
"Rili..." Siang itu Nana datang dan langsung memeluk sahabatnya. "Gue ikut sedih dapat kabar ini. Lo yang kuat ya. Moga cepat pulih deh, biar cepat gas buat lagi."
Alvin yang baru saja selesai menyuapi makan siang Rili, kini harus terusir karena kedatangan sahabat Rili.
"Ih, ngegas apaan."
Nana tertawa lalu melepas pelukannya. "Lo udah gak sedih kan? Lo biasanya kalau sedih nangisnya ke gue nih."
"Kan sekarang udah ada suami." Rili mengerlingkan matanya pada Alvin yang sekarang berdiri di dekat Adit.
"Itu benar suami lo? Kok makin hari kayak makin kalem aja. Biasanya usil dan omongannya gak bisa dijaga gitu."
"Ini nih, bisa-bisanya ngomongin orang langsung di depannya."
Rili semakin tertawa. Karena dia tahu sendiri, Alvin saat bersamanya jelas sangat lembut dan penuh kasih sayang. Apalagi sejak menikah, Alvin benar-benar sangat memanjakannya.
"Udah gak butuh masakan aku lagi nih sekarang?" tanya Adit tanpa sadar.
Seketika wajah Rili berubah menjadi sendu.
"Dit, udah jangan ngingetin."
"Eh, iya, sorry-sorry. Mulut ini keceplosan. Soalnya tadi pagi aku ke rumah kamu. Tapi malah dapat kabar ini." Adit menepuk bahu Alvin. "Sabar." Lalu Adit membisikkan sesuatu pada Alvin. "Nanti langsung buat lagi, pasti langsung jadi lagi."
Alvin menjotos lengan Adit, "Beberapa hari ini kamu urus kafe ya." Alvin mengajak Adit mengobrol sambil duduk di sofa, dimana ada Mami Lisa dan Mama Gita di sana juga. "Aku mau fokus pemulihan Rili dulu. Besok ada acara ulang tahunnya....."
"Na, udah jadian sama Adit?" tanya Rili dengan suara pelan setelah melirik suaminya dan Adit yang sedang serius membahas pekerjaan.
Nana menggeleng kecil. "Belum resmi."
"Cepat diresmiin gih."
"Ih, gue baru coba jalani."
"Mikir apa lagi sih? Lo kan udah nyaman sama Mas Adit."
"Iya sih." Nana tersenyum kecil. "Ternyata diperhatiin seseorang tuh enak banget ya."
"Iya dong. Hidup lo pasti lebih bahagia."
__ADS_1
...***...
Sore itu, Rasya dan Dira sedang berada dalam perjalanan menuju kota dingin untuk berbulan madu di villa yang dia beli beberapa bulan lalu. Dia memang sengaja tidak berbulan madu ke tempat yang jauh, karena menurutnya dimana pun tempatnya asal bersama orang yang tersayang pasti sangat berkesan.
Sesuai titah dari papinya, meski perjalanan hanya memakan dua jam tapi ada sopir yang mengemudi kendaraan mereka. Di kursi belakang, Dira justru sedang bermanja pada Rasya.
Rasya terus merengkuh tubuh itu dengan kepala yang bersandar di bahunya.
Dira memainkan jemari Rasya tak jelas. Apakah malam ini dia akan menjadi milik Rasya seutuhnya? Setelah semalam unboxing nya gagal karena harus ke rumah sakit.
Terasa bibir Rasya mengecup dalam puncak kepalanya yang membuat Dira mendongak. Mereka saling bertatapan dan tersenyum.
Rasanya sudah tidak sabar sampai di villa mereka yang berada di puncak.
"Ini villa milik Kak Rasya sendiri?" tanya Dira setelah keluar dari mobil dan menatap villa yang bertingkat. Udara dingin khas pegunungan menyambut mereka berdua.
"Iya," Rasya merengkuh tubuh Dira. "Sebenarnya waktu Rili nikah mau aku suruh honeymoon di sini tapi ternyata mereka lebih milih di rumah baru mereka." Rasya mengajak Dira masuk ke dalam villa. "Masuk yuk."
Di belakang mereka ada Pak Cipto yang membawa tas mereka.
Dira terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Villa yang cukup luas. Lalu mereka menaiki anak tangga dan saat berada di kamar atas yang luas, Dira dibuat takjub dengan pemandangan indah lewat jendela. Telihat pohon-pohon pinus yang menjulang tingga dan berkabut.
"Sejuk banget di sini."
Dada Dira sudah berdegup tak karuan merasakan tubuh Rasya yang menempel di punggungnya. Ditambah hangat napas Rasya yang menyapu lehernya sudah membuat dirinya meremang.
"Sayang, kamu capek gak?"
Dira menggelengkan kepalanya. Pertanyaan Rasya merupakan kode keras akan melakukan suatu hal.
Rasya membalikkan tubuh Dira dan menatapnya. Hanya dari pandangan mata mereka seolah mencurahkan semua cinta yang kini mereka rasakan.
Beberapa detik kemudian, wajah mereka kian mendekat. Rasya melabuhkan bibirnya di bibir merah milik Dira. Terasa sangat lembut, basah dan hangat. Dia memagutnya perlahan, mulai mencari celah untuk saling bertemu indra pengecap mereka.
Berawal dari kelembutan yang kian meliar. Bahkan suara decapan terdengar memenuhi ruangan dan telah mampu mengusir hawa dingin.
Tangan Rasya mulai melepas jaket Dira, lalu tangannya beralih pada kancing kemeja itu dan satu per satu melepasnya.
Dira melepas ciuman Rasya karena dadanya terasa sesak akibat stok oksigen yang telah menipis. Pandangannya kini tertunduk menatap tangan Rasya yang perlahan sudah singgah di kancing ketiga dari atas.
__ADS_1
"Sudah siap?" bisik Rasya di telinga Dira yang langsung dijawab anggukan oleh Dira.
Rasya sedikit mendorong tubuh Dira hingga bersandar di tembok. Tidak lagi dengan gerak perlahan, dia kini dengan cepat membuka seluruh kain yang menempel di tubuh Dira.
Awalnya Dira malu hingga dia menutup sisi sensitifnya dengan tangan.
"Malu?"
Rasya tersenyum lalu membuka tangan Dira dan merentangkan ke samping.
Wajah Dira sudah bersemu merah. Apalagi Rasya menatapnya tanpa berkedip.
"Sexy," gumam Rasya.
Pipi Dira semakin memerah. Dia hanya bisa melihat saat Rasya membuka jaket dan kaosnya.
Badan yang sangat bagus dan menggoda, dengan dada bidang, perut nyaris sixpack dan otot bisep di lengannya. Siapapun wanita yang melihatnya pasti akan tergoda.
Rasya semakin mendekat, dia menghimpit tubuh itu hingga dada yang tanpa terhalang apapun itu saling bersentuhan. Terasa sangat hangat dan semakin membuat gelora asmara kian membuncah. Dia kembali melabuhkan bibirnya di bibir Dira. Memagutnya dalam, dengan tangan yang kini mulai menyusuri kulit halus Dira. Perlahan dari atas lalu berhenti tepat di dada yang bulat, padat dan sangat menggoda itu. Me re mas nya lembut yang membuat lenguhan dari bibir Dira terdengar.
Rasya melepas bibirnya karena ingin mendengar suara indah itu. Kini tidak hanya satu tangan yang singgah tapi juga kedua tangannya. Memijatnya pelan dengan sesekali memilin puncak yang telah mengeras itu.
"Geli..." ucapnya disela napasnya yang semakin tersenggal.
Rasya hanya tersenyum miring. Satu tangannya kini turun dan mengangkat sebelah kaki Dira ke atas pahanya yang sedikit dia tekuk. Hingga kini dia bisa dengan leluasa menjamah sesuatu yang sudah sedikit basah.
"Kak,, hhh.." tubuh Dira bergeliat merasakan rasa yang asing ditubuhnya. Gerakan lembut dari Rasya membuat sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik. Rasa yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Hanya bisa melenguh dan memejamkan mata.
"Aku masih newbie, kita sama-sama belajar ya..." Bisik Rasya di dekat telinga Dira.
.
.
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Si Rasya mulai beraksi.. Yang gak suka maafkan.. 😁
Aku sendiri bingung buat versi Rasya nih. Mau aku skip adegan tapi aku penasaran sama tingkah cowok cool.. 😆