
Area basah kuyup... 🙄
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Mau nembak?" Rili tersenyum miring lalu membuka tali bathrobe nya dan terlihatlah tubuh indahnya yang terbalut lingerie sexy berwarna merah menyala itu.
Tubuh Alvin kian menegang. "Wow, sexy." Alvin menarik tubuh Rili agar mendekat. Dia menyambar kembali bibir itu semakin liar dan dalam. Tangannya sudah tidak bisa diam lagi, dia telusuri punggung Rili. Bahkan sesekali tangan itu mere mas pan tat Rili yang masih padat itu.
Rili melepas ciuman itu saat merasakan sesuatu yang telah mengeras berkali-kali berdenyut di bawahnya.
"Berani sekali malam ini." Tangan Alvin kini semakin bergeser dan naik pada kedua benda yang sudah terekspos bentuknya. Dia memijatnya pelan. "Yang selama ini hanya terasa bentuknya saja saat kamu peluk." Alvin menyingkap kain tipis itu hingga dia bisa menyentuhnya secara langsung. Me re masnya dengan lembut lalu memilin puncak yang telah menegang itu hingga membuat suara nikmat lolos dari bibir Rili.
"Mas.." Rili semakin membusungkan dadanya saat Alvin semakin gencar memainkan kedua puncak itu. Gerakan pinggang Rili yang berada di atasnya sudah membuat badan Alvin seolah tersengat listrik.
Dia kini duduk sambil menahan punggung Rili. Dia telusuri leher yang manis dan putih itu. Menyesapnya dan menjejaki. Pertama kalinya dia membuat tanda merah miliknya di leher putih itu. Menyusurinya lagi yang semakin lama semakin ke bawah. Dia buka tali yang mengikat lingerie tipis itu. Dia singkirkan, hingga dia dengan leluasa mengeksplore dada Rili. Menyapunya dengan lidah dari kanan ke kiri lalu berhenti di atas puncaknya.
Tubuh Rili menggelinjang saat merasakan permainan kecil dari lidah Alvin yang sesekali menghisapnya.
Alvin melepas bibirnya lalu dia menatap wajah Rili yang sudah bersemu merah. Dia tersenyum. "Sudah siap? Merasakan yang keras dibawah sana."
Rili mengatur napasnya sesaat. "Ih, dari tadi udah nyundul-nyundul tuh."
Alvin semakin terkekeh. Dia kini mengubah posisi hingga Rili berada di bawahnya.
Mereka saling bertatapan penuh cinta dan gairah.
"Hmm, Mas gitu sakit gak sih?"
"Sakit katanya tapi enak. Tenang aja bentuknya sama kok seperti yang kamu lihat beberapa bulan yang lalu."
__ADS_1
"Ih, segitu." Rili teringat lagi kejadian terkhilafnya saat itu di kantor kafe kala hujan turun dengan derasnya. Hampir saja dia kebablasan ke step selanjutnya. Ciuman yang memanas, tangan yang telah singgah dimana-mana bahkan baju juga telah tersingkap tak karuan. Apalagi saat itu Alvin tiba-tiba berani menunjukkan miliknya yang sangat menegang. Tapi untunglah Adit tiba-tiba mengetuk pintu dan membuyarkan semua adegan yang akan terjadi di kantor kafe.
Alvin kembali tergelak. Dia sendiri juga teringat kejadian itu. "Untung Adit membuyarkan adegan itu, kalau gak bahaya banget. Mungkin kita udah buat proyek bareng waktu itu."
Rili melingkarkan tangannya di leher Alvin. "Mas Alvin nih nakal banget kalau pacaran."
"Barusan yang nakal duluan siapa?"
"Gak papa kan udah sah."
Alvin mencium singkat bibir Rili. "Mumpung udah sah sekarang kita puasin aja."
Alvin menegakkan dirinya. Melepas tali g-string merah itu. Lagi, lagi dia tersenyum menatap suatu hal yang sudah dia bayangkan sedari dulu. "Lebih dari apa yang aku bayangkan." Dia arahkan telunjuknya mengusap pelan belahan yang telah basah itu.
"Jadi selama ini tubuh aku jadi ajang fantasi Mas Alvin?"
"Iya, kalau bukan kamu siapa lagi? Masak iya, aku bayangin cewek lain. Tenang, mulai sekarang gak akan solo karir lagi, karena kita bisa duet setiap saat."
"Sayang, sekarang ya. Aku udah gak tahan. Dengerin de sa han kamu rasanya pengen aku sahutin aja." Alvin melepas celananya hingga terlihatlah sesuatu yang telah sangat menegang hingga guratan otot-otot itu terlihat dan mengkilap.
Rili hanya melihatnya sesaat karena Alvin kembali memberi sentuhan-sentuhan nikmat yang membuatnya hanya mampu melenguh.
Alvin segera memposisikan dirinya. Dia arahkan miliknya dengan tergesa dan satu kali hentakan langsung berhasil mengoyak selaput yang tipis itu.
"Mas Alvin sakit, pelan-pelan, ih.." Rili menjerit karena rasa sakit yang seperti tersayat bahkan setetes air mata membasahi ujung matanya.
"Maaf sayang." Alvin tidak melakukan pergerakan terlebih dahulu. Dia biarkan miliknya beradaptasi walau sesekali masih saja berdenyut-denyut ingin segera dituntaskan.
Alvin kembali mencium bibir itu dengan tangan yang mulai bermain lagi di dada Rili dan menciptakan sensasi hingga membuatnya rileks agar rasa sakit itu sedikit berkurang.
__ADS_1
Dirasanya Rili sudah menikmati permainannya, Alvin mulai menggerakkan dirinya naik turun berirama. Dia nikmati setiap gesekan yang tercipta. Terasa begitu sempit dan menggigit. Pertama kalinya dalam hidupnya merasakan hal nikmat ini bersama orang yang sangat dia cintai.
"Nikmat sekali sayang..."
Rili hanya menggigit bibir bawahnya. Kenikmatan itu belum sepenuhnya dia rasakan. Masih terasa panas dan perih saat benda tumpul itu bergerak keluar masuk di bawah sana. Tapi saat melihat wajah tampan Alvin yang dipenuhi gairah, begitu sangat menggoda. Rambut yang teracak itu dengan bibir yang sesekali berdesis nikmat membuat Rili mulai mengikuti pergerakan Alvin.
Alvin mendekatkan dirinya dan kembali mengendus ceruk leher Rili. Dia sapu dengan lidah itu dan bergerak semakin ke kanan lalu berhenti di daun telinga Rili, bermain lihai di sana yang sukses memperkeras suara Rili.
"Mas, geli."
Alvin tak menghentikan gerakannya, dia semakin mengeksplore dengan lidahnya yang membuat Rili semakin meracau. Bahkan gerakan Alvin yang semakin cepat sudah bisa diterima Rili dengan terbuka.
Keringat sudah membasahi kulit yang saling bersentuhan itu. Era ngan dan suara kulit yang bertabrakan itu menghiasi kamar mereka. Semakin lama semakin keras. Tanpa ragu mereka ekspresikan semua yang dirasakan. Tanpa takut ada yang mendengar dan menganggunya.
"Mas, aku..." Rili mencengkeram punggung Alvin saat perutnya terasa penuh dengan gelenyar yang siap meledak.
Alvin kini menatap Rili, dia tahu istrinya pasti sebentar lagi akan mencapai puncak. Wajah yang semakin memerah dengan napas yang semakin berat. Sungguh ekspresi yang sangat dia suka.
Alvin semakin mempercepat gerakannya dan semakin menghujam di titik terdalam.
"Mas aku udah gak tahan..." Rili semakin meracau tak karuan.
"Iya sayang kamu keluarin aja. Kamu ekspresikan semua rasa. Jangan ada yang ditahan."
Tubuh Rili menggelinjang sesaat dengan re mas an yang kuat di bawah sana disertai rasa hangat yang mengalir.
"Ough, Rili punyaku kamu re mat kayak gini jadi gak tahan juga." Alvin semakin mempercepat gerakannya sampai hasrat itu tuntas dengan era ngan yang keras.
Alvin kini melemaskan dirinya di atas tubuh Rili. Dia atur napasnya yang tersenggal. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa.
__ADS_1
"Makasih sayang... I love you..."