
"Pak Rasya, ini berkas yang diminta."
Rasya tersenyum menatap Dira sang sekretaris sekaligus istrinya itu. Dia mengambil berkas dari tangan Dira. "Sini dulu." Suruh Rasya saat Dira akan memutar langkahnya.
Rasya berdiri lalu mengunci pintunya. Setelah itu dia berjalan mendekati Dira dan menariknya duduk di pangkuannya.
"Ih, nakal sekarang." Dira mengalungkan tangannya di leher Rasya.
"Gak papa, kan udah sah hampir dua bulan." Mereka saling menatap sambil tersenyum. Waktu secepat itu berlalu.
"Hmm, kalau seandainya aku resign saja gimana? Soalnya gak enak sama pandangan karyawan lain kerja bareng gini,"
"Emang kenapa?"
"Ya mereka jadi sungkan sama aku. Aku kan jadi gak enak."
Rasya mengecup singkat bibir yang sedang mengadu itu. "Ya sudah, tunggu aku dapat ganti dulu ya."
"Siap Pak bos."
Rasya mendekatkan dirinya, mencium bibir merah itu dengan lembut. Tangannya sudah berani menyusup ke dalam blouse untuk mencari kehangatan. Begitulah indahnya hubungan halal, tanpa takut lagi khilaf yang menyebabkan dosa.
"Nanti aja lanjut di rumah." Dira menarik dirinya saat Rasya semakin menuntut lebih.
"Oke, tonight."
Dira mencubit kecil lengan Rasya. "Tiap malam juga."
"Aku udah kecanduan." Rasya mengecup kembali bibir itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Dira melepaskan diri dari Rasya dan turun dari pangkuannya. Dia merapikan dirinya, sedangkan Rasya langsung berjalan menuju pintu.
"Pak..." Terlambat, Rasya sudah membuka pintu. "Itu ada lipstik di..."
Doni menahan tawa melihat wajah bosnya itu. Ada lipstik merah yang menempel dekat bibirnya.
"Ada apa?"
"Maaf, saya mengganggu."
Buru-buru Dira mengambil tisu lalu menarik tangan Rasya. "Ih, ada lipstiknya." Dira mengusap lipstik yang berada di dekat bibir Rasya.
"Kok kamu gak bilang." Rasya mencubit kecil pinggang Dira.
"Ini aku bilang." Dira masih membersihkan bekas lipstiknya. "Lipstik aku baru, aku juga gak tahu kalau luntur gini."
Otak Doni seketika berkelana kemana-mana. Bisa-bisanya bosnya itu memagut cinta di kantor.
__ADS_1
Bos yang dingin itu benar-benar sudah mencair sampai banjir-banjir. Bucin banget sih mereka. Bikin iri kaum tuna asmara aja.
"Udah," setelah itu Dira keluar dari ruangan Rasya.
"Ada apa Don?" tanya Rasya yang membuat Doni kembali dari otak travellingnya.
"Pak Romi ingin merubah dana anggarannya Pak."
Seketika wajah Rasya berubah menjadi serius karena proyek milik Pak Romi harus terealisasi besok. "Kenapa kamu baru bilang!" Rasya berjalan cepat keluar dari ruangannya.
"Iya, Pak Romi baru saja mengirim e-mail."
"Proyek Pak Romi harus real besok." Rasya masuk ke dalam ruangan Nana. "Na, kamu print ulang anggaran dana dari Pak Romi."
"I-iya Pak." Nana cukup terkejut mendapati perintah dari Rasya. Aura Rasya berbeda sekali hari ini.
"Kamu kebiasaan nyemil di kantor. Tangan kamu bersihkan dulu baru pegang kertas."
Nana yang saat itu memang sudah memegang tisu dibuat bingung oleh Rasya. Padahal sejak dia bekerja di perusahaan Rasya dia selalu membawa cemilan dan selama ini Rasya fine-fine saja.
"Iya Pak. Ini sudah saya bersihkan."
Rasya berdengus kesal. "Setelah selesai, bawa laporannya ke ruangan saya. Kita rubah semua anggaran sesuai keinginan Pak Romi." Setelah itu Rasya berjalan cepat ke ruangannya.
"Itu, kenapa Pak Rasya? Tumben banget nyuruh pakai otot. Kan udah biasa revisi rencana anggaran. Dan soal cemilan juga, perasaan dari dulu aku juga gini. Es kutub mulai kena pemanasan global."
"Ganggu apaan?" Nana menoleh Doni.
"Itu lagi..." Doni mengisyaratkan adegan ciuman lewat tangannya.
"O my god, pantesan. Nih, baru setengah jalan kamu ganggu jadinya pening kan."
Doni malah menjitak kecil kepala Nana. "Lagian ini kantor. Masih kurang aja di rumah. Bikin envy."
Nana tertawa cukup keras. "Rupanya virus kesal itu cepat nular ya."
"Tapi beneran loh. Pak Rasya dulu kan dingin banget dan kalem gitu gak banyak bicara. Akhir-akhir ini cerewet banget. Kadang aku sampai pusing gak ngerti kemauannya. Dulu kalau aku gak ngerti Pak Rasya selalu mengerjakan sendiri, sekarang pake otot ekstra ngejelasinnya."
"Waduh, benar-benar kena pemanasan global ini."
Dua karyawan ini malah sibuk berghibah tentang bosnya. Tidak tahu jika bosnya di ruangannya sudah tidak sabaran menunggu hasil print out anak buah istimewanya itu.
"Lama banget mereka!" Rasya akan berdiri dan memanggil mereka lagi tapi mereka kini telah masuk ke dalam ruangan dengan setumpuk kertas di tangan Nana.
"Kalian lama sekali! Sudah deadline ini."
Nana saling lirik sesaat pada Doni. Dan selanjutnya, benar apa yang dikatakan Doni, Rasya sudah tidak sekalem dulu. Lebih mirip seorang wanita yang sedang PMS.
Eh, masak iya Pak Rasya PMS. Apa gara-gara gak dapat jatah dari Dira jadi gini. Ah, gak mungkin sih tadi kan kata Doni lagi anu-anu di kantor. Terus kenapa Pak Rasya bisa berubah 180° gini? Haduh, kalau dari awal Pak Rasya cerewet dan suka marah gak jelas gini aku udah resign dari dulu. Tapi kan baru akhir-akhir ini. Aku harus cari tahu penyebabnya nih.
__ADS_1
Penjelasan Rasya yang seolah tidak ada titik dan koma itu semakin tidak bisa ditangkap oleh otak Nana.
"Paham?"
Nana meloading sesaat lalu dia melirik Doni. Siapa tahu Doni sudah mengerti.
"Iya, paham," jawab Doni yang diikuti anggukan Nana.
"Ya sudah cepat selesaikan. Jangan sampai nanti lembur lagi."
Mereka berdua keluar dari ruangan Rasya.
"Kak Doni ngerti?" tanya Nana yang otaknya belum juga terhubung dengan kemauan Rasya.
"Ngerti, tadi kan aku sudah baca e-mail Pak Romi. Cepat kerjakan aku bantu."
"Tapi aku penasaran deh, kenapa Pak Rasya jadi kayak cewek sedang PMS gitu."
"Bener kan kata aku."
"Kayak ada hormon yang berlebih." Tiba-tiba Nana menghentikan langkah kakinya. Dia teringat tentang sederetan film-film drama korea yang dia tonton. "Jangan-jangan kena sindrom simpatik."
Doni mengerutkan alisnya tak mengerti. "Apaan tuh?"
Bukannya menjawab tapi Nana justru menyerahkan berkas-berkasnya ke tangan Doni dan dia segera melipir ke ruangan Dira.
"Na? Ini udah deadline kamu mau kemana?"
"Bantu kerjakan dulu Kak. Ada hal penting yang harus diselesaikan lebih dulu."
"Astaga, Nana." Doni menggelengkan kepalanya lalu masuk ke ruangan Nana.
"Ra," panggilan Nana membuat Dira sedikit terkejut.
"Ada apa Na?" tanya Dira sambil sedikit memutar tubuhnya.
Nana menarik tubuh Dira agar berdiri lalu memutar-mutarnya pelan sambil mengamatinya.
"Kamu lagi PMS gak?"
Dira menggelengkan kepalanya. Dia juga cukup bingung dengan perilaku Nana.
"Kamu nikah udah dua bulan kan?"
"Iya."
"Aaaa, kayaknya kecebongnya Pak Rasya sudah tumbuh deh di perut kamu."
"Hah???"
__ADS_1