Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Di Kota Itu... 2


__ADS_3

"Ra, gimana kalau kita menginap di hotel saja? Karena jalanan kurang kondusif."


Dira hanya menganggukkan kepalanya karena dia memang tahu sendiri bagaimana kondisi jalanan waktu itu.


Rasya membelokkan mobilnya di sebuah hotel bintang tiga karena hanya itu hotel yang paling dekat dengan posisinya.


Setelah Rasya memarkir mobilnya, mereka turun dengan membawa tas masing-masing.


Rasya segera menuju resepsionis. "Mau pesan dua kamar untuk malam ini."


"Sebentar Pak, saya cek dulu ketersediaan kamarnya." Setelah beberapa saat melihat layar komputernya, dia kembali menatap Rasya. "Maaf Pak, kamar hanya tinggal satu dengan double bed. Kebetulan kamar sudah banyak dipesan oleh pendukung dari luar kota."


Rasya kini beralih menatap Dira. "Gimana? Apa kita pulang aja?" tanya Rasya meminta pendapat Dira.


Dira nampak berpikir sesaat. "Gak papa, Pak. Kan dua bed. Di jalan kayaknya lagi gak aman."


Rasya menatap Dira ragu. Lalu dia mengiyakan keputusan Dira. "Ya sudah kalau kamu tidak keberatan."


"Silahkan melakukan pembayaran dulu Pak. Untuk satu malam ya? Total segini.."


Rasya mengeluarkan kartu ATM nya. Setelah selesai melakukan pembayaran resepsionis itu memberikan kunci kamar. "Kamar nomor 35 di lantai 3."


"Iya, terima kasih." Setelah membawa kunci, Rasya dan Dira berjalan menuju lift.


"Ra, kamu beneran gak papa kita sekamar? Kalau kamu merasa gak nyaman biar aku cari hotel lain," kata Rasya setelah masuk ke dalam lift.


Dira menggelengkan kepalanya. "Gak papa Pak. Kan ada dua bed. Lagian Pak Rasya juga gak akan ngapa-ngapain kan?"


Bagi Rasya, jelas dia tidak akan melakukan apa-apa dengan Dira. Dia tidak akan menyentuh lebih wanita sebelum ada ikatan yang sah. Bayangkan saja, sampai dia berumur 25 tahun, dia masih belum pernah berciuman dengan gadis manapun.


Setelah sampai di lantai tiga, mereka segera menuju nomor 35. Rasya kini mengunci pintu itu dan membukanya. Mereka masuk ke dalam kamar, lalu Rasya kembali mengunci pintu itu dari dalam.


"Kamu bawa baju ganti?"


Dira menggelengkan kepalanya. Dia melupakan hal itu.


"Kamu pakai kaos aku aja ya." Rasya mengambil kaos berwarna hitam dari tasnya lalu dia berikan pada Dira.


"Hmm, Pak Rasya pakai apa?"


"Aku udah pakai kaos, tinggal lepas kemeja aja." Rasya membuka blazernya lalu melonggarkan kancing atasnya. "Kamu mandi dulu, aku pesankan makanan."


Dira mengangguk, lalu mengambil barangnya dan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Rasya duduk di tepi ranjang sambil melihat beberapa menu dari restoran yang ada di hotel itu. Setelah itu dia segera menghubungi restoran dan memesan beberapa makanan beserta minuman untuk diantar ke kamarnya. Beres dengan pesanannya, dia segera mengabari orang tuanya kalau dia bermalam di sana.


Satu senyum terukir saat mendapat pesan dari adik usilnya.


Pepet terus, Kak. Jangan sampai melewatkan malam tanpa kenangan.


"Dasar Rili!!"


Rasya kini berdiri, dia membuka tirai jendela dan menatap pemandangan kota Gresik malam hari itu yang berhiaskan lampu.


Di dekat jendela besar itu ada sofa yang cukup luas hingga bisa dibuat tiduran sambil menatap langit atau pemandangan kota.


Rasya menghela napas panjang. Meski tidak ada pikiran kotor sama sekali tapi bermalam dengan Dira tentu membuat dadanya berdebar tak karuan.


Beberapa saat kemudian Dira keluar dari kamar mandi. Dia hanya memakai kaos oblong Rasya yang kebesaran dan celana pendeknya.


Rasya terhipnotis beberapa saat melihat penampilan Dira. Rambut basah dan kaki jenjangnya seperti ingin merusak sistem kerja otak Rasya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Rasya mengalihkan pandangannya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.


Setelah menyisir rambutnya, dia duduk di dekat jendela. Dia memberi kabar kedua orang tuanya jika dia bermalam di hotel dan pulang besok pagi.


Beberapa saat kemudian ada video call dari Fandi. Dira sedikit terperanjat. Dia segera mengambil cardigannya dan menutup kaos Rasya yang dia pakai. Lalu duduk kembali di dekat jendela.


Dira kembali memasang senyum palsunya. "Iya, Kak..."


"Iya, sebelum maghrib tadi sudah macet."


Dira dan Fandi mengobrol sesaat hingga Rasya keluar dari kamar mandi.


"Kak, udah ya. Aku mau istirahat dulu." Dira mematikan panggilannya begitu saja tanpa menunggu Fandi menjawab.


"Kenapa dimatiin? Gak papa kamu lanjut ngobrol aja sama Fandi." Rasya berjalan menuju pintu saat terdengar suara ketukan. Makanan yang telah dia pesan sudah datang. Setelah membayar, dia kembali menutup pintu dan mendekati Dira.


"Gak enak aja, takut kalau Kak Fandi tahu kalau kita sekamar. Nanti dikira kita ngapa-ngapain meskipun gak bakal ada apa-apa."


Rasya tersenyum kecil sambil membuka bungkusan makanan itu. "Udah kayak jadi selingkuhan aja rasanya."


Dira justru tersenyum simpul. Selingkuh? "Iya, Pak Rasya benar."


"Jangan panggil Pak, udah diluar jam kantor. Nih, kamu makan dulu. Hmm, perut kamu udah gak sakit kan?"


"Udah mendingan."

__ADS_1


Mereka mulai makan. Tanpa suara. Bahkan sampai makanan itu habis, mereka masih berdiam diri.


Rasya membereskan bungkus makanan itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Eh, makasih Kak."


"Iya, gak papa. Kamu tidur dulu kalau capek."


Dira menggelengkan kepalanya. "Aku belum ngantuk."


Dira duduk di sisi jendela sambil menatap langit cerah malam itu.


Awalnya Rasya hanya duduk di tepi ranjang tapi karena panggilan dari Dira akhirnya Rasya mendekat.


"Kak Rasya mau tidur?"


"Belum ngantuk juga."


"Sini Kak. Kita ngobrol. Kapan lagi aku bermalam sama bos sendiri."


Rasya terkekeh, karena kalimat Dira yang terkesan ambigu. Dia kini mendekat dan duduk di dekat Dira.


"Langitnya cerah ya." Dira tersenyum dengan kepala yang terus mendongak menatap indahnya kerlip bintang di langit malam itu.


Tapi tidak dengan Rasya, dia justru menatap keindahan yang terpampang di depan matanya.


Merasa diperhatikan oleh Rasya, Dira kini menoleh. Pandangan mereka kini bertaut. Deburan ombak di dada mereka seolah saling berkejaran.


"Aku gak mengira kamu jadi sekretaris aku, bukannya kamu dulu mau jadi dokter?"


Dira menggelengkan kepalanya. "Iya, dulu. Tapi Kak Rasya tahu sendiri biaya kuliah kedokteran itu mahal dan otak aku juga gak mampu kalau harus ngejar beasiswa."


"Jangan gitu. Ya, mungkin emang takdir kamu bertemu lagi sama aku."


Dira kini tertawa, benarkah ini Rasya yang dingin itu?


"Ya, semoga aja anak kamu nanti yang jadi dokter."


Anak? Dira kembali menatap Rasya. Selama ini dia tidak pernah memiliki angan-angan dengan Fandi tentang masa depannya apalagi soal anak.


"Kak, kalau seandainya aku belum punya pasangan apa yang akan Kak Rasya lakukan malam ini?"


Pertanyaan apa ini? Bagaimana Rasya harus menjawabnya. Harus berdasatkan insting dari seorang lelaki kah?

__ADS_1


💞💞💞


Selingkuh aja yuk semalam.. 😱


__ADS_2