
"Sayang, semalam Adit cerita katanya ada masalah di kantor Rasya." Rili yang telah selesai menyisir rambut basahnya kini menatap suaminya yang sedang memakai kemeja itu.
"Masalah apa?" tanya Rili karena memang tidak ada yang memberitahunya tentang tragedi di kantor Rasya.
"Ada yang mau melecehkan Nana, dia OB yang bekerja di kantor Rasya." Setelah mengancing kemejanya, Alvin mendekati Rili dan berdiri di belakangnya.
Mendengar kabar itu, seketika Rili terkejut. "Apa!! Kenapa Nana gak cerita soal ini sama aku."
"Ya mungkin Nana masih shock." Alvin membungkukkan dirinya dan menempelkan dagunya di bahu Rili.
"Anterin aku ke tempat Nana dulu ya Mas, aku mau tahu keadaan dia." Rili kembali memoles wajahnya.
"Iya." Alvin mendekat lalu mencium mesra pipi Rili. "Nanti malam lagi ya."
Rili hanya tersenyum dengan pipi yang merona. Setiap hari dia memang melewati malam yang panas bersama Alvin. Bukan hanya malam hari tapi kapanpun mereka ingin.
"Ih, mesum!" Satu cubitan kecil mendarat di perut Alvin. Lalu dia berdiri dan mengambil tasnya.
"Kamu juga udah ketagihan kan?" Alvin memeluk Rili dari belakang.
Rili membalikkan badannya hingga wajah mereka saling berdekatan. Satu ciuman hangat tercipta untuk kesekian kalinya di pagi hari itu. "Mas Alvin itu selalu bisa buat aku ngefly dan kecanduan," kata Rili setelah pagutan yang hangat itu terlepas.
"Like a drugs." Alvin tersenyum kecil lalu mendaratkan kembali ciuman hangatnya di kening dan kedua pipi Rili.
"Mas, ayo berangkat udah siang."
"Iya, iya." Alvin memasukkan ponsel dan dompetnya pada tas slempang kecil. Setalah mengambil kunci mobilnya mereka berjalan keluar dari kamar.
Rili bergelayut manja saat menuruni anak tangga. Semenjak menikah, hari-hari mereka menjadi begitu indah.
Kini mobil mereka berjalan menuju kantor Rasya. Sepanjang perjalanan, Rili memikirkan bagaimana perasaan Nana waktu itu. Pasti dia sangat ketakutan dan shock.
Mobil Alvin berhenti di tempat parkir kantor Rasya. Mereka berdua segera turun dan berjalan masuk ke dalam kantor.
"Aku temani ke atas ya. Nanti aku tunggu di ruangan Rasya."
"Iya Mas." Obrolan sesaat mereka saat berada di dalam lift.
Setelah pintu lift terbuka, Rili masuk ke dalam ruangan Nana. Terlihat Nana sedang serius menatap layar komputernya dengan setumpuk kertas di pangkuannya.
__ADS_1
"Na..." Rili menggeser sebuah kursi plastik dan duduk di sebelahnya.
"Rili, ngapain pagi-pagi ke sini? Udah rela ninggalin rumah."
Rili tergelak, sebenarnya sih inginnya di rumah saja menikmati momen berdua dengan suami.
Tapi tiba-tiba tawanya terhenti. Nana memang setegar itu, bahkan seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. "Na, lo gak papa kan?"
"Gue duduk di sini kerja itu berarti gak papa. Kalau kenapa-napa ya tiduran di rumah sakit. Ih, amit-amit."
"Gue denger lo kemarin..."
"Sssttt.." Nana kini menatap Rili. "Udah lupain soal kemarin, yang penting pelakunya udah tertangkap dan akan dihukum pasal berlapis."
"Pasal berlapis?"
Nana menganggukkan kepalanya. "Iya, soalnya dia juga berusaha menyerang Mas Adit. Tangan Mas Adit sampai luka kena pisau." Nana menundukkan pandangannya karena hatinya tiba-tiba terenyuh saat mengingat Adit. Dia yang sudah terbiasa terluka dan mengejar Rasya, tidak pernah menatap pintu yang telah terbuka lebar untuknya.
"Mas Adit? He is a superhero for you."
"Ih," Nana menghela napas panjang. "Gue bingung. Kenapa bukan Kak Rasya aja yang punya cinta sebesar Mas Adit."
Rili tertawa. "Gak bisa dong. Ntar hidup lo lurus doang kayak jalan tol, gak ada konflik apa-apa."
Rili menggelengkan kepalanya. "Semua hubungan itu ada cobaannya masing-masing. Lo gak inget waktu gue LDR an sama Mas Alvin dulu. Hubungan gue rasanya kayak di ujung tanduk, mana Mas Alvin jarang banget hubungi gue. Kayaknya kalau waktu itu gue oleng dikit mungkin sekarang gue gak jadi istrinya Mas Alvin."
"Iya sih. Perjuangan banget waktu itu buat lo setia. Padahal banyak banget godaan yang menerpa, apalagi pas kuliah."
"Makanya itu. Lo juga harus berjuang."
"Yang diperjuangin udah mati rasa."
"Bukan ke Kak Rasya. Tapi berjuang untuk menerima Mas Adit in your heart."
Nana hanya berdecak lalu kembali fokus pada layar komputernya. "Ya, biar waktu aja yang menjawab."
"Wih, peribahasa yang keren."
"By the way, gimana malam pertamanya?" tanya Nana yang memang ingin mencari sedikit hiburan dengan menggoda sahabatnya itu.
__ADS_1
Satu cubitan mendarat di lengan Nana. "Lo tuh ya, disuruh Mami bawa baju gue malah diganti baju lak nat semua."
Seketika Nana tertawa cukup keras. "Tapi sangat bermanfaat dong. Iya kan? Kemarin aja sampai lo bungkusin nasi goreng spesial dan titip pesan terima kasih buat kadonya." Nana kembali menatap sahabatnya yang pipinya bersemu merah itu. "Sukses?"
"Sukses banget."
"Kalau baju dinasnya masih kurang nanti gue kasih spill nama toko officialnya."
"Yee, apaan sih. Mau iya-iya enak gak pake apa-apa."
Satu jitakan mendarat di kepala Rili. "Pake filter kalau ngomong nanti gue kena sawan." Tiba-tiba Nana menyingkirkan rambut yang ada di leher Rili. "Aduh, lehernya merah-merah habis dihisap vampir." Nana kembali tertawa dengan puas.
"Nana. Rese banget sih." Rili kembali menutup hasil karya Alvin yang belum juga hilang, padahal semalam sudah pindah lapak.
"Moga cepet jadi ya. Biar gue punya ponakan unyu-unyu."
"Iya Na. Makanya gue buat setiap hari."
"Dasar!! Emang maunya lo aja. Gak kebayang gimana ga nas nya lo di ranjang sama Kak Alvin."
"Gak usah dibayangin lagi ntar lo kena sawan. Makanya cepet nikah." Rili berdiri. "Ya udahlah gue mau ke toko. Tetap semangat ya. Jangan lupa chat gue kalau ada apa-apa."
"Iya, iya.."
Rili keluar dari ruangan Nana lalu masuk ke dalam ruangan Rasya. Dia menggelengkan kepala saat melihat suaminya justru tidur di sofa. "Kok malah tidur di sini sih?"
Rasya saat itu memang sedang fokus dengan layar laptopnya dan setumpuk kertas di sebelahnya.
"Mas..." Rili mendekat dan membangunkan Alvin dengan mengguncang tubuhnya.
Alvin membuka matanya lalu perlahan duduk. "Udah ngobrolnya?" Alvin menguap panjang.
"Kok malah tidur sih."
"Habis ngebosenin. Tuh kakak kamu sibuk banget dari tadi di ajak ngobrol gak konek."
Rasya menghela napas panjang. "Kerjaan aku banyak banget. Deadline semua. Kalian balik aja dulu, kapan-kapan ngobrol lagi."
"Ya udahlah." Alvin berdiri lalu merengkuh pinggang Rili dan berjalan keluar dari ruangan Rasya. "Tidur lagi di rumah aja yuk gak usah kerja."
__ADS_1
"Yee, buat bos gak ada hari libur."
Mendengar kalimat yang tertiup angin itu, Rasya menggelengkan kepalanya. "Dasar pengantin baru."