Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Suami Posesif 2


__ADS_3

Mendadak firasat Alvin tidak enak saat melihat mertuanya itu berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan kelam versi malaikat pencabut nyawa dan berselimut asap hitam.


"Sayang, Papi kenapa ke sini? Apa Papi marah gara-gara Mami nyanyi sama Rey?" bisik Alvin di telinga Rili.


"Mas gak tahu kalau Om Rey itu mantannya Mami."


Alvin menepuk jidatnya sendiri. "Mampus!! Kenapa kamu gak bilang? Pasti aku mau di sidang ini."


"Kan aku gak tahu kalau Mas Alvin undang Om Rey."


Alvin hanya bisa menelan salivanya saat mertuanya sudah sangat dekat. Dia sudah paham dengan perangai mertuanya itu. Meski terlihat kalem tapi ketika marah sangat menyeramkan.


"Alvin kenapa kamu gak bilang kalau mengundang Rey ke acara ini?" Suara berat itu membuat Alvin kehilangan setengah tenaganya.


Alvin berdiri. Dadanya berdegup tak karuan. Apa yang harus dia katakan? "Maaf Pi, aku gak tahu kalau Om Rey itu pernah dekat sama Mami."


Rizal berdengus kesal. "Kamu usir dia sekarang!!"


Lagi-lagi Alvin hanya bisa menelan salivanya. Mengusir Rey yang seorang youtuber ternama itu, tugasnya terasa sangat berat.


"Tapi..."


"Kenapa? Gak bisa! Kalau kamu gak mau usir sekarang juga, biar Papi yang atasi."


"Iya Pi. Tenang dulu." Alvin menahan langkah mertuanya itu. Baru saja dia menjabat menjadi menantu Rizal Aditya sudah membuat masalah tanpa di sengaja.


Akhirnya Alvin turun dari pelaminan dan menghampiri Rey yang akan menyudahi lagu pertamanya.


Papi Rizal melipat tangannya sambil melihat apa yang akan dilakukan menantunya itu.


"Papi, udahlah jangan marah-marah. Kasian kan Mas Alvin. Dia gak tahu apa-apa." Rili mulai memanyunkan bibirnya. Papinya ini memang terlalu posesif dengan Maminya.


"Rili, kamu lebih belain Alvin daripada Papi?!"


"Kan Mas Alvin suami Rili sekarang. Lagian Mas Alvin gak tahu apa-apa soal Om Rey."


Memang benar apa yang dikatakan putrinya itu. Rizal menghela napas panjang lagi, lalu turun dari pelaminan dan berjalan menuju kursinya.


Rili mengikuti langkah Papinya. "Papi, jangan marah gini. Ini kan hari bahagia aku."


Seketika Papi Rizal menghentikan langkahnya dan merengkuh pundak Rili. "Iya, iya. Maafin Papi ya..."

__ADS_1


Setelah satu lagu itu selesai, Alvin mendekati Rey. "Om Rey..."


Melihat Alvin, Mami Lisa segera pergi dari tempat itu. Dia bisa menebak apa yang telah dilakukan suaminya.


"Makasih Lisa..." ucap Rey seiring langkah kaki Lisa menjauh.


Alvin sedikit mendekatkan kepalanya di telinga Rey agar orang lain tidak mendengar suaranya.


"Om Rey, maaf banget. Sepertinya Om Rey harus pulang lebih dulu." Alvin sampai menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maafnya.


Rey tersenyum sambil menepuk bahu Alvin. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. "Sabar ya menghadapi mertua yang posesif. Maaf juga barusan aku udah lancang ajak mertua kamu duet jadi timbul permasalahan gini. Ya sudah aku balik dulu, semoga kamu makin sukses dan selalu berbahagia bersama istri kamu."


"Terima kasih Om Rey. Sekali lagi aku mohon maaf."


"Gak papa." Rey memelankan suaranya dan berbisik di telinga Alvin. "Makasih udah nemuin aku sama cinta pertama aku." Satu tepukan lagi mendarat di bahu Alvin.


Alvin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia duduk dengan lemas di samping Aksa.


"Bos jadi nyanyi lagu apa?"


"Udah gak nafsu."


Sebenarnya Aksa sedang menahan tawanya tapi jika dia tertawa saat ini sudah dipastikan dia akan mendapat satu pukulan dari bosnya itu.


"Iyalah, kenapa dia gak bilang kalau undang Rey. Lagian Mami ngapain sih mau gitu aja diajak duet."


"Papi ini posesif banget. Sadar Pi, udah tua. Malu kalau cemburunya masih kayak anak SMA. Lagian Mami juga cuma nyanyi aja."


Mereka terdiam beberapa saat apalagi saat Rey mendatangi Rizal. Keadaan canggung seketika.


"Maaf, aku gak bermaksud merusak acara. Aku balik dulu ya."


Rizal berdiri dan menjabat tangan Rey sesaat. "Iya, sorry. Makasih udah datang."


"Oke. See you." Rey melambaikan tangannya pada keluarga Rizal dan juga tamu undangan lainnya.


Rizal kembali duduk sambil menatap istrinya.


"Apa sih, Pi? Lihatnya kayak gitu banget. Minta maaf sama Alvin sana. Udah resepsi ditanggung Alvin sepenuhnya, kompor Papi malah meleduk. Alvin kan gak tahu apa-apa soal masa lalu Rey." Mami Lisa seketika menjadi mode aktif berbicara.


Alvin kini mendekat dan duduk di sebelah Rili. Dia hanya terdiam. Sebenarnya dia sudah tidak mood melanjutkan acara itu. Rasanya dia ingin cepat-cepat membawa Rili pulang saja.

__ADS_1


"Ehem!!" Mami Lisa berdehem agar suami posesifnya itu mau minta maaf.


"Iya, iya... Alvin, Papi minta maaf sudah marah sama kamu. Ini bukan salah kamu tapi salah Mami."


Satu cubitan mendarat di perut Papi Rizal. "Kok jadi Mami yang salah."


"Kan Mami yang terpesona sama Rey."


"Papi, wanita lain juga banyak yang terpesona sama Rey."


"Tapi wanita lain gak punya kenangan sama Rey. Lagian yang istri Papi itu Mami kok ngapain bahas wanita lain."


"Terserah Papi." Mami Lisa melipat


"Gak ada niat minta maaf. Malah Papi yang dicerewetin."


Alvin menyenggol lengan Rili, karena jujur saja dia merasa tidak enak telah membuat mertuanya bertengkar. "Mami sama Papi, jangan bertengkar. Aku minta maaf soal ini."


"Mas, udah biasa Mami sama Papi bertengkar kayak gitu. Nanti setelah masuk kamar juga damai lagi."


Seketika Papi dan Maminya menatap putrinya itu. Apa tindakan mereka selama ini diamati oleh putrinya. Ya jelaslah.


"Rili ngomong apa? Kayak udah ngerti aja." Papi Rizal menghela napas panjang. "Nanti malam ada hukuman buat Mami." Bisik Papi Rizal di telinga istrinya.


"Hmm, baru juga diomongin sama anak. Langsung tanggap," balas Mami Lisa dengan bisikan di telinga suaminya.


Rili dan Alvin tersenyum kecil. Sudah main bisik-bisik pasti sebentar lagi sudah membaik.


"Loh, pengantinnya malah ngobrol di sini." Pak Iwan mendekat. "Vin, dicariin sama keluarga dari Donomulyo."


"Iya." Alvin berdiri lalu mengajak Rili untuk menghampiri keluarganya.


"Pak Rizal maaf atas insiden barusan," ucap Pak Iwan yang sedari tadi sibuk bersalaman dengan tamu dan baru bisa mengobrol dengan besannya.


"Tidak apa-apa Pak. Ini bukan salah Alvin."


Pak Iwan kini duduk bersama mereka. "Pak Rizal, setelah acara langsung ikut ke rumah Alvin mengantar mereka?"


"Iya, pasti. Saya sudah menyuruh orang untuk mengantar hadiah pernikahan dari kita."


"Semoga anak-anak kita selalu bahagia ya Pak."

__ADS_1


"Iya, Amin. Saya sebagai orang tua bersyukur, Rili dapat seseorang seperti Alvin yang terus berusaha membahagiakan putri saya. Saya baru tahu kalau Alvin juga sudah punya rumah sendiri." Pak Rizal kini menatap putrinya yang sedang berbahagia dari kejauhan.


"Iya, dia memang sengaja buat kejutan untuk Rili..."


__ADS_2