
Area basah basah lagi.. 🤦🏻♀️
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Makasih sayang... I love you..." Alvin melepas dirinya lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah Rili.
Untuk sesaat hanya deru napas yang terdengar. Mereka sama-sama menatap langit-langit kamar yang putih bersih itu.
Beberapa detik kemudian mereka saling berhadapan dan sama-sama mengulum senyum.
Alvin meraih tubuh istrinya dan menghapus jarak di antara mereka. "Mulai sekarang kita sudah saling memiliki. Semoga aku selalu bisa bahagiakan kamu."
"Iya. Semoga Mas Alvin bisa sabar menghadapi aku setiap hari yang kadang cerewet, gampang marah dan aku juga masih belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Masak aja sering gosong, jadi insecure sama suami." Rili menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvin. Menghirup dalam aroma maskulin yang selalu dia suka.
Alvin tersenyum dan mengusap lembut rambut Rili yang lepek karena keringat. "Gak papa. Kita bisa saling mengisi kekurangan." Dia menarik selimut sampai menutupi tubuh polos mereka.
"Petualangan hari ini cukup sampai di sini ya. Pasti istriku ini udah capek banget seharian gak istirahat."
Rili tertawa kecil.
"Kamu dingin gak? Kalau dingin pakai kaos aku ya."
"Gak kok. Mager Mas. Tapi tetep peluk gini ya semalam."
"Iya sayang." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rili. "Met tidur sayang." Alvin semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas Alvin juga," jawab Rili yang telah memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian sepasang pengantin baru itu sudah terlelap sambil berpelukan.
Sampai pagi hari, posisi mereka masih tetap sama. Satu malam yang telah terlewat dengan tidur bersama orang terkasih.
Rili terbangun karena rasa dingin yang semakin menusuk. Meski telah berselimut tebal dan ada pelukan dari suami.
"Dingin."
__ADS_1
Merasakan pergerakan dari Rili, Alvin membuka matanya. "Jam berapa sayang?"
"Udah jam 5 Mas. Dingin banget rasanya."
"Iya dingin. Bentar aku ambilkan baju dulu." Alvin duduk lalu turun dari ranjang dan memakai boxernya, kemudian dia membuka lemari besar yang ada di kamar itu. "Ini ada beberapa baju punya kamu. Sudah aku siapkan. Kamu pakai punya aku atau punya kamu sendiri."
"Emang baju buat aku ada di lemari?" Rili ikut turun dan berdiri di samping Alvin.
"Ada beberapa, aku belikan yang baru." Alvin beralih menatap Rili. Gairahnya kembali terpancing saat melihat lekuk tubuh indah itu. "Tapi kayaknya gak perlu pakai baju dulu."
Melihat seringai Alvin, dia tersadar jika dirinya sedang polos tanpa baju. Rili meraih bathrobe yang tergeletak untuk menutupi sesuatu yang terlambat dia tutupi.
"Kita buat pagi yang dingin jadi panas yuk." Alvin mendekatkan dirinya. Dia tahan tengkuk leher Rili saat bibir itu telah berhasil singgah di bibir Rili. Ciuman yang sangat lembut dan hangat hingga membuat Rili yang awalnya mendorong dada Alvin, kini ikut terbuai. Mereka saling berbalas pagutan demi pagutan.
Alvin semakin mendorong tubuh Rili hingga terjatuh ke atas ranjang. Dia kungkung kembali tubuh polos itu. Dia mulai menciptakan beragam sensasi di tubuh Rili. Mulai dari atas sampai bawah yang membuat Rili kini melenguh berulang saat jemari dan bibir Alvin singgah di area sensitifnya.
Alvin kembali melepas celananya saat dirasa Rili sudah siap kembali menerima kehadiran miliknya.
Dia berlutut di antara paha Rili. Dia pandangi wajah gadisnya yang sudah memerah dengan dada naik turun karena napas yang telah tersenggal.
"Hmm, Mas." Rili memekik saat milik Alvin berhasil menerobos dirinya lagi.
"Masih sakit?"
Rili mengangguk kecil. "Tapi gak sesakit semalam."
"Lama-lama nanti enak. Kamu bisa men de sah keras kayak semalam lagi." Alvin mulai menggerakkan dirinya. Rasa ini benar-benar akan menjadi candu untuknya. Pasti dia akan menginginkan Rili melakukannya setiap hari. Ya, candu like a drugs, tiada obat selain melakukannya.
Rili mengalungkan tangannya di leher Alvin. Menikmati setiap gesekan yang tercipta. Meski awalnya sakit tapi saat Alvin memasukinya semakin dalam dan menemukan titik tersensitif Rili, dia kembali men de sah berulang.
Suara Rili mampu mengirimkan tenaga untuk Alvin. Dia semakin mempercepat gerakannya. Hawa pagi yang dingin sudah berubah menjadi panas membara. Bahkan kedua kulit yang bersentuhan itu telah berkeringat.
Rili semakin meracau, dia cengkeram dengan kuat punggung Alvin. Rasa nikmat itu akan kembali dia gapai.
Tubuh yang menegang dengan suara nikmat yang semakin keras, pertanda Rili sudah mencapai puncaknya.
__ADS_1
Rema san kuat pada miliknya selalu membuat Alvin tidak sanggup menahan dirinya. Dia semakin mempercepat gerakannya dan semakin dalam. Suara era ngan semakin keras. Alvin menumpahkan semua hasratnya di titik terdalam, berharap kecebongnya akan cepat berenang dan menjadi pemenang.
Alvin melepas dirinya setelah mengecup dalam kening Rili. Dia hempaskan dirinya di samping istrinya.
"Kalau kamu mau tidur lagi gak papa sayang."
"Matahari udah keluar Mas. Gak bisa tidur lagi." Perlahan dia kini duduk dan beralih ke tepi ranjang. "Kok rasanya masih ganjal gini ya Mas." Rili perlahan berdiri dan melangkahkan kakinya. "Sakit juga buat jalan."
"Gak papa. Nanti pasti gak sakit lagi. Ya sudah kamu mandi dulu. Biar aku beres-beres." Alvin juga turun dari ranjang dan memakai celana pendeknya. Dia lipat selimutnya tapi kini dia tersenyum saat melihat bercak merah yang memulau dan sudah bercampur dengan cairan lain. "Bukti percintaan pertama kita."
Wajah Rili bersemu merah, dia yang kini sudah memakai bathrobenya justru meraih tangan Alvin saat Alvin akan menggulung sprei itu. "Kita mandi bareng aja yuk Mas, nanti kita beres-beres bareng."
"Sayang, gak papa kamu mandi aja. Biar aku yang beresin ini semua."
"Ih, Mas. Ayo." Rili menarik tangan Alvin hingga mereka berdua kini masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya udah," Alvin mengisi air hangat dalam bathup. "Kamu berendam pakai air hangat ya biar badan kamu rileks dan sakitnya hilang."
"Berendam bareng yuk." Rili membuka bathrobenya dan masuk ke dalam bathup yang telah berisi air hangat.
Alvin mencubit kecil hidung Rili saking gemasnya. "Emang kamu gak takut aku lakuin lagi."
"Ngapain takut kan udah jadi suami. Lagian aku yakin, Mas Alvin masih bisa nahan, gak akan ngelakuin itu terus-terusan dalam sehari."
Alvin tersenyum lalu menuruti keinginan istrinya. "Yaiyalah. Masih ada hari nanti, esok, dan seterusnya. Aku juga gak akan membuat kamu terlalu lelah atau sakit." Alvin melepas celananya lalu ikut masuk ke dalam bathup yang telah berbusa. Dia posisikan dirinya di belakang Rili. "Aku pijit ya punggungnya."
"Iya Mas, pengertian banget sih."
"Emang pernah aku gak ngertiin kamu." Alvin mulai memijat pelan punggung Rili.
"Hampir gak pernah sih. Tapi kadang suka jahil dan nyebelin."
Alvin terkekeh. "Gak papa yang penting kamu suka."
Mereka menikmati momen berendam bersama dengan obrolan ringan yang terkadang diselingi tawa mereka berdua.
__ADS_1