Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Complicated


__ADS_3

Jujur saja Alvin sengaja mengajak bicara Rasya yang sedang melamun sambil menatap seseorang.


"Bang Sya??"


Mendapat senggolan dari Nana seketika Rasya menyahuti omongan Alvin. "Iya, ada apa?"


"Ngelamunin apa sih? Pacar kan ada di samping." Perkataan Alvin yang sengaja menyindir semakin memperkeruh hati Rasya.


"Sorry, aku mau ke toilet dulu." Rasya berdiri dan berjalan menuju toilet. Sebenarnya ini hanyalah cara untuk menghindar dari situasi yang kurang kondusif. Sedari tadi, sebenarnya dia sudah berusaha untuk berdamai dengan keadaan tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menghindari ini semua.


Tepat saat berada di depan toilet, Adit menghadang langkah Rasya. "Sya, gue tanya sekali lagi. Lo beneran pacaran sama Nana?"


"Nggak. Gue cuma pura-pura." Rasya akan masuk ke dalam toilet tapi lagi-lagi Adit menghalanginya.


"Oo, jadi lo cuma mau manfaatin Nana. Sya, lo pikir dong, dia itu suka sama lo dari dulu tapi kenapa lo malah PHP dia kayak gini."


"Dit, gue tahu lo suka sama dia. Kalau lo suka ya perjuangin! Gue udah anggap Nana kayak adik gue sendiri. Gue barusan bilang ke Fandi kalau Nana pacar gue agar gue bisa mengalihkan pikiran gue dari Dira."


"Hei, bukannya lo dulu sukanya sama Dara. Jangan bilang karena mereka kembar jadi lo gagal move on."


"Ada satu hal yang lo gak bakal ngerti." Rasya kini melewati Adit dan masuk ke dalam toilet.


"Kenapa masalah complicated gini sih?" Adit menghela napas panjang lalu dia masuk ke dalam ruang karyawan dimana ada Aksa di dalam sana. "Lo ngapain di sini?"


"Sembunyi dari tante girang."


Adit tertawa sesaat lalu dia duduk di dekat Aksa.


"Gak gabung sama mereka lagi?"


"Malas gue." Adit justru menopang kepalanya. Dia membayangkan awal dia jatuh cinta dengan Nana.


"Mau makan bakso? Gue yang bayarin deh!" Karena membelikan bakso berujung jatuh cinta kala itu saat masih memakai seragam putih abu-abu. Tapi dia tidak ada keberanian mengungkapkannya dan di saat ada keberanian Nana justru menganggapnya bercanda karena sikap Adit yang selalu tidak jelas dan terkesan menyebalkan.


"Sa, menurut lo, gue ini udah bisa bersikap dewasa belum sih?"


Aksa menatap Adit karena tiba-tiba dirinya menjadi curahan hati seorang Adit. "Dewasa dari segi apa dulu nih?"


"Dari sikap Aksa, bukan dari film dewasa." Adit menjitak sesaat kepala Aksa.


"Iya, sikap dalam mengatasi apa? Mas Adit udah terlihat dewasa pada saat bekerja tapi kalau kumpul sama kita-kita sih emang agak kurang waras kalau ngobrol."


Adit melebarkan matanya pada Aksa. "Halah, lo juga sama kalau bercanda juga kurang waras."


"Iya, tapi kita harus bisa bedain antara Mas Adit bicara dengan teman atau dengan cewek, terutama cewek yang Mas Adit sukai. Soalnya banyak cewek yang gak terlalu suka dengan tingkah cowok yang terkesan absurd. Bercanda atau ngegombal boleh, tapi yang langsung ngena di hati."


Adit menghela napas panjang. "Iya sih, gue emang belum bisa buat nyaman cewek." Adit kembali melamun. Pikirannya menerawang jauh hingga mampu menembus langit-langit kafe.


...***...


"Mas, aku udah tahu sekarang siapa yang saling mencintai," bisik Rili di dekat telinga Alvin.

__ADS_1


Alvin tersenyum lalu menatap gadisnya yang sedari tadi memang sedikit dia acuhkan karena mengobrol dengan Fandi. "Kamu sekarang bisa membaca isi hati seseorang ya?" bisik Alvin lalu dia menggenggam tangan Rili.


"Ehem, kapan nih kalian menikah?" Tanya Fandi yang melihat kemesraan Alvin dan Rili.


"Tiga minggu lagi. Kalian datang ya. Kalian sendiri katanya mau tunangan?"


"Iya, sekitar sebulan lagi."


Rasya yang saat itu baru saja kembali dari toilet, wajahnya semakin keruh.


"Kalau kalian, kapan hubungan kalian naik ke jenjang selanjutnya?" tanya Fandi pada Nana dan Rasya.


"Hmm, masih belum tahu. Ya udah, aku mau pulang dulu ya, soalnya kita mau mampir ke suatu tempat dulu sebentar."


Rasya mengambil ponselnya. "Rili, kamu pulang sama Alvin kan?"


"Iya kak, beres."


Rasya berdiri sambil menarik tangan Nana. "Fan, Ra, aku duluan " Mereka berdua segera keluar dari kafe Alvin.


"Ra, kita pulang juga yuk?"


"Iya, Kak."


Fandi dan Dira ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Kita duluan ya."


"Lihat deh Mas. Kak Rasya sama Dira itu sama-sama ada rasa."


"Hmm, tapi kan Dira baru ketemu sama Rasya."


"Kok aku punya firasat ya, yang ketemu sama Kak Rasya waktu kecil itu Dira, soalnya kan Dara itu justru mantannya Mas Alvin, yang sampai akhir hidupnya masih gagal move on."


Alvin mengatupkan jari telunjuknya di bibir Rili. "Sssttt, jangan bilang begitu. Aku jadi merasa berdosa."


Rili tersenyum lalu meraih tangan Alvin. "Tapi iya kan Mas. Dan satu hal lagi, waktu itu Dara sama sekali gak kenal Kak Rasya. Gak mungkin hanya rentan lima tahun Dara bisa melupakan Kak Rasya. Sedangkan sama Mas Alvin ingat."


"Iya sih masuk akal."


"Kapan-kapan aku akan coba bertanya sama Dira."


"Tapi kan Dira udah punya calon tunangan."


"Masih calon, Mas."


Alvin kini merengkuh tubuh Rili. "Ke kantor aku yuk?"


Rili memutar bola matanya. Dia sudah sangat mengerti dengan ajakan Alvin. "Tahan dulu, nanti aja habis nikah."


Satu cubitan mendarat di pipi Rili. "Ih, gemesin. Awas ya nanti."

__ADS_1


"Apa?"


Alvin membisikkan sesuatu yang langsung mendapat cubitan keras di pinggangnya.


"Aw, sakit sayang."


"Makanya jangan omes dulu."


...***...


Nana yang duduk di sebelah Rasya hanya terdiam sambil melirik pria dingin di sampingnya berulang kali.


"Sorry soal tadi..." Akhirnya Rasya membuka suaranya.


"Iya, gak papa. Aku ngerti kalau Kak Rasya cuma pura-pura." Meskipun hati Nana sakit, tapi dia memang tipe kebal menghadapi sikap Rasya. Lain halnya jika Rasya tidak bahagia dengannya, lalu dia bisa apa?


Mereka terdiam beberapa saat, sambil fokus menatap jalanan yang diterangi lampu malam.


"Kak Rasya sebenarnya mau hidup yang kayak gimana sih? Ayo dong yang tegas, jangan selalu saja terbawa perasaan. Seseorang itu bisa bahagia dengan cara berjuang. Apalagi Kak Rasya itu laki-laki. Aku memang mencintai Kak Rasya, tapi aku sadar diri kok. Aku bisa melihat Kak Rasya bahagia dengan pilihan Kak Rasya." Rupanya Nana sudah berada di titik akhir kesabarannya. "Kalau Kak Rasya mau merebut Dira, ya udah lakuin!!"


Mendengar ucapan Nana seketika Rasya menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Aku gak ada pikiran kayak gitu, Na."


"Gak ada pikiran tapi dalam hati mendamba. Ya, memang wajah Dira sama dengan Dara itu kan sebabnya Kak Rasya masih gak bisa move on."


"Bukan karena itu. Udahlah kamu gak usah bahas perasaan aku sama Dira."


"Oke, kalau Kak Rasya memang nantinya bersatu sama Dira. Fix, aku akan berhenti ngejar Kak Rasya." Nana membuka pintu mobil Rasya lalu keluar dari mobilnya.


"Na, masuk. Aku harus antar kamu sampai rumah." Rasya keluar dan menyusul langkah Nana.


"Gak perlu! Lagian rumah aku udah dekat."


Rasya mencekal tangan Nana. "Udah dekat apa? Masih jauh. Aku gak mau kamu kenapa-napa."


Nana menghentikan langkahnya.


"Na, aku minta maaf. Sejujurnya, kamu tidak perlu terus bertahan dengan aku tanpa kepastian. Ada seseorang yang jauh lebih mencintai kamu." Rasya merangkum kedua pipi Nana. Gadis yang berada di hadapannya memang cantik tak jauh beda dengan Rili. Tapi kebersamaannya dengan Nana hanya sebatas sayang antara kakak dan adik.


"Siapa? Mas Adit? Dia cuma main-main. Dia cuma bisanya ganggu hidup aku."


Rasya menghela napas panjang. Kisah cinta ini benar-benar terasa rumit seperti tanpa ujung.


"Kak, kita lanjutkan pacaran pura-pura kita kalau memang Kak Rasya nantinya memilih yang lain, baru ada satu alasan untuk aku berhenti berharap."


Konyol! Iya, ada seseorang yang rela patah hati demi Rasya. "Aku gak mau hanya jadiin kamu pelarian."


"Kita coba jalani. Tapi kalau memang Kak Rasya mau jadi pebinor sekarang juga, ya aku berhenti sampai di sini."


Angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka tak menyurutkan tatapan mata dari Nana. Dia menunggu keputusan dari seseorang yang berhati sedingin es. Walau itu hanya sebuah harapan semu.

__ADS_1


__ADS_2