunggu moment yang tepat, Sabiel akan selalu berusaha membuat kedekatannya dengan Laura semakin erat.


Namun apa yang terjadi pada gadis itu? Kenapa hingga kini belum bisa ia dengar suaranya? Bahkan belasan pesan yang ia kirim, tak satu pun yang mendapat balasan. Apa yang terjadi disana?


Sabiel tampak gusar menanti sambungannya terkoneksi dengan Laura. Teh chamomile yang sejak tadi disediakan dalam kondisi panas hingga berubah menjadi dingin, tak tersentuh oleh Sabiel. Lelaki itu gelisah. Dia butuh mendengar suara Laura, demi kesehatan jantungnya yang terus berdetak cepat karna rasa cemas menyergap dirinya saat itu.


🍁🍁🍁


Laura dan Bimasakti saat itu tengah duduk di kursi panjang sebuah taman rumah sakit.


Setelah mengantarkan obat ke ruangan ayahnya dengan didampingi Bimasakti, Laura meminta ijin pada paman bibinya untuk keluar sebentar bersama lelaki yang ia perkenalkan sebagai temannya tersebut.


Sedangkan Bimasakti, setelah perawat di resepsionis memberitahu bahwa ia bisa bertemu pihak berwenang dalam masalah asuransi pekerja keesokan harinya, ia mengikuti Laura keruangan ayahnya.


Kini, setelah semua urusan mereka selesai. Mereka memilih duduk di taman yang cukup dikatakan sepi. Mereka duduk bersisian, Laura tampak kikuk duduk berdua dengan lelaki yang selama ini menemaninya di laman blog pribadinya.


"Akhirnya Tuhan mempertemukan kita." suara Bimasakti memecah keheningan diantara mereka. Dia melihat ke arah Laura yang sangat jelas terlihat canggung.


"Ya. Sekarang kau tahu bukan rupaku?" Laura terlihat ingin mencairkan suasana.


Bimasakti terkekeh. Dia memang sangat penasaran dengan sosok Laura.


"Sekarang kau juga tahu rupaku, bukan?" ucap Bimasakti mengerling jenaka pada Laura. Gadis itu tersenyum, begitu manis dalam pandangan Bimasakti.


"Apa yang kau lakukan tadi di resepsionis ?" tanya Laura penasaran.


"Temanku terluka saat kami sedang melakukan long march di sekitar Monas. Dan dia memiliki riwayat jantung. Jadi kami membawanya kesini." Bimasakti mengingat kembali bagaimana ia bisa berakhir di rumah sakit itu.


"Kami? Maksudmu?" tanya Laura semakin heran.


"Aku dan teman-teman di ormas buruh maksudku." jelas Bimasakti. "Aku seorang aktivis buruh, Laura." ucapnya kemudian ketika Laura tampak masih kebingungan mencerna perkataannya.

__ADS_1


"Aktivis buruh?" ulang Laura tak percaya.


"Ya. Kau tak percaya?" Bimasakti menatap lekat Laura.


"Prosa-prosamu membuatku ragu apakah kau benar seorang aktivis." delik Laura curiga.


"Hei. Kau pikir aktivis tidak bisa membuat prosa?" Bimasakti terlihat tak terima.


"Yaaa.. Dalam benakku, aktivis itu seseorang yang pasti memiliki pemikiran serius. Tidak pecicilan seperti prosamu." ledek Laura setengah mencibir.


Bimasakti tersenyum malu mendengar Laura mengatakan bahwa prosanya pecicilan.


"Itu karna aku sangat ingin mematahkan pertahananmu yang selalu menolak bertemu denganku." ucapnya cuek.


"Cih, alasan." Laura mendecih, tak ayal ia terkekeh pula mendengar alasan Bimasakti. "Aku kira kau itu seorang pujangga." sambungnya.


"Aku memang pujangga...sekaligus aktivis." Ujar Bimasakti dengan bangganya.


"W.S. Rendra, Wiji Thukul, Cak Nun, mereka aktivis sekaligus pujangga. Aku yakin kau juga merasakannya dari sajak-sajak mereka yang kau baca." ucap Bimasakti memberi contoh. "Nah, aku ini satu golongan dengan mereka. Satu server. Aku aktivis yang merangkap menjadi pujangga." Bimasakti mengkultuskan dirinya sendiri dengan tak tahu malu.


Laura tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat raut wajah sombong yang malah terlihat lucu dari lelaki di sampingnya itu.


Mentari bersinar semakin terik, panasnya semakin menusuk pada permukaan kulit. Baik Laura maupun Bimasakti, tak ada dari mereka yang ingin mengakhiri pertemuan tak disangka itu. Mereka terus bercerita satu sama lain. Pembawaan Bimasakti yang santai dan penuh humor berhasil membuat Laura betah berlama-lama berduaan dengannya.


"Aku tak menyangka kau gadis paling pelit yang aku temui." ledek Bimasakti pada Laura yang pura-pura lupa nomor ponselnya. Gadis itu tidak tersinggung, dia terkekeh mendengar ledekan Bimasakti yang merajuk padanya.


Siang hari itu, menjadi hari yang menyenangkan bagi Laura. Siapa sangka, Laura yang awalnya menangis dan muak menginjakkan kaki di rumah sakit itu. Saat ini justru merasa bersyukur karna ternyata Tuhan menuntunnya untuk sampai pada satu kondisi dimana semua tangisan dan rasa muak itu hilang tak berbekas. Berkat rencanaNya untuk mempertemukan Laura dengan lelaki aneh di sampingnya.


Waktu terus bergulir, kedua manusia itu masih menikmati moment pertemuan sakral yang Tuhan rancang untuk mereka. Satu yang mereka yakini saat ini, bahwa pertemuan mereka untuk pertama kalinya ini tidak akan menjadi kali terakhir mereka bertemu. Tuhan sudah membuat mereka bertemu tanpa mereka rencanakan, dan itu pasti dengan sebuah alasan.


🍁🍁🍁


Kini gelap sudah sampai di langit cakrawala, Laura kembali ke ruang inap setelah cukup lama berbicara dengan Bimasakti tadi siang. Kini ia berbaring di sofa yang berseberangan dengan posisi pembaringan ayahnya. Paman dan bibinya telah lama pulang kembali ke rumah mereka. Tinggal lah Laura berdua dengan ayah tercintanya.


Ayahnya sedang tertidur setelah menuntaskan makan malamnya. Beliau sempat menanyakan siapa gerangan yang bersama anaknya tadi, hingga Laura bisa lupa waktu untuk kembali ke ruangan.


Laura hanya mengatakan bahwa yang tadi bersamanya hanyalah teman. Namun tentu saja hal itu tidak membuat ayahnya percaya, dia tahu anaknya tidak sembarang dekat dengan teman lelaki. Jika pun ada yang sangat dekat dengannya, tentu saja itu adalah ayah dan pamannya.


Laura melihat ponselnya setelah sekian lama. Dia melihat begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab yang sebagian besar dari dosen muda-nya, Sabiel. Selebihnya pesan-pesan itu berasal dari Rena dan Gisel.

__ADS_1


Laura tidak berniat membalas pesan mereka satu per satu, dia sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan suara setelah mulutnya tadi tak berhenti bicara dan tertawa karna ulah Bimasakti.


Besok. Laura berjanji akan membalas semuanya besok, ketika tenaganya sudah pulih untuk siap mendengar amukan dan menjawab pertanyaan mereka.


Namun sepertinya gayung tak bersambut, tepat ketika Laura ingin merebahkan dirinya. Ponsel itu bergetar kembali. Dengan setengah malas, Laura melihat nama yang tertera disana.


Sabiel.


Laura tampak berpikir sejenak, terlintas dalam benaknya untuk mengabaikan saja panggilan itu. Namun tidak dengan hatinya. Ia merasa tidak tega untuk mengabaikan panggilan itu kali ini. Apalagi dengan mengetahui bahwa sebagian besar panggilan tak terjawab di ponselnya berasal dari lelaki ini. Laura menjawab panggilan itu.


"Oh Tuhan, akhirnya.." nada suara lega dari Sabiel menyambut pendengaran Laura.


"Sabiel?" tanya Laura. Dia berbicara sambil merebahkan dirinya di sofa panjang.


"Kau membuatku khawatir Laura. Apa kau tidak tahu aku menghubungimu puluhan kali. Tidak, mungkin ratusan kali." Sabiel memberi penekanan pada ucapannya.


"Maafkan aku. Seharian ini aku begitu sibuk, hingga tak sempat melihat ponselku sendiri." Laura beralasan.


"Apa yang kau lakukan hingga melupakan ponselmu?" tanya Sabiel penuh rasa curiga.


"Tadi aku mengurusi keperluan ayahku, Sabiel. Aku bolak balik pulang antara rumahku dan rumah sakit. Aku melupakan ponselku yang aku simpan di meja ayah." ungkap Laura.


Laura tidak sedang berbohong, setelah pertemuannya dengan Bimasakti. Laura memang pulang kerumahnya untuk membersihkan diri, dan membawa perlengkapan ayahnya.


"Baiklah. Aku tadi hanya cemas. Aku takut terjadi sesuatu disana, hingga kau sama sekali tidak bisa aku hubungi."


"Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Aku baik-baik saja." ucap Laura santai. Dia mulai menguap, dan Sabiel menyadari itu dari nada suaranya yang sedikit berbeda.


"Kau mengantuk?" tanya Sabiel, ia melihat pada jam dinding di ruang kerjanya. Jam memang menunjukan pukul sepuluh malam, sudah seharusnya Laura beristirahat. "Maafkan aku, telah menghubungimu di jam seperti ini." sesal Sabiel.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kau memang harus menghubungiku, agar kau tahu aku baik-baik saja disini." ucap Laura.


"Baiklah, tidurlah Laura. Besok, pastikan kau membawa ponselmu kemana pun. Karna aku akan menghubungimu kembali." Sabiel mengingatkan.


"Oke. Aku mengerti. Selamat malam Sabiel." ucap Laura berpamitan.


"Selamat malam, Laura. Selamat malam, sayangku." ralat Sabiel ketika sambungan panggilan itu sudah terputus.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa meninggalkan jejak ya..


Like, Koment, Vote 😍😍😍


__ADS_2