
"Hasilnya apa ya?"
Perlahan Rili membuka tangannya tapi dia masih menutup matanya, tidak berani menatap langsung.
"Positif sayang," kata Alvin dengan mata berbinarnya. Bahkan dia langsung membawa Rili dalam pelukannya.
Rili membuka matanya dan menatap tak percaya pada alat tes itu yang menunjukkan hasil positif. "Ini beneran Mas?"
"Iya." Alvin merengkuh tubuh Rili dan berjalan keluar dari kamar mandi. "Aku sendiri juga gak percaya kita dikasih kepercayaan secepat ini." Alvin mendudukkan Rili di tepi ranjang dan dia berjongkok di hadapan Rili sambil menempelkan hidungnya di perut yang masih rata itu. "Makasih ya sayang."
"Ih, Mas Alvin yang buat kok makasih sama aku."
Alvin terkekeh sesaat lalu kembali mencium perut Rili. "Sayang kamu makan ya, jangan biarin perut kamu kosong."
"Iya, bentar lagi Mas."
Alvin menegakkan dirinya lalu duduk di sebelah Rili dan kembali memeluk tubuh itu. "Kalau kamu pengen apa-apa bilang sama aku ya. Atau kalau mau masakannya Adit, biar tiap hari aku suruh Adit masak buat kamu. Pokoknya kamu jangan sampai gak makan. Gak papa meskipun mual"
Rili menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita langsung periksa saja. Soalnya tadi pagi perut kamu sempat kram, takut kenapa-napa." Tangan Alvin kini mengusap lembut perut Rili.
"Iya Mas." Rili mengikuti gerakan tangan Alvin. Mengusap lembut perutnya sambil tersenyum. Satu kebahagiaan lagi kini hadir di kehidupan mereka.
...***...
"Selamat Bunda dan Ayah, nih, kantong janinnya sudah terlihat," terang Dokter Ani, Dokter kandungan yang didatangi Rili dan Alvin di rumah sakit ibu dan anak sore itu.
Alvin terus menggenggam tangan Rili saat melihat layar hasil USG. Bahkan Rili sampai meneteskan air mata bahagia, benih itu begitu cepat tumbuh dalam rahimnya.
"Usia kandungannya sudah 6 minggu dan kalian baru menikah 3 minggu. Pak Alvin tidak kaget kenapa usianya sudah 6 minggu?"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Saya sudah mengerti soal ini."
"Iya, jadi usia kandungan itu dihitung sejak hari terakhir datang bulan. Kemungkinan besar pembuahan terjadi di saat masa subur bunda." jelas Dokter Ani. "Wah, benar-benar patas. Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua."
"Iya, terima kasih dokter."
Dokter Ani nampak mengerutkan dahi saat memperbesar gambar pada layar USG itu. "Bunda Rili apa pernah kram atau nyeri seperti datang bulan."
"Iya dok tadi pagi. Dan rasanya lumayan nyeri."
"Lihat ini," Dokter Ani menunjuk area yang berwarna putih di sekitaran kantong rahim. "Kandungannya masih sangat lemah. Harus benar-benar sering istirahat, jangan terlalu stres, dan kalau ada tangga di rumah jangan dulu naik tangga ya. Dan, ini berat sebenarnya untuk pasangan pengantin baru, untuk sementara kurangi intensitas bercinta dulu."
"Iya dok." Mendengar perkataan dokter, wajah Alvin berubah menjadi serius. Kandungan lemah? Itu artinya Alvin harus benar-benar bisa menjaga Rili dan calon buah hatinya.
"Sudah saya print out hasil USG nya."
__ADS_1
Alvin membantu Rili duduk lalu turun dari tempat pemerikasaan.
Rili tersenyum merekah menatap hasil USG nya. Mereka kini duduk di depan Dokter Ana yang sedang menulis hasil pemeriksaan di buku pink.
"Saya kasih vitamin. Diminum yang teratur ya bunda."
"Iya, Dok."
"Kalau ada keluhan seperti kram lagi dan gak hilang-hilang atau disertai flek da rah, segera lakukan pemeriksaan ya. Selama tidak ada keluhan periksa kembali bulan depan."
"Iya Dok. Terima kasih."
Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan Dokter Ani.
Rili terus tersenyum sambil menatap hasil USG itu. Tangan Alvin kini terselip di pinggang Rili sambil berjalan pelan.
"Sayang, mulai sekarang kamu harus benar-benar banyak istirahat dan juga makan."
"Iya Mas. Protektif banget sih."
"Iya dong. Aku mau kamu dan anak kita sehat."
Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil Alvin mulai melaju.
"Mas, besok kita adain makan malam yuk. Kita kasih tahu kabar bahagia ini sama orang tua kita."
...***...
Pagi itu, Alvin terbangun karena samar-samar dia mendengar suara muntahan dari kamar mandi.
"Sayang?" Alvin langsung terduduk lalu beranjak dari ranjang dan menyusul Rili ke kamar mandi. Dia pegang rambut Rili yang menjurai ke depan dan tangan satunya mengusap lembut punggung Rili.
Melihat mata Rili yang sampai merah mengeluarkan air mata dan bibir yang semakin pucat itu membuat Alvin merasa tidak tega.
Alvin menekan tombol flush setelah Rili berhenti. Setelah selesai berkumur, Rili berpegangan pada lengan Alvin karena dirinya terasa sangat lemas tanpa tenaga.
Dengan gerak cepat, Alvin langsung menggendong Rili dan merebahkannya di atas ranjang.
"Badan aku gak enak banget Mas."
Alvin menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Rili.
"Aku buatkan susu ya. Sebentar."
Rili semakin meringkuk di atas ranjang. Perutnya terasa sangat mual dan kepalanya terasa berputar-putar.
Beberapa saat kemudian Alvin masuk ke dalam kamar dan sudah membawa segelas susu hangat.
__ADS_1
"Minum dulu." Alvin membantu Rili duduk dan memberikan segelas susu itu pada Rili.
Baru juga seteguk Rili meminumnya, dia kembali mual lagi. Rili berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia keluarkan kembali isi dalam perutnya meski hanya sedikit.
"Mas..."
Alvin kembali meraih tubuh Rili dan menggendongnya menuju ranjang. Dia rebahkan Rili lalu dia peluk tubuh yang bergetar itu.
"Maafin aku ya, udah buat kamu kayak gini."
"Mas, kok minta maaf. Kebanyakan orang hamil kan memang kayak gini."
Alvin memberi kecupan kecil berkali-kali di pipi Rili. "Nanti aku belikan mangga ya buat pereda mual."
"Iya Mas." Rili sedikit memutar dirinya hingga kini berhadapan dengan Alvin. "Mas, aku pengen masakannya Mas Adit lagi tapi sambil lihat Mas Adit masak."
"Hah?" Memang sedikit tidak masuk akal. Mungkin kalau ini keinginan Rili saat belum hamil pasti Alvin akan langsung menolaknya. Berhubung ini keinginan ibu hamil, Alvin langsung mengiyakannya.
"Iya, biar aku telepon Adit suruh ke sini."
Alvin meraih ponselnya lalu menghubungi Adit.
"Hallo Dit, kamu ke rumah aku ya. Masak di rumah."
"Eh, emang kamu gak punya pembantu sampai nyuruh aku masak." Terdengar nada kesal Adit di ujung sana.
"Rili lagi ngidam. Maunya lihat kamu masak dan makan masakan kamu."
"Wih, beneran udah jadi Alvin juniornya. Rasain lo makanya jangan hina masakan gue." Adit justru mengejek Alvin di seberang sana.
"Sial lo! Cepet ke sini. Sama belanjain juga apa yang mau dimasak. Stok di kulkas aku udah menipis."
"Beres. Yang penting bonus."
"Iya, iya." Alvin memutuskan panggilan Adit lalu dia kembali memeluk tubuh Rili.
"Aku sayang kamu..." satu kecupan mendarat di kening Rili.
💞💞💞
.
.
.
Banyak pria bucin yang aku buat dan kenapa rasanya aku semakin ngiri gini... 😆
__ADS_1