Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Airin Elvara


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Banyak cerita indah dan sedih yang mereka rangkai bersama. Kini sembilan bulan sudah usia kandungan Rili. Tinggal selangkah lagi untuk mencapai kebahagiaan itu, meski jalannya tidak mudah. Butuh banyak perjuangan hingga sampai di momen ini.


Pagi itu, Rili mulai merasakan kontraksi. Gelombang cinta itu berulang kali datang dan pergi. Sejak pagi juga Ayla begitu rewel. Dia tidak mau pisah dari bundanya. Dia sampai harus ikut ke rumah sakit dan menemani Rili menunggu pembukaan sempurna.


"Nda, Nda." Ayla terus mengulurkan tangannya ingin ikut dengan Rili.


"Sayang, ikut Ayah saja ya. Bunda lagi sakit." Alvin menggendong Ayla berusaha menenangkannya.


"Ikut Oma aja yuk."


Ayla justru buang muka dan semakin ingin ikut bundanya.


"Jalan-jalan sama opa saja yuk. Naik odong-odong ya."


Ayla tak juga mau ikut.


"Undaa..." Ayla yang kini berusia satu tahun itu semakin menangis.


"Sini sayang." Rili yang sedang menahan sakit, kini satu tangannya memeluk Ayla yang berdiri di sampingnya. "Ayla jangan rewel ya. Biasanya kan pintar. Ayla sebentar lagi mau bertemu adik." Alvin ikut duduk di samping Rili dan mengusap punggung Rili. Berusaha memberinya kekuatan.


Beberapa saat kemudian, Rili semakin berdesis menahan rasa sakit. "Mas..."


"Ayla, ikut oma saja ya. Ada nenek juga. Ayo." Lisa meraih Ayla dan digendongnya dengan paksa hingga dia menangis histeris lagi.


"Mas, sakit..." Rili menggenggam tangan Alvin dengan erat.


"Iya sayang." Otak Alvin seolah buntu. Dia benar-benar tidak tahu harus mendahulukan Rili atau Ayla.


"Vin, kamu fokus temani Rili saja biar Ayla sama Mama," kata Bu Gita yang kini ikut menenangkan Ayla.

__ADS_1


"Mas..." Rili semakin memegang erat tangan Alvin. Dia kini merebahkan dirinya dan akan diperiksa lagi oleh Dokter.


"Pembukaannya udah sempurna. Kita pindah ke ruang bersalin."


Setelah pindah ke ruang bersalin, sayup-sayup masih terdengar suara tangisan Ayla. Rumah sakit yang menangani Rili memang rumah sakit ibu dan anak jadi anak-anak boleh ikut masuk ke dalam.


Rili sudah siap dengan posisinya, rasa sakit itu semakin menjadi. Tapi pikirannya kini terpecah menjadi dua. Satu sisi dia juga memikirkan Ayla.


"Mas, bawa Ayla ke sini," pinta Rili karena dia tidak bisa fokus jika tidak melihat Ayla terdiam dalam pelukannya.


Alvin terdiam beberapa saat kemudian dia meminta persetujuan Dokter Ani dan diperbolehkan. Dengan langkah cepat Alvin keluar lalu beberapa saat kemudian Alvin kembali dengan menggendong Ayla.


"Kakak Ayla gak sabar lihat adek ya. Kasihan hidungnya sampai merah."


Ayla masih terisak lalu dia bersandar di sisi kiri Rili dengan tangan Rili yang merengkuhnya. "Jangan nangis sayang. Kasih semangat bunda ya."


Ayla langsung terdiam, hanya isak tangis yang terkadang masih terdengar.


"Kamu hebat, kamu kuat, istri terbaik buat aku. Ibu terbaik buat anak-anak. Aku akan selalu membahagiakanmu. You're the only one on my life."


Rili mengerahkan seluruh tenaganya, dia mengejan beberapa kali sesuai arahan Dokter Ani, dan beberapa saat kemudian suara tangis bayi itu pecah memenuhi seluruh ruangan.


Bayi merah yang mungil dan menggemaskan itu kini tengkurap di dada kanan Rili tepat di sebelah Ayla.


"Ayla, nih adik kamu. Kamu jaga dan sayangi ya.." Ayla menatap manusia baru yang ada di dekatnya. Tangannya tergerak dan sedikit menyentuh pipi merah itu. "Pelan ya sayang pegangnya." Rili seolah telah melupakan sakitnya karena sekarang dalam dekapannya ada dua malaikat kecil dan cantik.


"Ayah sekarang punya dua gadis cantik. Kayak kembar ya sayang. Mirip banget kayak Ayla dulu."


Rili tersenyum. "Airin Elvara. Gadis cantik Ayah semua ini."

__ADS_1


"Iya, semua mirip Ayahnya. Tapi tetap predikat tertampan dipegang Ayahnya." Kelakar Dokter Ani.


"Pak Alvin dan Ayla sebentar ya tunggu diluar, bunda sama dedek mau bersih-bersih dulu biar cantik."


Alvin meraih tubuh Ayla yang telah mengantuk dan membawanya keluar dari ruangan.


"Ayla ngantuk? Minum susu dulu ya." Alvin duduk lalu merebahkan Ayla dipangkuannya dan memberinya susu yang sedari tadi dibawa Mami Lisa.


"Ayla habis nemenin bunda berjuang. Sekarang langsung diam dan tidur," kata Mami Lisa yang tersenyum melihat wajah pulas Ayla.


Alvin hanya tersenyum sambil mengusap rambut lebat Ayla.


"Cewek lagi ya, dan mirip kamu lagi?" tanya Bu Gita.


"Iya."


"Pantas dikasih awalan A semua," kata Papi Rizal.


"Alvin kalau kamu capek biar Mama yang pangku Ayla."


"Gak papa Ma. Kalau dipindah takutnya nanti terbangun." Alvin terus tersenyum kecil memandangi wajah damai Ayla yang sedang terlelap. Seluruh beban di hatinya seolah menghilang. Dia sangat bersyukur akhirnya putri keduanya lahir dengan sehat. Begitu juga dengan Rili.


"Bentar lagi mau buat lagi sampai dapat cowok?" canda Pak Iwan.


"Nggak Pa. Cukup dua saja. Biar aku yang paling ganteng di rumah."


Mereka semua tertawa.


"Katanya mau tinggal di rumah Mami seterusnya. Tuh saingan sama Papi Rizal gantengnya." Kata Mami Lisa.

__ADS_1


"Iya Mi, kita sudah memutuskan untuk menemani Mami dan Papi. Dan tetap deh, Papi Rizal nomor satu ketampanannya."


Mereka semua kembali tertawa. Semoga setelah ini, mereka akan selalu bahagia...


__ADS_2