
"Akhirnya kembali ke rumah. Tidur semalam di rumah sakit rasanya gak enak banget." Rili merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang masih putih bersih. Sederetan kejadian yang menimpanya seolah berputar kembali di kepalanya. Begitu cepat semua terjadi dan berlalu.
Alvin hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah lebih membaik, baik tubuh dan perasaannya. Meski dia tahu jauh di lubuk hati masih tersisa rasa sedih itu.
"Mas, kira-kira Kak Rasya sudah unboxing belum ya?" tanya Rili. Entah apa yang tiba-tiba hinggap di pikiran Rili hingga dia bertanya hal itu pada suaminya.
Mendengar pertanyaan Rili, seketika tangan Alvin yang sedang memasukkan beberapa pakaian ke lemari terhenti dan dengan cepat dia menutup kembali pintu lemari. "Kok kamu tanya gitu?" Alvin berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Ya kan, Kak Rasya itu dingin banget. Pacaran aja gak pernah, apalagi ciuman. Bisa dapetin Dira dan langsung nikah. Paket kilat khusus. Udah kayak berasa orang dijodohin atau ta'arufan gitu."
"Ya bagus dong, gak banyak buat dosa kayak kita." Alvin kini menyusul Rili tidur di sebelahnya. Dan memeluknya dari samping.
Rili tiba-tiba tertawa membayangkan kakaknya. "Pakai gaya apa ya Kak Rasya? Bisa gak ya buat Dira deg-deg ser gitu. Jujurly aku penasaran banget."
"Astaga..." Alvin sedikit mencubit hidung mancung itu. "Jangan dibayangin. Nakal banget bayangin kakaknya sendiri. Seorang lelaki itu meskipun gak pernah ngapa-ngapain sama wanita, sudah jelas bisa. Itu udah secara naluri. Menurut aku, Rasya sekarang pasti udah kecanduan tuh. Apalagi di puncak udaranya dingin banget, pasti mau nyari kehangatan terus."
"Ih, Mas Alvin otaknya juga ikut travelling. Tapi darimana teorinya Mas? Dari lihat-lihat film gitu? Masak iya Kak Rasya suka lihat film begituan kayak Mas Alvin."
Alvin semakin tertawa. Sepenasaran itu Rili dengan Kakaknya. "Semua cowok pasti juga suka lihat film gitu. Apalagi di usia SMA. Tapi teorinya gak cuma dari film, dari mimpi juga sebenarnya. Tapi ngomong-ngomong aku udah gak pernah lihat film gitu, kok jadi bandingin sama aku."
"Ih, bener kan dulu waktu SMA."
"Ya kan dulu waktu nakalnya aku. Semakin aku dewasa, ya hal kayak gitu aku kurangi."
"Eh, tapi emang Mas Alvin mimpi sama siapa?"
"Sama bidadari yang sekarang ada di pelukan aku."
Rili memutar tubuhnya dan menghadap Alvin. "Omes aja dari dulu."
"Cuma sama kamu." Satu kecupan singkat mendarat di bibir Rili. "Kamu tidur, ini udah malam."
"Mas, besok kalau mau ke kafe gak papa. Kan di rumah juga ada Mbak Lela."
"Beneran udah gak papa?"
"Gak papa."
__ADS_1
"Ya udah aku besok ke kafe sore saja." Alvin mulai mengusap rambut Rili agar dia segera terlelap.
...***...
Sedangkan di villa pagi hari itu, sepasang pengantin baru ini masih saja tidur sambil berpelukan. Bahkan semakin erat saat menjelang pagi.
"Dingin banget." Meskipun sudah memakai piyama panjang dan berselimut tebal yang lengkap dengan pelukan erat, Dira masih saja kedinginan. Hingga dia tidak bisa lagi memejamkan matanya di hari yang masih sangat pagi itu.
"Iya, emang dingin banget. Gak biasa hidup di puncak jadi semakin terasa dinginnya." Rasya semakin menggulung tubuhnya dan Dira dengan selimut. "Hawa kayak gini mager banget ya buat bangun. Padahal niatnya mau aku ajak jalan-jalan pagi. Lihat pemandangan yang berkabut."
"Mager banget. Enak gini aja."
"Kita buat kehangatan yuk?" Rasya merenggangkan pelukannya agar bisa melihat muka bantal Dira.
"Hem?" Dira nampak berpikir. Setelah melakukan untuk yang pertama kalinya kemarin sore, mereka memang belum melakukannya lagi. "Sakit gak?'
Rasya mengubah posisi mereka. Dia kini berada di atas Dira, dan mulai menguasai seluruh tubuhnya. "Pasti ada manis-manisnya." Rasya mencium lembut bibir Dira yang semakin lama semakin menuntut dan dalam. Hawa dingin perlahan mulai hilang, saat Rasya mulai memberi sentuhan yang melenakan.
Perlahan tangan Rasya mulai membuka kancing piyama itu, begitu juga dengan Dira. Dia kini lebih berani. Dia ikut membuka kancing piyama Rasya hingga terlihatlah dada bidang itu.
Rasya melepas ciumannya. Dia mempercepat gerak tangannya melucuti semua pakaian Dira. "Kamu benar-benar bikin aku kecanduan."
"Surely?" Setelah melepas pakaiannya juga, dia kembali menindih tubuh polos itu.
"Iya," Dira melingkarkan tangannya di leher Rasya. Dia kembali melenguh saat merasakan bibir Rasya singgah di lehernya. Menyapunya dengan lembut dengan sesekali hisapan. Semakin lama semakin ke bawah, menelusuri dada yang indah dengan puncak yang telah menegang.
Dira semakin membusungkan dadanya saat Rasya melahap kedua puncak itu secara bergantian.
Tangan satunya mulai membuat sesuatu yang basah agar Dira tidak merasa kesakitan lagi.
Suara de sa han Dira semakin keras, kali ini Rasya tidak membiarkan Dira mencapai ******* sebelum dimasukinya. Dia menghentikan permainannya dan menatap Dira yang wajahnya sudah memerah.
Tanpa bicara lagi, Rasya mulai memposisikan dirinya. Membenamkan miliknya lalu menggerakkannya keluar masuk secara perlahan.
Dira memekik tertahan. Ini kali keduanya benda tumpul itu mengguncang dirinya. Masih terasa sakit meski tidak sesakit yang pertama. Dia pejamkan matanya merasakan setiap gesekan yang Rasya ciptakan dengan tangan yang berpegangan di bahu Rasya.
"I love you." Satu bisikan kalimat cinta membuat Dira membuka matanya.
__ADS_1
"I love you too."
Rasya kembali melabuhkan ciumannya dengan liar. Gerakan pinggulnya semakin cepat hingga hawa dingin terusir dengan sempurna saat kulit mereka mulai berkeringat.
Suara de sa han itu saling bersahutan yang diiringi dengan suara tepuk tangan meriah, ralat, bukan tepuk tangan melainkan suara kulit yang bertabrakan.
Mereka saling beradu gerakan dan de sa han, hingga mereka mencapai puncak bersama di pagi hari dengan matahari yang telah bersinar dengan terang.
Rasya menjatuhkan dirinya di atas tubuh Dira saat dia telah mencapai puncaknya. Dia atur napasnya tanpa melepaskan miliknya.
"Jadi panas kan?" tanya Rasya menggoda Dira.
"Panas banget, sampai berkeringat."
Rasya tersenyum kecil sambil menempelkan telinganya di dada Dira dan mendengarkan detak jantung Dira yang tidak beraturan.
"Kak, berat ih."
Rasya tak juga menggeser tubuhnya.
"Kak, kok kayak ngotot lagi itu."
Rasya hanya tertawa. Dia rasanya benar-benar menginginkannya lagi dan lagi apalagi bulan madunya hanya tiga hari, setelah itu dia kembali ke pekerjaan yang telah menumpuk.
"Itu tandanya mau dimanja lagi." Rasya menegakkan kepalanya menatap Dira yang memanyunkan bibirnya.
"Emang gak capek?"
Rasya menggelengkan kepalanya dan mulai menggerakkan kembali pinggulnya.
"Once again."
Suara de sa han di pagi hari kembali terulang sekali lagi.
.
.
__ADS_1
💞💞💞
.