Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Sampai 50 Tahun Lagi


__ADS_3

Area basah kuyup. 😵 Harap sedia payung.


...✨✨✨✨✨✨✨✨...


Alvin semakin tercekat saat melihat kepala Rili semakin ke bawah. Bulu kuduknya sudah merinding membayangkan jika bibir sexy itu singgah di sana.


Seolah bergerak melambat saat wajah Rili semakin dekat, dekat, dan... hanya terasa satu tiupan hangat yang menyapu.


Rili menegakkan dirinya lalu menjulurkan lidah mengejek Alvin.


Alvin tersenyum sambil mengacak rambutnya merasakan istri nakalnya yang sangat meresahkan. "Emang lilin ditiup. Diisep dong."


"Ih, enak aja."


Dengan cepat Alvin membalik posisi Rili. Dikungkungnya tubuh itu. Kini mereka saling menatap begitu dalam.


"Gak papa nanti juga pasti pengen isep-isep. Nakal banget sekarang. Udah bisa buat aku ser-seran."


Rili hanya tersenyum sambil mengalungkan tangannya.


"I love you..."


"I love you too..."


Sedetik kemudian mereka saling memagut lagi. Begitu liar dan dalam. Satu tangan Alvin meraih remote dan mematikan layar televisi tanpa melepas permainan lidahnya.


"Hmmppff, Mas." Rili hampir saja kehabisan oksigen. Dia hirup dalam udara agar memenuhi stok oksigen di paru-parunya saat Alvin melepas pagutannya.


"Sexy bibirnya." Alvin mengusap bibir merah Rili yang membengkak.


"Ih, bengkak kan?"


Alvin terkekeh melihat gemasnya wajah Rili. Dia mulai melepas semua kain yang melekat di tubuh Rili. Apa yang terpampang di depan matanya sungguh indah dan mampu membuat sesuatu yang telah menegang semakin berdenyut-denyut.


Setelah dirinya sama-sama polos, Alvin mulai memposisikan miliknya. "Mau lama atau bentar tapi nambah?"


Rili hanya tertawa. "Menurut Mas Alvin?"


Alvin sedikit mencubit hidung mancung itu. "I know, kamu sukanya yang lama agar bisa sampai puncak berkali-kali."


"Ih, kok tahu." Rili berpegangan pundak Alvin saat benda tumpul itu mulai menerobos dirinya dan bergerak pelan.

__ADS_1


"Sama. Karena aku suka lihat ekspresi kamu yang..." Alvin menirukan suara dan ekspresi Rili saat pelepasan.


"Ih," Rili mencubit punggung Alvin karena merasa malu. Benarkah di se erotis itu. Benar-benar respon gerak tubuh yang sangat alami.


Alvin mendekatkan dirinya. Menyapu daun telinga Rili dengan lidahnya. Satu tangannya bermain di dada Rili, mengusapnya, me re mas nya, lalu memilin puncak yang telah menegang itu. Jika seperti itu Rili hanya bisa mengeraskan suaranya saat merasakan setiap sentuhan dari Alvin. Sentuhan yang membuatnya terbang tinggi dan seolah lupa daratan untuk sesaat.


"Aku sayang kamu, Rili. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama." ucapnya pelan di dekat telinga Rili yang sangat erotis karena diiringi dengan suara lenguhan.


"Aku juga sayang kamu." Rili semakin memeluk tubuh Alvin. Hingga tubuh Alvin sepenuhnya menindih tubuh Rili. Meski berat, tapi tidak Rili rasakan karena rasa gesekan nikmat di bawah sana begitu mendominasi tubuh Rili.


Alvin semakin mempercepat gerakannya hingga suara tabrakan dari kulit itu terdengar cukup keras seperti orang yang sedang tepuk tangan meriah. Suara de sa han semakin bersahutan dengan keras. Keringat mulai membanjiri seluruh kulit mereka.


Rili menggigit dagu yang menempel dekat bibirnya saat dia mencapai puncaknya. Tubuhnya menggelinjang sesaat dan me re mas milik Alvin yang sedang berada di titik terdalamnya.


"Ough.." Alvin menegakkan dirinya. Dia usap dagunya yang terasa perih karena gigitan Rili. "Nakal." Alvin meraih kedua tangan Rili dan menguncinya di atas kepala. Dia semakin menggencarkan serangannya semakin dalam.


"Aww, Mas..." Rili semakin berdesis. Rasa di perut bagian bawahnya sudah tidak karuan lagi.


Alvin menatap kedua benda bulat yang ikut bergerak seiring hujamannya. Sangat indah dan mampu menambah stamina Alvin.


"Mas, aku udah gak tahan lagi."


"Gak papa. Keluarkan saja. Aku juga udah mau sampai, kita barengan."


"Sayang, come on...." Mereka mengerang bersama dengan keras. Alvin menuntaskan semua hasratnya di titik terdalam Rili.


Setelah itu, dia melepas penyatuannya dan menjatuhkan dirinya di sebelah Rili dengan berhimpitan. Tangannya kini memeluk tubuh Rili yang berkeringat itu. Mereka sama-sama mengatur napas. Lalu satu kecupan sayang mendarat di pipi Rili.


"Semoga cepat ada yang jadi pemenang," kata Alvin sambil mengusap lembut perut Rili.


Perasaan Rili seketika menghangat. Dia ikuti apa yang dilakukan suaminya.


"Tuh, bunda juga udah pengen."


"Bunda?"


"Iya, emang kamu mau dipanggil apa kalau nanti udah punya anak?"


"Hmmm, iya sih bunda biar beda ya. Soalnya aku udah punya mami sama mama."


Alvin semakin mengeratkan pelukannya. "Mau punya anak berapa?"

__ADS_1


"Masih belum tahu. Kita jalani aja dulu."


Alvin mengendus dalam aroma rambut Rili yang berantakan. "Kita ke kamar yuk sayang."


"Mager Mas."


"Aku gendong. Ayo biar gak sempit. Tapi pakai baju dulu biar nanti kamu gak kebangun kalau dingin." Alvin bangun lalu memungut baju mereka yang berserak. Setelah memakai piyamanya, dia membantu Rili berpakaian.


"Anak aku udah gede." canda Alvin saat Rili hanya pasrah menerima perlakuan suaminya. "Selesai. Sini aku gendong."


Rili merentangkan tangannya sudah seperti anak kecil yang mau digendong.


Alvin tersenyum lalu meraih tubuh Rili. Bukan gendongan ala bridal style, tapi gendongan ala M-shape. Rili melingkarkan tangannya di leher Alvin saat Alvin mulai menaiki tangga.


"Mas aku berat gak?"


"Nggak."


"Makasih ya Mas udah manjain aku."


"Sama-sama."


Setelah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kembali, Alvin merebahkan tubuh Rili di atas tempat tidur. "Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu." Alvin beranjak menuju kamar mandi.


Rili hanya tersenyum sambil meraih selimut untuk menutupi dirinya. Hidupnya terasa sangat bahagia telah memiliki Alvin. Memang seindah itu rasanya pengantin baru. Semoga kebahagiaan itu sampai nanti.


Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya di sebelah Rili. "Kenapa senyum-senyum?"


Rili menggeser tubuhnya dan memeluk Alvin. "Aku bahagia banget bisa hidup bersama Mas Alvin. Tapi apa nanti kalau kita sudah menikah bertahun-tahun Mas Alvin akan tetap manjain aku kayak gini."


"Ya tetep dong. Kita aja udah bersama selama 8 tahun. Sampai nanti 50 tahun lagi mungkin, selama aku bisa, aku akan tetap membahagiakan dan memanjakanmu." Alvin mengeratkan pelukannya lalu mengecup dalam puncak kepala Rili.


"Apa kita bisa bersama sampai setua itu?"


"Ya kita berdo'a saja. Semoga kita bisa menua bersama."


"Amin..." Rili menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvin. Tempat ternyaman saat dia terlelap...


💞💞💞


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2