Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Sakit Hati Lagi


__ADS_3

"Jadi data entry penanganan proyek baru di simpan di drive G...." Rasya dengan telaten menjelaskan semua letak data entry dalam komputer kerja sekretaris. Dia sedikit membungkuk sambil memegang mouse. Sedangkan Dira, dia duduk sambil menatap pada layar komputer.


"Kalau ada yang tidak mengerti, kamu langsung tanya saja ya. Jangan sungkan-sungkan. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal bertemu client."


"I-iya Pak." Dira mendongakkan kepalanya, pandangan matanya kini bersirobok dengan Rasya. Pipi yang sedari tadi telah memerah semakin bersemu merah. Benar-benar posisi yang membuat orang lain salah paham ketika melihat kedekatan mereka.


"Ehem!!" satu deheman akhirnya membuyarkan pandangan itu.


Rasya menegakkan badannya dan melihat Nana yang berdiri di ambang pintu sambil membawa sebendel kertas laporan.


"Pak Rasya ini laporan slip gaji karyawan."


Rasya berjalan mendekati Nana. Lalu dia mengambil laporan yang berada di tangan Nana. "Iya, terima kasih," kata Rasya sambil berjalan menuju ruangannya.


Nana kini berjalan mendekati Dira. Dia pandangi Dira mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, benar-benar sama persis dengan Dira.


Dia kini menarik kursi plastik lalu duduk di dekat Dira.


Dira hanya tersenyum menyapa Nana.


"Jadi, kamu beneran kembarannya Dara?" tanya Nana memastikan lagi.


"Iya Mbak."


"Gak usah panggil Mbak, kita seumuran. Nama aku Nana, dulu aku sempat satu sekolah sama Dara."


Dira mengangguk paham. "O, iya."


"Tapi meskipun wajah kamu sama dengan Dara, kami gak boleh dekati Pak Rasya. Dia itu my crush. Inget itu!!"


Dira hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Doni yang baru saja keluar dari ruangan Rasya.


"Gak papa. Cuma mau kenalan aja." Nana berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan sekretaris.


"Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan urusan kantor," sarkas Doni secara langsung.


Nana hanya mencibir sambil melewati Doni.


"Kamu jangan terpancing sama omongan Nana. Dia memang kayak gitu."


"Iya Kak. Tidak apa-apa."


...***...


Rasya terus membolak-balik lembar demi lembar berkas-berkas yang ada di hadapannya. Pikirannya sedang tidak fokus dengan pekerjaan. Entahlah, mengapa hanya dekat dengan Dira dadanya terus berdebar-debar. Senyuman dan tatapan matanya benar-benar mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan Dara.


Di jam makan siang, dia keluar dari ruangannya berniat untuk melihat Dira. Bukan melihat tapi berniat untuk mengajak Dira makan siang bersama.

__ADS_1


"Dira kamu sudah makan siang?" tanyanya basa-basi.


"Iya, ini mau makan Pak." terlihat Dira sedang mengeluarkan kotak bekalnya.


"Tidak gabung sama yang lain?" tanya Rasya lagi.


"Tidak Pak, di sini saja."


Rasya kembali ke ruangannya lalu beberapa saat kemudian dia masuk ke ruangan Dira sambil membawa kotak bekalnya.


Ya, meskipun sudah menjadi seorang pimpinan perusahaan tapi bekal dari Mami tetap nomor satu. "Boleh aku ikut makan di sini?"


"Iya Pak, silahkan." Meski sebenarnya Dira cukup sungkan dengan kehadiran Rasya yang tiba-tiba ikut makan di sampingnya, tapi dia tidak bisa untuk menolaknya. Yang pertama karena dia bos, yang kedua karena ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Gak nyangka Pak Rasya yang seorang bos besar tapi membawa bekal makan dari rumah. Saya kira biasa makan siang di restoran."


Rasya tersenyum kecil. Inilah Dira, selalu bisa mencairkan suasana. Sepertinya dia memang sangat berbeda dengan Dara yang introvert.


"Iya, gak papa kan? Lebih sehat makanan dari rumah. Dari dulu mami memang selalu menyiapkan bekal makan siang buat aku."


"Ya gak papa. Sama sih. Saya juga lebih suka bawa bekal ketimbang makan diluar. Lebih boros. Biasa ya Pak, teori ibu-ibu untuk berhemat."


Rasya tersenyum. Baru dua hari bertemu dengan Dira, hidupnya seolah memiliki semangat baru.


Mereka masih asyik mengobrol sampai jam istirahat selesai.


Dira menggelengkan kepalanya. "Tadi saya diantar Papa. Sejak Dara kecelakaan, Mama gak ngebolehin saya bawa motor sendiri."


"Ya udah kalau gitu nanti..." belum selesai Rasya meneruskan kalimatnya ada panggilan darurat dari Doni.


"Pak Rasya, ada masalah di proyek Pak Agus."


"Kenapa?" Rasya seketika berdiri. "Aku tinggal dulu ya." setelah itu Rasya mengikuti langkah jenjang Doni menuju ruangannya.


Dira hanya tersenyum kecil. Dia mengemas kotak bekal Rasya yang telah kosong.


Andai saja Kak Rasya tahu...


...***...


Rasya tersenyum kecil melihat Dira yang sedang berdiri di dekat tempat parkir. Sore itu, kala matahari mulai memancarkan sinar jingganya.


Rasya melangkahkan kakinya mendekat. Tapi baru dua langkah dia urungkan niatnya. Dia berhenti dan kembali meragu.


Ajak bareng? Nggak? Ajak bareng? Nggak?


Hanya ingin mengantarnya pulang saja Rasya sudah gerogi. Bahkan dia seolah sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


Ayo Rasya, kalau bukan sekarang kapan lagi?

__ADS_1


Rasya akhirnya memantapkan langkah kakinya mendekat. "Ra," panggilnya yang membuat Dira kini menatapnya.


"Iya, Pak?"


"Kamu pulang sama siapa?"


"Ini, saya lagi nunggu..."


"Dira..." Seorang pria bertubuh tegap dengan memakai kemeja dan blazer itu melambai ke arah Dira sambil berjalan mendekat. "Maaf macet, udah nunggu lama?"


Rasya hanya bisa menatap kedatangan pria itu yang seolah bergerak melambat. Tatapan dan senyumannya pada Dira jelas berbeda. Tapi bukan hanya itu yang membuatnya terkejut.


Ketika pria itu menatap Rasya, seulas senyum semakin mengembang. "Rasya, apa kabar?" mereka berpelukan sesaat, seperti seorang yang telah lama tidak bertemu.


"Fandi. Aku baik. Kamu sendiri apa kabar? Kapan kamu ke sini?"


"Baik juga. Baru sebulan ini. Ini perusahaan kamu?" Fandi mengedarkan pandangannya melihat sekeliling perkantoran Rasya.


"Iya."


"Wah, hebat. Dari dulu memang kamu selalu hebat."


Rasya tertawa sumbang. Hebat? Tapi dalam hal percintaan dia sangat lemah.


"Oiya, jadi kamu kerja di kantor Rasya? Kamu kok gak bilang?" Fandi kini menatap Dira yang hanya berdiri mematung.


"Kan, Kak Fandi gak tanya. Aku juga gak tahu kalau ternyata kalian saling kenal."


Fandi tersenyum manis lalu mengusap puncak kepala Dira. Hal yang romantis tapi sangat tragis di hati Rasya.


"Dulu waktu aku kuliah di Amerika, Rasya salah satu sahabat aku." Sedikit cerita Fandi pada Dira. "Alvin apa kabar? Lama aku gak lihat video terbarunya di youtube."


"Dia sibuk ngurus cafenya sekarang. Gak nyangka kalian juga saling kenal, ternyata bumi itu sempit ya." Tawa Rasya. Tawa palsu untuk menutupi segala kegalauan hatinya.


"Iya, Dira calon tunangan aku." Fandi merengkuh bahu Dira meski Dira masih saja mematung dengan kaku. Bahkan sudah tidak ada lagi sahutan suaranya.


Dira calon tunangan aku.


Meskipun kalimat itu sudah melewati gendang telingannya, tapi masih seolah terdengar berulang-ulang kali yang semakin menancapkan duri tajam di hatinya.


"Ya udah, kapan-kapan kita ngobrol ya. Kita makan-makan di cafenya Alvin sekalian temu kangen."


"Oke, next time." Rasya masih saja tersenyum hambar. Walau perasaannya telah terbiasa terluka, tapi kali ini dia menatap dua punggung yang kian menjauh itu tanpa kerelaan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2