
Alvin berusaha merangkum dengan cepat seluruh agenda perencanaan acara yang akan diadakan di kafenya. Dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk menemani Rili.
"Santai aja, jangan tergesa nanti jadwalnya ada yang terlupa. Ada Dira kan yang jagain Rili." kata Adit yang sekarang duduk di depan Alvin.
"Iya." Alvin masih fokus dengan buku agendanya.
Adit merasa kasihan melihat sahabatnya yang terlihat begitu lelah tapi tak pernah mengeluh. Apakah hatinya sekuat baja, hingga dia begitu kuat menghadapi semua masalahnya.
"Ini coba kamu cek lagi."
Adit mengambil buku itu dan melihatnya. "Vin, ada tiga acara yang terlewat loh. Memang cuma pesan cateringnya aja, tapi harus ditulis juga di jadwal."
Alvin menghela napas panjang. Dia acak rambutnya yang memang tidak serapi dulu. Bahkan kini ada mata panda di kedua matanya.
"Udah, nanti biar aku yang atur. Aku cek lewat e-mail dan wa kantor."
Alvin menekan ujung hidungnya untuk sekedar menghilangkan rasa pusing yang semakin terasa.
"Mau kopi?" tawar Adit.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu cerita sama aku biar hati kamu plong. Aku tahu kamu sekarang sedang di ujung lelah."
Alvin menghela napas panjang lalu bersandar di kursinya. "Jujur aku lelah, tapi aku harus tetap kuat. Ada Rili yang harus aku jaga dan juga Ayla. Tadi pagi Rili pendarahan lagi. Aku merasa bersalah banget udah buat Rili dalam kondisi kayak gini." Mata Alvin memerah. Rasanya dia ingin menangis menghadapi kondisi sekarang ini. "Belum lagi Ayla yang rewel semalaman karena nyari bundanya, aku juga gak bisa pulang harus nemenin Rili di rumah sakit. Andai dulu aku bisa tahan, semua pasti gak akan kayak gini. Rili masih bisa fokus pada Ayla dan gak perlu merasa sakit seperti ini."
"Jangan bilang seperti itu. Dalam kandungan Rili juga ada calon anak kamu."
"Iya Dit, aku juga sayang sekali sama anak yang ada dalam kandungan Rili. Aku gak mau kehilangan dia, tapi lihat keadaan Rili yang kayak gini." Setetes air mata berhasil lolos tak bisa dia tahan. "Andai aku bisa, biar aku saja yang merasakan kesakitan Rili."
"Sabar, Vin.." Adit mengusap pundak Alvin. "Kamu luapkan semua kesedihan kamu sekarang karena saat kamu ada di samping Rili kamu harus terlihat kuat."
Alvin kembali menyusut embun di ujung matanya.
"Kamu jangan mikirin soal kafe, biar aku yang urus semuanya. Kamu sekarang fokus sama Rili dan anak kamu."
Alvin menganggukkan kepalanya. "Makasih, Dit."
__ADS_1
"Sama-sama."
...***...
Alvin masuk ke dalam ruangan Rili. Rupanya Rili sedang tidur.
"Ra, makasih udah jagain Rili. Kamu pulang dulu gak papa."
"Iya, besok kalau gak ada yang jaga, aku bisa." Dira berdiri dan meraih tasnya, karena di rumah juga ada Arsyad yang sedang menunggunya.
"Iya makasih. Besok ada Mama yang ke sini."
Setelah itu, Dira keluar dari ruangan Rili.
Alvin duduk di kursi dekat brangkar Rili. Dia pandangi wajah Rili yang masih terlihat pucat. Sudah beberapa bulan ini dia tidak melihat senyum ceria terukir di wajah Rili, bahkan Rili cenderung lebih sering menangis di masa kehamilan yang kedua ini.
Semoga kondisi kamu cepat membaik...
Beberapa saat kemudian, Rili membuka matanya. "Mas udah dari tadi di sini?"
"Barusan," jawab Alvin singkat sambil merapikan anak rambut Rili yang berantakan.
"Nggak sayang. Habis dari luar kena debu. Kamu sudah makan?"
"Sudah Mas."
Alvin tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Rili.
"Mas sini peluk aku." Rili meraih kedua pundak Alvin agar dia mendekat. Meski hanya bisa setengah pelukan tapi Rili yakin Alvin sedang membutuhkannya. "Mas, aku tahu Mas capek."
"Aku gak capek." Alvin masih saja mengelak.
Rili mengusap rambut Alvin. Wajah Alvin kini telah bersembunyi di dadanya.
"Mas hebat, selalu terlihat kuat di depan aku. Padahal aku ngerti Mas pasti sangat capek. Mulai kehamilan pertama aku dulu, Mas Alvin ada untuk menenangkan perasaanku, sedangkan Mas Alvin berusaha menenangkan hati Mas sendiri. Sampai di kehamilan kedua, Mas yang ngerasain semuanya dan masih bisa tersenyum, masih bilang aku gak papa, masih bisa juga merawat aku bahkan sampai pingsan waktu melahirkan."
Alvin hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir. Entahlah, hari itu hatinya benar-benar terasa mellow. Rili benar, dia sebenarnya sangat lelah.
__ADS_1
"Dan kehamilan ketiga pun, aku justru menyalahkan Mas Alvin." Dan di sini Rili mulai menangis juga. "Padahal jelas ini bukan sepenuhnya kesalahan Mas. Dan Mas masih bisa tenangin aku lagi. Masih bisa tersenyum, masih bisa merawat Ayla bahkan tiap malam bergadang biar aku bisa tidur nyenyak. Mas terus menjaga aku, nyuapi aku dan segala macamnya. Belum lagi pekerjaan kafe yang menumpuk. Aku tahu Mas capek tapi gak pernah mengeluh. Mas selalu berusaha mengerti perasaanku, sedangkan Mas gak pernah cerita gimana perasaan Mas bahkan mungkin sama kedua orang tua Mas sendiri. Mas hanya seorang suami biasa. Mas bukan malaikat. Kalau capek dan lelah, cerita sama aku. Istirahat, jangan dipaksa."
"Aku gak mau membebani pikiran kamu," kata Alvin dengan suara seraknya. "Ini aja karena ulah aku membuat hidup kamu berubah 180°. Kamu yang dulu ceria, sekarang justru sering menangis bahkan menahan rasa sakit."
"Sssttt Mas, ini tuh proses menuju kebahagiaan kita yang sebenarnya. Mas bayangin deh nanti kalau anak-anak kita sudah sekolah atau sudah dewasa, kita pasti bahagia menikmati setiap momen penting dalam hidup mereka."
"Iya kamu benar."
Benar kata orang, menangis akan mengurangi beban dalam hati. Hati Alvin yang terasa lelah, capek dan seperti terhimpit sesuatu kini terasa plong.
"Udah Mas, jangan nangis lagi. Ih, basah nih baju aku."
Alvin tersenyum kecil dan justru mengusapkan wajahnya ke baju Rili.
"Mas, kayak Ayla deh."
"Makasih ya sayang."
"Mulai sekarang baik aku atau Mas kalau capek, kita saling mengeluh dan curhat ya. Jangan berpura-pura kuat kayak gini."
"Iya," lalu wajah Alvin turun ke perut Rili yang sedikit membuncit. "Geraknya makin terasa gak sayang?"
"Kadang Mas, kan masih 4 bulan. Tapi aku senang banget pas dengar detak jantungnya yang sehat."
"Dia pasti jadi anak yang kuat dan hebat."
"Iya Mas. Jadi gak sabar mau cepat ketemu."
...***...
Setelah tiga hari dirawat, Rili sudah diperbolehkan untuk pulang. Dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sesampainya di rumah, dia langsung memeluk Ayla yang sangat dia rindukan.
"Sayang, jangan gendong Ayla dulu sementara."
"Iya, aku cuma mau peluk. Kangen banget." Ciuman bertubi-tubi juga mendarat di pipi chubby Ayla sampai dia terkekeh kegelian. "Gemes banget sih kamu. Nanti malam tidur sama Bunda dan Ayah ya."
Ayla hanya tertawa lepas sambil mengoceh dengan bahasa bayi.
__ADS_1
Alvin meraih Ayla dan memangkunya lalu duduk bersebelahan dengan Rili. Mereka bertiga bercanda dengan tawa Ayla yang semakin keras.