
Pagi itu saat matahari telah menunjukkan sinarnya, Rili mulai membuka matanya. Badannya terasa pegal karena pertempuran semalam yang tak kunjung usai.
Dia menatap dirinya yang sudah memakai kaos oblong Alvin. Pasti suaminya semalam yang memakaikan untuknya saat dia telah mengantuk berat.
Dia kini menoleh ke sisi kirinya dan tersenyum menatap Alvin yang masih tertidur dengan pulas. Perlahan dia singkirkan tangan Alvin yang menindih perutnya. Lalu dia duduk bersandar pada headboard.
"Kok perut aku nyeri gini. Apa mau datang bulan ya?" gumam Rili sambil meringis kecil merasakan perutnya yang nyeri dan kram.
Merasa ada pergerakan dari teman tidurnya, Alvin membuka matanya. Dia menatap Rili yang sedang memegangi perutnya. "Kenapa sayang?"
"Nyeri Mas. Kayaknya mau datang bulan."
Alvin duduk lalu merengkuh tubuh Rili. Tangan satunya mengusap lembut perut Rili hingga membuatnya nyaman.
"Kalau kamu sakit, istirahat di rumah saja ya, gak usah ke toko."
"Gak papa Mas. Udah biasa. Nanti juga pasti hilang."
Alvin mencium pipi Rili. "Aku buatin susu hangat ya?"
"Jangan Mas. Biar aku aja."
"Udah gak papa. Kamu ke kamar mandi aja dulu." Alvin turun dari tempat tidur dan memakai kaosnya karena sebelumnya dia memang hanya memakai celana pendek saja.
Setelah itu dia keluar dari kamar dan turun menuju dapur.
Rili juga beranjak dari ranjang. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "Aneh, rasanya udah nyeri tapi kok gak keluar. Mungkin masih tanda-tanda." Rili berlanjut membasuh dirinya.
Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Dia melihat suaminya belum juga kembali ke kamar.
Setelah menyisir rambutnya, dia turun menuju dapur. Ternyata suaminya itu sedang membuatkan nasi goreng spesial untuknya.
"Sayang itu susunya, diminum dulu ya." Rili meraih segelas susu yang masih hangat di atas meja lalu meminumnya. Ada perasaan bahagia tersendiri saat melihat Alvin dengan lihainya memasak untuknya. Dia merasa menjadi sosok wanita yang paling beruntung memiliki Alvin.
Setelah selesai, Alvin menghidangkan nasi goreng di atas piring lalu meletakkannya di hadapan Rili.
Tak seperti biasanya, Rili hanya menatap nasi goreng itu seolah tak berselera.
"Kenapa? Gak lapar?" tanya Alvin sambil duduk di dekat Rili.
Dia akhirnya meraih nasi goreng dan mulai menyendoknya. Satu suapan, dia kunyah begitu lama bahkan tenggorokannya seolah enggan menelan makanan itu.
__ADS_1
"Kamu bosan makan nasi goreng? Biasanya kamu suka banget, apalagi aku tambah sayuran. Mau makan apa? Aku buatkan."
"Nggak Mas. Gak tahu kayak enek aja."
Alvin menyentuh kening Rili. "Kamu sakit? Wajah kamu pucat banget. Kamu di rumah aja, gak usah ke toko."
Rili hanya menganggukkan kepalanya. Karena saat ini bukan hanya perutnya saja yang sakit tapi kepalanya juga mulai pusing ditambah lidahnya seolah mati rasa tidak bisa merasakan makanan.
Rili berusaha kembali memakan sarapannya tapi tenggorokannya seolah tidak mau menelan makanan itu.
"Ya sudah kalau gak enak makan gak papa. Jangan dipaksa."
Rili akhirnya meletakkan kembali sendoknya. Dia kini menatap Alvin yang sedang menghabiskan sarapannya.
"Mas udah mandi?"
"Udah barusan di kamar mandi sini."
"Mbak Lela mana Mas?" tanya Rili yang sedari tadi belum melihat Lela.
"Lagi bersihkan teras depan. Terus kamu maunya makan apa?" tanya Alvin lagi sambil meletakkan sendoknya di atas piring yang telah kosong.
"Ya udah, kalau kamu bosan sama masakan aku, biar dimasakkan sama Mbak Lela ya." Setelah selesai minum air putih, Alvin berdiri dan meraih tangan Rili agar segera mengikutinya ke kamar. "Kamu istirahat aja."
Rili mengikuti Alvin tapi saat menaiki anak tangga perut Rili terasa semakin nyeri dan kaku.
"Sakit lagi?" tanya Alvin yang melihat Rili menaiki tangga sambil memegangi perutnya.
Rili menganggukkan kepalanya.
Alvin segera mengangkat tubuh Rili. Menggendongnya walaupun tinggal enam anak tangga.
"Kamu istirahat saja ya." Alvin merebahkan tubuh Rili di atas ranjang lalu menyelimutinya. "Atau mau aku belikan obat?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Gak papa Mas. Nanti juga hilang sakitnya."
"Ya sudah, kamu tidur dulu. Nanti jangan lupa makan. Aku mau ke kafe, nanti setelah semua beres, aku akan cepat pulang. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya." Alvin mengecup kening Rili sebelum dia bersiap ke kantor.
...***...
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuyarkan pandangan Rasya dari layar laptop. "Iya masuk!"
Dira masuk ke dalam ruangan Rasya sambil membawa sebendel berkas di tangannya.
Rasya tersenyum menatap Dira, sekretarisnya yang telah resmi menjadi calon istrinya itu.
"Pak, ini rencana kerja dari PT Buana." Dira memberikan berkas itu pada Rasya. Dadanya berdebar aneh ketika harus berhadapan dengan Rasya sekarang.
Rasya tersenyum lalu melihat hasil print out rencana kerja itu.
"Ada yang perlu diperbaiki Pak?"
Rasya hanya tersenyum. Bunga-bunga di hatinya kian bermekaran. "Gak ada. Rencana kerja lain yang aku kirim lewat e-mail kamu lihat lagi ya. Nanti kamu serahkan hasil print out nya."
"Iya Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Rasanya Dira begitu ingin cepat keluar dari ruangan Rasya. Entah kenapa dia benar-benar merasa salah tingkah saat ini. Bahkan mungkin pipinya sudah terlihat memerah.
Rasya justru semakin tersenyum. Dia berdiri dan menghalangi langkah Dira saat akan keluar dari ruangannya. "Jangan buru-buru. Meskipun kita di kantor itu bos sama sekretaris tapi kalau hanya berdua gini, you are mine. Jadi santai saja."
Dira hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan pandangannya. Nyalinya sekarang benar-benar terasa menciut hanya untuk memandang Rasya. "Iya, Pak."
Rasya memegang dagu Dira dan sedikit mendongakkan wajahnya. "Minggu depan orang tua aku akan ke rumah kamu untuk menentukan hari pernikahan kita. Kamu sudah siap kan?"
Dira speechless. Jantungnya sudah berdetak tak karuan tapi inilah yang dia harapkan. "Aku..."
"Sebulan lagi kita menikah." Rasya memotong kalimat Dira yang menggantung.
Sepertinya Dira kehabisan oksigen karena tiba-tiba dia merasa sesak.
"Sudah siap kan? Sudah cukup lama aku tersiksa dengan perasaan ini. Inilah saat nya kita bersama. Mengukir indahnya cinta yang selama ini hanya ada dalam angan."
Dira tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Tangan Rasya sudah melingkar di pinggang Dira dan memeluknya. "I love you..."
"I love you too.."
Mereka saling bertatapan lekat. Wajah yang telah dekat itu semakin lama semakin dekat. Tapi tiba-tiba terhenti saat ada sebuah ketukan pintu.
Mereka sama-sama menjauhkan diri sambil tersenyum. Ya, mungkin ini belum saatnya untuk merasakan manisnya madu itu.
Dira melangkah keluar dan berganti dengan Doni yang kini masuk ke dalam ruangan Rasya.
__ADS_1