Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Newbie tapi Pro


__ADS_3

😁😁😁, tuh kan, kebablas kan. Bukan newbie sih ini tapi pro.. 😆


...✨✨✨✨✨✨✨✨✨...


"Aku masih newbie, kita sama-sama belajar ya..." Bisik Rasya di dekat telinga Dira.


Dira membuka matanya. Dia tatap iris mata hitam itu yang sedang menatapnya dengan penuh damba. Lagi dan lagi Dira speechless. Dia hanya bisa pasrah dan merasakan apa yang Rasya lakukan.


Rasya memeluk tubuh Dira lalu mengangkat tubuhnya. Dia rebahkan tubuh polos itu di tengah ranjang. Dia tautkan tangannya di sela jemari Dira saat wajah itu kembali mendekat. Mencumbunya dengan lembut, semakin lama ciuman itu semakin dalam. Beberapa detik kemudian ciuman itu pindah ke leher Dira, mengendus, menjejaki, dan untuk pertama kalinya Rasya menciptakan hasil karyanya di leher seputih susu itu.


Dira hanya bisa melenguh merasakan sensasi yang Rasya ciptakan. Apa lagi saat merasakan bibir itu menggigit-gigit kecil di seputaran dadanya.


Bibir Rasya menyesap lama di puncak dada Dira yang menegang dan semakin membuat gerak tubuh Dira tak beraturan. Ditambah lagi tangan Rasya kini mulai ke bawah dan kembali menyusuri lembah hangat yang telah basah itu. Bermain dengan lembut di sana.


Meskipun sebelumnya Rasya adalah pria yang sangat dingin, tapi sebagai lelaki normal dia tentu tahu dasar-dasar pemanasan. Dan dia juga mengerti kalau melakukan pertama kali dia harus membuat Dira benar-benar basah agar tidak terlalu merasakan sakit.


Gerak tubuh Dira semakin tak beraturan. Dia menggelinjang sesaat, ketika merasakan dorongan nikmat dari dalam yang tidak bisa dia tahan.


Rasya melepas bibirnya. Dia mendongak menatap Dira yang nampak mengatur napasnya.


"Sekarang ya?"


Raut wajah yang telah memerah itu kembali menegang, meski tanpa berkata.


Rasya menegakkan dirinya. Dia melepas celana yang sudah terasa sesak itu.


Melihat gerakan Rasya, Dira seketika menutup matanya. Hal itu membuat Rasya tersenyum.


"Jangan ditutup. Lihat dulu sini." Rasya menarik tangan Dira tapi Dira masih saja memejamkan matanya.


"Ih, malu..."


"Kenalan dulu." Rasya menuntun tangan Dira agar menyentuhnya.

__ADS_1


Dira tersentak kaget saat tangannya menyentuh benda yang sangat keras, panjang dan berotot itu.


"Lihat dulu.."


"Ih, takut.."


"Ya udah langsung dirasakan saja ya.."


Seketika Dira membuka matanya. Dia tercekat melihat sesuatu yang memang baru pertama kali dia lihat. Bahkan dia sampai menelan salivanya berkali-kali. Tangannya yang masih Rasya genggam, perlahan dituntun Rasya bergerak menyusuri guratan otot itu.


"Katanya pertama kali melakukan itu pasti sakit. Emang sakit banget ya?"


Rasya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Wajah itu benar-benar menggemaskan. "Gak tahu. Kita coba dulu ya baru bisa menarik kesimpulan." Rasya kembali menindih tubuh Dira dengan pinggul yang berada di antara pa ha Dira.


Dira semakin menegang, sesakit apa? Pengetahuan tentang hal ini sangat minim, bahkan melihat film biru pun Dira tidak pernah.


"Jangan tegang." Ciuman lembut itu kembali berlabuh di bibir Dira agar rasa tegang itu menghilang.


Rasya menghela napas panjang. "Kalau masih belum siap gak papa? Besok-besok masuh bisa." Rasya mengusap puncak kepala Dira dengan senyum tulus yang mengembang.


"Udah siap, tapi sakit." Dira menggigit bibir bawahnya. Baru juga ujungnya yang tersentuh tapi sudah terasa ngilu.


Rasya tertawa kecil. "Baru juga ujungnya. Jangan tegang biar gak sakit." Rasya kembali mencumbuinya. Satu tangan mengarahkannya agar tepat kena sasaran. Dan satu kali hentakan akhirnya dia bisa menerobos lubang yang masih sangat sempit itu.


Dira memekik tertahan. Rasanya begitu sakit bagai tersayat. Bagian bawah tubuhnya kini telah dipenuhi milik Rasya. Terasa sangat sesak.


"Maaf," bisik Rasya di dekat telinga Dira. Bibirnya kembali menciptakan sensasi di dekat telinganya.


"Aww," Dira meringis kesakitan saat Rasya mulai menggerakan pinggulnya. Meski sangat pelan, tapi rasanya sangat nyeri dan panas.


"Jangan mikirin sakitnya sayang, mikir enaknya saja biar tersugesti." Rasya menautkan jemarinya dan kembali mencumbu bibir Dira. Rasa nikmat itu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya saat Rasya semakin menambah tempo gerakannya. Dia men de sah pelan di dekat telinga Dira. "Nikmat sayang."


Hal itu sukses membuat Dira meremang. Lama kelamaan miliknya mulai beradaptasi dengan benda asing itu. Meski masih sedikit sakit tapi sudah ada rasa nikmat yang mulai menjalar. Suara de sah dari Dira sudah terdengar. Begitu sangat merdu di telinga Rasya yang membuat dirinya semakin bersemangat memompa.

__ADS_1


Keringat mulai membanjiri tubuh mereka berdua.


"Aww, Kak." Pekik Dira saat Rasya semakin memasukkannya begitu dalam. Perut Dira sudah terasa di aduk-aduk yang diiringi dengan suara yang semakin keras. Ada rasa yang semakin berpusat di perut Dira bagian bawah. Semakin lama semakin terasa terdorong untuk keluar.


Dia menekan bahu Rasya dengan jemarinya saat sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan itu semakin mendesak untuk keluar.


Melihat ekspresi Dira, Rasya semakin mempercepat gerak pinggulnya yang membuat Dira semakin mencerca tak karuan.


Beberapa detik kemudian tubuh Dira menegang dengan suara de sah yang keras.


Rasya semakin terasa melayang saat miliknya di re mas dengan hangat di bawah sana. Tidak ada tanda-tanda Rasya akan menyudahi permainannya. Dia semakin menggencarkan serangannya seolah tenaganya masih full.


Dira hanya bisa pasrah dan kembali melenguh lagi.


"Kak, masih lama?" tanya Dira pada akhirnya karena pahanya mulai terasa pegal.


Rasya tersenyum lalu mengecup singkat bibir Dira. "Bentar lagi sayang."


Dira kini menatap ekspresi Rasya dengan poni teracak dan wajah memerah yang sesekali mendongak sambil men de sah. Aura tampannya sangat terlihat berbeda dan rasanya dia semakin suka melihat wajah itu.


"Sayang, aku mau sampai." Rasya semakin mempercepat gerakannya sampai tubuh Dira ikut terguncang hebat. Dia tumpahkan hasratnya di titik terdalam hingga rasa hangat memenuhi rahim Dira.


Rasya melepaskan dirinya lalu menghempaskan tubuhnya di sisi Dira. Mereka sama-sama mengatur napas untuk sesaat. Setelah itu mereka saling berhadapan dan tangan Rasya kembali meraih tubuh itu dalam pelukannya. "Makasih ya, mulai sekarang kamu sudah menjadi milik aku sepenuhnya."


Dira menganggukkan kepalanya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Rasya. Meski berkeringat tapi aroma maskulin itu masih menyengat.


Satu tangan Rasya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh polos mereka.


Rasya kembali mencium puncak kepala Dira. "Kadang aku masih gak percaya kita sampai di tahap ini. Bahkan kita tanpa pacaran dan dengan proses kilat."


"Sama, apalagi aku. Dulu cinta itu cuma bisa tersimpan dalam hati."


Rasya semakin mengeratkan pelukannya. "Mulai sekarang kita akan bersama selamanya..."

__ADS_1


__ADS_2