
"Aaaa, kayaknya kecebongnya Pak Rasya sudah tumbuh deh di perut kamu."
"Hah???" Dira terkejut tak mengerti. "Kecebong apa?"
"Maksud aku, kamu hamil?"
Dira menggelengkan kepalanya. "Nggak. Aku gak ngerasain apa-apa."
Nana membawa Dira duduk. Dia kini akan bertanya layaknya seorang dokter kandungan atau bidan.
"Setelah nikah kamu ada datang bulan gak?" tanya Nana, dia sangat penasaran. Benarkah bos yang berhati dingin seperti es kutub itu sudah berhasil membuat anak.
Dira menggelengkan kepalanya lagi.
"Duh, masak kamu gak ngerasa?" Entahlah mengapa jadi Nana yang begitu antusias.
"Ya, kan aku kira terlambat biasa soalnya biasanya kan orang hamil mengalami morning sickness."
"Nanti istirahat aku antar beli testpack yuk. Aku penasaran banget, soalnya hari ini Pak Rasya sensitif banget. Gak mungkin kan Pak Rasya lagi PMS."
Dira tersenyum kecil karena memang akhir-akhir ini Rasya sangat sensitif. "Kamu kok ngerti soal ginian?" Memang bendaharanya suaminya itu sangat magic.
"Tahulah. Aku kan suka lihat drakor." Nana cekikikan. Memang bukan ilmu yang pasti tapi tingkat kehaluannya sangat tinggi.
"Apa hubungannya?"
"Udah deh percaya sama aku. Nanti aku antar beli, kalau memang beneran bisa dibuat kejutan."
Dira mengangguk sambil tersenyum.
"Nana, kok kamu di sini?!"
Suara keras itu membuat bibir Nana terkatup rapat. Baru juga dibicarakan, bosnya sudah datang dan akan memarahinya. "Kan, aku minta cepat selesaikan pekerjaan kamu. Malah ngobrol di sini!"
Nana hanya tersenyum sambil melipir kembali ke ruangannya.
"Udahlah, tumben banget sih pakai marah-marah gitu. Nana cuma ngobrol bentar."
Rasya menghela napas panjang. Dia berjalan mendekati Dira lalu duduk di depan layar komputer. "Kamu print ini ya."
__ADS_1
Dira menganggukkan kepalanya. Dia jadi kepikiran obrolannya dengan Nana barusan. Iyakah dia sedang mengandung?
"Kok malah melamun?"
Dira menggelengkan kepalanya. "Iya, aku kerjakan sekarang."
Rasya kembali lagi ke ruangannya setelah mengusap puncak kepala Dira sesaat.
...***...
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Rasya saat melihat Dira membawa tasnya setelah makan siang.
"Mau antar Nana beli sesuatu sebentar."
"Udahlah, biarin dia beli sendiri." Rasya mulai menunjukkan wajah kesalnya.
"Aku udah janji buat antar dia. Cuma sebentar kok." Dira tersenyum. Suaminya sekarang memang berbeda.
"Ya udahlah."
Dira masih tersenyum sambil keluar dari ruangannya. Dia berjalan menuju lift yang sudah ada Nana di sana.
"Pak Rasya ngambek aku tinggal keluar," cerita Dira sambil tersenyum.
Kedua wanita ini tertawa di dalam lift. Begitulah hubungan keduanya, setelah Nana berdamai dengan perasaannya sejak saat itu mereka menjadi sahabat.
Mereka keluar dari kantor dan berjalan menuju apotek yang berada di dekat sana.
"Mbak beli testpack dua," kata Nana tiada rasa malu.
"Loh, mbak Nana hamil?" tanya penjaga apotek itu yang kenal dengan Nana karena Nana sering membeli obat-obatan perlengkapan kantor di tempat itu.
"Eh, bukan Mbak. Aku masih single. Nih, buat istrinya bos."
Dira tersenyum kecil.
"Wah, selamat ya, selamat." Mbak penjaga apotek itu justru memberi selamat pada Dira.
"Mbak kan belum di tes. Nih alatnya aja masih beli." Nana protes dengan tindakan penjaga apotek itu.
__ADS_1
"Ya kan gak papa. Dari auranya sih kayaknya beneran hamil." Penjaga apotek itu menyerahkan dua tespack. "Sama beli apalagi?"
"Kamu mau beli apa, Ra?" Tangan Nana meraih manisan mangga kering. "Ra, kamu gak mau ini? Rili dulu suka minta ini sama Pak Rasya."
"Manisan mangga? Aku gak suka asam."
"Ya udah buat aku aja ya satu." Nana mengeluarkan dompet sakti milik kantor.
"Na, pakai uang aku aja."
"Udah, tenang aja. Ini pakai uang kantor. Nanti aku masukan ke pengeluaran serba-serbi biar jadi kenangan sepanjang masa."
Dira tertawa tapi menyetujui tindakan Nana.
Setelah itu mereka keluar dari apotek. "Kamu coba tes deh. Aku penasaran banget." Tingkat keingintahuan Nana memang sangat tinggi.
"Biasanya kan pagi-pagi pas bangun tidur biar akurat."
"Kamu udah telat lama. Coba aja sih. Kalau emang samar, besok pagi coba lagi. Kan dua tuh."
"Oke." Mereka berjalan masuk ke dalam kantor lalu menuju toilet yang berada di lantai bawah. Nana menunggu Dira diluar toilet. Terserah Dira cara mengetesnya bagaimana yang penting Nana bisa melihat hasilnya
"Kok jadi aku yang deg-degan gini." Beberapa saat kemudian Dira keluar dari bilik toilet sambil menggenggam alat itu. "Gimana hasilnya?"
Dira menunjukkan garis dua yang sudah terlihat jelas pada Nana.
"Tuh kan, beneran. Yee, selamat ya. Duh aku ikut seneng meskipun gak ikut buat. Sembunyiin dulu tuh." Nana kembali mengobrol dengan Dira. Mereka menyusun suatu kejutan buat Rasya.
Sampai di lantai lima, mereka berdua langsung disambut oleh Rasya.
"Lama banget? Memang kemana?" tanya Rasya sambil menatap Nana dan Dira tajam. Selain sensitif dan pemarah, Rasya sekarang berubah menjadi over protektif.
"Duh, Pak Rasya nih. Pinjam istrinya bentar aja udah kangen. Nih aku beli manisan mangga, lagi ngidam." Nana sengaja menunjukkan toples kecil itu pada Rasya berniat untuk mengiming-imingnya.
Tiba-tiba saja Rasya mengambil toples itu dari tangan Nana lalu membukanya tanpa permisi dan langsung memakannya.
"Ra, ikut aku ke kantor," ajak Rasya pada istrinya.
"Pak Rasya, itu punya aku kok dimakan."
__ADS_1
Rasya tak menggubris, dia justru berjalan menuju ruangannya.
"Duh, dasar pakmil. Aku tadi kan cuma mau iming-iming aja."