
"Wah, cantik sekali," puji pemilik MUA saat Rili mencoba gaun pengantin yang berwarna gold itu.
Rili menatap dirinya di cermin. Berputar pelan. Gaun itu memang sangat pas di tubuhnya.
Cantik! Iya, sangat cantik itulah yang ada di benak Alvin. Bahkan dia hanya bisa terpaku menatap gadisnya dan tanpa berkedip sampai beberapa detik.
"Kalau mau coba model yang lain, tidak apa-apa. Banyak model gaun yang berwarna gold. Saya tinggal dulu. Mungkin mau diskusi dulu sama calon." Pemilik yang sangat ramah itu membiarkan sepasang calon pengantin ini berdua untuk menentukan pilihan.
"Bagus yang mana Mas?" tanya Rili karena sedari tadi Alvin tak berkomentar.
Alvin berjalan mendekat lalu memeluk Rili dari belakang. "Semua bagus kamu pakai. Cantik. Jadi pengen cepet-cepet bawa kamu ke kamar," kata Alvin di dekat telinga Rili.
"Ih, Mas malah omes." Rili kembali menatap dirinya. "Ini aja ya Mas. Gak terlalu mencolok dan gak terlalu berat juga, hanya dua lapis."
"Iya, gak papa. Cantik kok. Cium dulu dong."
"Di tempat orang juga masih minta cium. Lepasin dulu pelukannya. Malu kalau dilihat Bu Lim."
Alvin melepas pelukannya tapi dengan cepat dia membalik tubuh Rili dan menciumnya sesaat. Hal itu sukses membuat dada Rili berdebar tak karuan.
Rili menggigit bibir bawahnya saat Alvin melepas pagutan yang sesaat tapi sangat dalam.
"Ya udah, jadi fix yang ini ya. Kalau untuk akad nikah yang warna putih tadi. Sekarang kamu ganti, biar aku panggil Bu Lim." Alvin keluar dari ruangan.
Rili segera masuk ke ruang ganti. Dadanya masih saja berdebar-debar. Bahkan sampai dia keluar, pipi itu masih saja terasa merona.
Setelah berbincang sesaat dengan pemilik MUA, mereka berdua keluar.
"Kita ke kafe yuk, makan siang," ajak Alvin sambil memakai helmnya.
"Iya."
Setelah mereka berdua naik ke atas motor, Alvin segera melajukan motornya. Panasnya mentari siang itu tak juga mengendorkan pelukan Rili.
Beberapa saat kemudian motor Alvin telah berhenti di depan kafenya. Seperti biasa, mereka selalu bergandengan tangan dengan mesra saat masuk ke dalam kafe.
Mereka duduk berdampingan di meja vip setelah Alvin menyuruh waitressnya mengambilkan dua gelas minuman dingin.
"Besok undangannya udah jadi. Bisa mulai ditulis daftar tamunya."
"Iya, Papi sama Mami mau ngadain reoni juga."
__ADS_1
"Ya gak papa. Kita kan juga mau ngadain reoni. Jadi tema pesta kita tuh temu kangen."
"Hmm, Mas, Papi tadi nanyain soal honeymoon kita, katanya mau dibayarin." Rili tersenyum kecil. Merasa malu juga bicara tentang bulan madu.
Alvin menatap Rili lalu sedetik kemudian dia tersenyum dan merengkuh pinggang Rili. "Gak perlu sayang. Aku udah ada tempat spesial buat kita berdua."
Rili menautkan alisnya. "Dimana Mas?"
"Ya, di kamar," kata Alvin sambil terkekeh. "Orang honeymoon kan di kamar."
"Ih, kirain di Maladewa gitu."
"Kalau kamu mau ke sana ya nanti aja. Aku mau melewati malam spesial kita di tempat yang spesial juga. Gak perlu pakai perjalanan jauh."
"Iya, dimana Mas? Di rumah Mas Alvin?"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Nanti setelah resepsi kita ke sana." Lalu Alvin membisikkan sesuatu di telinga Rili. "Aku sudah gak sabar melewati malam-malam sama kamu."
Rili hanya tersenyum malu. Membayangkannya saja sudah membuat dada Rili berdegub tak karuan.
...***...
Setelah sampai di Gresik, Rasya mengajak Dira untuk makan siang terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka ke kantor properti buana untuk melakukan kerjasama. Mereka mengobrol masalah kontrak cukup panjang, hingga akhirnya kontrak itu terealisasikan.
"Tidak menyangka Pak Rasya ini masih muda tapi sangat kompeten."
Rasya hanya tersenyum. "Bapak juga hebat. Bisa punya banyak properti seperti ini. Hampir di seluruh Indonesia."
"Next, perusahaan Pak Rasya pasti akan semakin berkembang. Pak Rasya mau bermalam di Gresik atau langsung pulang?"
"Langsung pulang, Pak."
"Wah, kelihatannya macet Pak hari ini. Dan hati-hati juga soalnya si Ijo sedang bertanding dengan biru."
Rasya menepuk jidatnya sesaat. Dia lupa kalau saat ini ada pertandingan sepak bola antara hijau dan biru, dimana para sporter mereka sering kali memanas. Ditambah plat mobil Rasya yang menandakan jika dia berasal dari kota biru.
"Iya, Pak. Nanti biar saya cari jalan lain. Tidak lewat dekat stadion."
"Ya sudah. Hati-hati di jalan Pak. Next kita bicarakan proyek selanjutnya."
"Iya Pak, terima kasih." Setelah mereka saling berjabat tangan, Rasya dan Dira berjalan menuju mobil.
__ADS_1
"Hmm, Pak saya mau ke toilet dulu ya."
Saat itu, Rasya baru tersadar jika wajah Dira sangat pucat. Bahkan dia kini terlihat memegangi perutnya sambil meringis menahan sakit. Peluh juga sudah membasahi dahinya.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Seketika Rasya menjadi sangat khawatir.
"Gak papa, Pak. Saya mau ke toilet dulu."
"Toiletnya ada di kantor pemasaran. Ayo aku antar."
Rasya berjalan mengantar Dira menuju kantor pemasaran. Dia menunggunya di depan kantor sambil duduk dan mengecek ponselnya.
Cukup lama, hingga membuat Rasya sedikit khawatir. Dia kini berdiri, tepat saat Dira keluar dari kantor pemasaran.
"Kamu sakit?" tanya Rasya sekali lagi.
Dira hanya menggelengkan kepalanya. "Pak, nanti mampir ke Alfamart sebentar ya."
Rasya menganggukkan kepalanya lalu mengajak Dira segera menuju mobil karena hari sudah mulai gelap.
Setelah masuk ke dalam mobil, Rasya memberikan sebotol air mineral. "Kamu minum dulu."
Dira segera meminum air itu.
"Kamu kenapa? Kalau sakit kita ke klinik dulu ya atau beli obat ke apotek."
Dira menggelengkan kepalanya. "Biasa Pak, sakitnya cewek."
Rasya hanya menganggukkan kepalanya. Di umurnya sekarang tentulah dia sudah paham dengan maksud Dira.
Untunglah Alfamart dekat dengan posisi mereka. Rasya menghentikan mobilnya di tempat parkir. Dia sengaja menunggu Dira dalam mobil agar Dira lebih leluasa membeli barangnya.
Cukup lama juga, bahkan Rasya melihat Dira duduk sebentar di depan Alfamart sambil meminum sesuatu.
Rasya memang sangat sabar menunggunya. Jangankan hanya 15 menit, 8 tahun saja dia bisa sabar.
Dira akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. "Maaf Pak, lama."
"Iya, gak papa."
Rasya kembali melajukan mobilnya. Jalanan mulai macet. Para sporter berkaos hijau sudah berada dimana-mana. Tiba-tiba saja ada yang menggedor kaca mobil Rasya cukup keras. Rasya hanya melihat seseorang yang sedang berada di boncengan tanpa menegur karena dia tidak mau semakin memancing kerusuhan.
__ADS_1
"Ra, gimana kalau kita menginap di hotel saja? Karena jalanan kurang kondusif."
Dira hanya menganggukkan kepalanya karena dia memang tahu sendiri bagaiman kondisi jalanan waktu itu.