
Doni menghentikan motornya di tempat parkir kantor tepat saat mobil Rasya berhenti.
Mereka kini berpapasan. "Darimana?" tanya Rasya karena memang saat itu jam istirahat sudah selesai dan mereka telat 15 menit.
"Dari kafe ria, Pak. Maaf terlambat. Nih, si bawel lama makannya" jawab Doni tapi Nana hanya melengos dan mendahului mereka.
Meskipun mendahului tapi mereka akan tetap dipertemukan dalam satu lift.
Rasya kini berdiri di dekat Nana. Dia teringat janjinya makan siang dengan Nana yang memang sempat dia lupakan. Pasti sekarang Nana merasa kesal dengannya.
"Sorry, tadi gak jadi makan siang," kata Rasya membuka suara.
"It's oke. Gak papa," jawab Nana. Meskipun sebenarnya hatinya merasa sangat kesal. Baginya tidak masalah jika memang makan siangnya harus batal karena tuntutan pekerjaan tapi setidaknya Rasya memberi tahunya terlebih dahulu.
Tidak ada lagi obrolan dari mereka berempat. Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerja masing-masing.
"Gimana Don, sudah kamu pelajari kontrak dari perum Nirwana?"
Hanya Doni yang kini mengikuti Rasya ke dalam kantornya.
...***...
"Aku tinggal ya. Nanti kamu pulang sama Rasya kan?" tanya Alvin setelah Rili turun dari motornya di depan kantor Rasya.
"Iya Mas." Rili melepas helmnya dan diberikan pada Alvin.
"Ih, gemesnya..." Tiba-tiba saja satu cubitan mendarat di pipi Rili.
"Ih, apaan sih kok nyubit lagi."
"Gigitan kamu masih terasa nih." Alvin memajukan bibir bawahnya yang sedikit memerah.
"Mau digigit lagi?"
"Mau banget."
"Ih," Rili membalikkan badannya lalu masuk.
Alvin tersenyum sambil menatap punggung Rili sampai menghilang di balik pintu kaca itu. Lalu dia kembali melajukan motornya.
Rili masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 5. Dia ingin menemui Nana karena tadi dia tidak sempat mengobrol dengan sahabatnya itu.
"Na," teriakan Rili membuat Nana yang sedang menulis di buku besar terkejut.
"Lo ngagetin aja!! Gak bisa bilang salam dulu!"
Rili hanya bercengir kuda lalu duduk di samping Nana. "Lo mau ngomong apa? Rempong amat dari tadi."
Nana meletakkan kembali bulpoinnya lalu menatap Rili. "Lo tadi ngapain sih di dalam kantor, gue panggil gak jawab-jawab."
__ADS_1
Rili hanya tersenyum dengan pipinya yang merona. Memang kalau sudah digoda oleh Alvin dia bisa lupa daratan. Andai saja tadi bibir Alvin tidak dia gigit, pasti Alvin tidak melepas pagutannya sampai dia kehabisan stok oksigen.
"Udah mau sah masih aja buat dosa. Pantesan tadi gue di depan pintu dengar suara ahh, ahh gitu."
Satu jitakan mendarat di kepala Nana. "Jangan ngarang, gue gak pernah sampai kayak gitu. Alvin tuh yang main sosor aja."
"Idih, yang disosorin juga mau."
Rili tertawa cukup keras. "Nagih, Na."
"Bikin envy aja lo." Nana menghela napas panjang lalu menutup buku-buku keuangannya. Kebetulan dua jam lagi memang waktunya untuk pulang.
"Lo jadi lanjutin pacaran pura-pura sama Kak Rasya?"
"Gue..." Nana menggantung perkataannya di udara. "Gue kayak gak punya harga diri lagi rasanya. Gue semalam juga nyesel bilang gitu sama Kak Rasya, gue ngerasa jadi cewek gak ada jaim-jaimnya." Satu helaan panjang terdengar dari Nana.
"Ya udahlah Na. Berhenti berharap. Masih ada pintu lain yang terbuka buat lo. Mau yang perhatian dan humoris ada tuh Mas Adit. Atau yang cool, pinter, wah ini sih mirip kayak Kak Rasya ya, tuh si Doni."
Nana mengernyitkan dahinya. "Kok jadi Doni?"
"Emang lo gak ngerasa, Na? Wah saking asyiknya mencintai sampai gak tahu rasanya dicintai."
Nana nampak berpikir sesaat. Masak iya, Doni menaruh hati juga dengannya?
"Gue sebagai sahabat lo, cuma mau kebahagiaan lo. Dan tentu sebagai adik Kak Rasya juga ingin kebahagiaan Kak Rasya. Sebenarnya ada satu misi yang harus gue selesaikan sama Dira. Kali ini lo rela kan?"
"Jadi lo mau ngorbanin perasaan gue nih."
Nana menghela napas panjang. "Duh, berasa punya tugas berat hidup gue."
Setelah keluar dari ruangan Nana, Rili masuk ke dalam ruangan Dira. Dia tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dira tersenyum lalu mempersilahkan Rili masuk ke dalam ruangannya. "Ada apa? Mau ketemu sama Pak Rasya?"
"Iya, tapi mau bertemu sama kamu dulu. Boleh bicara sebentar kan?"
Dira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Kini Rili duduk di sebelah Dira. Memang kebetulan saat itu pekerjaan Dira sudah selesai, hanya tinggal membereskan kertas-kertas saja.
"Ada apa Kak?"
"Jangan panggil Kak, panggil Rili aja."
"Gak enak kalau di kantor. Kan Kak Rili adiknya Bos."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Hmmm, gini maaf ya sebelumnya mungkin aku sedikit mencampuri masalah pribadi kamu."
Dira menatap Rili. Apa yang sebenarnya adik Rasya ini mau katakan?
__ADS_1
"Dulu waktu kamu masih SD apa pernah bertemu dengan Kak Rasya?"
Dira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kamu gak bohong?"
"Dara yang pernah bertemu sama Kak Rasya."
Rili menghela napas panjang. "Tapi Dara dulu gak ingat sama Kak Rasya."
"Ya mungkin karena mereka udah lama gak ketemu."
"Aku yakin, kamu bohong sama diri kamu sendiri dan sama semua orang."
Dada Dira berdebar dengan kencang. Kalimat Rili begitu yakin hingga membuat Dira tidak bisa membantah.
"Aku bisa lihat dari tatapan mata kamu sama Kak Rasya. Ada satu perasaan yang besar tapi tidak bisa kamu ungkapkan. Kenapa? Apa hanya karena kamu akan tunangan lalu kamu membohongi perasaan kamu sendiri."
Dira menggigit bibir bawahnya. Ya, semua yang dikatakan Rili itu benar. "Andai aku punya pilihan."
"Pilihan? You have a choice. Kamu harus bisa memilih takdir hidup kamu sendiri."
Dira menghela napas panjang. "Iya, aku memang yang Kak Rasya temui waktu kecil dulu."
Seketika Rili menatap Dira dengan serius.
"Dulu, setiap Papa mengajak Dara untuk keluar, Dara selalu menolak karena dia tidak suka berkunjung ke tempat keramaian hingga akhirnya aku yang ikut dengan Papa dan beberapa kali aku bertemu Kak Rasya waktu ke Surabaya bersama Om Rizal."
Rili terdiam sambil menyimak cerita Dira.
"Aku memang mengaku sebagai Dara, karena aku tahu, aku gak mungkin lagi bertemu dengan Kak Rasya."
"Tapi nyatanya kamu sekarang bertemu lagi sama Kak Rasya. Kenapa kamu gak mengaku saja? Kak Rasya sudah jatuh cinta sama kamu sejak dulu."
Dira menghela napas panjang. "Entah dulu atau sekarang, keadaan akan tetap sama, aku gak akan bisa sama Kak Rasya karena aku sudah dijodohkan dengan Kak Fandi sejak kecil."
Rili terkejut mendengar cerita Dira. Jadi ini alasan Dira kenapa dia tidak mau mengakui perasaannya.
"Jadi kamu tidak ada perasaan apa-apa sama Kak Fandi?"
"Aku gak tahu. Ada atau tidak ada perasaan, perjodohan itu akan tetap berlangsung karena itu pesan dari almarhumah Mama Icha. Mama yang sudah merawat aku sejak kecil." Dira memalingkan pandangannya karena dia tidak kuasa lagi menahan air matanya.
Ada sebuah langkah tanpa suara yang kini masuk ke dalam ruangan Dira. Dia memandang nanar punggung Dira yang bergetar karena tangisnya.
...********...
.
.
__ADS_1
.