Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Kejadian di Pantry


__ADS_3

Nana turun ke lantai bawah dan berjalan santai menuju pantry. Dia memang sudah biasa membuat minuman sendiri di pantry. Meski sebelumnya dia ke tempat itu selalu bersama Doni yang juga suka membuat kopinya sendiri.


"Mas Edi belum pulang?" tanya Rili saat melihat Edi, salah satu OB di kantor masih berada dalam pantry.


"Belum, sebentar lagi pulang. Masih banyak yang lembur di atas?" tanya Edi sambil berjalan mendekati Nana.


"Tinggal Pak Rasya, Kak Doni sama Dira saja sedang sibuk. Yang lain sudah pulang," jelas Nana.


"Mbak Nana mau minum apa? Biar saya buatkan." Basa-basi Edi. Sejak Nana masuk ke dalam pantry, Edi terus menatap Nana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia tersenyum miring, seolah otaknya dipenuhi dengan bisikan setan.


"Biar aku buat sendiri. Sekalian aku mau buatkan teman." Nana mengambil dua gelas kemudian segera menyeduh teh.


Saat Nana sedang membuat tehnya, diam-diam Edi menutup pintu itu dan menguncinya.


Mendengar suara kuncian pintu, seketika Nana menoleh. "Kenapa dikunci?" Nana menjadi was-was. Apalagi mendapat seringai dan tatapan tajam dari Edi. Bulu kuduknya seketika merinding. Ini lebih menakutkan daripada melihat hantu. "Mas Edi mau ngapain?! Minggir, aku mau keluar!" Nana mendorong tubuh Edi agar tidak menghalangi pintu keluar. Tapi tenaganya kalah jauh dengan Edi.


Dengan cepat Edi mencekal Nana dan membekap mulutnya. "Diam!!"


Nana harus melakukan sesuatu, dia menggigit tangan Edi dengan keras. "Lepasin!! Ini pelecehan! Aku bisa laporin kamu!"


"Cih, sok suci. Aku tahu, kamu wanita seperti apa? Kamu mau sama Pak Rasya, tapi kamu juga mau sama Pak Doni. Dibayar berapa sekali pakai? Pasti mahal, dan sayang aku gak punya uang sebanyak itu."


Nana melebarkan matanya. Gila!! Dibalik sikapnya yang ramah dan sopan ternyata berjiwa psychopat dan cabul. "Gak waras!!"


Edi tertawa sumbang. Dia semakin menahan tubuh Nana hingga terhimpit tembok. "Kita senang-senang malam ini." Edi menjurai rambut Nana yang telah berkeringat.


"Jangan harap." Nana menginjak dengan keras kaki Edi hingga membuat cekalannya terlepas sesaat.


"Liar sekali. Menarik." Edi menarik lengan kemeja Nana hingga robek dan terlihatlah bahu seputih susu itu.


"Lepasin!!" Nana berusaha memberontak walau tenaganya sangat kecil.


"Na, kamu di dalam?" Adit berteriak dari luar sambil menggedor pintu pantry.

__ADS_1


"Mas Adit to..." Suara Nana menggantung karena Edi langsung membekap mulut Nana.


Merasa ada yang tidak beres, dengan sekuat tenaga Adit mendobrak pintu itu. Sampai tiga kali dobrakan akhirnya pintu itu berhasil terbuka.


"Nana!! Lepasin!! Ngapain lo!?!" Adit melayangkan tinjuannya dengan keras pada Edi hingga dia terhuyung ke belakang.


"Mas Adit." Nana bersembunyi di belakang Adit. Setidaknya dia merasa aman ada Adit yang menolongnya sekarang.


Adit segera membuka jaketnya dan memakaikannya di tubuh Nana. "Kamu keluar ya, kamu panggil satpam atau lapor Rasya."


Edi mengusap ujung bibirnya sesaat. Dia dengan cepat mengambil sebuah pisau dan akan menyerang Adit.


"Mas Adit awas!!" pekik Nana saat melihat Edi bergerak dengan cepat melayangkan pisaunya ke arah Adit.


Adit berhasil menghindar meski tangannya tergores pisau yang memang tidak terlalu tajam itu.


"Breng sek lo!!" Dengan cepat Adit mencekal tangan Edi, menekan pergelangan tangannya dengan kuat hingga pisau itu terlepas. Dia sergap kedua tangannya sampai tidak bisa lagi berkutik. Lalu dia membawa paksa Edi keluar dari pantry.


"Pak satpam!!" teriak Adit yang kebetulan satpam kantor Rasya sedang berada di dekat lobi.


"Tolong panggil Rasya suruh ke sini!"


"Siap!" Pak satpam itu segera menelepon atasannya.


"Maaf Pak, saya gak sengaja." Edi masih saja ingin mengelak. "Saya khilaf."


"Gak sengaja lo bilang!! Tindakan lo itu udah kriminal!!" Adit semakin menekan tangan Edi hingga dia meringis kesakitan.


Beberapa saat kemudian ketiga orang yang berada di lantai lima itu keluar dari lift.


"Pak, pegang dia jangan sampai lepas!!" Adit menyerahkan Edi pada Pak Satpam.


"Ada apa ini?" Rasya menatap Adit yang sedang emosi ditambah dengan tangannya yang terluka. Lalu dia menatap Nana yang hanya terdiam menunduk di belakang Adit.

__ADS_1


"Sya, OB lo ini udah kurang ajar banget! Lo telepon polisi sekarang. Kasus pelecehan kayak gini gak bisa dibiarin. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal.


Pelecehan??


Mata mereka bertiga melebar.


"Kurang ajar lo!!" Satu bogeman dari Doni kini melayang di pipi Edi. "Gue udah curiga sama gelagat lo selama ini. Makanya gue selalu nemenin Nana ke pantry dan kali ini gue kecolongan."


Rasya mengeraskan rahangnya. Seharian itu dia sudah cukup pusing dengan masalah pekerjaan. Di tambah dengan masalah ini, emosinya benar-benar diuji.


Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon polisi.


Mendengar suara Rasya yang melaporkan tindakannya, nyali Edi seketika menciut. "Pak, saya minta maaf. Saya tidak sengaja. Jangan dilaporkan polisi. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi."


Emosi Rasya telah memuncak. Dia sangat tidak suka dengan orang yang tidak bisa menghargai perempuan. "Gak ada kesempatan kedua untuk pelaku pelecehan. Sekali perbuatan itu dimaafkan, pasti nantinya akan terulang lagi!"


"Tapi Pak!!"


Rasya kini mencengkeram krah Edi. Bisa-bisanya dia mengelak perbuatannya. "Kamu pikir di pantry gak ada cctv? Aku pasang beberapa cctv di tempat tersembunyi. Karena dua tahun yang lalu kamu juga terlibat kasus yang sama."


Mereka yang ada di tempat itu semakin terkejut. "Sayang sekali, Papi maafin kamu karena memang tidak ada bukti dan korban tidak mau speak up. Kali ini, aku pastikan kamu mendapat hukuman yang setimpal!! Bahkan kamu akan kena pasal berlapis karena telah menyerang Adit juga." Rasya melepas krah Edi dengan kasar.


Beberapa saat kemudian polisi datang dan langsung memborgol Edi.


Nana sedari tadi hanya terdiam sambil duduk di sofa lobi. Dia menundukkan pandangannya dengan mata yang masih berkabut. Dia tidak menyangka, usahanya mendekati Rasya diartikan lain oleh pria cabul seperti Edi.


"Jangan takut. Dia udah ditangkap," Adit berusaha menenangkan Nana. Dia tahu Nana pasti masih shock.


Nana menghela napas panjang. "Makasih Mas Adit."


"Iya, sama-sama."


Lalu Adit berdiri dan mengambil kotak P3K di dekat meja resepsionis. Dia kembali duduk di dekat Nana lalu membuka kotak p3k itu dan mengambil kapas. Dituangkan cairan rivanol untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Meski tidak terlalu dalam, tapi darah itu masih saja merembes.

__ADS_1


"Sini aku bantu obati." Nana meraih kapas itu lalu mengusap pelan luka di tangan Adit. "Sekali lagi makasih ya, Mas."


Adit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia bahagia, bisa menolong Nana hari itu.


__ADS_2