Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
Jodoh Siapa?


__ADS_3

Zaki segera memutar langkahnya. Dia berlari menuju tempat pemeriksaan Papanya di poli penyakit dalam.


Dia berhenti di depan ruang pemeriksaan saat ada Mamanya sedang terduduk lesu.


"Ma, sakit jantung Papa kambuh lagi?" Zaki kini duduk di sebelah mamanya.


Bu Ida menganggukkan kepalanya. "Padahal sudah pemasangan ring, tapi semakin sakit. Mama takut ada penyumbatan lagi."


Zaki merengkuh pundak mamanya yang bergetar karena tangisnya. "Kita berdo'a Ma. Semoga Papa segera sembuh."


"Kamu kenapa ada di rumah sakit?"


"Tadi Zaki gak sengaja menabrak seseorang, Ma."


Seketika Bu Ida terkejut mendengar cerita Zaki. "Terus?"


"Kakinya hanya keseleo. Dia sudah pulang ke rumah dengan orang tuanya."


"Syukurlah."


Beberapa saat kemudian Dokter yang memeriksa kondisi Pak Heru keluar.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Bu Ida sambil berdiri dan mendekati Dokter itu.


"Seperti dugaan kami sebelumnya benar. Ada penyumbatan lagi di area sekitar pemasangan ring. Nanti kita jadwalkan operasi pemasangan ring lagi."


Perasaan ibu dan anak ini seketika bagai dihantam badai. Mereka tak menjawab apa-apa lagi saat Dokter menjelaskan. Bahkan sampai mereka masuk ke dalam kamar rawat Pak Heru mereka hanya terdiam dengan mata yang nanar.


"Pa, masih sakit?" tanya Zaki sambil memegang tangan papanya.


Pak Heru menggeleng pelan. "Sudah membaik. Nak, maafin Papa ya, sudah mengenalkan kamu sama Citra."


Citra? Apa jantung Papa kambuh karena Citra?


"Tidak Pa. Papa jangan mikir apa-apa dulu."


Pak Heru semakin menggenggam tangan putranya. "Papa cuma ingin melihat kebahagiaan kamu sebelum Papa meninggal. Papa ingin melihat pernikahan kamu, makanya Papa kenalkan kamu sama Citra tapi ternyata Citra bukan gadis yang baik buat kamu."


Air mata Bu Ida tak hentinya mengalir. Dia sampai tidak bisa lagi berkata apa-apa.

__ADS_1


"Pa, jangan bilang seperti itu. Zaki yakin, Papa masih ada bersama kita saat Zaki menikah nanti. Papa sekarang fokus sama kesembuhan Papa ya..."


Zaki berusaha tersenyum hambar. Meski dia tidak tahu dengan siapa dia berjodoh. Untuk saat ini, dia hanya fokus pada pengembangan bisnis papanya yang dia teruskan.


...***...


"Mas kok gak cerita sih kalau Dea kecelakaan." Setelah makan malam, Rili kini bersandar di dada Alvin sambil menonton drama korea di televisi yang berada di ruang tengah. Tangan kanannya menatap benda pipih yang dia pegang.


"Gak papa. Cuma keseleo aja. Besok juga pasti sembuh. Kamu tahu darimana?" Alvin melingkarkan tangannya di perut Rili dan memeluknya dengan erat.


"Itu di statusnya Dea. Aneh sih, kok emotnya bahagia gitu." Rili menunjukkan status Dea pada Alvin.


Alvin menempelkan dagunya di pundak Rili. "Gimana gak bahagia, yang nabrak Zaki. Pakai di gendong-gendong segala. Zaki itu tipe Dea banget. Padahal Dea itu cerewet, manja, centil, usil juga tapi malah suka cowok yang cool, kalem, dan pekerja keras. Mungkin karena poin plusnya itu."


Rili tertawa mendengar penilaian Alvin tentang adiknya. "Sama kan kayak kakaknya. Cerewet dan jahil juga."


"Gak papa, gini-gini suami kamu." Tangan Alvin perlahan menyusup di balik piyama Rili. Dia mencari kehangatan di dalam sana.


"Tuh kan tangannya mulai diam-diam merayap. Nakal banget."


Alvin tertawa dengan tangan yang sudah menangkup kedua benda tanpa penopang itu. "Ini udah siap sedia kok tanpa penutup."


"Bener banget. Udah jamnya olahraga."


"Ih, aku masih mau lihat drakor dulu." Rili memutar badannya hingga lurus menatap televisi.


"Ya, gak papa aku temani." Alvin mengikuti arah tubuh Rili. Bahkan Rili kini tengah duduk di pangkuan Alvin.


Jemari Alvin dengan lihai memainkan puncak yang telah menegang itu. Lenguhan kecil mulai terdengar bahkan Rili semakin membusungkan dadanya.


"Mas, gimana aku mau konsen nonton kalau gini."


"Ya, kita buat drama sendiri aja." satu tangan Alvin kini turun kebawah. Melewati dua karet dan bertengger di pangkal pa ha Rili. Mulai memainkannya dengan jari. Awalnya hanya satu jari bermain pelan dengan gerak memutar, keluar masuk yang semakin lama semakin terasa basah dan licin.


"Mas..." Rili sudah tidak bisa menahan suara nikmatnya. Secara otomatis dia semakin membuka kedua kakinya dengan lebar.


Alvin menambah satu jarinya yang semakin membuat suara Rili bertambah keras. Jari jempolnya tak tinggal diam. Dia gesekkan di kacang kecil yang juga mengeras itu.


"Mas.. Geli..." Napas Rili semakin berat. Begitu juga dengan Alvin, mendengar suara nikmat dari Rili yang kian mengeras saja sudah begitu ingin dia sahuti. "Mas..." Rili semakin menggelinjang. Tubuhnya bergetar sesaat.

__ADS_1


"Paling senang buat kamu basah."


Rili masih mengatur napasnya. "Nakal banget sih."


"Baru pakai tangan aja udah lemes."


Seketika Rili membalikkan badannya. "Kata siapa udah lemes." Rili memagut bibir Alvin yang akan kembali berbicara. Me lu mat nya dengan liar sampai suara decapan mengalahkan drama yang ada di televisi. Bahkan tangan Rili kini mulai melepas satu per satu kancing piyama Alvin. Hingga terlihatlah dada bidang dan perut sixpacknya.


Bibir Rili semakin turun ke bawah. Singgah di leher Alvin, mulai menjejaki dan menghisapnya.


"Sayang, jangan buat tanda merah lagi. Anak kafe otaknya pada travelling." Meski sebenarnya suka tapi dia malu jika dilihat anak buahnya apalagi anak buahnya semua memiliki kelebihan mengolah sesuatu yang bersifat negatif.


Rili seolah tak mendengar perkataan Alvin. Dia tetap menghisap leher dekat tulang selangka itu.


"Aww, sayang." Alvin semakin men de sah. Tindakan Rili benar-benar membuatnya mabuk kepayang dan tersengat di sekujur tubuhnya.


Rili kini mendongak menatap wajah Alvin yang telah memerah. "Nakal, tapi aku suka banget."


Rili hanya tersenyum miring. "Jangan meremehkan aku ya."


"Oke, mau kamu apain aja aku pasrah."


Rili kembali melabuhkan bibirnya. Menyusuri dada bidang Alvin dengan sesekali dia hisap. Semakin lama semakin ke bawah yang membuat Alvin semakin mendesis.


Tangan Rili kini singgah di karet celana Alvin. Dia tarik ke bawah hingga terlihatlah sesuatu yang telah menegang dan mengeras. Dengan berani Rili mengusapnya hingga suara Alvin semakin keras.


Bibir Rili semakin turun ke bawah. Dia berhenti tepat di pusar Alvin. Pandangannya kini mengamati dengan detail benda tumpul itu. Sudah beberapa hari menikah tapi baru kali ini dia melihatnya dengan jelas karena sebelumnya benda itu selalu dengan tergesa menerobos intinya.


Alvin semakin tercekat saat melihat kepala Rili semakin ke bawah. Bulu kuduknya sudah merinding membayangkan jika bibir sexy itu singgah di sana.


Seolah bergerak melambat saat wajah Rili semakin dekat.....


💞💞💞


.


.


Udahlah, siang-siang authornya kena sawan gara-gara mereka berdua.. Duh.. 🤦🏻‍♀️

__ADS_1


.


__ADS_2