
"Kenapa?" tanya Rasya yang melihat wajah Alvin sangat memerah sedangkan Rili terus tersenyum kecil.
"Hmm, gak papa. Aku masih lapar jadi gak bisa mikir. Kita buatin nasi goreng dulu ya. Kamu bisa tunggu di ruang tengah sambil nonton tv." Alvin sudah mencekal tangan Rili agar dia tidak melakukannya lagi ataupun kabur.
Rasya semakin menautkan alisnya. "Ya udah, aku mau ngobrol sama Rili saja dulu."
"Kita berdua yang buat. Eh, hmm, maksudnya aku mau ajarin Rili. Bang Rasya tunggu aja di ruang tengah. Sebentar aja 15 menit."
"Ya udahlah. Emang aku datangnya kepagian." Rasya berdiri lalu berjalan menuju ruang tengah.
Alvin segera menyeret Rili untuk masuk ke dalam toilet yang berada di dekat dapur.
"Mas mau ngapain? Ada Kak Rasya."
"Udahlah biarin aja. Siapa suruh pagi-pagi datang ke sini langsung curhat." Alvin menutup pintu kamar mandi itu. "Lagian kamu nakal banget sih. Punya aku kamu mainin gitu jadi gak tahan kan." Alvin mencium Rili dengan liar seolah dia ingin memakannya saja.
Daster pendek itu telah tersingkap ke atas dan Alvin segera meloloskan kain segitiga milik Rili. Lalu melakukan pemanasan dengan kilat.
"Mas, yakin mau lakuin ini. Ada Kak Rasya."
"Versi 10 menit aja." Alvin duduk di atas kloset yang tertutup lalu mendudukkan Rili di pangkuannya yang sudah tidak memakai apapun. "Udah gak bisa tahan. Apalagi kamu senggol-senggol kayak tadi. Kalau masuk gini kan..." Alvin memasukkan miliknya pada inti Rili yang telah basah. "Enak. Walau cuma bentar tapi sangat puas."
Mereka mulai beradu gerakan. Semakin lama semakin cepat. Bahkan suara nikmat itu sudah saling bersahutan. Tidak tahukah mereka bahwa diluar sana...
Rasya berdiri dan berjalan menuju dapur. "Katanya mau masak tapi mereka kemana?"
Suara mereka yang sedang beradu di dalam toilet jelas terdengar sampai dapur. "Astaga, mereka masih sempat-sempatnya. Emang akunya yang terlalu terburu ke sini. Udah tahu pengantin baru." Rasya hanya melipat tangannya sambil menghela napas panjang, takut jika dirinya juga kena sawan mendengar suara yang semakin lama semakin keras saja.
Setelah itu suara gemercik air terdengar dan tak butuh waktu lama mereka keluar dengan wajah yang segar dan rambut yang basah.
"Ehem..." Satu deheman dari Rasya berhasil membuat sepasang pengantin baru ini menjadi salah tingkah.
Mereka berdua tertangkap basah oleh Kakak sendiri. "Eh, Bang Rasya. Udah lama disitu?"
"Ya, sejak ada suara-suara aneh."
Mereka berdua hanya tertawa sumbang. Alvin segera berjalan menuju meja dapur, sedangkan Rili kini duduk di kursi makan berseberangan dengan Rasya.
"Sayang mau pakai kornet juga?"
"Iya."
"Sorry, aku ganggu kalian. Emang aku yang terlalu pagi ke sini," kata Rasya merasa tidak enak juga.
"Santai," ucap Alvin sambil mulai memasak nasi goreng. "Aku udah dapat ide."
"Widih keren, habis ngebajak langsung dapat ide."
Rili dan Alvin melongo sesaat mendengar perkataan Rasya. Sedetik kemudian mereka bertiga sama-sama tertawa.
__ADS_1
"Bentar Bang," Alvin segera menyelesaikan masakannya. Setelah matang, dia mengambil tiga piring dan diisi dengan nasi goreng sampai penuh. Di atasnya ada telor setengah matang.
Dia meletakkan tiga piring itu di atas meja makan.
"Makasih Mas." Rili tersenyum manis sambil meraih sepiring nasi goreng spesial itu.
Alvin mengusap lembut puncak kepala Rili. "Makan yang banyak, kalau masih kurang tuh masih ada."
"Iya Mas. Lapar banget." Jelaslah perutnya terasa sangat lapar karena habis olahraga hingga berkeringat barusan.
Rasya tersenyum melihat keharmonisan mereka. Apakah suatu saat nanti dia dan Dira bisa seperti itu?
"Jadi Fandi sudah membatalkan perjodohannya. Ya mending Bang Rasya langsung lamar aja lah. Gak usah nunggu lama lagi sih. Gercep." Alvin mengobrol sambil makan.
Rasya tersenyum sesaat. Dia masih melahap nasi goreng istimewa itu.
"Mas, makan dulu. Dihabisin dulu baru ngobrol."
Mendengar ucapan istrinya Alvin justru mengusap lembut pipi Rili sesaat. "Iya sayang. Kamu pelan-pelan kalau makan." Milik Alvin dan Rasya saja masih tinggal separuh sedangkan Rili sudah tandas.
"Mas mau lagi." Rili berdiri tapi Alvin dengan cepat meraih piring kosong Rili.
"Kamu duduk aja. Aku ambilkan." Alvin kembali mengisi piring Rili dengan nasi goreng. Dia memang selalu bahagia melihat naf su makan Rili. Apalagi sejak tiga hari menikah ini, Rili semakin mudah lapar. Karena memang bukan hanya naf su makan yang meningkat tapi juga naf su yang lainnya.
"Makasih Mas." Rili kembali melahap nasi itu.
"Gak papa. Aku seneng kalau Rili makan lahap gini. Tapi heran aja dari dulu gak bisa gemuk."
"Cacingan..."
"Ih, Kak Rasya."
Alvin dan Rasya tertawa kecil. "Kita lanjut obrolan tadi. Jadi gimana? Bang Rasya mau langsung lamar?"
"Iya, maunya gitu."
"Aku udah punya ide..." Alvin menjelaskan idenya pada Rasya.
"Romantis sih. Tapi aku gak bisa kayak gitu."
Alvin menghela napas panjang. Hati sedingin es itu harus segera mencair. "Coba dulu lah. Jadi cowok kan juga harus ada sisi romantisnya. Urusan tempat gampang nanti aku atur di taman."
"Iya, ide kamu bagus juga. Nanti aku kasih tahu pastinya kapan. Pokoknya dalam minggu ini."
"Kak, biar makin berasa kejutannya jangan kasih kode apa-apa dulu sama Dira. Anggap Kak Rasya belum tahu apa-apa." Rili ikut bersuara karena piringnya kini telah kosong untuk yang kedua kalinya.
Rasya tersenyum. "Kalian memang the best lah. Bucin kalian bermanfaat buat orang lain."
"Sebenarnya tanya soal kayak gini tuh ke Papi Rizal. Papi bucinnya nomor satu."
__ADS_1
Mereka bertiga tertawa cukup keras.
"Iya, kamu bener. Jadi ingat insidennya Om Rey kemarin."
"Hampir aja aku dipecat jadi mantu. Kalau cemburu udah kayak malaikat pencabut nyawa di film-film itu."
Mereka kembali tertawa. Tidak tahu jika di tempat lain Papi Rizal sedang bersin-bersin karena dibicarakan ketiga anaknya.
"Ya udah aku mau ke kantor. Udah telat 30 menit ini."
"Halah, bos mah telat gak ada yang potong gajinya."
"Tapi kan juga harus disiplin." Rasya kembali memakai jasnya yang tadi sempat dia lepas.
"Mas, nasi gorengnya masih ada kan? Aku bungkusin buat Nana ya. Sebagai ucapan terima kasih itu."
"Oiya, iya, bungkus aja semuanya."
"Bentar Kak." Rili segera mengambil kotak makan lalu mengisinya dengan nasi goreng hingga penuh tak lupa juga telor mata sapinya. Setelah itu dia berikan pada Rasya. "Kak, titip ini ya. Bilang aja, makasih kadonya."
"Untung adik sendiri. Bos dijadiin kurir makanan gini."
Setelah itu, Alvin dan Rili mengantar Rasya sampai depan rumah.
"Sukses deh."
"Sip, brother. Makasih." Rasya masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati Kak."
Mobil Rasya mulai melaju meninggalkan rumah Alvin.
"Mas, mau ke kafe sekarang?" tanya Rili sambil masuk ke dalam rumah.
"Iya, kenapa?" tanya Alvin sambil menutup pintu rumahnya kembali.
"Ya gak papa. Aku mau siap-siap dulu."
"Kirain mau lagi."
Mendengar kalimat itu, Rili mempercepat langkahnya. Tapi Alvin dengan gerak cepat langsung menggendong Rili.
"Ih, Mas turunin..."
"Iya, nanti di kamar. Tadi kan versi cepat, sekarang versi lama ya."
"Ih, nanti kita kesiangan."
"Biarin. Kita kan bosnya..."
__ADS_1