Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Penolakan


__ADS_3

Alvin menghentikan motornya di depan rumah Rili. Setelah Rili turun dari motor, dia menatap bingung pada sebuah mobil yang berhenti di halaman rumahnya yang tak lain adalah mobil Pak Iwan, Papanya Alvin.


"Mas, Papa kamu kenapa ke sini?" tanya Rili. Dia sudah merasa curiga dengan kebetulan ini. Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan Alvin yang serius di ponsel tadi?


Alvin yang telah turun dari motornya dan membuka helm hanya tersenyum sumbang. Dia sendiri juga terkejut dengan keputusan Papanya yang mendadak ini.


Alvin menggandeng tangan Rili agar segera masuk ke dalam rumah. "Udah yuk masuk dulu."


Setelah masuk ke dalam rumah, bukan cuma Pak Iwan dan Bu Gita sebagai orang tua Alvin tapi juga ada Kakak perempuan Alvin bersama suaminya yang duduk di ruang tamu rumah Rili.


Hal ini semakin membuat Rili bertanya-tanya.


"Ini, mereka sudah pulang. Sini duduk dulu."


Rili berjalan mendekati Maminya lalu duduk di sampingnya. "Ada acara apa Mi?" tanya Rili pada Maminya.


Sedangkan Alvin hanya menunduk. Dia sudah memiliki firasat buruk hari ini.


"Sesuai obrolan saya dengan Pak Rizal kemarin." Pak Iwan memulai pembicaraannya.


"Pak Iwan langsung tanggap menghadapi situasi."


"Jelas Pak. Biar langsung sat set, seperti yang Bapak bilang kemarin." Kedua bapak ini tertawa.


Alvin kini menatap Rili. Dia tahu Rili sedang bertanya-tanya dalam hatinya.


"Bahkan saya sendiri baru bilang sama Alvin." Pak Iwan menepuk pundak Alvin yang duduk di sebelahnya. "Kamu tadi Papa cari ke cafe, tapi ternyata ada di tempat Rili."


"Tapi Pa, kenapa gak tanya pendapat aku dulu soal ini," bisik Alvin pada Papanya.


"Terlalu lama."


Rili seperti terjebak dalam situasi ini. Dia bisa menebak, hal apa yang akan terjadi.


"Kami sekeluarga ke rumah Pak Rizal, berniat untuk melamar putri bapak secara resmi dengan anak saya Alvin."


Kalimat itu membuat dada Rili berdebar-debar. Dia belum siap dengan ini.


"Iya, hubungan mereka sudah terjalin lama. Tidak perlu menunda-nunda lagi. Kita bisa langsung saja menentukan tanggal pernikahan mereka," jawab Pak Rizal menanggapi lamaran dari Pak Iwan.


Seketika Rili menatap Papinya. "Pi, kenapa gak tanya pendapat Rili dulu." Rili memelankan suaranya sambil menyenggol lengan Papinya agar menatapnya.

__ADS_1


"Kamu pasti menerima lamaran Alvin kan?" Papi Rizal memelankan suaranya saat berbicara dengan putrinya itu.


"Bukan sekarang Pi, Rili belum siap."


"Rili, udah kamu mau mikir apa lagi?"


Rili menghela napas panjang. Dia punya mulut tentu dia bisa menolak lamaran itu sendiri. "Hmm, maaf. Saya benar-benar minta maaf. Saya belum siap menerima lamaran ini, apalagi menikah dalam waktu dekat ini."


Keputusan Rili berhasil membuat semua mata tertuju pada Rili termasuk Alvin. Meskipun Alvin sudah tahu apa jawaban Rili, tapi tetap saja rasa kecewa itu sedikit singgah di hatinya.


"Rili, kenapa?" tanya Mami Lisa. "Kamu jangan memikirkan hal lain ya, pikirkan kebahagiaan kamu dulu."


"Jadi Rili harus egois, memikirkan perasaan Rili saja."


"Bukan, bukan seperti itu. Kalau kamu mau menerima lamaran Alvin, ya sudah kamu terima saja jangan terbebani hal-hal lain."


Iya, dia tahu. Tapi dia masih tetap memikirkan perasaan Rasya.


"Maaf saya permisi." Rili berdiri lalu melangkah pergi. Dia naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Alvin hanya menghela napas panjang, ditambah bisikan dari Mamanya yang mengungkapkan kekecewaan semakin membuat gusar hatinya.


"Maaf atas keputusan putri saya. Saya minta waktunya Pak Iwan. Sepertinya Rili masih memikirkan perasaan Rasya. Nanti biar saya bicarakan ini dengan mereka."


"Loh, kita makan malam dulu sekalian."


"Lain kali saja, Bu. Maaf, mungkin lain kali kita prepare rencana ini baik-baik biar tidak ada kesalahpahaman lagi seperti ini." Pak Iwan berusaha meredam kekecewaan istrinya agar tidak terlalu kentara.


"Justru kami yang seharusnya minta maaf."


"Ya sudah. Kami pulang dulu." Mereka bersalaman dengan kedua orang tua Rili.


Alvin sebenarnya masih ingin berbicara dengan Rili. Ada yang masih mengganjal di hatinya jika tidak segera menyelesaikan masalah ini.


"Alvin, ayo pulang."


"Aku mau bicara sama Rili dulu, Ma."


"Tidak usah. Kita pulang saja!" Bu Gita sedikit menarik Alvin agar berdiri.


Karena tidak mau berdebat, akhirnya Alvin ikut berpamitan.

__ADS_1


"Alvin, maaf ya. Nanti biar tante bicara sama Rili."


"Iya tante, tidak apa-apa. Saya juga sudah tahu alasan Rili. Saya permisi dulu."


Setelah mereka semua pulang, Lisa berniat untuk menemui putrinya.


"Mi, kelihatannya mereka kecewa banget."


Lisa menghela napas panjang. "Iya Pi. Biar Mami bicara sama Rili." Lisa naik ke lantai dua lalu mengetuk pintu kamar Rili. "Sayang, Mami masuk ya..."


"Iya, Mi..." sahutan Rili dari dalam kamar.


Setelah Mami Lisa membuka pintu, dia menggelengkan kepalanya melihat Rili duduk di tepi ranjang dengan mata yang sedikit sembab.


"Sayang, kenapa kamu lakuin ini?" tanya Mami Lisa sambil merengkuh pundak Rili.


"Rili masih belum tega sama Kak Rasya."


"Jangan memikirkan itu. Rasya pasti bahagia melihat kamu bahagia."


"Tapi tetap saja Mi, dalam hati Kak Rasya pasti ada rasa sedih."


Mami Lisa meraih Rili dalam pelukannya. "Iya Mami tahu, kamu sayang sekali sama Rasya. Mami juga senang kalian saling menyayangi. Tapi, kamu pikirkan lagi ya sayang. Kamu pasti ingin segera bersama Alvin kan?"


Rili mengangguk pelan.


"Ya sudah, kamu terima lamaran dia. Kamu juga harus memikirkan perasaan Alvin. Kasihan dia. Meskipun dia bilang mau menunggu kamu, tapi pasti masih ada sedikit rasa kecewa yang muncul di hatinya. Bisa saja dia merasa seolah-olah kamu yang tidak cinta sama dia."


Iya, Rili mengerti dengan hal itu. Alvin hanya manusia biasa, tidak selamanya dia bisa mengerti dan mau menerima keadaan dirinya.


"Kamu bilang sama Alvin tentang masalah ini, sebelum semua terlambat."


Terlambat? Apakah Alvin akan meninggalkannya karena keputusannya yang gegabah tadi. Membayangkannya saja Rili sangat ketakutan. Kenapa tadi dia tidak berpikir akibatnya ketika memutuskan suatu hal.


"Ya sudah." Mami Lisa melepas pelukannya. "Kamu mandi dulu, setelah itu makan. Mami tunggu di bawah." Mami Lisa mengusap puncak kepala Rili sesaat lalu keluar dati kamar Rili.


Rili mengambil ponselnya lalu membuka layar chat nya dengan Alvin.


Mas, maafin aku ya...


Rili tidak tahu harus mengetik apa lagi. Hanya permintaan maaf yang terkirim, entah Alvin akan membalasnya atau tidak.

__ADS_1


💞💞💞


__ADS_2