Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Cinta Tak Harus Memiliki


__ADS_3

Akhirnya acara resepsi yang hampir seharian itu selesai. Mereka sekalian berganti pakaian di kafe agar MUA tak perlu repot-repot ikut mereka.


"Alvin sekali lagi selamat ya." Zaki yang sedari tadi sibuk mengatur anak buahnya kini menyempatkan diri untuk berjabat tangan dengan Alvin.


"Iya, makasih. Berkat anak buah kamu semua sukses."


"Aku balik dulu."


"Gak ikut ke rumah aku sekalian."


"Lain kali aja ya. Capek soalnya." Zaki membawa beberapa kertas dan peralatan dari EO nya. Dia berjalan keluar dari kafe dan memastikan sekali lagi jika semua sudah beres dikemasi.


Lagi, lagi tanpa sengaja dia menabrak adik Alvin yang imut itu. "Kenapa bisa ketemu kamu lagi? Hati-hati dong." Zaki berjongkok dan mengemasi kertas-kertasnya yang berserakan.


"Kan aku adiknya Mas Alvin. Maaf." Dea membantu Zaki mengemasinya. "Habisnya tiap ketemu Kak Zaki bawaannya aku jadi salah tingkah."


Zaki menatap Dea sesaat. Lalu dia berdiri setelah semua barangnya sudah ada di tangannya.


"Sampai jumpa Kak Zaki."


Meski tidak ada balasan dari Zaki, Dea tetap tersenyum lalu dia masuk ke dalam kafe.


"Yas, akhirnya aku jadi penguasa rumah sekarang." Dea tersenyum devil, walau demikian dia tetap bergelayut manja di lengan kakaknya.


"Senengnya hidup aku udah gak ada yang ganggu dari adik jahil bin usil." Alvin mengacak rambut adiknya. Ya, walaupun mereka sering bertengkar tapi mereka saling menyayangi.


Beberapa saat kemudian Rili dan Maminya sudah keluar dari ruang ganti sementara itu.


"Sudah beres semua, yuk kita langsung berangkat semua."


"Adit, Aksa!! Kalian ikut ya. Itu biarkan saja dilanjut besok. Dit, besok gak usah buka kafe dulu. Kalian lanjut beres-beres saja."


"Oke, sukses deh buat malam ini, besok dan seterusnya," canda Adit sambil mencuci tangannya lalu membawa beberapa makanan yang dibantu Aksa untuk dibawa ke rumah Alvin.


"Mas kita mau kemana?" Rili masih penasaran dengan tujuan pertama setelah dia menikah.


Alvin menggandeng tangan Rili dengan mesra. "Ke... Mana-mana sama aku."


"Serius, ih.." Mendapat sentuhan tangan dari Alvin saja sudah membuat dada Rili berdebar. Rasanya sangat berbeda setelah sah beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Duh, kalian bikin envy aja. Aku mau gandeng Pak Rasya aja." Nana yang sedari tadi masih setia di tempat karena memang ingin melihat kejutan yang diberikan untuk sahabatnya itu.


"Na, aku lagi bantu bawa barang MUA." Iya, jelaslah Nana mengurungkan niatnya karena kedua tangan Rasya sedang membawa barang-barang.


"Kalau gitu sama Papi aja deh."


"Sini... Sini..." Papi Rizal menggandeng lengan Nana. "Mi, kita punya anak bontot lagi."


"Ih, kok anak bontot sih Pi. Calon mantu dong."


"Kamu calon mantu? Gak cocok sama Rasya."


"Ya ampun. Papi nya Rili ganteng tapi mulutnya tajam."


Semua yang mendengar perkataan mereka tertawa.


Mereka segera menuju mobil. Rasya, Nana, Aksa dan Dea dalam satu mobil. Sedangkan Adit membawa motornya sendiri.


Pengantin baru satu mobil dengan orang tua Alvin. Sedangkan orang tua Rili hanya berdua saja dan beberapa barang bawaan di jok belakang.


Alvin masih saja menggenggam tangan istrinya sambil saling melempar senyum malu. Meski sebenarnya Rili masih sangat penasaran kemana tujuan mereka saat ini.


...***...


Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Hanya ada suara orang lalu lalang.


"Kamu sebenarnya ada hubungan apa sama Rasya?"


Seketika Dira menatap Fandi. "Aku gak ada hubungan apa-apa selain hubungan anak buah dan bos."


"Kenapa kamu gak jujur?"


Dira berusaha mengalihkan pandangannya. Iya, dia memang telah berbohong.


"Aku bisa menerima kamu, kalau kamu memang belum bisa mencintai aku tapi aku gak bisa kalau ternyata cinta kamu untuk pria lain."


Dira mengatupkan bibirnya rapat sambil menundukkan pandangannya.


"Kalian saling mencintai. Gak seharusnya aku memisahkan dua orang yang saling mencintai."

__ADS_1


Dira kembali menatap Fandi. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. "Tapi Kak, kita..."


"Perjodohan itu..." Fandi memotong kalimat Dira. "Tante Icha udah gak ada. Dan pada kenyataannya Mama kandung kamu pasti merestui kalau kamu sama Rasya. Aku dengar sendiri Ra, antara Mama kamu dan Mama Rasya sangat berharap kalian bersatu."


"Tapi Fan, itu pesan dari Mama Icha."


Fandi memegang kedua pundak Dira dan menatapnya. "Aku sadar Ra, cinta gak bisa dipaksa seperti ini. Percuma aku mempunyai status dengan kamu tapi hati kamu untuk orang lain. Berhenti berpura-pura. Kamu kejar Rasya, cinta pertama kamu."


Dira cukup terkejut. Dia menatap Fandi tak percaya. "Darimana Kak Fandi tahu soal itu?"


Fandi meraih dompet yang dipegang Dira. Kemudian dia membukanya. Apa yang dlakukan Fandi seolah bergerak slow motion yang membuat dada Dira berdegup tak karuan.


Benar dugaan Dira, Fandi mengambil foto dirinya dan Rasya yang terselip di bawah foto keluarganya. "Ini foto kamu sama Rasya kan?"


"Iya Kak. Itu cuma foto masa lalu."


"Masa lalu? Ketika foto seseorang sudah tersimpan dalam dompet itu tandanya dia sangat penting." Fandi membalik foto itu dan memberikannya pada Dira.


Dira sangat terkejut. Dia baru tahu ada sebuah kalimat di bawah kalimatnya.


"You're my first love, itu tulisan kamu kan. Yes, you're my first love too, until now. Itu tulisan Rasya."


Dada Dira semakin berdegup tak karuan. Dia terus menatap tulisan itu yang memang baru saja dia ketahui. Itu berarti saat dompetnya terjatuh, Rasya menemukan foto itu dalam dompetnya. Dan saat Rasya menitipkan dompetnya pada Fandi, Fandilah yang pertama menemukan foto itu lalu diletakkan kembali di balik foto keluarganya.


"Kalian masih saling mencintai sampai sekarang. Aku jadi merasa bersalah sudah memisahkan kamu dan Rasya."


"Justru aku yang salah. Aku yang gak bisa mencintai Kak Fandi."


Fandi menghela napas panjang. "Cinta itu tidak bisa dipaksa. Cinta sendiri yang akan datang dan memilih dimana hatinya akan berlabuh." Fandi tersenyum, meski hatinya terluka. Kali ini dia harus merelakan Dira. Dia usap puncak kepala Dira. "Kamu kejar Rasya, bilang sama dia kalau kamu juga mencintainya. Aku akan bilang sama kedua orang aku kalau pertunangan ini batal."


"Tapi Kak, aku jadi gak enak sama Kak Fandi dan orang tua Kak Fandi."


"Gak papa. Itu tandanya kita memang tidak berjodoh. Selama ini hanyalah usaha aku untuk mendapatkan kamu tapi tetap hasil akhirnya Allah yang menentukan. Aku ingin kamu bahagia, Ra."


"Sekali lagi aku minta maaf, Kak."


"Iya, aku juga minta maaf. Selama ini telah menahan hidup kamu. Boleh aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya sebelum kamu menjadi milik orang lain?"


Dira menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian mereka saling berpelukan.

__ADS_1


"Semoga kamu selalu bahagia. Aku yakin Rasya adalah pasangan yang terbaik buat kamu. Dia baik dan sangat hebat. Jauh lebih baik daripada aku."


"Kak Fandi juga. Semoga Kak Fandi segera menemukan kebahagiaan..."


__ADS_2