Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Kenangan Manis


__ADS_3

"Kak, kalau seandainya aku belum punya pasangan apa yang akan Kak Rasya lakukan malam ini?"


Pertanyaan apa ini? Bagaimana Rasya harus menjawabnya. Harus berdasarkan insting dari seorang lelaki kah?


"Kalau seandainya kamu belum punya pasangan?" Perlahan Rasya mencondongkan dirinya. "Mungkin ini yang akan aku lakukan." Dia dekatkan wajahnya hingga menyisakan jarak beberapa centi saja dengan wajah Dira.


Seketika Dira menegang. Apa Rasya serius ingin melakukan ini? "Maaf aku cuma bercanda." Dira mengalihkan pandangannya


Rasya tersenyum lalu menjauhkan lagi dirinya. "Aku bukan cowok kayak gitu. Tapi kalau kamu mau selingkuh sama aku..." Rasya mendekatkan dirinya, dia memajukan tubuh Dira lalu memposisikan dirinya di belakang Dira. "Kita nikmati malam ini bersama."


"Hem!! Aku cuma bercanda. Kak Rasya jangan mikir macam-macam." Dira menautkan alisnya. Dadanya sudah berdebar tak karuan.


"Bukan hubungan seperti yang kamu pikirkan. Aku cuma ingin mengobrol sama kamu."


Dira menghela napas kecil sambil tersenyum. Dia kini menyandarkan dirinya di dada Rasya. Lupakan saja tentang statusnya untuk saat ini.


"Sebenarnya, apa kamu ada perasaan sama aku?" tanya Rasya. Entah karena apa, Rasya malam itu lebih berani. Atau mungkin karena kata impulsif dari Dira tadi. Bahkan dia kini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dira. Seorang berhati sedingin es bisa semesra ini. Apa hanya dengan Dira hatinya bisa menghangat?


"Menurut Kak Rasya?"


"Aku gak tahu."


"Ya, aku..." Dira menghentikan kalimatnya meragu.


"Lupakan kalau kamu punya pasangan untuk malam ini."


Dira memainkan jemari Rasya yang ada di perutnya. "Sejak aku ketemu Kak Rasya dulu, aku udah suka sama Kak Rasya. Entah kenapa rasa itu gak bisa hilang dan sampai sekarang rasanya justru semakin kagum."


"Kenapa bukan aku saja yang dijodohkan sama kamu?"


"Itulah hidup. Kadang apa yang kita inginkan gak selalu terwujud."


Rasya menempelkan dagunya di bahu Dira. "Tapi dulu Om Dewa sempat ingin jodohin anaknya sama aku."


Seketika Dira menoleh Rasya hingga pandangan mereka hanya bertaut beberapa centi saja. "Emang Papa pernah bilang gitu?"


Rasya menganggukkan kepalanya.


"Tapi mungkin itu berlaku untuk Dara dulu." Dira menundukkan pandangannya. "Aku dari bayi ikut sama Mama Icha." Dira kembali mendongakkan pandangannya dan menatap langit malam itu. "Dulu aku sempat iri sama Dara. Kenapa sih Dara yang tinggal sama Mama dan Papa. Tapi ternyata waktu menjawabnya, Dara hanya merasakan tinggal sama mereka selama 16 tahun, mungkin aku bisa lebih lama dari itu dan menemani masa tua mereka." Dira tersenyum kecil. "Semoga saja aku bisa selalu berada di dekat Mama dan Papa."


"Kamu gak berdo'a juga biar bisa bersamaku."

__ADS_1


Dira tersenyum kecil. "Ya, semoga saja."


Mereka mengobrol sampai larut malam. Hingga mereka berdua tertidur di sofa dengan posisi ternyaman. Saling berpelukan, bahkan mereka sukses membuat iri dua ranjang yang belum ditiduri sama sekali.


Menjelang pagi Dira membuka matanya, dia sedikit terkejut dengan posisinya kali ini. Tangan Rasya yang ada diperutnya bahkan semalam dia tidur dengan berbantal lengan Rasya. Wajahnya terasa memerah, dia tidak pernah merasa senyaman ini dekat dengan seseorang.


Tunggu dulu! Ini salah kan? Ya, jelas salah. "Kak Rasya." Dira berusaha melepas tangan Rasya.


"Hem??" Rasya membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Dira, rasanya ini seperti mimpi. Dia melepas pelukannya lalu turun dari sofa. "Sorry." Kemudian dia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 pagi. "Kamu tidur lagi. Nanti sekitar jam 6 kita pulang."


Rasya kembali merebahkan dirinya di atas ranjang lalu memejamkan matanya.


Dira turun sofa lalu berjalan menuju ranjangnya. Merebahkan dirinya menghadap seseorang yang sudah kembali tertidur. Dia tersenyum kecil. "Makasih, sudah memberiku sebuah kenangan manis, yang mungkin tak akan terulang lagi." gumamnya lirih.


Dira mencoba memejamkan matanya kembali tapi dia sudah tidak bisa tidur lagi. Tepat jam 5, dia duduk lalu beranjak ke kamar mandi.


...***...


"Aduh, ban motor pakai kempes segala!!" Gerutu seorang gadis cantik dengan dandanan formal khas staf kantor. Dia menepikan motornya lalu melihat ban motornya yang bocor.


"Tukang tambal ban masih jauh lagi." Nana berkacak pinggang sesaat. Terpaksa dia harus menuntun motornya.


Pertanyaan itu membuat langkah Nana terhenti. Dia memutar bola matanya menatap pria yang lagi-lagi datang seperti hantu. "Ban motor aku bocor."


Adit turun dari motornya lalu menjagraknya. "Kamu pakai motor aku aja ya, biar motor kamu, aku bawa ke tukang tambal ban."


Nana menggelengkan kepalanya. "Gak usah repot-repot Mas."


"Gak papa. Daripada kamu telat. Nanti biar motornya aku antar ke kantor kamu."


Nana nampak berpikir sesaat. "Beneran gak papa?"


"Gak papa." Adit meraih stang motor Nana dan menggantikan posisinya.


"Eh, hmm, nanti aku antar aja motor Mas Adit ke kafe."


Adit terdiam sesaat lalu tersenyum menatap Nana. Biasanya dia akan mengejeknya si tukang cari gratisan atau sebagainya lah tapi kali ini dia justru tersenyum manis.


"Oke, nanti sekalian makan siang sama aku. Kamu berangkat aja, udah siang."


Nana sedikit menautkan alisnya. Akhir-akhir ini Adit memang sangat manis, beda dengan dulu.

__ADS_1


"Iya Mas. Makasih ya." Nana menaiki motor Adit lalu mulai melajukan motornya.


Adit masih saja tersenyum sambil menuntun motor Nana.


Gak papalah motornya dulu di naikin nanti baru orangnya. Astaga, gue mikir apa? Pecah nih otak gue antara setan dan malaikat. Hah?? Ajaran Aksa memang ampuh buat deketin cewek.


Nana melajukan motornya pelan menuju kantor. Setelah sampai, dia menghentikan motornya tepat di samping Doni yang baru juga datang.


"Motor siapa?" tanya Doni sambil mengamati motor yang Nana pakai.


"Tadi ban motor aku bocor, untung ketemu Mas Adit. Jadi aku bisa pinjam motornya." Nana melepas helmnya lalu dia berjalan masuk ke dalam kantor.


Doni menghela napas panjang. Rupanya saingannya kali bukan kaleng-kaleng.


Mereka berjalan sejajar menuju lift.


"Iya, Pak Rasya..." Doni mengangkat panggilan dari Rasya yang bisa didengar dengan jelas oleh Nana.


"Oiya Pak. Jadi Pak Rasya masih di Gresik... Ya udah Pak, hati-hati..."


Seketika Nana menghentikan langkah Doni. "Emang Pak Rasya bermalam di sana?"


"Iya."


"Sama Dira?"


"Iya."


"Emang mereka menginap dimana?"


"Ya, gak tahu. Mungkin di hotel."


"Ooo, my god. Haduh gaswat. Jangan-jangan mereka udah..." Bayangan-bayangan seperti adegan novel online antara bos dan sekretaris seketika terlintas di otak Nana. "Aaa, tidaakk.. Pak Rasya udah ternoda."


Seketika Doni membungkam mulut ember Nana. "Ssstt, kebanyakan halu ya. Gak mungkinlah mereka sampai kayak gitu."


"Ya siapa tahu aja. Kan mereka itu sebenarnya saling... Hah?? Tahu ah ngeri aku bayanginnya." Nana masuk ke dalam lift.


"Bayangin apa kok sampai ngeri? Kalau sama-sama suka gak ngeri lagi tapi indah."


Satu tabokan dilayangkan Nana pada wajah Doni. "Omes!!!"

__ADS_1


__ADS_2