
Setelah mengantar Dira, Rasya pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat sesaat. Dia tersenyum kecil membayangkan apa yang dilakukannya bersama Dira semalam, walau hanya sebuah pelukan tapi akan menjadi kenangan terindah untuknya.
Menjelang siang, dia mengirim pesan pada Rili untuk bertanya posisinya. Setelah mendapat balasan dari Rili, Rasya segera menyusulnya ke kafe untuk mengobrol dan makan siang.
Rasya memakai kemeja kerjanya karena setelah dari kafe dia akan segera ke kantor.
Setelah itu, Rasya keluar dari rumah dan menaiki mobilnya menuju kafe milik Alvin.
Beberapa saat kemudian, dia sudah menghentikan mobilnya di depan kafe Alvin. Dia turun dan segera masuk ke dalam kafe. Memesan kopi terlebih dahulu pada Malik lalu bergabung dengan Rili dan Alvin yang sedang menulis nama di undangan pernikahan mereka. Tak ketinggalan juga ada Nana dan Adit yang baru saja bergabung setelah makan siang.
"Pak Rasya pulang jam berapa?" tanya Nana basa-basi meski sebenarnya dia sakit hati, apalagi melihat wajah Rasya yang segar, pikiran buruk singgah lagi di otak Nana.
"Tadi jam 10."
"Duh, yang baru bermalam sama cewek. Eh, sekretarisnya..." celetuk calon adik ipar yang kini menumpuk undangan yang telah bertuliskan nama.
"Iya, kemarin kan si ijo tanding. Jalanan macet, kaca jendela mobil aku aja sampai digedor. Pilih amannya ajalah menginap di hotel," sedikit cerita Rasya.
"Petaka membawa bahagia." Alvin tertawa.
"Pantes keliatan seger banget." timpal Adit. Omongan para perjaka ini tiba-tiba kurang kondusif.
"Emang kenapa kalau keliatan seger? Pak Rasya kan habis mandi." Meskipun Nana sebenarnya sudah tanggap tapi dia berusaha mencari kepastian.
"Ngobrolin apa nih, seru banget." Malik datang dan meletakkan kopi pesanan Rasya di depannya.
"Wih, habis bergadang semalam suntuk sekarang ngopi." Adit semakin tertawa. Kapan lagi mengatai bos dingin itu.
Alvin dan Rili kini menatap Rasya karena Rasya hanya bersikap santai. Benarkah semalam terjadi sesuatu di antara mereka berdua?
"Bang Rasya beneran one night stand?" tanya Alvin terang-terangan. "Rili kita kalah sama mereka."
Hal itu sukses membuat Nana dan Adit memasang telinganya untuk mendengar jawaban dari si hati dingin itu. Apakah es sudah mencair hingga menimbulkan banjir?
__ADS_1
Rasya tersenyum kecil. "Ngapain berdiri semalaman."
Nana menelan salivanya sendiri. Benarkah ini jawaban dari bos dinginnya itu. Terlalu ambigu.
Seketika para jejaka ini tertawa.
"Iya Pak, bener. Ngapain berdiri semalaman dua jam aja udah puas." Malik tertawa dengan lebar sambil berlalu.
"Aduh, jadi pengen cepat-cepat satu minggu lagi biar bisa berdiri semalaman," kata Alvin sedikit berbisik pada Rili.
"Ih, ngapain berdiri semalaman?"
"Biar puas dong, masak iya berdiri cuma dua jam."
Satu cubitan mendarat di pinggang Alvin. Tapi Alvin justru tertawa dan menatap gemas pipi Rili yang merona.
"Haduh, calon pengantin sudah merencanakan malam panjang juga ternyata. Lama-lama kena sawan aku di sini. Udah ah, aku mau balik dulu."
"Na, suruh Doni nunggu aku kalau mau menemui Pak Felix," kata Rasya.
"Oiya lupa, ada dalam tas, Na." Adit berdiri dan berjalan menuju ruang karyawan yang diikuti oleh Nana.
"Nih," Adit memberikan kunci itu pada Nana.
"Eh, Mas emang bener ya kalau cowok dan cewek bermalam udah pasti mereka melakukan one night stand?"
Adit terdiam sesaat sambil menatap Nana. Pasti Nana masih memikirkan tentang Rasya. Haruskah dia menjawab dengan kalimat candaan? Tidak! Kali ini Adit sudah memutuskan untuk lebih cool. "Ya, tergantung cowoknya, Na. Lagian kan mereka pasti ada di kamar yang berbeda kan. Ya, kalau memang mereka ngelakuin itu, ya dosa ditanggung mereka sendiri. Udah, kamu gak usah mikir yang bukan-bukan."
Nana tersenyum lalu mencubit kecil pipi Adit. "Makasih ya, Mas." Setelah itu Nana keluar dari ruang karyawan meninggalkan debaran nyata di hati Adit.
Adit meraba pipinya sesaat, "Andai aja yang singgah bibirnya bukan tangannya."
...***...
__ADS_1
Malam itu, ketika Rasya pulang dari kantor tiba-tiba saja Rasya mendapat panggilan dari Dira.
"Dira?" tadi Rasya memang menyuruhnya untuk tidak masuk hari itu. Dia segera mengangkat panggilannya. "Iya, ada apa Ra?"
"Kak, dompet aku jatuh dalam mobil gak? Soalnya aku cari di tas gak ada. Aku turun dari mobil tas aku udah kebuka."
"Sebentar aku cek di jok belakang." Rasya yang saat itu memang baru keluar dari mobil, membuka pintu belakang lalu mencari dompet itu di bawah jok. Rasya meraih dompet panjang berwarna hitam itu. "Ada Ra, besok aku antar ke rumah kamu ya."
"Gak usah Kak, biar aku aja yang ambil."
"Udah gak papa. Besok kan hari Minggu sekalian aku mau jalan-jalan."
"Ya udah Kak. Makasih." Dira menutup panggilannya.
Rasya kembali menutup pintu mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, terlihat kedua orang tuanya juga sedang menulis nama tamu di undangan.
"Sya, baru pulang?"
"Iya, Mi."
"Kalau belum makan, cepat makan ya."
"Iya Mi." Rasya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah sampai di dalam kamar, Rasya segera menutup pintu dan duduk di dekat meja kerjanya. Dia menatap dompet itu. Ada keinginan untuk membukanya. Rasya membuka dompet itu, hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu, ktp, dan kartu-kartu penting lainnya.
Ada satu foto yang menarik perhatian Rasya yaitu sebuah foto keluarga dengan ukuran kecil, ada Dewa, Karin, Dara, dan Dira waktu mereka masih kecil.
"Mereka sangat mirip." Rasya mengeluarkan foto itu dari tempatnya karena ingin melihatnya lebih dekat. Tapi pandangannya terhenti pada sebuah foto di balik foto itu.
"Foto ini kan diambil lewat hpnya om Dewa waktu itu, jadi Dira mencetaknya lalu menyimpannya sampai sekarang." Dengan tangan sedikit bergetar dia mengambil foto itu. Terlihat Dira dan dirinya yang masih bocah sedang berdiri di taman bungkul kala itu. Tersenyum lebar tanpa beban.
Rasya tersenyum mengingat kenangan waktu itu. Dia terus memandangi foto itu. Beberapa detik kemudian, dia membalikkan foto itu, matanya membulat sempurna saat membaca sebuah tulisan. "You're my first love..."
Senyum Rasya semakin mengembang. Dia mengambil bulpoinnya dan menulis sesuatu di bawah tulisan itu.
__ADS_1
Mungkin saja Dira akan membaca tulisannya, meski tanpa dia beri tahu. Biarlah waktu yang akan menjawab sebuah perasaan yang sama tapi tidak bisa memiliki. Mereka terhalang oleh sebuah perjodohan yang seharusnya tidak terjadi.