
"Hp Mas Alvin ketinggalan." Rili mengambil ponsel yang berada di atas meja kerjanya. Dia segera berdiri dan menyusul Alvin. Ternyata Alvin sudah pergi. Dia kembali masuk ke dalam toko. "Reta, aku pinjam motornya sebentar ya. Hp Mas Alvin ketinggalan."
"Iya Mbak." Reta mengambil kunci motornya dan memberikannya pada Rili.
Rili segera keluar dari toko dan memakai helmnya. "Gini nih, udah jadi bos tapi gak punya sepeda motor. Kalah sama anak buah." Rili bergumam sendiri sambil naik ke atas motor. Bukannya tidak mampu beli tapi sejak kecelakaan Dara, semua melarangnya membawa sepeda motor sendiri meski dia sudah bisa mengendarainya.
Rili melajukan motornya dengan kecepatan standart menuju kafe. Tak butuh waktu lama, dia kini menghentikan motornya di depan tempat parkir kafe. Setelah turun dan melepas helmnya, dia melangkah jenjang masuk ke dalam kafe.
Langkahnya berhenti saat melihat ada seorang gadis yang sedang duduk bersama Alvin. Apa dia pelanggan cafe? Atau seseorang yang akan bekerja sama dengan cafe. Rili berjalan perlahan mendekat. Dia bisa sedikit menangkap obrolan mereka. Apalagi saat gadis itu menaham tangan Alvin saat Alvin akan pergi.
"Perjodohan?"
Suara Rili membuat kedua mata Alvin melebar. Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Vina. "Rili, semua gak seperti yang kamu lihat." Seketika Alvin mendekati Rili.
Rili justru sangat terkejut, dia tidak menyangka ini akan terjadi dalam kisah cintanya. "Mas, apa benar Mas Alvin dijodohkan sama dia?"
"Rili aku..."
"Iya, kita udah dijodohkan. Jadi kamu yang namanya Rili. Kamu sudah menolak lamaran dari Alvin yang membuat orang tua Alvin kecewa dan..."
"Vina, diam!! Ini bukan urusan kamu!!"
Mendengar hal itu, hati Rili bagai ditusuk benda tajam. Sakit. Apa ini akhir dari hubungannya? Dia membalikkan badan dan akan melangkah keluar dari kafe.
"Rili, aku bisa jelasin. Jangan dengar omongan dia." Alvin berusaha menahan tangan Rili meski dia terus berontak.
"Jelasin apalagi?"
Vina masih saja tersenyum miring. "Udahlah, kan udah nolak. Gak tahu malu banget masih aja deketin Alvin."
Alvin semakin geram dengan perkataan Vina. "Kamu keluar dari kafe aku!!" Alvin menunjuk Aksa yang berdiri tak jauh dari kasir. "Aksa!! Bawa dia keluar dari sini!!" Alvin kini menarik Rili dan sedikit memaksanya untuk masuk ke dalam kantor.
"Aksa tugas lo tuh!!" suruh Adit.
"Kok aku Mas. Gak mau, udah tante-tante gitu."
"Udah sana! Daripada bos marah lagi."
__ADS_1
Aksa akhirnya mendekat dan menarik paksa Vina. "Mbak maaf ya, jangan buat keributan di sini."
"Eh, gak usah di tarik-tarik. Untung ganteng." Akhirnya Vina keluar dari kafe setelah memberi senyuman pada Aksa.
Aksa kembali masuk ke dalam kafe. "Hih, harus cuci tangan tujuh kali ini kena najis."
"Suciin pakai tanah sekalian."
Sedangkan di dalam kantor, Rili akhirnya duduk sambil menautkan alisnya. Dia masih saja berdiam diri.
"Rili, oke, aku minta maaf tadi gak cerita sama kamu soal ini. Jadi, Mama aku berniat menjodohkan aku dengan Vina tapi aku gak mau. Sumpah!!" Alvin kini berjongkok di hadapan Rili karena sedari tadi Rili hanya menunduk.
"Apa karena penolakan aku kemarin? Apa orang tua Mas kecewa sama aku dan mereka sudah tidak merestui hubungan kita lagi?"
Alvin terdiam sesaat. Karena pertanyaan Rili itu benar adanya. "Kamu tenang, aku sudah bilang sama Mama untuk menolak perjodohan ini."
Rili tidak pernah mengira akan seperti ini jadinya. Padahal dia sudah berniat untuk menarik kata-katanya kemarin dan menerima lamaran Alvin. Tapi sepertinya nasi sudah menjadi bubur.
Dia kini berdiri. "Aku mau balik. Ini hp Mas Alvin tadi ketinggalan."
"Kamu ke sini pakai apa?"
Alvin berdiri dan menarik Rili dalam pelukannya. "Aku antar ya. Nanti motor Reta biar di antar Aksa." Alvin menahan tubuh Rili yang berusaha melepas pelukannya. Dia tahu hati gadisnya sedang tidak baik-baik saja. "Aku gak mau kamu balik dengan keadaan kayak gini."
"Aku gak papa Mas. Emang aku kenapa?" Meski air mata itu telah terbendung tapi Rili berusaha menahannya. Ini bukan salah Alvin tapi ini semua salahnya.
Rili melepas pelukannya lalu menangkup pipi Alvin. "Mas Alvin berhak menentukan pilihan." Setelah itu dia membalikkan badannya.
"Rili pilihan aku itu kamu. Ayo kita segera menikah?!"
Hati Rili semakin terasa sesak. Keputusan yang telah dipikirkannya tiba-tiba menghilang lagi. Dia tak menjawab perkataan Alvin. Dia keluar dari kantor Alvin lalu menutup kembali pintu itu.
Tangis yang sedari tadi dia tahan, akhirnya pecah.
Rili semakin mempercepat langkah kakinya keluar dari kafe sambil mengusap air matanya asal.
"Rili," Adit menyusul langkah Rili. "Kamu mau pulang dengan keadaan kayak gini? Aku panggil Alvin ya?"
__ADS_1
Rili semakin tergugu di dekat motornya. "Gak usah Mas. Aku gak papa. Jangan bilang Mas Alvin kalau aku nangis di sini." Rili memakai helmnya.
"Biar diantar Aksa ya?" tawar Adit lagi.
Rili hanya menggelengkan kepalanya lalu menaiki motornya. Dan beberapa saat kemudian motor Rili melaju.
"Apa gak ada cara lain selain mengambil cara terakhir?" Alvin berdengus kesal. Dia pijit pelipisnya sesaat. "Sepertinya memang gak ada pilihan lain. Aku gak mau kehilangan Rili." Dia bergumam sendiri melawan hatinya yang carut marut.
"Alvin!!" Adit masuk ke dalam ruangan Alvin dengan tergesa. "Kamu kok biarin Rili pulang sendiri dengan hati semrawut gitu."
Lagi lagi Alvin hanya menghela napas panjang. "Dia menolak aku antar, dia justru pergi saat aku akan menjelaskan semua. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri."
"Kenapa bisa kamu tiba-tiba dijodohkan?"
Alvin mengusap wajahnya kasar. Pikirannya menerawang jauh. "Mama kecewa karena kemarin lamaran aku ditolak. Sebenarnya bukan ditolak tapi hanya butuh waktu. Mama marah dan tiba-tiba jodohin aku gitu aja."
"Sabar Vin. Kalau jodoh gak akan kemana. Rili tadi nangis di depan."
Alvin berdengus kesal. Dia harus segera mengambil keputusan akhirnya. "Aksa mana? Aku ada perlu sama Aksa."
"Sebentar aku panggilkan." Adit keluar dan memanggil Aksa.
Tak berapa lama, Aksa masuk ke dalam ruangan Alvin.
"Kamu tahu ini?" Alvin menunjukkan sebuah gambar di ponselnya.
Aksa melebarkan matanya. "Jangan bilang bos mau..."
"Gak ada cara lain..."
"Ada bos. Masih ada jalan lain."
"Oke, kalau ada jalan lain apa? Kamu sebagai seorang playboy yang katanya pakar cinta kalau ada di posisi aku. Pacar kamu gak mau nerima lamaran kamu karena mau menunggu kakaknya menikah dulu terus orang tua kamu akhirnya kecewa karena merasa hati kamu dipermainkan lalu kamu dijodohkan. Apa solusi yang kamu ambil?"
Aksa duduk sambil mencerna setiap kata yang terucap dari bosnya itu. Hal yang mudah tapi terasa sulit.
"Gak ada jalan lain selain menyatukan secara paksa. Kamu mau carikan barang itu atau kamu aku pecat."
__ADS_1
Mendengar ancaman bos galaunya, Alvin melebarkan matanya. Tidak ada pilihan lain bagi Aksa. "Oke bos. Tapi bukan yang ini, ini bahaya. Aku carikan barang lain yang lebih aman. Kalau seandainya bos gak jadi lakuin gak akan ada efek apa-apa...."
"Oke, besok pastikan taman cafe aman. Jangan cerita soal ini sama siapapun termasuk Adit."