
"Iya, dia pacar aku."
Perkataan Rasya membuat Adit sangat terkejut hingga dia tanpa sengaja menyenggol waitress yang sedang membawa gelas kosong dan gelas itu jatuh ke lantai. Ambyar sudah gelas itu. Ambyar seperti hatinya.
Adit berjongkok dan berniat membantu temannya membersihkan serpihan gelas tapi si bos baik hati itu malah menyuruhnya untuk bergabung dengan mereka.
"Sini gabung kita," ajak Alvin.
Adit kembali berdiri dan mendekati mereka berenam.
"Kenalin ini Fandi, sahabat aku waktu di Amerika dan itu Dira, saudara kembarnya Dara."
Adit bersalaman sesaat pada mereka berdua lalu menarik kursi dan duduk di dekat Rasya. "Jadi Dara beneran punya saudara kembar? Hidup penuh kebetulan seperti ini ya."
"Kalian semua ini dulunya satu SMA?" tanya Fandi.
"Iya, kita semua satu SMA," jawab Alvin sambil membantu waitress nya yang telah datang membawa minuman dan aneka hidangan.
"Kita belum pesan tapi sudah siap aja hidangannya, menu lengkap lagi." Fandi terkagum melihat kesuksesan sahabatnya ini dan juga keroyalannya.
"Gak usah sungkan. Kamu dulu kan orang paling bersemangat kalau disuruh makan masakan aku. Apalagi kalau habis praktek masakan baru, paling semangat memberi komentar."
Fandi tertawa mengingat kenangan mereka saat satu asrama di Amerika.
Alvin dan Fandi mulai bercerita panjang lebar, sedangkan Adit justru berbisik pada Rasya di saat Nana dan Rili sedang mengobrol kecil.
"Kamu beneran jadian sama Nana?"
"Emang kenapa?"
Adit menghela napas panjang. Emang ya, si kutub ditanya malah balik bertanya.
"Ra, avocado chocolate kesukaan kamu." Fandi mendekatkan minuman favorit Dira yang dibalas senyuman manis dari Dira.
Rasya hanya bisa menatap mereka berdua yang sesekali berpandangan cinta dan bermesraan.
"Kak, Rasya makan dulu. Mau spaghetti?" Nana mengambil spaghetti nya dengan garpu lalu menyuapi Rasya.
Rasya sedikit terkejut mendapat perhatian dari Nana. Tapi demi melancarkan misinya, Rasya mau menerima suapan dari Nana.
Adit semakin mengusap dadanya. Terlihat dari lirikan Nana, sepertinya dia memang sengaja ingin memanasi perasaan Adit.
Sedangkan di sisi Fandi, pandangan mata Dira sesekali tertuju pada Nana dan Rasya. Saat pandangannya bertemu dengan Rasya, buru-buru dia mengalihkan pandangannya.
Alvin dan Fandi masih saja sibuk mengobrol, sedangkan Rili kini tengah mengamati gerak tubuh dan pandangan dari Dira dan Rasya.
Dulu pernah ada cinta
Dulu pernah ada sayang
Namun kini tiada lagi perasaan seperti dulu
__ADS_1
Kini tiada lagi kisah
Cinta ku telah musnah sudah
Hancur hati ku telah kau sakiti perasaan ku
Lagu dari Ungu yang berjudul Luka Di Sini, yang dibawakan Aksa sukses memporak porandakan hati Rasya, Adit, dan satu lagi Dira. Yang lain mungkin hanya akan menganggap lagu itu hanya angin lalu saja.
Biarkan ku pergi
Jangan kau tanyakan lagi
Ku yakin ini yang terbaik untuk kau dan diriku
Biarkan berlalu
Rasa cinta ini di hati
Ku tak bisa untuk menahan
Aku luka di sini
Adit mengeraskan rahangnya menatap Aksa yang seolah sengaja mengejek perasaannya.
"Sial! Aksa awas lo!!" umpat Adit pelan lalu dia berdiri dan menghampiri Aksa. Kelakuan Adit jelas mengundang perhatian si pemilik kafe itu.
Adit mau ngapain?
Aksa menghentikan permainannya. "Mas Adit, tumben dengerin aku nyanyi sampai terbawa perasaan seperti ini."
"Lo sengaja kan nyindir gue?"
Aksa memang tahu sedikit tentang perasaan Adit, tapi kali ini dia sama sekali tidak berniat menyanyikan backsound dari kisah asmara mereka. "Suerr, aku gak sengaja nyanyi lagu itu. Maaf kalau Mas Adit merasa tersindir. Ya udah mau request lagu apa? Aku bukan jodohnya?"
"Eh, lo!!!" Adit semakin geram.
"Aksa, nyanyi lagi dong. Aku suka loh dengar suara kamu." Suara perempuan dari sederet pengunjung kafe yang berada di dekat music corner berhasil membuat Aksa dan Adit menoleh.
"Loh, Mbak ini lagi. Mau ngacak acara Alvin. Silahkan!" Adit justru mempersilahkan Vina untuk mendekati Alvin dan mengacak acara reoni kecilnya yang menyebalkan itu.
Vina menggelengkan kepalanya, "Aku ke sini mau lihat Aksa, ngapain ketemu Alvin."
Aksa tersenyum kaku. Ada hawa-hawa tidak sehat di sini. "Mas, tolong Mas." Aksa menarik kemeja Adit saat Adit akan pergi.
"Rasain lo, makanya jangan suka ledekin hati orang."
Aksa menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Vina dengan berani mendekatinya. "Mbak duduk disitu saja ya."
Vina tak menggubris omongan Aksa. "Kita duet yuk. Aku bisa nyanyi loh."
Aksa sedikit berlari meminta perlindungan bosnya. "Bos, tolong Bos."
__ADS_1
Alvin mengernyitkan dahinya melihat Vina yang sedang mengejar Aksa. "Kenapa? Biasanya seneng dikejar cewek?"
"Tapi gak tante-tante juga kali bos." Aksa menarik-narik badan bosnya agar menghalanginya dari Vina.
"Vina, ngapain kamu ke sini?"
"Mau ketemu Aksa. Wajahnya itu loh kayak oppa. Suka banget..."
"Aduh Mbak, aku udah punya pacar."
"Gak papa, dijadiin yang kedua, ketiga juga gak papa."
"Jangan Mbak, aku masih kecil."
"Berondong lebih manis kan?!"
Semua yang mendengar hal itu ikut tertawa.
"Bos, aku pulang dulu ya.." Aksa melesat masuk ke dalam ruang karyawan.
"Aksa!!" Vina menghentakkan kakinya lalu membalikkan badannya dan pergi.
"Ada-ada aja si Aksa itu."
"Masih muda banget dia."
"Iya, Aksa paling bontot di kafe. Dia masih kuliah semester dua. Dari SMA dia udah kerja di sini."
Fandi tertarik dengan obrolan Alvin kali ini. "Kamu nerima karyawan yang masih SMA juga?"
"Iya, yang penting dia udah 17 tahun. Dulu dia ke sini masih pakai seragam SMA, bilang dia lagi butuh kerjaan untuk persiapan masuk kuliah. Karena wajahnya lumayan dan dia jago main piano aku taruh aja di music corner untuk menarik pelanggan gadis remaja."
"Jadi kamu gak ada patokan pendidikan untuk menerima karyawan kamu?"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Yang penting mereka punya kemampuan dan niat bekerja. Itu Malik si barista cafe, dia SMA aja gak tamat tapi dia handal dalam hal meracik kopi."
"Wow, jarang ada bos yang kayak kamu."
"Hanya kafe, Fan. Masalah management kafe sudah ada Adit yang menangani, dia lulusan bisnis dan management. Aku aja bisa merangkap jadi segala macam di sini." Alvin tertawa kecil mengingat dirinya yang tidak hanya jadi bos di kafenya. Bisa jadi koki, waitress dan lainnya ketika dalam waktu luang."Beda lagi kalau seperti perusahaan Rasya, pasti Rasya hanya merekrut karyawan dengan pendidikan sesuai bidangnya. Iya kan, Sya?"
Jujur saja Alvin sengaja mengajak bicara Rasya yang memang sedang melamun sambil menatap seseorang.
"Bang Sya??"
💞💞💞
Woy, Aksa jangan dicolek-colek, calon imam rumah tangganya Nada itu.. 😁😁
Mampir yuk ke ceritanya Aksara Danendra.. Udah tamat.. 👇👇
__ADS_1