
"Iya, Pak. Ada apa?" Dira masuk ke dalam ruangan Rasya karena beberapa menit yang lalu Rasya memanggilnya lewat telepon.
"Kamu ikut saya cek lokasi karena kebetulan Doni sedang mengawasi proyek Pak Rudi." Rasya berdiri dan memakai blazernya lalu mengambil ponsel dan kunci mobilnya. "Kamu bawa berkas-berkas yang saya minta tadi."
Setelah itu, Rasya berjalan mendahului Dira yang masih berdiri mematung sesaat. Tersadar Rasya telah jauh, dia segera ke ruangannya mengambil berkas dan tasnya lalu dengan langkah jenjang menyusul Rasya.
"Pak Rasya, mau kemana?" tanya Nana yang membuat langkah Rasya berhenti karena Nana menghadang langkahnya.
Dira yang sedang melangkahkan kakinya cepat sambil menunduk dan mengecek kembali berkas-berkas itu, tak sengaja membuatnya menabrak punggung Rasya.
"Ma-maaf Pak." Karena terkejut berkas-berkas yang dia pegang kini jatuh ke lantai. Seketika Dira berjongkok sedangkan Rasya kembali melanjutkan langkahnya tanpa berkata ataupun melihat Dira.
Meski sebenarnya dalam hati Rasya begitu ingin membantu Dira. Tapi Rasya tidak mau menambah luka hatinya lagi dengan mengharapkan sesuatu yang tidak bisa dia miliki.
"Mau kemana?" tanya Nana yang kini ikut berjongkok menata kertas yang berserak. Karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Rasya.
"Mau cek lokasi. Makasih ya..." Mereka berdua berdiri. Dira segera melangkahkan kakinya cepat menyusul Rasya.
Kali ini Nana tersenyum miring. Tidak sia-sia usahanya kemarin sore mengintai. Satu info penting dia dapat, kalau Dira ternyata sudah memiliki calon tunangan. "Aman sekarang!"
Rasya menunggu Dira di dekat mobilnya. "Kamu duduk depan saja," kata Rasya sambil membukakan pintu untuknya.
"I-iya Pak. Terima kasih." Dira masuk ke dalam mobil.
Setelah Rasya duduk di kursi pengemudi, beberapa saat kemudian mobil Rasya telah melaju. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sampai tempat lokasi, tidak ada yang mereka bicarakan selain masalah pekerjaan. Hingga selesai dan kembali masuk dalam mobil, keadaan masih belum berubah.
Tiba-tiba saja Rasya menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe, bukan cafe milik Alvin tapi sebuah cafe yang pernah menjadi kenangannya bersama Dara dulu, saat mereka masih memakai seragam putih abu-abu.
"Kita minum di cafe sebentar ya..." Rasya keluar dari mobil.
Meski sebenarnya Dira ragu tapi dia tetap keluar dan mengikuti langkah bosnya itu.
"Jangan jalan di belakang saya terus. Sini.." Rasya menghentikan langkahnya lalu mengimbangi langkah Dira.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Rasya setelah duduk di tempat yang sama seperti 8 tahun silam.
"Chocolate avocado."
Seketika Rasya menatap Dira. Satu kenangan manis saat dia masih bocah SMP dan berjalan bersama dengan seorang gadis manis yang sangat menyukai chocolate avocado terlintas di benaknya.
Rasya berdiri dan memesan minumannya. Setelah itu dia duduk kembali dan menatap Dira yang hanya berdiam diri.
__ADS_1
"Kamu suka chocolate avocado?"
"Iya Pak, dari kecil soalnya...." perkataan Dira menggantung di udara. Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Rasya.
"Kenapa?"
"Rasanya beda aja. Justru kalau dark chocolate saya gak suka. Rasanya pahit."
Perkataan Dira benar-benar mengingatkan kenangan masa kecilnya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Dira memandang Rasya sesaat lalu menggelengkan kepalanya.
"Karena saya merasa, sepertinya kita pernah bertemu."
"Belum pernah, Pak." Dira berusaha mengalihkan pandangannya dari tatap mata Rasya yang terus menyerangnya.
"Mungkin karena kamu saudara kembar Dara jadi saya merasa pernah bertemu kamu."
"Iya, bisa saja..."
...***...
Alvin menghentikan motornya di depan toko Rili lalu segera masuk ke dalam. Dia ingin bertemu dengan Rili untuk menghilangkan semua beban pikirannya sesaat.
"Gak terlalu sih." Rili menghentikan gerak tangannya lalu beralih menatap Alvin.
"Mami mana?"
"Belum ke sini. Nanti siang baru ke sini."
Alvin tersenyum lalu meraih tangan Rili dan menggenggamnya.
"Mas, maafin soal kemarin ya."
"It's oke. Gak papa." Alvin semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Apapun yang terjadi kamu jangan tinggalin aku ya."
Perkataan Alvin membuat perasaan Rili menjadi tidak enak. Apakah telah terjadi suatu masalah. "Ada apa sebenarnya? Ada masalah?"
Alvin menggelengkan kepalanya lalu dia menarik Rili dalam pelukannya. Sejujurnya sedari tadi dia sangat membutuhkan pelukan hangat itu. "Gak papa. Aku sayang sama kamu. Kita pasti akan bersama kan?"
"Iya, kita pasti akan bersama."
Alvin melepaskan pelukannya lalu mengambil ponselnya karena sedari tadi telah bergetar beberapa kali.
__ADS_1
"Mas, soal lamaran itu sebenarnya...."
"Sebentar ya." Alvin mengangkat panggilan dari Adit. "Iya, ada apa Dit?.... Suruh pulang!!! .... Usir aja suruh keluar...." Alvin berdengus kesal. "Sama Mama? Ya udah aku balik ke cafe sekarang...." Alvin mematikan panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ada masalah apa Mas?" tanya Rili yang bisa menangkap ekspresi kesal di wajah Alvin.
"Ada sedikit masalah di cafe. Maaf ya, aku cuma sebentar," Alvin masih menutupi masalahnya. Ingin dia cerita pada Rili tapi bukan sekarang.
"Iya tidak apa-apa."
"Nanti sore kalau aku gak sibuk ke sini lagi."
"Iya."
Alvin mendekatkan dirinya, mencium bibir Rili sesaat dengan lembut. Bibir yang telah membuatnya candu. Apakah akhirnya Alvin tidak bisa menciptakan candu-candu yang lain dalam hubungannya dan akan kandas ketika menuju akhir? Jelas itu tidak diinginkan oleh Alvin.
"Balik dulu ya..."
"Iya, hati-hati..."
Alvin melangkahkan kakinya keluar dari toko Rili. Dia segera mengendarai motornya kembali ke cafe.
Setibanya di cafe, rupanya gadis itu telah menunggunya. Alvin merasa sangat kesal, bisa-bisanya seorang wanita yang berwajah tante-tante dan terlihat sombong itu dijodohkan dengannya.
"Alvin," dia tersenyum ke arahnya.
Dengan terpaksa Alvin duduk di dekatnya. Meski dia sangat acuh.
"Aku tadi di antar Mama kamu ke sini. Tapi Mama kamu sekarang udah pulang. Ternyata kamu lebih ganteng ya daripada di foto," ucap gadis itu secara terang-terangan. "Kenalin aku Vina." Vina mengulurkan tangannya tapi tak dibalas oleh Alvin.
"Kamu sekarang pulang aja. Gak perlu menuruti keinginan Mama aku yang gak jelas."
Vina menarik lagi tangannya. "Jelas kok menurut aku. Aku setuju dengan perjodohan ini."
"Aku masih punya waktu tiga hari. Perjodohan ini gak akan terlaksana."
Vina begitu percaya diri, "Oke. Tapi pasti perjodohan ini akan terlaksana. Tante Gita sudah menceritakan semua permasalahan kamu. Dan aku yakin sih, dalam waktu tiga hati ini kamu gak akan berhasil."
Alvin menatap gadis itu dengan muak. Dia kini berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi tapi dicegah oleh Vina.
"Kamu ingat ya, perjodohan kita pasti akan terlaksana."
"Perjodohan?"
__ADS_1
Suara itu membuat kedua mata Alvin melebar. Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Vina.