
Rasya menghentikan mobilnya di depan cafe milik Alvin. Hatinya sedang resah, gelisah, dan tak menentu. Dia hanya butuh ketenangan untuk sesaat. Mungkin dengan duduk menikmati secangkir kopi di depan barista yang meracik, bisa sedikit menghilangkan rasa galau merananya.
"Mau pesan apa, Pak?"
"Kayak biasanya saja."
"Beres."
Rasya duduk di depan coffee bar sambil menopang kepalanya. Alunan lagu galau yang dimainkan Aksa semakin menambah luka hatinya.
"Loh, kok lo di sini?" tanya Adit yang melihat Rasya sedang duduk seorang diri.
"Lagi pengen ngopi," jawab Rasya.
"Suntuk kenapa?"
"Cuma kecapekan aja. Alvin mana?"
"Lo gak tahu? Tadi bokapnya Alvin ke sini nyari Alvin katanya mau melamar ke rumah lo."
"Melamar?" Rasya meneguk secangkir kopi sambil menautkan alisnya. "Gak ada kabar dari rumah soal ini."
"Iya memang mendadak. Kayaknya Alvin tadi juga gak tahu soal ini."
Rasya hanya terdiam. Apakah adik tersayangnya itu sekarang telah menerima lamaran Alvin?
"Ya udah Sya, gue tinggal dulu ya."
"Oke." Rasya kembali meneguk pelan kopinya. Setelah secangkir kopi itu kosong, dia berdiri dan membayarnya di kasir.
Dia berjalan keluar dari cafe dan segera menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil telah meninggalkan area cafe.
Jalanan yang tidak terlalu ramai malam itu, membuat kendaraan Rasya melaju tanpa hambatan dan dia kini telah menghentikan mobilnya di depan rumah.
"Pi, aku dengar keluarga Alvin tadi melamar ke sini?" tanya Rasya saat berada di ruang tengah.
"Iya," jawab Papi Rizal. Dia kini mengalihkan pandangannya dari ponsel menatap putranya yang baru datang.
"Lamarannya diterima?"
"Belum. Katanya, adik kamu belum siap."
Seketika Rasya menaiki anak tangga menuju kamar Rili.
"Sya, kalau belum makan cepat makan!" suruh Mami Lisa yang melihat putranya itu justru masuk ke dalam kamar Rili, meski telah dijawab iya oleh Rasya.
"Kamu kenapa gak terima lamaran Alvin?"
__ADS_1
Pertanyaan Rasya secara tiba-tiba membuat Rili terkejut. "Kak Rasya kenapa masuk gak ketuk pintu dulu sih?" Dia kini duduk di tepi ranjang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kenapa gak terima lamaran Alvin?" Rasya kini ikut duduk di sebelah Rili.
"Gak papa kak. Aku memang belum siap."
"Nunggu apalagi?" tanya Rasya.
"Ya nunggu sampai siap."
Rasya menghela napas panjang. "Rili, kamu gak perlu mikirin aku. Kamu terima lamaran Alvin dan cepat menikah dengan dia."
Rili menundukkan pandangannya. Tapi sedetik kemudian Rili bertanya tentang Dira. "Gimana soal Dira?"
Mendengar nama Dira membuat hati Rasya bergemuruh lagi. "Sudahlah, kamu gak usah bahas Dira." Rasya berdiri lalu keluar dari kamar Rili.
Kemudian Rili menghempaskan dirinya di atas ranjang. Menatap kembali layar ponselnya yang belum ada balasan dari Alvin.
...***...
"Alvin, sudah kamu gak usah lagi mengharapkan Rili!!" sesampainya di rumah, kekecewaan Bu Gita masih saja belum hilang. Bahkan kosa katanya terus bertambah dan semakin menjadi.
Alvin hanya diam. Dia tahu, ketika ibunya sudah marah itu tandanya ibunya sudah benar-benar kecewa.
"Mungkin saja dia memang gak cinta sama kamu, kamu sebagai cowok yang tegas. Jangan mau-maunya suruh nunggu tanpa kepastian gini."
"Lebih baik kamu cari perempuan lain saja! Kamu akan Mama jodohkan dengan anak teman Mama.".
"Ma," Alvin yang sedari tadi hanya terdiam lantas menjawab. "Aku bisa nyelesaiin masalah ini. Hanya butuh waktu. Aku juga gak terlalu terburu untuk menikah."
"Sudahlah, mau sampai kapan kamu dipermainkan kayak gini. Pokoknya besok Mama akan kenalin kamu sama anak teman Mama."
"Iya, Papa setuju. Benar kata Mama kamu. Sebagai lelaki kamu juga harus tegas dan cepat menentukan pilihan."
"Pa..." Alvin tidak menyangka, Papanya yang selama ini selalu mendukungnya, tiba-tiba mendukung keputusan Mamanya.
Alvin melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu cukup keras. Dia acak rambutnya frustasi. Selama ini kedua orang tuanya sangat jarang memarahinya. Apakah kali ini kedua orang tuanya benar-benar telah kecewa dengan masalah ini?
Alvin tidak pernah menyangka kenapa masalahnya bisa menjadi serumit ini.
Dia raih ponselnya.
Mas, aku minta maaf...
Dia baca satu pesan dari Rili. Dia menghela napas panjang. Perasaannya kali ini benar-benar semrawut.
Dia hubungi Rili, hanya sekali nada sambung panggilan itu telah terhubung.
__ADS_1
"Iya, gak papa.... Gak papa aku ngerti.... Kamu cepat tidur ya sudah malam.... Iya...." Hanya obrolan singkat yang terjadi.
Alvin beralih pada jendela kamarnya. Menatap langit yang gelap pekat tanpa cahaya bintang hingga malam menjelang larut.
...***...
"Alvin, Mama sudah menghubungi teman Mama dan mereka setuju dengan perjodohan ini. Namanya Vina. Dia akan menemui kamu nanti siang di cafe."
"Ma, aku gak mau." Alvin memakai jaketnya dan bersiap untuk berangkat ke cafenya.
"Gak mau? Gak bisa. Mama sudah terlanjur kecewa dengan kejadian kemarin."
Alvin menghela napas panjang. "Beri aku waktu satu minggu untuk membuat Rili mau menerima lamaran aku."
"Tiga hari," kata Pak Iwan ikut menimpali permasalahan itu.
"Tiga hari? Pa, itu terlalu..."
"Ya sudah, Mama kasih waktu tiga hari atau Mama gak akan merestui hubungan kalian."
Alvin hanya terdiam. Dia kini mengambil helmnya dan melangkah keluar dari rumahnya. Dia berangkat menuju cafe dengan hati yang tidak baik-baik saja.
Sesampainya di cafe, Alvin yang biasanya menyapa dan mengobrol pada karyawannya yang telah datang, tapi kali ini tidak sama sekali. Dia memasang wajah masam sambil masuk ke dalam kantornya lalu duduk di kursi kerjanya. Memijit kepalanya sesaat karena terasa sangat pusing.
Beberapa saat kemudian ada telepon masuk ke nomor kantornya. Kepala yang telah pusing semakin bertambah. Emosinya seolah semakin meluap ketika mendapat komplain dari salah satu pelanggannya.
Alvin segera berjalan menuju dapur. "Siapa yang menghandle orderan dari Bu Maria?"
Tiga juru masak yang ada di dapur seketika menatap bosnya yang sedang marah itu.
"Hmm, itu kemarin Mas Adit yang..."
"Adit? Kenapa Adit ikut masalah dapur." Alvin keluar dari dapur dan menemui Adit yang berada di dekat kasir. "Adit, kamu ubah resep pesanan Bu Maria?!"
"Iya, sesuai permintaan Bu Maria sendiri."
"Adit, aku udah pernah bilang jangan pernah ubah resep!!"
"Tapi Vin, itu kemauan Bu Maria sendiri. Kamu tahu kan Bu Maria itu kayak gimana."
Alvin berdengus kesal. "Lain kali kamu bicara sama aku sebelum merubah apapun!"
"Iya..." Adit hanya mengiyakan. Sebagai sahabat, tentu Adit sudah hafal dengan perangai Alvin. Ketika dia tidak bisa mengontrol emosi, pasti Alvin sedang ada sebuah masalah.
Alvin kembali masuk ke dalam kantornya lalu menutup pintu cukup keras.
"Kenapa tuh si bos? Tumben marah pakai otot gitu," tanya Ana, si tukang kasir.
__ADS_1
"Paling juga ada masalah pribadi. Biasa bos muda."