
"Vin, tugas buat jaga Rili aku serahkan semuanya sama kamu. Awas kalau sampai kamu buat Rili nangis atau terluka. Siap-siap berhadapan sama aku."
"Siap Bang."
Rasya memeluk Alvin sesaat sambil menepuk punggungnya. "Rival jadi adik ipar."
Alvin tertawa mengingat masa SMA nya dulu yang menjadi rival Rasya dalam segala hal.
Rasya kini menggeser langkahnya lalu turun dari pelaminan.
"Gue dari tadi terharu banget lihat lo. Perjalanan panjang lo akhirnya berakhir dengan bahagia." Nana memeluk sahabat karibnya.
"Iya, makasih ya, Na. Semoga lo juga cepat dapat pendamping hidup."
"Iya, makasih doanya. Harusnya lo doain gue biar jadi kakak ipar lo." Nana melepas pelukannya sambil menyusut matanya yang mengembun.
"Masih aja ngarep, tuh yang di samping nganggur." celetuk Alvin yang membuat Nana melewatinya begitu saja tanpa memberinya selamat.
"Rili selamat," Adit bersalaman sesaat pada Rili lalu beralih memeluk Alvin. "Bro, akhirnya cita-cita terbesar lo tercapai. Selamat!!"
Adit kini di susul oleh tim kafe lainnya. "Bos, emang the best gak jadiin kita waitress di acara sakralnya."
"Iya, dong. Kalian semua udah kayak keluarga aku sendiri. Sengaja nyewa waitress catering sebelah khusus hari ini, biar kalau foto bareng kalian terlihat keren."
Malik dan Aksa mendekat lalu memberikan sekotak hadiah untuk mempelai pria.
"Apa ini?" Alvin mempunyai firasat tidak enak saat menerima kado itu. Tidak mungkin anak buahnya bisa sangat perhatian seperti ini.
"Kado dari kita semua bos," jawab Malik sambil menyunggingkan senyum lebarnya.
Alvin membuka kotak itu. Matanya melebar dengan sempurna. "Astaga!! Ide siapa ini?" Adit, Aksa dan beberapa kru kafe lain menunjuk Malik.
Alvin hanya berdecak. Sungguh kreatif anak buahnya ini.
"Stoknya bisa sampai berbulan-bulan bos, banyak varian lagi. Ada strawberry, anggur, coklat, coca cola. Ada tisu ma gic juga, ada pe lu mas, ada..."
Alvin menutup kotak kado itu dengan kasar. "Buang?! Aku gak butuh itu semua."
"Tuh kan, jangan diusilin makanya. Marah kan jadinya."
"Ya udah barangnya kita bagi bertiga aja," usul Malik yang memang tidak pernah kapok.
"Aneh, gue belum nikah dikasih begituan." Adit turun dari pelaminan.
"Buat lo Aksa?"
"Aku belum cukup umur." Aksa sedari tadi menahan tawanya lalu turun setelah bersalaman sesaat dengan bosnya. Dia melipir dari pelaminan sebelum kena semprot untuk yang kedua kalinya.
"Ya udahlah bagiin ke tamu undangan aja," Malik berjalan turun dari pelaminan.
__ADS_1
"Malik!!"
Dia semakin mempercepat langkahnya saat mendengar teriakan dari bosnya itu. Benar-benar karyawan kebanggaan.
"Itu apa sih Mas yang rasa-rasa. Permen karet?"
Alvin menepuk jidatnya sendiri mendapat pertanyaan dari Rili. Apa Rili memang tidak mengerti atau hanya pura-pura polos. Kemudian Alvin membisikkan nama barang itu di telinga Rili.
"Oo, ada gitu yang rasa-rasa. Rasainnya lewat apa ya?"
Alvin menghela napas panjang sambil bersalaman dengan kru wanita yang tersisa di atas pelaminan.
"Maaf ya bos. Kita memang usil."
Alvin hanya menggelengkan kepalanya.
"Selamat Vin," Kini Fandi menjabat tangan Alvin.
"Iya, makasih. Kapan nyusul?"
"Iya, secepatnya," kata Fandi sambil melirik Dira yang sedang mengucapkan selamat pada Rili.
"Sukses deh!!"
"Iya." Fandi kembali menggandeng tangan Dira.
Saat turun dari pelaminan, pandangannya bertemu dengan Rasya. Lagi, lagi dadanya berdebar tak karuan.
"Woy, keren, udah punya mantu sekarang." Beberapa sahabat lama Rizal dan Lisa datang dan langsung naik ke atas pelaminan.
"Evan, apa kabar?" mereka berpelukan sesaat sebagai pelepas rindu.
"Baik banget. Muka lo itu gak cocok jadi mertua."
Rizal tertawa. Sahabatnya itu gak pernah berubah. Bahkan cara bicaranya saja masih pakai lo gue.
"Terus cocoknya jadi apa?"
"Jadi ketua OSIS bucin."
Mereka semua tertawa. Sederetan sahabat lama mulai dari Evan dan istrinya yaitu Sofi. Andri bersama istrinya juga Revi, yang satu ini jodoh yang tak terduga. Lalu ada Dewa dan Karin juga.
"Selamat ya, udah jadi mama mertua," ucap Sofi sambil bersalaman dengan Lisa dan cipika cipiki.
"Makasih Kak Sofi udah datang."
"Zal, anak lo kok gak mirip sama kalian berdua." teriak Evan sambil merangkul Alvin. Rupanya dia salah sebut anak.
Sederet teman-temannya mematung sesaat lalu mereka tertawa bersama. "Yaiyalah orang itu mantunya."
__ADS_1
"Loh, bukannya anak lo yang pertama cowok."
"Adiknya dulu yang nikah. Gini nih, jadi ketahuan kalau kita tuh jarang ketemu." Rizal kini berdiri di dekat Evan.
Evan tertawa, "Oo, nah, kalau yang ini baru lah percaya kalau anak lo. Yang lulusan Amerika itu anak lo yang pertama?"
"Iya, Rasya lulusan Amerika. Alvin juga lulusan Amerika. Dia yang punya kafe ini." kali ini Rizal membanggakan mantu barunya itu yang membuat Alvin seketika besar kepala.
"Widih, keren. Makin kaya dong lo."
Semua ikut tertawa mendengar ucapan Pak Tentara yang semakin blak-blakan itu.
"Ini kan chef Alvin yang di youtube itu," kata Sofi pada suaminya. "Yang sering Mama tonton waktu Mama masak."
"Oo, pantas aja, Ma. Masakannya jadi gosong soalnya malah fokus sama chef nya yang masih muda, ganteng lagi. Langsung lupa sama yang dimasak," canda Evan yang selalu sukses membuat temannya tertawa.
"Ih, Papa ini, udah jadi Letnan Jendral juga masih suka bercanda."
"Ya udah. Kita ngobrol di meja bundar aja. Tuh, antrian udah panjang."
Orang tua Rili turun dari pelaminan dan duduk di sebuah meja bundar yang cukup untuk empat pasang suami istri itu.
"Kalau mau ambil makan, kalian ambil dulu. Sambil mengobrol," suruh Rizal.
"Bentar lagi ajalah. Kita di sini sampai acara selesai."
"Gue nih, yang paling insinyur kalau ada reoni gini," ucap Andri yang memang merasa iri dengan kesuksesan teman-temannya. "Dari dulu gue masih aja jadi karyawan biasa."
"Lo insinyur, lah gue apa?" kata Dewa menimpali perkataan Andri.
"Tenang bro, semua manusia sudah ada jalannya masing-masing." Para bapak-bapak yang menolak tua itu lanjut mengobrol tentang masalah pekerjaan, sedangkan Sofi mengobrol dengan Revi yang memang sahabat lama itu.
Saat inilah digunakan Lisa dan Karin untuk membicarakan tentang Dira.
"Rin, kamu beneran mau jodohin Dira?"
"Bukan aku sih yang jodohin. Almarhumah kakak aku, kan Dira sejak kecil ikut dia."
Lisa kini semakin paham situasi yang ada. Sebenarnya masih ada celah jika putranya memang ingin bersama Dira. "Jadi gitu. Memang Dira mau sama perjodohan itu?"
Karin menggelengkan kepalanya kecil. "Gak tahulah. Dira kelihatan gak bahagia, padahal aku bisa batalkan perjodohan itu. Kalau memang gak saling cinta ya udah gak usah dipaksakan. Tapi Dira tetap mau meneruskannya."
Lisa hanya terdiam.
"Kenapa? Rasya jatuh cinta ya sama Dira?"
"Iya, sepertinya begitu. Katanya Dira yang sebenarnya pernah ditemui Rasya waktu masih kecil."
"Iya, mereka pernah beberapa kali jalan bareng waktu kecil. Tapi Dira mengaku sebagai Dara."
__ADS_1
"Kalau mereka bersatu pasti seru ya, kita bisa jadi besan. Mereka kan juga saling cinta sebenarnya."
Fandi yang berdiri tak jauh dari tempat itu, telinganya bisa menangkap cerita kedua ibu itu.