Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Cepatlah Berlalu


__ADS_3

Waktu terasa semakin berlalu


Tinggalkan cerita tentang kita


Akan tiada lagi kini tawamu


'Tuk hapuskan semua sepi di hati?


Ada cerita tentang aku dan dia


Dan kita bersama saat dulu kala


Ada cerita tentang masa yang indah


Saat kita berduka, saat kita tertawa


Alunan musik baper memenuhi kafe malam hari itu, siapa lagi kalau bukan dari Aksa si playboy tobat yang sedang galau.


Alvin yang sedang bersiap untuk pulang mengurungkan niatnya saat dia melihat karyawan ahli musiknya itu sedang bernyanyi dengan penuh penghayatan.


"Dit, kenapa tuh si Aksa?" tanya Alvin pada Adit.


"Oo, ditinggal Nada."


"Ada masalah apalagi? Hidupnya rumit banget."


Adit justru tertawa. "Kayak hidup kita gak rumit aja ngatain hidup orang."


"Iya, benar sekali." Alvin tertawa sesaat.


"Aksa mau ngomong sama kamu. Jangan pulang dulu."


"Aduh padahal udah kangen sama istri. Ya udah, aku tunggu di kantor." Alvin kembali ke dalam kantor. Dia duduk di sofa sambil menelepon Rili.


"Sayang, sudah makan?"


"Sudah Mas. Katanya mau pulang cepat, ini udah malem kok belum pulang?"


"Iya, masih nunggu Aksa katanya ada perlu. Kalau kamu ngantuk tidur dulu gak papa."


"Gak bisa tidur kalau gak ada yang meluk."


"Manja banget. Ya udah 30 menit lagi pulang."


"Iya Mas. I love you.."


Alvin tersenyum sesaat mendengar ucapan cinta dari istrinya. "I love you too." Alvin mematikan panggilannya tepat saat Aksa masuk ke dalam kantornya.


"Ada apa Aksa? Duduk sini gak papa."

__ADS_1


Aksa duduk di sebelah Alvin. Bagi Alvin tidak ada batasan antara bos dan karyawan. Mereka semua sudah seperti keluarga.


"Aku dengar kamu lagi ada masalah sama Nada. Kenapa?"


"Ceritanya panjang bos. Yang jelas, demi mewujudkan impian aku, Nada memutuskan untuk menjauh dari hidup aku."


Alvin menepuk pundak Aksa. "Jalan masih panjang. Kamu raih impian kamu dulu, nanti saat impian kamu telah terwujud, kamu juga pasti akan mendapatkan cinta kamu. Kamu harus yakin pada diri kamu bahwa jodoh gak akan kemana."


"Iya bos."


"Aku dulu juga selama 4 tahun ninggalin Rili ke Amerika. Intensitas komunikasi aku sangat jarang, karena aku di sana sibuk buat konten youtube juga untuk modal kafe aku sekarang ini. Ya, aku cuma bisa pasrah. Kalau memang Rili jodoh aku pasti akan setia dan gak akan ninggalin aku. Meskipun kita sering berantem hanya karena gak pernah komunikasi tapi setelah aku menyelesaikan pendidikan dan kembali ke kota ini, Rili masih setia menunggu aku. Dan sejak saat itu satu per satu impian aku terwujud."


Mendengar cerita bosnya itu, Aksa menganggukkan kepalanya. Dia tahu, untuk kali ini dia harus menepikan cinta di urutan terakhir.


"Soal Ayah kamu gimana? Sudah mendukung kamu?" tanya Alvin yang memang sudah mengetahui permasalahan Aksa dari awal. Tentang Ayah Aksa yang tidak mendukung keinginan Aksa untuk menjadi seorang pianis.


"Alhamdulillah sudah bos."


"Syukurlah. Jadi kamu sekarang tinggal berjuang. Semoga kamu sukses."


"Hmm, minggu depan aku mau berangkat ke Jakarta mengikuti kompetisi."


"Ya, bagus."


"Jadi aku putuskan untuk mengundurkan diri karena masih banyak kompetisi lain juga yang aku ikuti." Meski dengan berat hati Aksa mengambil keputusan itu.


Alvin menghela napas panjang. Aksa salah satu daya tarik tersendiri di kafenya. Selain wajahnya yang tampan tapi juga suara dan permainan pianonya yang merdu.


Aksa tertawa kecil. "Iya, amin bos."


"Tapi, tolong kamu carikan pengganti kamu ya. Ya, minimal yang bisa nyanyi sama main musik, meskipun wajah gak ganteng kayak kamu."


Aksa justru tertawa. "Akhirnya bos mengakui ketampananku."


Satu jitakan mendarat di kepala Aksa. "Narsis banget!"


Seketika Aksa menahan tawanya. "Ada bos teman adik aku tapi masih SMA kelas dua."


"Sudah 17 tahun belum?"


"Sudah bos. Dia lagi butuh kerja part time soalnya dia anak yatim piatu."


"Dia bisa main musik?"


"Pas aku tanyain bisa dan face juga lumayan."


"Ya udah besok suruh ke sini. Aku tes dulu."


"Baik bos."

__ADS_1


"Nanti aku transfer uang buat kamu. Buat tambahan kebutuhan kamu mengikuti kompetisi."


"Bos, gak perlu. Bos sudah banyak bantu selama ini."


"Udah gak papa." Alvin berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja. "Aku mau balik dulu. Udah ditungguin di rumah."


"Makasih banyak bos. Oiya, bagaimana keadaan Mbak Rili. Maaf bos, aku gak ikut jenguk."


"Iya, tidak apa-apa. Sekarang sudah membaik." Mereka berdua keluar dari kantor. "Kamu pulang terakhir sama Adit ya. Bantu Adit."


"Iya bos."


Alvin segera berjalan keluar dari kafe dan menuju mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Alvin melajukan mobilnya menuju rumah.


Tak butuh waktu lama, Alvin menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Setelah itu, dia segera masuk ke dalam rumah. Pagar dan pintu langsung ditutup kembali oleh Lela.


Dia melihat di ruang tengah sudah tidak ada istrinya.


Pasti di kamar.


Alvin menuju kamar bawah tapi dia tidak menemukan Rili juga.


"Mbak Lela, Rili dimana?"


"Tadi saya lihat ke atas."


"Ke atas?" Alvin bergegas naik ke lantai atas. "Apa udah gak sakit dibuat naik tangga," gumam Alvin.


Dia membuka pintu kamar dan melihat Rili sedang melamun di pagar rooftop. Pandangannya kosong lurus ke depan.


"Sayang?" Alvin memeluk tubuh Rili dari belakang. "Ngapain di sini?" tanya Alvin. Meskipun dia tahu, pasti Rili sedang bersedih.


"Lagi cari angin Mas."


"Emang udah gak sakit kamu buat naik tangga."


Rili menggelengkan kepalanya. "Nggak Mas. Aku udah gak papa."


"Udah dong, jangan sedih terus."


"Aku udah berusaha buat gak sedih Mas. Tapi kadang masih ingat aja."


Alvin semakin mengeratkan pelukannya. Dia tempelkan dagunya di bahu Rili. "Iya, aku ngerti. Kita harus ikhlas. Nanti kita berusaha lagi."


Rili menganggukkan kepalanya. "Usaha sama-sama."


"Iya, tapi nanti nunggu kamu benar-benar pulih dulu. Baik fisik maupun psikis kamu."


Alvin memutar tubuh Rili hingga mereka saling berhadapan. "Aku sayang kamu."

__ADS_1


"Aku juga sayang kamu..."


Sedetik kemudian wajah mereka saling mendekat. Mulai memagut cinta dengan lembut. Angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka tidak mampu mengalahkan kehangatan yang mereka ciptakan.


__ADS_2