Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Alvin Versi Cewek


__ADS_3

Alvin mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat. Dia mengedarkan pandangannya, ada Rili yang berada di brangkarnya, berjarak satu meter di sebelahnya. Lalu kedua orang tuanya dan kedua orang tua Rili. Tentu saja si cantik Ayla sedang di gendong Mamanya.


"Sayang kamu gak papa kan?"


Mendengar suara Alvin, seketika Rili menoleh. "Mas Alvin udah sadar? Mas Alvin gak papa kan?" Rili sangat khawatir melihat kondisi Alvin. Dia sangat pucat dan lemas.


"Aku gak papa. Aku kenapa diinfus juga?" Alvin melihat pergelangan tangannya dimana ada jarum infus yang menancap.


Bu Gita yang sedang menggendong Ayla mendekat. "Kamu dehidrasi parah dan darah rendah. Kamu seharian gak makan, gak minum juga?"


Alvin menggelengkan kepalanya. "Seharian perut aku mulas banget. Gini ya, lelaki itu lemah sampai pingsan, padahal cuma ngerasain sakitnya mau lahiran aja, gak ngeluarin apa-apa."


Rili tersenyum menatap Alvin. "Makasih ya Mas."


"Sama-sama. Sini aku mau lihat si cantik Ayla."


"Kamu makan dulu."


"Iya Ma, aku mau lihat dulu. Tadi cuma bentar banget lihatnya."


Bu Gita akhirnya meletakkan Ayla yang sedang tidur itu di samping ayahnya.


Alvin memiringkan dirinya dan menatap wajah menggemaskan itu. "Anak Ayah banget." Dia mengusap lembut pipi merah itu.


"Iya, mirip banget sama kamu. Ini sih kamu versi ceweknya." Bu Gita ingat betul saat Alvin masih bayi yang sangat mirip dengan cucunya itu.


Rili hanya tersenyum, meski tidak ada kemiripan sama sekali dengannya tapi dia tidak kesal ataupun iri karena Alvin yang merasakan semua keluhannya saat hamil dan melahirkan.


Alvin masih saja menatap bayi mungil itu dengan mata berbinarnya. "Pengen gendong tapi Ayah masih lemas. Nanti ya sayang Ayah gendong." Dia mengecup lembut pipi merah itu tapi hal itu membuat Ayla justru terbangun.


"Eh, kok bangun." Ayla terlihat semakin menggemaskan saat bergeliat pelan dengan bibir yang menoleh ke kanan seolah mencari sumber kehidupannya. "Ayla haus? Sayang, anak Ayah. Gemes banget." Saking gemasnya Alvin menciumi pipi itu berulang kali hingga Ayla menangis.


"Alvin, tuh nangis kan..."


"Habis gemes banget."


Bu Gita meraih Ayla dan menggendongnya. "Waktunya nen.."


Rili duduk secara perlahan lalu memangku Ayla.


"Sayang udah bisa?" tanya Alvin pada Rili.


"Udah Mas."


"Alvin, kamu makan dulu biar cepat pulih." Bu Gita mengambil kotak makan. "Mau Mama suapin?"


"Nggak Ma. Bisa sendiri. Malu sama anak kalau disuapin."

__ADS_1


Bu Gita terkekeh lalu memberikan sekotak makanan itu pada Alvin. Dulu, dia memang selalu menyuapi Alvin ketika Alvin sakit karena Alvin tergolong sedikit bandel kalau sedang sakit. "Dihabisin. Kalau masih kurang tuh masih ada."


Alvin makan dengan lahapnya. Setelah 9 bulan baru kali ini dia merasakan nikmatnya makan. "Udah lama banget gak ngerasain makanan enak."


Semua tertawa mendengar ucapan Alvin.


"Vin, kapok gak?" tanya Papi Rizal menggoda menantunya.


"Gak akan kapok."


"Malam ini biar Mama sama Mami Lisa menginap di sini. Para Kakek pulang aja. Sedari tadi ramai sendiri."


"Pak Rizal kita diusir."


"Wah, iya. Padahal di rumah sepi."


...***...


Keesokan harinya Alvin sudah terbebas dari jarum infusnya. Dia terus menggendong putri kecilnya itu.


"Mas, duduk sini..." panggil Rili agar Alvin duduk di dekatnya.


"Iya sayang, apa?" Alvin kini duduk di dekat brangkar Rili.


"Makasih, sekali lagi."


"Makasih." Rili justru menggoda Alvin.


"Beneran mau dicium nih. Untung Mama sama Mami udah pulang." Alvin mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Rili. "Kamu ibu yang hebat." Alvin melepas ciumannya sesaat lalu kembali memagutnya.


Tiba-tiba saja bayi mungil yang ada di tangan Alvin itu menangis seolah cemburu dengan kedekatan orang tuanya.


"Sayang, kok nangis. Cemburu ya sama Ayah." Alvin justru menciumi pipi merah itu.


"Ih, Mas sini. Ayla haus tuh." Rili meraih Ayla dari tangan Alvin dan mulai memberinya sumber nutrisi dan vitamin alami dari dirinya. "Kenapa Mas Alvin lihat kayak gitu. Sana-sana." Rili mendorong Alvin agar menjauh.


"Cuma lihat aja gak boleh. Padahal aku yang rutin stimulasi." Alvin mengusap lembut puncak kepala Rili.


"Iya, stimulasi plus-plus. Takut Mas Alvin otaknya travelling."


"Ya nggaklah. Cuma ingin icip aja dikit. Rasanya sama gak kayak pertama kali keluar sebulan yang lalu." goda Alvin. Sudah lama rasanya dia tidak se-energik ini.


"Ih, gak boleh."


Alvin tertawa, "Bercanda." Dia duduk di samping Rili sambil merengkuh pundak Rili. "Akhirnya keluarga kecil kita sempurna."


"Iya Mas. Sekarang sudah ada malaikat kecil kita."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terdengar seseorang membuka pintu.


"Siapa yang datang?" Alvin berdiri dan mengambil kain penutup untuk menutupi sekitaran dada Rili.


"Hai, Rili..." Suara khas yang cempreng itu seketika menggema. "Mana keponakan aunty..." Nana langsung masuk dan duduk di dekat Rili. "Aduh, lagi nen. Mas Adit jangan deket. Nanti aja."


Seketika Adit menghentikan langkahnya dan duduk di sofa. "Udah sehat Vin?"


"Udah. Tinggal pemulihan." Kelakar Alvin.


"Aku denger kemarin kamu sampai pingsan."


"Iya, aku dehidrasi berat sampai diinfus semalaman." lagi-lagi Alvin menertawakan dirinya yang payah.


Nana tertawa cukup keras. "Emang kualat sama istri. Nanti buat dedek lagi ya, biar suami lo tersiksa."


"Gak papa sih, buatnya kan enak."


"An jir. Baru lahiran udah ngomongin yang enak-enak." Adit tertawa cukup keras. Memang sahabatnya itu benar-benar budak cinta.


Nana menempelkan jarinya di pipi yang ikut tergerak saat menghisap sumber kehidupannya. "Ih, gemesnya." Tiba-tiba Nana mendekatkan dirinya dan membisikkan sesuatu. "Aset lo gede banget sekarang, udah kayak melon."


"Eh, apaan sih. Namanya juga busui."


Nana malah cekikikan. Setelah Ayla kenyang dan melepas bibirnya, Nana segera meraih bayi mungil itu. "Sini ikut aunty. Cantik banget sih, tapi sayang mirip bapaknya yang ngeselin."


"Gimana gak mirip, orang yang ngidam dan ngelahirin Alvin." Adit berdiri dan melihat hasil karya sahabatnya itu. "Bener-bener Alvin cewek."


"Udah pantes, kapan nih diresmiin?"


Nana melirik Adit sesaat. "Nunggu Mas Adit."


Seketika Adit menatap Nana. "Kamu sudah memantapkan hati kamu bersamaku?"


"Iyalah. Ngapain aku beberapa bulan ini mau Mas Adit ajak jalan, kalau aku gak milih Mas Adit."


"Jadi kamu mau menerima aku sebagai imam rumah tangga kamu?" seformal itu pertanyaan Adit.


"Iya..."


Adit tertawa dan melompat kegirangan. Bukan Nana yang dia peluk tapi justru Alvin yang tengah berdiri. "Alvin, akhirnya aku akan nikah sama Nana."


Alvin melepas pelukan sahabat absurd-nya itu. "Ngapain peluk aku, peluk Nana tuh."


"No, no, lagi gendong ponakan unyu. Nanti aja kalau udah sah."


Adit terus menyunggingkan senyumnya. Dia merasa sangat bahagia, setelah penantiannya bertahun-tahun akhirnya kini hati itu akan segera berlabuh.

__ADS_1


__ADS_2