
Saat hari menjelang siang, Alvin baru saja masuk ke dalam rumahnya. Kemeja dengan dua kancing atas yang terbuka, jaket yang ditenteng tanpa dipakai, bahkan rambut yang acak-acakan dengan wajah lusuh dan mata merahnya, sangat terlihat jika semalaman dia tidak tidur.
Baru saja dia melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, Bu Gita sudah menyambutnya, bukan dengan mesra. "Darimana kamu semalam gak pulang?"
"Dari rumah aku," jawab Alvin singkat sambil berjalan gontai menuju kamarnya.
"Kenapa? Menyesal dengan keputusan kamu telah menunggu Rili selama ini?"
Alvin tidak menjawab. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, kalimat itu jelas semakin menambah luka batin Alvin. Alvin hanya menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Ma, udah. Liat tuh anak kita sampai berantakan kayak gitu. Belum puas ngerjain anak sendiri?"
Bu Gita malah tertawa sambil masuk ke dalam dapur.
"Keluarga Pak Rizal mau ke sini Ma sore ini. Ingin menyelesaikan kesalahpahaman." Pak Iwan mengekori istrinya masuk ke dalam dapur.
"Tuh kan, bagus dong Pa. Perkembangan langsung pesat. Mama ngelakuin ini buat bantu Alvin, Pa." Bu Gita mulai memikirkan menu apa yang akan disajikan untuk keluarga Rili.
"Tapi ada kabar buruknya." Pak Iwan masih berdiri tak jauh dari istrinya.
"Apa?"
"Alvin semalam ngasih obat tidur sama Rili dan mau berbuat nekat."
Bu Gita jelas terkejut. "Apa?! Aduh, gaswat!! Terus-terus mereka marah?"
"Yang tahu cuma kakaknya Rili sama Pak Rizal saja. Jadi nanti Mama gak usah bahas soal ini. Soalnya Rili juga gak tahu, nanti malah bertambah lagi masalah baru."
Bu Gita kini bernapas lega. "Syukurlah, kalau gak, Mama bisa menyesal ngelakuin ini sama Alvin."
"Setelah ini jangan ada drama-drama lagi."
"Iya, Pa. Mama itu cuma mau Alvin bahagia."
Pak Iwan merengkuh pinggang istrinya. "Papa sebenarnya gak tega lihat Alvin berantakan kayak barusan. Alvin itu hebat, bisa ngalahin kesuksesan Papa loh."
Bu Gita justru bersandar di bahu suaminya, dia mengiyakan membenarkan ucapan suaminya itu. "Iya, semangatnya tinggi. Meskipun sejak kenal Rili dia agak bandel kalau pacaran, tapi dia benar-benar punya tekad yang besar. Dia jadikan keyakinannya pada Rili untuk meraih semua impiannya."
Bu Gita kembali menegakkan kepalanya. "Jangan lupa juga, kita masih punya Dea yang sekarang lagi KKN. Minggu depan dia udah pulang. Pasti rumah kita bakal ramai lagi."
__ADS_1
"Iya, si tukang ganggu kakaknya datang." Pak Iwan tertawa kecil, karena memang sampai dewasa kakak beradik ini masih saja suka bertengkar meributkan hal-hal yang sepele sekalipun.
...***...
Rasya menghentikan mobilnya di depan kafe milik Alvin. Saat itu, dia memang sengaja pulang lebih awal untuk menyelesaikan masalah adiknya.
Dia turun dan bergegas masuk ke dalam kafe.
"Dit, Alvin ada di sini?"
"Nggak ada. Dari tadi pagi gak ke sini sama sekali. Cuma ngasih tugas aja tadi pagi dan sampai sekarang hp nya gak aktif."
Rasya menghela napas panjang.
"Gue gak nyangka masalah Alvin sama Rili sampai serumit ini," kata Adit yang ikut menyesal dengan keadaan yang menimpa sahabatnya itu.
"Iya, ini gue mau menyelesaikan masalah ini, biar clear. Ya udah, gue balik dulu. Semoga dia ada di rumahnya." Rasya menepuk pundak Adit lalu membalikkan badannya.
"Lo gak ngopi dulu?"
"Besok aja," jawab Rasya sambil berlalu.
Tak butuh waktu lama dia telah sampai di rumahnya. Dia bergegas masuk ke dalam. Hal pertama yang dilakukannya adalah berbicara dulu dengan adiknya.
"Rili kita ke rumah Alvin sekarang ya?" kata Rasya di ambang pintu kamar Rili yang terbuka.
"Sekarang kak?" tanya Rili yang sedang duduk di dekat meja belajarnya sambil bermain laptop.
"Iya sekarang." Rasya berjalan masuk ke dalam kamar Rili. "Kamu kenapa gak bilang kalau Alvin mau dijodohkan?"
"Kak Rasya udah tahu?"
"Rili, kalau kamu punya masalah itu cerita sama aku." Rasya membungkukkan badannya karena sedari tadi Rili hanya menundukkan pandangannya. "Aku mau kamu bahagia."
"Tapi Mas Alvin hpnya gak aktif sedari tadi."
"Ya udah, kita ke rumah Alvin sekarang. Kita selesaikan masalah ini ya. Kamu bilang, kalau kamu memang mau menerima lamaran Alvin." Rasya mengacak rambut Rili sesaat. "Kamu siap-siap, aku juga mau mandi dulu. Papi dan Mami juga udah siap-siap."
Dada Rili kini berdebar-debar. Benarkah semua akan berjalan sesuai rencana? Jujur saja, dia takut jika nanti di rumah Alvin orang tuanya justru akan marah dengannya.
__ADS_1
...***...
Akhirnya Rizal sekeluarga sampai di depan rumah Alvin. Pintu rumah Alvin sudah terbuka lebar. Pak Iwan dan Bu Gita menyambut kedatangan tamu itu dengan hangat.
"Pak Rizal, Bu Lisa. Sini masuk." Pak Iwan mempersilahkan masuk pada mereka. "Rasya dan Rili, sini masuk dulu."
Bu Gita langsung merengkuh calon menantunya. "Alvin masih di kamar. Kayaknya tidur, tante panggil dari tadi gak nyahut. Kamu masuk aja ke kamar, bangunin ya."
"Ehmm,," Rili bingung dengan tingkah Bu Gita yang katanya akan menjodohkan anaknya tapi justru menyambutnya dengan hangat bahkan disuruh masuk ke dalam kamar Alvin yang selama ini tidak pernah Rili lakukan. "Tidak apa-apa tante biar Mas Alvin tidur, kita ada perlu sama tante."
"Wah, yah harus ada Alvin. Kamarnya kayaknya gak dikunci. Dia itu lagi marah sama Mamanya." Bu Gita tertawa kecil.
Rili justru melirik Papinya. Bukannya tidak mau tapi dia takut pada Papinya.
"Udah langsung gercep, masuk aja," kata Papi Rizal. "Kali ini Papi izinin. Kalau kamu menolak sekali lagi, Papi gak akan kasih izin."
Rili tersenyum lalu mengikuti langkah Bu Gita menuju kamar Alvin yang berada di dekat ruang tengah. Bu Gita membuka pintu kamar Alvin secara perlahan.
"Tuh kan, gak dikunci. Masuk aja gak papa. Bangunin dia."
Bu Gita memang sengaja ingin memberi kejutan pada putranya dengan menyuruh Rili masuk dan membangunkannya.
Rili perlahan masuk ke dalam kamar Alvin. Pintu kamar langsung ditutup kembali oleh Bu Gita.
Dada Rili seketika berdebar-debar. Selama 8 tahun mereka pacaran, mereka tidak pernah sama sekali masuk ke dalam kamar berdua.
Tapi kini dia sedikit tersenyum kecil melihat Alvin yang sedang tertidur dengan tengkurap. Dia berjongkok di sisi ranjang Alvin agar bisa melihat wajah terlelap Alvin. Dia telusuri raut wajah rupawan itu dengan ujung jarinya.
Alvin mengibas sesaat dengan tangannya sambil bergumam pelan.
Rili semakin tersenyum kecil lalu kembali menelusuri gurat wajah itu.
"Masih ngantuk. Apaan?" Alvin memegang jari Rili yang ada di wajahnya. "Tangan siapa sih ini?" Alvin kini membuka matanya. Ada seorang bidadari yang tersenyum di depannya. "Apa aku sekarang ada di surga??"
.
.
...💞💞💞...
__ADS_1
Alvin kena prank ternyata.. 🤣🤣🤣