
Edisi Mami Papi dulu baru anaknya. Kebalik ya.. 😆😆
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Mami jangan tidur dulu. Mami harus dapat hukuman dulu dari Papi." Rizal menarik tubuh istrinya yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjang.
Lisa menguap panjang, apalagi yang diinginkan suami rewelnya itu. "Mami ngantuk. Besok aja deh hukumannya."
"Sekarang part satu besok part duanya."
Lisa tetap memejamkan matanya sambil menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.
"Jadi mau main di balik selimut." Rizal ikut masuk ke dalam selimut sambil memeluknya dari belakang. Dia mulai mengendus leher belakang Lisa yang merupakan titik sensitif istrinya.
"Papi, geli ih. Ampun." Badan Lisa bergeliat sambil menggigit bibir bawahnya.
Tangan Rizal sudah mulai melepas satu per satu kancing piyama Lisa.
"Pi," Lisa kini meluruskan badannya dan menatap suami nakalnya itu.
"Mami harus bisa jaga pandangan dan jaga sikap dari pria lain." Kini Rizal setengah menindih tubuh istrinya.
"Iya, Pi. Lagian kita juga udah berumur."
"Sama aja. Banyak kok yang udah tua tapi semakin menjadi."
"Posesif banget." Satu cubitan mendarat di hidung mancung suaminya.
"Iyalah. Dari dulu sampai sekarang cinta Papi itu tetap sama malah makin besar. Kita udah bersama selama puluhan tahun. Justru rasanya aku semakin takut kehilangan kamu." Satu kecupan mendarat di pipi Lisa. "Karena Mami adalah orang yang akan menemani Papi sampai tua nanti. Orang tua kita sudah pergi dan anak-anak kita pasti akan memilih jalannya masing-masing."
Lisa tersenyum sambil mengusap rambut suaminya yang sedikit teracak itu. "Iya. I love you..."
"I love you too." Sedetik kemudian dua wajah itu saling mendekat. Merasakan ciuman hangat yang mungkin sudah ribuan kali mereka lakukan tapi tetap menjadi candu.
Sentuhan lembut dari Rizal sudah membuat Lisa melupakan rasa kantuknya, bahkan dengan singkat mereka sudah melepaskan seluruh pakaian yang melekat.
Tiba-tiba saja ponsel Lisa berbunyi. Awalnya Lisa hiraukan, karena baru saja Rizal mengguncang dirinya dan memulai permainannya. Tapi beberapa saat kemudian ponsel itu berbunyi lagi.
"Papi ambilin hp Mami. Siapa sih yang telpon?"
Rizal meraih ponsel istrinya tanpa melepas dirinya. "Rili Mi. Ngapain dia ganggu Papinya gini. Emang dia gak malam pertama?"
"Ya mungkin aja belum Pi. Rasya aja baru sampai. Sebentar Pi." Lisa mengangkat panggilan dari Rili sambil menahan perut suaminya agar tidak melakukan pergerakan.
__ADS_1
"Mami, kok piyama aku gak ada sih dalam tas." Suara Rili diujung sana.
"Tadi Mami udah minta bantuan sama Nana."
"Nana dipercaya. Nih yang dimasukkan cuma baju lak nat semua."
Lisa menautkan alisnya sambil saling tatap dengan suaminya yang kebetulan obrolan mereka memang di speaker.
"Baju apa itu?"
"Ih, Mami. Masak gak ngerti. Lingerie Mi."
"Oo," kedua orang tuanya kini kompak tertawa. "Ya mungkin itu kado dari Nana. Besok aja ya baju kamu Mami antar."
"Iya, tapi..."
"Rili, menyenangkan hati suami itu ibadah," kata Rizal yang kini mulai menggerakkan dirinya lagi.
"Papi sebentar, diam dulu. Rili udah ya sayang. Moga sukses malam ini."
"Iya Mi."
Lisa buru-buru mematikan ponselnya saat dirasa Rizal mulai menggencarkan serangannya.
"Kenapa? Mami juga mau di belikan baju itu?" Senyum Rizal dengan sangat menggoda. "Tapi gak perlu sih, enakan langsung gini."
Sepasang suami istri ini saling tersenyum sesaat. Lisa mengalungkan tangannya di leher Rizal dengan sesekali menjurai kasar ujung rambut suaminya.
Mereka saling bertatapan, semakin lama gairah itu semakin membara. Hanya suara nikmat yang saling bersahutan.
Tiba-tiba saja Rizal membalik posisi hingga Lisa yang kini berada di atasnya. "Tunjukkan aksi Mami..."
Wajah Lisa yang telah merah itu kembali tersenyum sambil sedikit mencubit dada bidang suaminya. Meski demikian permainan itu tetap berlanjut. Semakin malam, semakin membara.
...***...
Rili meletakkan kembali ponselnya. "Dih, Mami sama Papi gak mau kalah sama anak." gumam Rili.
"Habis telepon siapa sayang?" tanya Alvin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rili terpaku melihat Alvin yang bertelanjang dada dengan satu tangannya mengusap rambut dengan handuk. Detak jantung seketika berdegup dengan cepat yang membuat sistem kerja otak melambat dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari badan yang sangat menggoda itu. Perut yang sedikit six pack dan otot-otot bisep di lengannya dengan dada bidang yang membuat Rili ingin segera bersandar dan memeluknya. Ditambah bulir-bulir air yang sesekali menetes semakin menambah kesan sexy itu.
"Ck, ada yang terpesona."
__ADS_1
Pipi Rili merona. Ini memang bukan pertama kalinya melihat Alvin bertelanjang dada. Tapi aura yang dipancarkan Alvin kali ini sangat terasa berbeda.
Alvin meletakkan handuknya di tempatnya setelah itu dia berjalan mendekati Rili yang masih saja memaku.
Rambut basah yang teracak itu benar-benar menambah ketampanan Alvin.
"Udah kaku kayak boneka kayu," canda Alvin sambil merengkuh bahu Rili.
"Ih, bisa gak jangan buat tegang gini."
"Tegang? Justru kamu yang buat aku menegang, yang bawah." Alvin terkekeh lalu mencium singkat pipi Rili.
Aroma harum dari tubuh Alvin saja sudah membuat tubuh Rili meremang.
"Ih, pakai baju dulu."
"Ngapain pakai baju. Kan, bentar lagi justru dilepas semua." Alvin menarik turunkan alisnya menggoda Rili.
Membayangkannya saja membuat kandung kemih Rili terasa penuh. "Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu." Rili segera berdiri dan berlari kecil ke kamar mandi.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. "Lucu kalau lagi malu-malu kucing kayak gitu."
Di dalam kamar mandi setelah buang air kecil, Rili masih saja meragu untuk keluar. Sebelum masuk ke kamar mandi dia memang sempat menyambar salah satu kado dari sahabat yang paling baik itu.
"Pakai gak ya?" gumam Rili pelan. "Kata Papi menyenangkan hati suami adalah ibadah. Iya sih bener. Tapi..." Rili memandang lingerie warna merah yang berlubang-lubang mirip kain saringan, dan hanya dikancing dengan temali. Bagian dada yang memang bisa disingkap dengan mudah. Dia sudah membayangkan ketika Alvin melihatnya memakai ini, sudah jelas dia pasti akan langsung diterkam. Seperti seorang singa yang mendapat mangsa.
Senyum miring tiba-tiba terukir di bibirnya. "Tapi seru juga kalau aku lebih berani dari apa yang ada dipikiran Mas Alvin. Pasti sekarang Mas Alvin sedang mengira kalau aku takut keluar, emang iya sih." Rili menghela napas panjang. "Oke, gak perlu lagi ada rasa takut dan malu kita sudah sah."
Di dalam kamar, Alvin menunggu Rili dengan gelisah. "Kok lama? Gak pingsan di dalam kan?" Alvin berdiri dan akan mengetuk pintu kamar mandi tapi Rili sudah membukanya terlebih dahulu. "Sayang kok lama? Habis ngapain?" Alvin menatap Rili yang masih memakai bathrobe nya.
"Aku..." Rili melangkah mendekat dan menubruk tubuh Alvin. "Lagi mempersiapkan amunisi."
"Amunisi? Oke, apa yang mau kamu tembak." Alvin melingkarkan tangannya di pinggang Rili.
Rili mendekatkan dirinya, dan mencium bibir itu. Merasa mendapat serangan terlebih dahulu, tentu Alvin tidak mau kalah. Dia membalas setiap pagutan yang diberikan Rili tak kalah dalamnya.
Rili mendorong perlahan tubuh Alvin hingga dia terjatuh di atas ranjang.
"Kamu yang mempersiapkan amunisi, aku yang akan menembaknya." Wajah Alvin semakin memerah diselimuti gairah. Apalagi saat Rili kini naik di atas perutnya.
"Mau nembak?" Rili tersenyum miring lalu membuka tali bathrobe nya dan.....
.
__ADS_1
.