Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Berhasil Lagi


__ADS_3

Kepala Alvin semakin terasa pusing, bahkan dia sama sekali tidak nafsu makan. Tiap kali mencoba untuk makan langsung dia keluarkan lagi.


"Ayo, periksa sekarang aja Mas," ajak Rili sambil mengambil tasnya.


"Ayo Papi antar. Gak mungkin kan kamu mengemudi dalam keadaan kayak gini."


Alvin yang sedari tadi menunduk sambil menekan pangkal hidungnya, kini mendongak. "Aku bisa sendiri Pi. Gak papa."


"Jangan bawa mobil sendiri dalam keadaan kayak gini." Papi Rizal mengambil kunci mobil Alvin lalu membantu Alvin menuruni tangga. "Kamu sebelumnya punya asam lambung?"


Alvin menggelengkan kepalanya. "Gak punya Pi."


"Pasti kamu kecapekan ini." Papi Rizal justru tertawa. Tentu dalam artian capek tanda kutip.


"Papi nih. Mantu sakit malah dibercandain."


"Gak papa Mi." kata Alvin saat akan keluar dari rumah mertuanya itu. "Maaf ya Mi, Pi, aku menginap di sini justru merepotkan."


"Tidak apa-apa. Nanti langsung balik ke sini lagi gak papa."


"Aku langsung balik ke rumah aja Mi, di rumah juga ada Mbak Lela yang bantu."


"Ya sudah. Cepat sembuh ya."


Alvin dan Rili mencium punggung tangan Mami Lisa sebelum masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju.


"Kamu biasanya berobat dimana?"


"Ke RSIA Melati saja Pi."


Perkataan Alvin membuat Papi Rizal dan Rili mengerutkan dahinya.


"Mas Alvin kan udah gede ngapain periksa ke rumah sakit anak."


"Iya gak papa." Alvin semakin bersandar di pundak Rili.


Sedangkan Papi Rizal hanya tersenyum. Sepertinya dia tanggap dengan maksud Alvin. Dia segera membelokkan mobilnya menuju rumah sakit yang dimaksud.


Tak butuh waktu lama, Papi Rizal menghentikan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Setelah itu mereka keluar. Alvin menuju resepsionis dan melakukan pendaftaran ke dokter kandungan atas nama Rili.


"Loh, mas kok malah ke dokter kandungan?"


"Udah kamu diam aja ya. Kali ini nurut sama aku."

__ADS_1


"Tapi kan Mas Alvin yang sakit. Lihat nih sampai pucat kayak gini." Rili mengusap wajah pucat Alvin. Dia sangat khawatir karena baru kali ini dia melihat Alvin sakit seperti ini.


"Aku gak papa." Alvin mengajak Rili duduk sambil menunggu antrian.


"Firasat seorang bapak nih?" tanya Papi Rizal sambil duduk di sebelah Alvin.


"Iya Pi. Papi do'akan ya."


"Pasti." Papi Rizal menepuk pundak Alvin.


"Mas maksudnya apa sih, aku gak ngerti loh." Rili bingung dengan ucapan kedua lelaki di sebelahnya.


Alvin menggenggam tangan Rili. "Kita pastiin di dalam ya."


Beberapa saat kemudian giliran Rili untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Kebetulan dokter yang menangani Rili sama dengan dokter sebelumnya.


"Pak Alvin dan Bu Rili, sudah ada kabar baik lagi?"


Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum sedangkan Rili hanya menoleh suaminya tak mengerti.


"Sudah terlambat berapa minggu?" Tanya dokter itu.


"Dua minggu, Dok."


Rili kembali menatap Alvin. Dia sendiri lupa dengan hal itu.


"Belum. Langsung USG saja. Bisa kan Dok?"


Lagi-lagi Rili hanya menatap bingung suaminya itu. Kenapa Alvin begitu yakin?


"Bisa. Apa ada gejala seperti mual, pusing, dan lemas."


"Ada, tapi saya yang merasakan," jawab Alvin.


"Mas, jangan bercanda. Ini gak lucu. Mas Alvin itu sakit, butuhnya berobat." Rili tidak mau terlalu berharap jika nanti pada akhirnya akan kecewa.


Alvin kembali menggenggam tangan Rili. "Sayang, gak ada salahnya kita coba USG. Kalau memang belum berhasil, sekalian kita buat program kehamilan."


Dokter Ani tersenyum melihat mereka berdua. "Iya benar kata suaminya. Memang ada istrinya yang hamil tapi suaminya yang mengidam. Itu dinamakan sindrom simpatik. Mungkin saja karena rasa khawatir Pak Alvin yang terlalu berlebihan jadi Pak Alvin tersugesti untuk merasakan morning sickness yang Bu Rili alami. Tidak ada salahnya kita USG dulu. Mari Bu Rili."


Mereka berdua mengikuti Dokter Ani menuju ruang USG. Setelah Rili merebahkan dirinya di atas brangkar, Dokter Ani mengoles gel lalu mengarahkan alat perekam USG ke perutnya. Mereka bertiga fokus pada layar USG dengan harap-harap cemas.


Beberapa detik kemudian terlihat Dokter Ani tersenyum merekah. "Iya, selamat ya Bu Rili dan Pak Alvin. Kalian berdua akan menjadi Ayah dan Bunda."


Rili terkesiap. Dia tidak menduga dengan hal ini. "Beneran dokter?"

__ADS_1


"Iya." Dokter Ani memperbesar tampilan layar USG hingga kantong janin yang telah berisi janin sebesar kacang itu terlihat.


Alvin semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dia benar-benar bersyukur diberi kesempatan lagi untuk memilikinya dan satu hal lagi, dia sangat bersyukur kali ini yang merasakan morning sickness adalah dirinya.


"Tapi tetap hati-hati, tetap istirahat maksimal. Dari kasus sebelumnya dengan kandungan Bu Rili yang lemah, saya kasih obat penguat juga. Semoga kali ini sehat-sehat ya."


"Iya. Terima kasih Dokter."


Alvin membantu istrinya turun dari brangkar lalu menuntunnya duduk kembali di depan dokter Ani yang sedang menulis hasil pemeriksaan dan mengambil sejumlah obat.


"Tapi untuk suami saya apa ada obatnya Dok? Soalnya dari tadi muntah terus, takut dehidrasi."


"Kalau memang muntahnya terlalu parah, tidak apa-apa konsumsi obat lambung untuk sementara. Bisa beli di apotek. Bisa juga beli sesuatu pereda mual yang biasanya dikonsumsi ibu hamil."


"Iya Dokter."


"Tetap ya, harus istirahat maksimal. Untuk sementara dua minggu lagi kembali periksa, biar saya bisa memantau. Saya juga takut kejadian serupa terulang lagi."


"Iya Dok, terima kasih." Setelah itu mereka berdua keluar dari ruang pemeriksaan dengan mata yang sama-sama berbinar.


"Gimana hasilnya?" tanya Papi Rizal yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari mereka.


"Calon cucu Papi." Rili menunjukkan hasil USG nya.


"Selamat sayang..." Papi Rizal langsung memeluk mereka berdua. "Semoga kalian semua sehat-sehat ya."


"Iya Pi."


Papi Rizal melepas pelukannya. "Ya sudah kita sekarang pulang. Kalian istirahat di rumah. Mau pulang ke rumah kalian atau Papi?"


"Ke rumah aja Pi. Tapi kita mau ke apotek dulu beli obat lambung sama manisan mangga kering biar Mas Alvin gak mual terus."


"Ya sudah, kalian tunggu di mobil ya. Biar Papi saja yang belikan."


"Tapi Pi..."


"Gak papa." Papi Rizal langsung berjalan menuju apotek yang berada di sebelah rumah sakit. Sedangkan Rili dan Alvin menuju tempat parkir.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menunggu Papi Rizal di jok belakang.


Alvin kini mengusap lembut perut Rili. "Sehat-sehat ya sayang. Biar Ayah yang ngerasain semua ngidamnya bunda."


"Ih, Mas tapi aku gak tega lihat Mas Alvin kayak gini."


"Udah gak papa. Daripada kamu yang ngerasain aku tambah gak tega. Jadi sekarang kamu bisa fokus penuhi nutrisi dan vitamin buat calon anak kita." Wajah Alvin mendekat lalu mencium singkat bibir Rili.

__ADS_1


"Makasih Mas. Aku sayang sama Mas Alvin."


"Aku juga sayang banget sama kamu melebihi apapun."


__ADS_2