Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Sudah Saatnya 2


__ADS_3

"Surely? Kenapa gak bilang?"


Satu cubitan manja mendarat di dada Alvin. "Malu Mas." Begitu menggemaskannya wajah Rili saat malu-malu mau seperti ini.


Alvin tersenyum lalu kembali mencium bibir Rili, dengan lembut dan sepenuh perasaannya.


Rili semakin melingkarkan tangannya di leher Alvin bahkan dia kini duduk di atas pangkuan Alvin. Membalas setiap pagutan dengan liar. Suara decapan itu terdengar keras dan ikut terbang terbawa angin.


Alvin melepas ciuman panasnya. Mereka saling bertatapan dengan hasrat yang telah membara. "Aku cinta kamu..."


"Aku juga cinta kamu..."


Alvin menyingkap dress milik Rili hingga terlepas dari tubuhnya.


"Mas, mau ngelakuin di sini?" tanya Rili. Dia cukup terkejut dengan otak liar Alvin ini. Melakukannya di luar ruangan? Seperti apa rasanya? Rili penasaran tapi juga malu. Dia malu jika nanti ada yang mendengar suara nikmatnya yang terkadang tidak bisa dia tahan. Bahkan semakin keras saja.


Alvin menganggukkan kepalanya sambil melepas penutup terakhir Rili. Tubuh indah Rili kini terekspos dengan sempurna. Rasanya Alvin sudah tidak tahan menjamah dan menikmati tubuh itu.


"Tapi gak ada yang dengar kan?" Rili masih saja khawatir. Meski rooftop mereka menghadap ke belakang dengan tetangga yang lumayan jauh.


Alvin menggelengkan kepalanya. "Rooftop ini menghadap ke halaman belakang, gak akan ada yang lihat juga, kalaupun ada yang dengar cuma Mbak Lela." Alvin tersenyum kecil lalu menangkup kedua buah sintal yang sangat menggoda itu. Mulai mengusapnya pelan.


"Hmm, tapi Mas, kan malu."Walau sudah terlena dengan permainan Alvin, tapi dia masih saja malu-malu mau.


"Gak papa. Jauh juga dari kamar Mbak Lela." Alvin memilin kecil puncak yang telah menegang itu.


Rili semakin membusungkan dadanya. Dia melenguh pelan. Rasa itu semakin nikmat saat Alvin menghisapnya dengan rakus. Bergantian dari kanan ke kiri. Pinggul yang di atas pangkuan Alvin sudah tidak bisa diam. Dia menggerakkan tak beraturan yang membuat milik Alvin semakin berdenyut ingin segera dituntaskan.


Alvin sedikit mendorong badan Rili hingga Rili menahan tubuhnya dengan tangan ke belakang. Pinggulnya terbuka lebar. Jemari Alvin kini bermain di bawah sana. Memberi sensasi yang semakin membuat Rili mengangkat pinggulnya. Dia men de sah tak karuan saat jemari Alvin keluar masuk dengan cepat di bawah sana.


"Mas, masukin aja..." pintanya yang merasa sudah tidak tahan dengan perlakuan Alvin. Dia ingin segera merasakan tubuhnya dibawa terbang tinggi oleh Alvin.

__ADS_1


Alvin tersenyum miring. Otak nakalnya kini bekerja dengan sempurna. Alvin sengaja menghentikan permainannya saat Rili hampir menuju puncak.


"Mas..." Rili merasa kecewa karena dia benar-benar sudah tidak tahan. Seperti di ghosting pas lagi sayang-sayangnya. Bahkan tangan Rili sampai menggantikan tangan Alvin bermain di bawahnya.


"Tahan sebentar sayang..." Alvin justru menahan tangan Rili. Dia ingin merasakan Rili me re mas kuat miliknya saat di dalam sana.


Alvin dengan gerak cepat melepas semua pakaiannya. Hingga nampaklah tubuh yang sangat menggoda itu dan otot yang telah menegang dengan sempurna.


Alvin menarik Rili agar berdiri lalu dia membalik tubuh Rili dan menuntun tangannya agar berpegangan pagar rooftop.


"Mas mau apa?" tanya Rili yang awalnya tak mengerti dengan kemauan Alvin.


"Rasakan sensasi baru sayang. Di udara bebas dan di bawah langit malam. Kamu bebaskan semua beban yang ada di hati kamu. Aku akan bawa kamu terbang bebas di atas awan."


Alvin mulai menyusuri punggung mulus seputih susu itu dengan bibirnya. Kedua tangannya kembali menciptakan sensasi di kedua titik sensitif Rili. Tangan kiri memainkan puncak buah sintal itu sedangkan satu tangannya bermain di bawah.


Rili hanya memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang Alvin ciptakan. Dia merasakan kedua kakinya di buka oleh Alvin dan...


"Kamu nikmati saja sayang. Kakinya agak dibuka biar nyaman. Jangan takut jatuh, aku pegang dari belakang."


Rili kembali meluruskan pandangannya saat Alvin mulai mengguncang tubuhnya. Awalnya sedikit ngilu tapi lama kelamaan melenakan. Otot yang berdiri tegak itu melesat dengan sempurna ke dalam intinya.


Rili semakin berpegang erat pada pagar dengan suara de sah yang semakin keras seiring hujaman yang kian cepat.


Satu tangan Alvin perlahan turun ke bawah dan mengusap benda kecil seperti kacang yang sangatl sensitif. Bahkan baru saja Alvin mengusap dengan ujung jari telunjuknya, Rili sudah men de sah keras.


"Mas, aku jadi gak tahan kalau jarinya di situ."


Alvin tak menggubris kalimat Rili. Dia semakin mempercepat pompaannya. "Nikmati saja sayang..."


"Mas..." Tubuh Rili menegang dengan kedutan hebat di bawah sana. Bahkan cairan hangat itu sampai menetes ke karpet. Kini Rili mengatur napasnya yang tersenggal. Dinginnya angin malam itu tetap membuat keringatnya mengalir membasahi pelipisnya.

__ADS_1


Alvin menahan tubuh Rili yang telah melemas. Dia tidak juga berhenti menggerakkan pinggulnya. Kini suara de sah dari Alvin yang mendominasi.


"Aku mau sampai sayang." Alvin semakin menekan perut Rili agar hentakannya semakin masuk ke dalam. Gerakan maju mundur yang kian cepat tak beraturan membuat tubuh Rili semakin terguncang. Bahkan meski sudah ditahan Alvin dengan pelukannya dia masih berpegangan pagar dengan erat.


Alvin mengerang cukup keras saat seluruh hasratnya tumpah di titik terdalam. Dia mengatur napasnya sesaat lalu melepaskan dirinya dan menarik Rili agar duduk di pangkuannya. Dia tarik selimut dan digulung menutupi tubuh polos mereka.


Satu kecupan mendarat di pipi Rili. Lalu tangan Alvin terulur mengambil segelas minuman coklat yang hampir hilang kehangatannya. "Minumannya sampai dingin." Alvin tertawa kecil lalu memberikan gelas itu pada Rili.


"Gak papa, masih enak." Rili meneguk minumannya sambil bersandar di dada Alvin.


"Langitnya terang banget ya." Alvin mendongak menatap langit yang berhampar bintang malam itu.


Rili menganggukkan kepalanya lalu meletakkan gelas yang telah kosong dan ikut menatap langit malam itu.


Mereka sama-sama terdiam merasakan heningnya malam dengan suara satwa malam yang terdengar lirih bersahutan.


"Lama-lama dingin Mas." Meski sudah berselimut tebal dan lengkap dengan pelukan Alvin, tapi rasa dingin dari angin malam itu tetap menyergapnya.


"Iya, kita masuk aja yuk. Lanjut di dalam."


Alvin mengangkat tubuh Rili ala bridal style.


"Masih mau lanjut?"


"Yes, once again." Alvin menutup pintu rooftopnya dengan kaki.


"Ih, once again nanti terus once again lagi."


Alvin terkekeh lalu menjatuhkan tubuh Rili di atas ranjang. "Iyalah, setelah dua bulan jadi sekarang double-double."


Beberapa detik kemudian hal panas itu kembali terulang lagi, dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2