
Setelah selesai acara, kedua pengantin baru ini segera meluncur ke rumah Dira. Mereka berdua memang sudah memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua Dira.
"Sya, jadi berangkat honeymoon besok?" tanya Rizal yang ikut mengantar putranya itu ke rumah Dira.
"Iya, berangkat besok sore. Kita berangkat sendiri. Cuma ke kota dingin sebelah saja dekat."
"Beneran gak capek?" Rizal justru menggoda putranya itu.
"Belum tahu aja gimana capeknya pengantin baru." Dewa tertawa cukup keras menimpali perkataan besannya itu.
"Iya Wa, meskipun perjalanan cuma dua jam pasti mengurangi stamina lah ya. Udahlah nanti Papi suruh Pak Cipto antar kalian."
"Duh, Papi paling semangat kalau ngomongin soal begituan." Mami Lisa ikut mencibir.
Rizal tertawa. "Iyalah, sekarang di rumah kita sepi. Nanti kita buat dedek lagi aja biar ramai."
"Papi udah tua, udah mau jadi kakek juga."
Kedua keluarga itu mengobrol ngalur-ngidul tak karuan sambil tertawa. Kedua sahabat yang sekarang menjadi keluarga itu merasa sangat bahagia.
"Sya, gak ke kamar dulu? Dira udah ke kamar sedari tadi. Nanti kalau ketiduran gimana?" kata Papi Rizal lagi.
Rasya hanya tersenyum kecil. Jantungnya sudah berdebar-debar tak karuan. Bahkan dia sendiri bingung harus mulai dari mana? Dia dan Dira tidak melalui proses pacaran meskipun sama-sama memendam perasaan begitu lama.
"Ya, sudah aku ke kamar dulu." Rasya akhirnya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Dira.
"Semangat Sya!!" ucapan semangat itu jelas dari Papi Rizal.
Rasya membuka pintu kamar Dira secara perlahan. Kemudian dia masuk dan menutup pintu itu kembali.
Mendengar suara langkah kaki, Dira yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kini menoleh dan tersenyum pada Rasya.
Jantung Rasya sudah berdegup tak karuan saat langkah kakinya semakin mendekati Dira.
Rasya tersenyum lalu menarik tubuh Dira yang hanya memakai bathrobe itu dalam pelukannya.
"Ra, aku..." Bahkan Rasya sampai bingung harus berbicara apa. "Aku kok jadi gerogi banget gini ya."
"Iya, sama Kak." Dira menundukkan pandangannya karena dia kini mendapat tatapan tajam dari Rasya. Detak jantungnya tak kalah kerasnya dengan Rasya saat ini.
Perlahan Rasya mendekatkan dirinya. "I love you..." Bisiknya di dekat telinga Dira.
__ADS_1
"I love you too..." Kini pandangan mereka saling terpaut. Wajah Rasya yang memang telah dekat, semakin mendekat. Bibir merah ranum itu kini berhasil Rasya singgahi dengan bibirnya. Sama-sama bergetar bahkan terasa sangat kaku. Perlahan, Rasya mulai memagut bibir itu, mencari celah untuk merasakan manisnya madu untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dira hanya memejamkan matanya merasakan lembutnya bibir Rasya me lu mat bibirnya.
Meskipun baru pertama tapi secara alami mereka bisa melakukannya. Bahkan Rasya seolah sudah menginginkannya lebih.
Rasya melepas ciumannya saat napasnya terasa sesak.
"My first kiss."
Dira hanya tersenyum malu.
"Aku mau mandi dulu," kata Rasya tapi dia tak juga melepas pelukannya dari Dira.
"Iya, Kak Rasya mandi dulu. Tadi bajunya udah ditaruh di sini sama Papi."
Rasya masih saja memeluk dengan erat tubuh itu. Dia labuhkan kembali ciumannya. Ternyata benar, ciuman itu membuatnya kecanduan. Pantas adiknya dulu melakukannya berulang kali.
Bibir Rasya kini semakin turun ke bawah, mengendus dalam leher wangi Dira. Merasakan hangatnya bibir Rasya dilehernya saja sudah membuat Dira meremang.
"Sebentar aku mandi dulu." Rasya melepaskan pelukannya. Sebelum ke kamar mandi dia meletakkan ponselnya di atas nakas.
...***...
"Mas Alvin kemana?" Kemudian dia menatap jam dinding yang masih jam 8 malam. "Masih jam 8." Perlahan Rili merebahkan dirinya dari posisi miring.
"Aduh, perut aku kok sakit kayak ketusuk-tusuk gini sih. Sakit banget." Rili berlahan duduk sambil memegang perutnya. Tapi ada sesuatu yang aneh. Dia merasakan ada cairan yang keluar dari intinya.
Rili sedikit menggeser dirinya karena cairan itu terasa menembus sampai ranjang. Mata Rili membulat saat melihat cairan kental berwarna merah itu.
"MAS ALVINN!!" Teriak Rili agar suaminya segera datang. "MAS..." Rili sudah sangat ketakutan dan panik.
Mendengar teriakan Rili, Alvin membuka pintu kamar itu dengan tergesa. Dia melangkah lebar menuju ranjang. "Kenapa sayang?" Tanyanya sangat khawatir.
"Mas ini... Aku pendarahan.." Wajah Rili semakin pias, bahkan air mata telah meleleh di pipinya.
Mata Alvin membulat sempurna saat melihat darah yang merembes itu. "Astaga sayang..." Dengan cepat Alvin meraih tubuh Rili dan menggendongnya. "Kita ke rumah sakit sekarang."
Alvin berjalan keluar kamar sambil memanggil Lela. "Mbak Lela!!"
"Iya Mas.." Lela segera mendekat. Dia ikut panik saat melihat Rili. "Mbak Rili kenapa?"
__ADS_1
"Rili pendarahan Mbak. Tolong ambilkan kunci mobil, dompet sama hp di atas nakas," suruh Alvin sambil melangkahkan kakinya lebar keluar dari rumah.
"Iya Mas." Lela segera mengambil barang Alvin. Lalu dia berlari keluar dan membantu membukakan pintu depan mobil.
Alvin menurunkan Rili di kursi depan.
"Semoga Mbak Rili gak kenapa-napa." Lela menyerahkan dompet dan ponsel Alvin.
"Mbak nanti siapkan baju aku dan Rili. Kirim pakai gojek saja ke rumah sakit melati. Nanti titipkan satpamnya." pesan Alvin sambil menghidupkan mobilnya.
"Iya Mas."
Tak butuh waktu lama, Alvin langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Keringat sudah membahasi pelipis Rili. Dia terus memegang perutnya yang semakin terasa ditusuk-tusuk.
"Sayang, sabar ya sebentar lagi kita sampai..." Alvin semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Mas ini kenapa? Aku takut Mas." Rili semakin menangis, dia terus memegangi perutnya yang semakin sakit.
"Jangan mikir aneh-aneh dulu."
"Tapi Mas, perut aku sakit banget dan rasanya da rah terus keluar Mas.." Suara Rili bergetar bahkan air mata itu semakin lolos dari matanya. "Maafin aku ya Mas, gak bisa jaga calon anak kita."
"Sayang, ini bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Ini udah takdir." Alvin menghentikan mobilnya di depan ruang IGD. Dia segera keluar lalu menggendong Rili dan berjalan setengah berlari menuju IGD.
"Dokter!! Tolong istri saya pendarahan."
"Pendarahan!!" Dokter itu segera memeriksa kondisi Rili yang ditelah dibaringkan Alvin di brangkar. "Suster cepat ambilkan...."
Alvin sangat harap-harap cemas melihat Rili. Apakah dia akan kehilangan calon buah hatinya?
"Maaf Pak. Tolong tunggu diluar ya.." suruh salah satu suster yang langsung dituruti oleh Alvin.
Diluar IGD, Alvin tidak bisa duduk dengan tenang. Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sesekali dia mengambil napas dalam. Bukan hanya Rili yang merasa gagal menjaga calon buah hatinya. Tapi juga Alvin. Bahkan Alvin merasa gagal menjaga keduanya.
Semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita...
💞💞💞
.
__ADS_1
.
Ada bahagia pasti juga ada kesedihan... 😢