
Dia hempaskan perlahan tubuh itu di tengah ranjang. Dia buka kemejanya lalu mengungkung tubuh Rili yang tak berdaya. Dia pandangi paras cantik itu, menyusurinya dengan jari telunjuk dari dahi sampai dagunya. Lalu turun ke leher dan berhenti di atas gaun yang menutupi dadanya.
Alvin menghentikan gerak tangannya. Akal sehatnya kini telah kembali. Dia kepalkan tangannya dan segera bangkit dari atas tubuh Rili.
"Shits!!" umpat Alvin kesal dengan dirinya sendiri. Hampir saja dia bertindak bodoh. Dia pakai kembali kemejanya lalu keluar dari kamar.
Dia ambil ponselnya dan segera menghubungi Rasya.
"Lo ke tempat gue sekarang. Gue sharelok..... Iya Rili sama gue..."
Alvin menghela napas kasar. Setelah mengirim lokasinya pada Rasya, dia kini duduk di dekat jendela ruang tengah yang menghadap ke taman.
"Rili, ini rumah kita. Kalau aku gak sama kamu, gak akan ada rumah ini.."
Dia tatap langit malam yang kian larut. Gelap tanpa cahaya bintang sama sekali.
Beberapa saat kemudian terdengar bel rumahnya berbunyi. Alvin segera membuka pintu.
"Ngapain lo ajak Rili ke sini? Mana Rili?" Rasya langsung menerobos masuk. Meskipun Alvin sudah biasa mengajak Rili keluar dan pulang malam tapi tidak pernah sampai selarut ini.
"Rili ada di kamar."
Rasya bergegas masuk ke salah satu kamar yang terbuka. "Rili..." Dia berusaha membangunkan Rili tapi tetap tidak ada respon. Dia kini menatap Alvin yang berdiri di ambang pintu. "Apa yang udah lo lakuin sama Rili?" Rasya berdiri dan mendekati Alvin.
"Gue... Gue ada niat jahat sama Rili." Alvin mengakui kesalahannya.
Rasya mencengkeram krah kemeja Alvin dan mendorongnya ke belakang. "Maksud lo? Lo udah kasih obat sama Rili dan lo mau berhubungan sama Rili saat dia gak sadar."
"Iya, gue terpaksa mau lakuin ini..."
Rasya langsung melayangkan satu pukulan di wajah Alvin. "Breng sek lo. Masih ada cara lain gak harus kayak gini."
"Apa?" Alvin mendorong tubuh Rasya dan melayangkan satu pukulan balasan pada Rasya. "Lo sebagai kakak pernah gak mikirin perasaan Rili. Dia gak mau nerima lamaran gue karena dia mikirin perasaan lo! Gue ngelakuin ini karena gue gak mau dijodohkan sama cewek lain." Alvin mengacak rambutnya frustasi lalu kembali duduk di dekat jendela dan berusaha mengatur napasnya.
"Lo dijodohkan?" Rasya menatap Alvin. Mata merah Alvin menunjukkan kalau memang perasaan Alvin sedang tidak baik-baik saja. "Kenapa gak ada yang cerita sama gue soal ini?"
__ADS_1
Alvin tertawa getir. "Lo peduli apa sama orang-orang di sekitar lo. Lo mungkin cuma mikirin perasaan lo yang terluka tanpa mau tahu perasaan orang yang sayang sama lo."
"Gue..." Rasya menghentikan perkataannya. Apa yang dikatakan Alvin benar. Selama ini dia terlalu sibuk dengan perasaan dan dunianya sendiri.
Alvin menyusut ujung matanya sendiri. "Orang tua gue jarang marah sama gue, kalau mereka udah marah, itu tandanya mereka udah sangat kecewa." Alvin menarik napas panjang. "Lo tahu, semua pencapaian gue itu demi masa depan gue dan Rili. Termasuk rumah ini, gue ingin beri kejutan pada Rili setelah kita menikah. Tapi kalau gue gak sama Rili, gue akan jual rumah ini. Buat apa usaha gue selama ini kalau gue gak bisa menikmati sama orang yang gue cintai."
"Al, lo pasti bisa sama Rili."
Alvin berdengus kesal. "Lo bawa Rili pulang, itu obat tidur biasa besok pagi pasti dia bangun sendiri. Dan sampaikan permintaan maaf gue buat Rili." Alvin masih saja mengalihkan pandangannya dari Rasya. Apakah ini akhir dari segalanya?
Rasya ingin menimpali perkataan Alvin tapi dia urungkan. Dia tahu betapa sakit hati dan kecewanya Alvin saat ini, bahkan dia sudah ada di posisi putus asa dan tidak mau lagi berjuang. Hal itu sangat terlihat dari mata merah Alvin yang sesekali mengembun.
Rasya kembali masuk ke dalam kamar dan mengangkat tubuh Rili. "Gue bawa Rili pulang dulu. Gue pastiin, hubungan lo sama Rili akan baik-baik saja dan kalian akan segera menikah."
Rasya membawa Rili keluar dari rumah itu dan segera menuju mobilnya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Rasya segera melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, Rasya memikirkan cara agar masalah ini cepat selesai.
Tak butuh waktu lama, Rasya sudah menghentikan mobilnya di halaman rumahnya. Dia turun dari mobil sambil menggendong Rili.
"Rili, kenapa Sya?" tanya Mami Lisa yang khawatir melihat putrinya berada dalam gendongan Rasya.
"Rili gak papa Mi, cuma ketiduran." Rasya melangkah jenjang naik ke lantai dua menuju kamar Rili lalu merebahkan Rili di atas ranjangnya setelah itu dia kembali turun dan berpapasan dengan Maminya yang akan naik ke atas menyusul Rasya.
"Mi, aku mau ngomong sebentar."
Mami Lisa mengurungkan niatnya untuk menemui putrinya. Dia membalikkan badannya dan kembali duduk di samping suaminya.
"Ada apa Sya?" tanya Papi Rizal yang melihat wajah serius putranya.
Rasya kini telah duduk di dekat kedua orang tuanya. "Besok kita harus ke rumah Alvin menyelesaikan kesalahpahaman dengan kedua orang tua Alvin."
"Salah paham apa?"
"Karena lamaran waktu itu ditolak, Alvin mau dijodohkan sama orang tuanya."
__ADS_1
Kedua orang tua Rasya jelas terkejut. "Dijodohkan?"
"Iya, aku sendiri baru tahu masalah ini. Mereka saling mencintai, mereka harus bisa bersama. Karena aku alasan satu-satunya Rili menolak lamaran itu jadi aku harus bisa menyelesaikan masalah ini." setelah itu Rasya berdiri dan kembali ke kamarnya.
"Pi, masak iya Pak Iwan dan Bu Gita ngelakuin ini sama Alvin?"
Rizal menggelengkan kepalanya. "Papi juga gak tahu. Sepertinya ada yang janggal di sini. Apa Mami punya pikiran kayak Papi?"
"Iya sih Pi."
Rizal langsung memeluk tubuh istrinya itu. "Mami, kita memang selalu sehati Mi."
"Papi, aku mau lihat Rili dulu. Gak biasanya dia ketiduran kayak gitu." Lisa melepas pelukan suaminya lalu segera berdiri dan menaiki tangga menuju kamar putrinya yang diikuti oleh Rizal.
Setelah masuk ke dalam kamar Rili, Lisa mengusap lembut rambut putrinya.
"Udah biarin Rili tidur. Mungkin kecapekan karena mikirin masalahnya sama Alvin."
"Apa mereka bertengkar ya Pi, sampai Rasya yang harus menjemput Rili."
Rizal hanya mengangkat bahunya. "Udah biarin Rili tidur. Kita selesaikan masalah kita dulu yuk?" bisik Rizal di dekat telinga Lisa.
"Masalah apa, Pi?"
"Masalah hati." Rizal merengkuh tubuh istrinya keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga.
"Papi ini, anak lagi punya masalah masih sempat-sempatnya ya."
Rizal hanya tersenyum. Setelah masuk ke dalam kamar, satu kecupan hangat mendarat di bibir Lisa.
💞💞💞
🤣🤣🤣
.
__ADS_1
Alvin gak jadi buat proyek, malah Papi Rizal yang buat proyek sendiri...