
Rili bangun dari tidurnya saat hari telah siang. Badannya sudah lebih segar dari sebelumnya. Dia kini duduk bersandar pada headboard lalu mengambil ponselnya. Dia melihat ada tiga panggilan masuk dari Alvin.
Rili menelepon Alvin balik. Hanya satu kali nada sambung, Alvin sudah mengangkat panggilannya.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Alvin di seberang sana. Dia selalu memastikan jadwal makan Rili.
"Belum, aku baru bangun."
"Makan dulu, tadi Mbak Lela sudah masak."
"Iya sebentar lagi. Mas pulang jam berapa?"
"Satu jam lagi aku pulang. Kamu mau dibawakan apa?"
"Mas Adit masak gak? Aku mau masakannya Mas Adit." Tiba-tiba saja masakannya Adit terlintas di otak Rili. Padahal suaminya itu selalu menghina masakan Adit, tapi Rili sekarang begitu ingin memakannya.
"Masakannya Adit? Adit lagi gak praktek masak."
"Yah, aku pengen masakannya Mas Adit."
"Ya sudah, aku suruh Adit masak yang penting kamu mau makan."
"Makasih Mas."
Di kantor kafe, Alvin memutuskan panggilannya dengan Rili sambil menautkan alisnya. Merasa aneh dengan selera Rili. Biasanya istri gemasnya itu memang mau masakan apa saja asal cocok di lidahnya, dan baru kali ini juga Rili menolak masakannya.
Alvin keluar dari kantor dan memanggil Adit. "Dit, kamu masak ya buat Rili. Sebentar lagi aku mau balik ke rumah."
"Masak apa?"
"Terserah kamu. Rili mau masakan kamu."
Adit berjalan menuju dapur yang diikuti Alvin. "Aneh banget, tumben pengen masakan aku. Suami chef kok malah minta assistennya masakin. Atau sudah bosan sama masakan suami." Adit mulai mengambil bahan-bahan makanan.
"Mbak Rili ngidam kali." celetuk salah satu ibu-ibu juru masak Alvin.
"Ngidam?" Tak terlintas di pikiran Alvin tentang mengidam itu, karena dia menikah juga belum satu bulan. "Aku kan belum satu bulan nikah sama Rili."
"Waduh, setokcer itu." Adit tertawa dengan keras yang diikuti orang dapur lainnya.
Alvin semakin menautkan alisnya, setahu dia tadi pagi Rili mengeluh nyeri datang bulan.
Masak iya udah jadi?
Alvin kembali ke kantornya. Sambil menunggu masakan yang Adit buat, dia melihat beberapa artikel tentang kehamilan.
...***...
Karena merasa jenuh, Rili akhirnya turun dari kamarnya. Dia mencari keberadaan Mbak Lela dan mengajaknya untuk menemaninya menonton televisi.
"Mbak Lela ngapain? Temani nonton tv yuk?"
__ADS_1
"Iya Mbak, sebentar." Lela menghampiri Rili yang sudah duduk di ruang tengah. "Mbak Rili gak makan dulu."
"Nunggu Mas Alvin. Aku udah pesan makanan." Rili menyalakan televisi lalu mencari drakor terbaru. "Duduk sini Mbak."
"Mbak Rili sakit? Pucat banget." Lela duduk di samping Rili dan bisa menangkap wajah pucat Rili.
"Biasa Mbak sakit bulanan. Tapi aneh, dari tadi pagi perut udah melilit tapi sampai sekarang belum keluar."
"Mungkin Mbak Rili kecapekan jadi gak lancar."
"Iya mungkin. Tapi udah aku buat tidur dan sekarang udah enakan."
Mereka mengobrol sesaat sambil melihat drama korea. Beberapa saat kemudian Alvin datang sambil membawa sekotak besar makanan. Dia letakkan di atas meja.
Lela langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Kok banyak banget makanannya?" Rili langsung membuka kantong plastik hitam itu dan mengambil dua kotak makanan yang memang lumayan banyak.
"Gak papa. Buat nanti kan bisa. Aku ambilkan nasi ya."
"Biar aku sendiri aja Mas. Mas Alvin istirahat saja."
Alvin menahan pundak Rili agar tidak berdiri. "Biar aku ambilkan. Lihat nih, kamu masih pucat gini." Alvin berdiri dan menuju dapur untuk mengambil sepiring nasi dan segelas air putih.
Setelah itu dia kembali duduk di samping Rili lalu mengambil lauk yang dia bawa dari kafe.
"Mau aku suapin?"
"Iya, sebentar lagi. Tadi aku udah makan juga di kafe."
Alvin tersenyum menatap Rili yang makan dengan lahap. Hanya dua menit isi piring itu telah tandas.
"Mau nambah?"
"Nambah ini aja gak pake nasi." Rili mengambil lauk lagi.
Alvin semakin menatap heran. Sedoyan itu dengan masakan Adit. Apa jangan-jangan Rili memang benar lagi mengidam?
Alvin menopang kepalanya sambil menatap kosong layar televisi yang sedang menampilkan adegan cumbuan mesra. Tapi pikiran Alvin sedang tidak fokus pada itu, dia sedang fokus memikirkan Rili.
"Mas, kok melamun?"
Seketika Alvin menatap Rili yang sudah menghabiskan makanannya.
"Sayang perut kamu masih sakit?" tanya Alvin memastikan.
"Sudah gak Mas. Setelah aku buat tidur langsung enakan."
"Kamu beneran lagi datang bulan?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Gak tahu Mas. Gak keluar. Mas mau..."
__ADS_1
"Nggak sayang, aku cuma tanya aja." Alvin kembali berpikir lagi. "Sudah makannya? Kamu istirahat ya."
Rili menggelengkan kepalanya setelah meletakkan gelas yang telah kosong. "Aku baru bangun. Tapi Mas Alvin kalau mau istirahat gak papa."
"Aku temani kamu aja." Alvin melingkarkan tangannya di perut Rili dan sedikit menariknya ke belakang agar Rili bersandar di dadanya.
Ketika di posisi seperti ini, Rili merasa sangat nyaman. Bahkan saat Alvin mengusap lembut perutnya, kehangatan terasa mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Sayang kamu gak ngerasain apa-apa?"
Rili menggelengkan kepalanya.
"Kamu terakhir datang bulan sebelum menikah kapan?" tanya Alvin. Dia ingin segera menyudahi rasa penasarannya.
Rili terdiam sesaat. "Tiga minggu sebelum menikah."
Seketika Alvin melepas tangannya dari perut Rili. Dia memiringkan wajahnya dan menatap Rili. "Kita sekarang udah tiga minggu lebih tiga hari menikah, itu tandanya kamu udah telat dua minggu."
"Iya, terus kenapa Mas?"
Alvin menghela napas panjang. Apakah Rili memang tidak sepeka itu tentang dirinya sendiri.
"Mas, aku kok ingin bakso yang biasanya dibelikan Kak Rasya ya?"
Tiba-tiba saja Rili mengalihkan pembicaraannya.
"Bakso? Yang ada di dekat kantor Rasya itu?"
Rili menganggukkan kepalanya.
"Kamu udah lapar lagi?"
"Cuma bakso Mas. Itu kan cemilan. Telepon Kak Rasya ah, minta dibeliin." Rili menegakkan duduknya lalu meraih ponselnya.
"Sayang ini masih jam dua, Rasya belum pulang. Aku aja yang beliin ya."
Rili menggelengkan kepalanya. "Aku maunya Kak Rasya yang beliin."
Alvin menghela napas panjang. Tadi pagi Rili tidak mau makan masakannya, sekarang justru Rili tidak mau dia belikan. Kalau memang Rili sedang mengidam kenapa seolah justru tidak butuh suaminya.
Alvin hanya berdiam diri mendengar percakapan adik dan kakak itu lewat ponsel. Rili sangat ngotot ingin dibelikan bakso yang akhirnya diiyakan oleh Rasya dengan terpaksa karena sepertinya Rasya sedang banyak pekerjaan.
Senyum sumringah seketika mengembang di wajahnya.
"Sayang aku bisa loh beliin kamu, gak perlu pake ngotot sama Rasya." Alvin sedikit merasa kesal. Dia justru tidak suka jika Rili tidak minta padanya.
"Tapi Mas aku..."
"Iya, iya, gak papa..." Alvin memotong perkataan Rili lalu dia berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Mas..."
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu.."