
"Istri Bapak mengalami keguguran, karena kandungannya sangat lemah. Untuk tindakan selanjutnya kita akan melakukan kuret." ucapan Dokter itu seolah terdengar berkali-kali di telinga Alvin. Ini seperti mimpi buruk baginya. Meskipun dia telah ikhlas tapi bagaimana dengan perasaan Rili? Hanya itu yang dia pikirkan saat ini. Dia sangat tidak bisa melihat Rili sakit maupun sedih.
Alvin mengacak rambutnya, bahkan matanya berkali-kali mengembun. Dia masih sendiri, menunggu Rili di depan ruangan tindakan.
"Rili sayang, kamu yang kuat ya..." Satu helaan panjang berhembus dari hidungnya.
Dia usap kembali air mata yang sangat memaksa untuk keluar. Dia ambil ponselnya lalu menghubungi Mamanya.
"Hallo Ma, Rili keguguran..." Dengan sangat berat hati Alvin akhirnya memberi kabar. "Iya Ma, aku sekarang di rumah sakit menunggu tindakan kuret... Iya..."
Alvin mematikan panggilannya. Setelah itu dia menghubungi orang tua Rili dengan sangat berat hati.
"Hallo Pi, maaf aku gak bisa jaga Rili.... Rili keguguran..." Terdengar suara panik dari kedua orang tua Rili. Alvin hanya bisa menekan kembali ujung matanya karena lagi-lagi air mata itu akan lolos begitu saja. "Iya, aku di rumah sakit... Iya..."
Alvin mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali. Dia menundukkan kepalanya. Menunggu tindakan yang hanya memakan waktu satu jam itu terasa sangat lama.
Beberapa saat kedua orang tua Alvin datang. Bu Gita langsung memeluk putranya itu dari samping. "Vin, gak papa. Kamu ikhlas ya. Jangan sedih. Pasti nanti kamu dapat gantinya."
Alvin menghela napas panjang. "Aku udah berusaha jagain Rili karena memang kandungan Rili lemah tapi aku masih saja gagal, Ma"
"Sudah, ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir." Bu Gita mengusap punggung Alvin yang bergetar.
...***...
Rasya keluar dari kamar mandi. Dia kini menatap Dira yang sedang duduk bersandar di headboard. Lagi-lagi rasa gerogi itu kembali muncul bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Apakah Dira akan menjadi miliknya sepenuhnya malam ini?
Rasya yang telah memakai kaos dan celana pendek itu, kini duduk di sebelah Dira dan sama-sama bersandar pada headboard.
"Lihat apa?" tanya Rasya yang membuat Dira seketika mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Ucapan selamat dari teman-teman aku dan dari Fandi juga."
"Fandi?" Rasya meraih ponsel Dira dan membaca pesan dari Fandi yang berisi ucapan selamat dan permintaan maaf karena tidak bisa datang ke acaranya. "Semoga Fandi segera menemukan kebahagiaannya. Aku tahu, merelakan seseorang itu gak mudah." Rasya meletakkan ponsel Dira di atas nakas karena sekarang bukan saatnya untuk fokus pada ponsel.
Rasya meraih pundak Dira dan membawanya dalam pelukan. "Aku bersyukur sudah memiliki kamu sekarang."
Dira tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan Rasya.
Satu kecupan mendarat di kening Dira lalu semakin ke bawah dan kembali singgah di bibir itu. Mereka kembali memagut begitu dalam. Ada gairah yang tiba-tiba muncul. Bagaiman aksi dari seorang Rasya yang kalem dan sangat cool? Dia jelas berbeda dengan Alvin. Meski sesi awal dia bingung harus memulainya darimana, tapi dari naluri lelakinya dia sudah bisa membuat Dira melenguh kecil saat tangannya mengusap lembut sepanjang punggung mulus Dira.
__ADS_1
Mereka semakin beringsut ke ranjang. Sudah tidak ada lagi jarak di antara mereka. Bahkan ciuman Rasya semakin turun ke leher. Mengendusnya dalam lalu menyapunya dengan bibir yang membuat tubuh Dira semakin meremang. Dia semakin mendongakkan kepalanya saat Rasya memberi sensasi gigitan-gigitan kecil dan hisapan di sana.
Beberapa saat kemudian terdengar ponsel Rasya berbunyi. Rasya sedikit menjauhkan dirinya dan meraih ponselnya karena suara ponsel itu tak juga berhenti.
Rasya menautkan alisnya mendapat panggilan dari Maminya. "Mami?" Dia angkat panggilannya dan kembali duduk bersandar. "Ada apa Mi?"
"Rasya maaf ya Mami ganggu. Rili keguguran, Sya."
"Apa? Keguguran?" Seketika gairah yang akan membara itu kembali padam. Dia kini memikirkan keadaan Rili. Baru saja Rili bahagia dengan kehamilannya dan sangat manja minta ini itu padanya.
"Iya, Mami cuma mau kasih kabar kamu. Kamu gak usah ke rumah sakit istirahat saja sama Dira."
"Rili di rumah sakit mana Mi?"
"Di rumah sakit melati."
Rasya mematikan ponselnya, lalu dia turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya.
"Ada apa Kak?"
"Rili keguguran. Aku mau ke sana sekarang. Kamu istirahat saja ya di rumah."
"Ya sudah."
Tapi kedua orang yang sama-sama akan berganti baju ini justru saling tatap. Haruskah Dira berganti pakaian di depan Rasya dan bertelanjang dada seperti yang Rasya lakukan.
"Kenapa?" tanya Rasya yang kini memakai kemejanya. "Masih malu mau ganti baju di depan aku?" Rasya tersenyum kecil lalu membalikkan dirinya. "Ya sudah aku hadap sana. Biar aku lihatnya nanti saja pas malam pertama kita."
Pipi Dira terasa memerah, dia mulai membuka bajunya dan berganti pakaian. Malam pertama? Seperti apa ya malam pertamanya Rasya?
...***...
Kedua orang tua Rili datang saat Rili baru saja dipindah ke ruang rawat inap.
Alvin hanya terdiam sambil berdiri dan mengusap rambut Rili. Bahkan dia belum sempat berbicara sama sekali dengan Rili.
"Sayang, jangan sedih ya. Ini belum rezeki kamu. Nanti kamu pasti dapat gantinya lagi," kata Mami Lisa sambil mengusap lengan Rili. Dia tahu, Rili sedang menahan tangisnya sambil sesekali melihat Alvin.
"Iya Mi. Makasih udah langsung ke sini. Mami sama Papi pasti capek kan?"
__ADS_1
"Rili, rasa capek itu nomor sekian. Yang penting kita lihat keadaan kamu dulu." Papi Rizal kini beralih pada Alvin. Dia tahu Rili pasti belum bicara dengan Alvin karena baru saja dipindah ruangan mereka sudah datang. "Sekarang yang Rili butuhkan adalah kamu, bukan kita. Kamu tenangin dia ya, pasti dia ingin menangis di pelukan kamu," bisik Rizal lalu menepuk bahu Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya.
"Mi, kita pulang aja."
Mami Lisa mengerti maksud suaminya itu. "Ya udah, besok pagi Mami ke sini lagi."
Baru saja mereka membalikkan badannya, pengantin baru masuk ke dalam ruangan.
"Kak Rasya, kok ke sini?"
"Aku khawatir sama kamu." Rasya berjalan mendekat. "Gimana keadaan kamu?"
"Ya, seperti yang Kak Rasya lihat. Aku udah gak papa. Maaf ya Kak, aku merepotkan semuanya." Air mata itu semakin terbendung.
"Nggak, justru aku yang merasa bersalah. Pasti ini terjadi karena kamu kecapekan gara-gara acara aku tadi."
Rili hanya menggelengkan kepalanya. "Gak papa Kak. Kak Rasya harusnya di kamar dong malam pertama, pulang gih." suara Rili semakin bergetar. Dia sudah berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Sya, lebih baik kita pulang dulu." ajak Papi Rizal karena dia tahu persis hati putrinya sedang tidak baik-baik saja dan sedang butuh suaminya.
"Iya. Ya sudah, kamu cepat sehat ya. Aku besok gak bisa ke sini lagi."
"Semoga cepat pulih ya." kata Dira.
"Iya, makasih. Met honeymoon ya."
Mereka semua keluar dari ruangan Rili.
"Rili, jangan sedih ya. Moga cepat pulih. Mama pulang dulu. Besok Mama ke sini lagi."
"Iya Ma, makasih."
Pak Iwan menepuk pundak Alvin sesaat. "Yang tegar."
"Iya, Pa."
Setelah mereka semua keluar dan pintu telah tertutup. Tangis Rili langsung pecah. "Mas..."
__ADS_1