Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Di Villa


__ADS_3

"Kak Arsyad ini punya aku."


"Ayla ini punya aku." Ayla dan Arsyad saling berebut pensil warna yang mereka bawa saat berlibur ke villa milik Rasya.


Ayla dan Arsyad kini sudah berumur empat tahun. Kedua bocah itu sangat akrab dan sama-sama aktif dalam segala hal. Termasuk berbicara.


Beda dengan Airin. Putri kedua Alvin yang berumur tiga tahun ini lebih cenderung pendiam dan seolah punya dunianya sendiri.


"Ayla, Arsyad gak boleh berebut. Dipakai sama-sama," teriak Dira. Sedangkan orang tua dua A ini kemana?


"Iya Ma. Nih si Ayla."


"Kak Arsyad, kan Ayla yang bawa."


"Sudah, dipakai sama-sama. Tuh lihat adek Airin pintar, dia juga pendiam, nurut banget kalau dibilangin."


Ayla menatap takut pada Airin lalu dia mulai bercerita pada budenya itu. "Bude tahu gak?"


"Apa sayang?"


"Katanya Airin tuh punya teman tapi Ayla gak bisa lihat." Ayla sedikit berbisik pada Dira.


"Hah? Ya mungkin temannya sudah pulang sayang."


"Iya beneran. Airin suka bicara sendiri. Tadi saja waktu sampai di sini katanya ada mbak-mbak rambut panjang di depan." cerita Ayla sedikit horor.


Seketika Dira menjadi merinding. Hawa dingin pegunungan semakin terasa menusuk.


"Sudah jangan bahas soal itu, kamu lanjut mewarnai ya. Ayah bunda kemana?"


"Di kamar. Katanya capek."


Dira menghela napas panjang. Capek? Bukan capek tapi pasti sedang membuat keringat bersama.


"Kenapa sayang?" tanya Rasya sambil duduk di sebelah Dira.


"Kak, memang Airin indigo ya?" tanya Dira setengah berbisik.

__ADS_1


"Iya, dia nurun dari ayahnya. Dulu Alvin juga indigo. Ini lagi proses penutupan mata batin Airin lewat kakek buyutnya. Semoga berhasil, kasihan dari bayi sering nangis ketakutan."


Dira menelan salivanya berkali-kali. Jadi benar apa yang dilihat putri Alvin di depan villanya. Dira yang mudah parno tentang hal horor merasa ketakutan. "Katanya ada mbak-mbak rambut panjang di depan villa. Aku jadi takut."


"Kan emang dimana-mana ada makhluk tak kasat mata gitu. Selama mereka gak ganggu, ya biarin saja."


Dira menganggukkan kepalanya. "Alvin sama Rili masih di kamar?"


"Iya," Rasya mendekatkan bibirnya ke telinga Dira membisikkan sesuatu. "Nanti malam gantian kita. Biar Arsyad aku titipkan sama mereka."


Lalu satu cubitan mendarat di pinggang Rasya. "Ih, omes."


"Saatnya buat adiknya Arsyad dong. Lihat tuh Arsyad sudah besar." Tangan Rasya memeluk pinggang Dira.


Dira hanya tersenyum. "Para nenek dan kakek kok belum sampai?"


"Gak jadi hari ini. Mereka nyusul besok pagi sekalian piknik."


Sedangkan di dalam kamar, Alvin yang telah menciptakan keringat bersama Rili, sama-sama mengatur napasnya sambil melihat langit-langit kamar itu yang putih bersih.


"Udah Mas, nanti anak-anak nyari." Rili bangun dan memakai pakaiannya. Meski sebenarnya dia ingin bergelung dengan selimut karena dinginnya sore itu.


"Ih, kayak pengantin baru aja. Anak udah dua juga."


Alvin terkekeh lalu memakai pakaiannya. "Biarpun lama tapi rasa baru."


Rili menyisir rambutnya yang berantakan. "Mas, kira-kira mata batin Airin bisa ketutup gak ya? Kasian Mas kalau terus melihat hal nakutin kayak gitu. Aku aja dulu tersiksa banget."


"Kakek masih terus coba sayang, semoga bisa. Soalnya aku dulu waktu kecil juga gak bisa tertutup sempurna. Belum banyak dosa." Alvin tertawa kecil.


Setelah rapi mereka berdua keluar dari kamar. "Semoga saja cepat berhasil Mas."


Mereka berdua menuruni anak tangga yang langsung mendapat sambutan dari Ayla. "Bunda lama banget sih. Tidur ya?"


"Iya, Ayah sama Bunda ketiduran barusan," jawab Alvin sambil duduk di dekat Airin. "Airin gambar apa sayang?"


"Gambar teman-teman Airin."

__ADS_1


Alvin melihat hasil gambar Airin yang terbilang abstrak tapi sosok-sosok itu seperti yang pernah dia lihat di masa lalu.


"Sayang, jangan berteman sama mereka ya. Sebentar lagi kan Airin mau masuk PAUD. Nanti di sana banyak temannya."


"Iya Ayah?"


"Iya sayang..."


"Bunda, Ayla mau susu." Teriak Ayla yang sedang mewarnai bersama Arsyad.


"Arsyad juga."


"Iya, iya, bunda buatin ya." Rili berjalan menuju dapur.


"Saatnya kita buat keringat." bisik Rasya lalu menarik tangan Dira agar mengikutinya ke kamar.


"Mama sama Papa mau tidur?" tanya Arsyad. "Kan sudah sore tidak boleh tidur."


Kalimat polos Arsyad membuat Alvin tertawa. "Mama sama Papa mau mandi. Arsyad kan tadi udah mandi. Arsyad mewarnai sama Ayla saja ya. Om temani."


Dira hanya menggelengkan kepalanya saat tangan Rasya kian menariknya agar segera melangkah naik ke atas tangga.


"Ih, katanya nanti malam."


"Coba bentar sambil mandi."


Mereka berdua tertawa sambil masuk ke dalam kamar.


.


.


💞💞💞


Udah detik-detik terakhir mau tamat ya.. Thank u yang udah ngikutin sampai sini...


Akhirnya tokoh novel aku selanjutnya terlahir juga... 🤭

__ADS_1


Ada satu calon penghuni horor nih...


__ADS_2