
Dira mulai membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah Rasya. Seketika dia bangun dari pangkuan Rasya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia seolah akan pingsan untuk yang kedua kalinya.
"Maaf, Pak." Seketika Dira menundukkan pandangannya.
"Kamu minum dulu." Rasya berdiri dan mengambil air mineral yang berada dalam botol, lalu membuka penutup sealnya dan diberikan pada Dira.
"Terima kasih."
Beberapa saat kemudian Dokter datang ke ruangan Rasya.
"Pak, saya tidak apa-apa. Tidak perlu periksa Dokter."
"Tidak apa-apa. aku takut saturasi kamu menurun."
Dokter itu mulai mengecek kondisi Dira, mulai dari tensi darah sampai saturasi oksigen.
"Masih sesak napas?"
Dira menggelengkan kepalanya.
"Tensinya cukup rendah. Mungkin karena rasa takut. Cukup dibuat istirahat dan minum air putih yang banyak."
Dira mengangguk.
Kemudian Dokter itu pun keluar dari ruangan Rasya.
"Terima kasih, Dok." ucap Rasya saat Dokter itu akan berlalu.
Rasya kini berjalan mendekati Dira. "Kamu pulang saja, tidak apa-apa. Istirahat di rumah."
"Saya sudah tidak apa-apa, Pak."
"Ya sudah, kamu duduk dulu disitu atau kalau mau tiduran bisa di dekat musholla kantor," kata Rasya sambil duduk di kursi kerjanya. Dia mulai membuka laptopnya sambil sesekali melirik Dira yang masih terduduk sambil meminum air putihnya.
Keadaan kembali mendingin, diam tanpa suara. Hanya detak jam dinding dan suara keyboard dari jemari Rasya yang terdengar.
"Saya ke ruangan dulu. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Beberapa anggaran keuangan dari proyek china's resto belum saya print."
"Tidak apa-apa. Nanti biar dikerjakan Doni," kata Rasya sambil menatap Dira.
Dira semakin salah tingkah. Tatapan maut Rasya benar-benar mematikan kerja otaknya untuk bergerak.
Sebuah ketuk pintu membuyarkan pandangan Rasya.
"Iya masuk!!"
Nana berlenggang masuk ke dalam ruangan Rasya. Dia memang sengaja ingin mengganggu Dira dan Rasya dalam ruangan itu dengan alibi membawa laporan keuangan kantor.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Pak." Akhirnya Dira keluar dari ruangan Rasya.
Nana hanya tersenyum penuh arti sambil memberikan berkas pada bosnya itu.
Seperti biasa ketika Rasya sedang mengecek hasil laporan keuangannya, Nana selalu duduk di depan Rasya dan memandang paras tampannya.
"Pak Rasya tadi kejebak di dalam lift gak papa kan?" Tanya Nana yang sedari tadi memang ingin menanyakan keadaan Rasya ketimbang Dira yang sudah jelas pingsan.
"Gak papa." jawab Rasya datar. Saat memberikan berkas itu kembali pada Nana, dia teringat janjinya dengan Fandi malam ini. "Nanti malam kamu ada acara?"
Seketika senyum Nana mengembang. Jangan-jangan gara-gara kejebak di lift hati Pak Rasya udah meleleh buat aku.
"Gak ada Pak."
"Kamu nanti malam ikut aku ya, ke kafenya Alvin."
"Gak ada kafe lain gitu, Pak? Biar gak ada pengganggu. Di kafenya Kak Alvin itu banyak setannya, Pak."
Rasya menautkan alisnya sambil menatap Nana. "Ada reoni kecil-kecilan di kafe Alvin. Kalau kamu gak mau, ya udah gak papa."
Nana hanya melongo. Tidak ada sama sekali usaha Rasya untuk membujuk dirinya. "Ehmm, iya Pak. Saya mau."
"Ya sudah, nanti malam aku jemput."
"Oke, Pak." Nana masih saja duduk anteng di tempat itu sambil menatap Rasya. "Akhirnya Rili akan segera menikah ya Pak. Pak Rasya gak mau cepat-cepat melepas lajang juga?"
Rasya mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. "Melepas lajang? Belum kepikiran."
Rasya menghela napas panjang. "Na, kamu tahu gak rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit?"
"Iya, tahu."
"Ya sudah kalau kamu tahu. Aku gak mau kamu merasakan sakit hati seperti aku."
"Ya ampun, Pak Rasya itu curhat toh. Untung Pak Rasya itu tipe orang gampang menyerah dalam hal percintaan. Jadi saya gak akan menyerah juga Pak buat dapatin Pak Rasya."
Lagi, Rasya menghela napas panjang. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia akui, dia memang mudah menyerah soal percintaan tapi dia sangat sulit untuk move on.
"Ya sudah Pak, saya keluar dulu. Nanti saya tunggu di rumah." Setelah itu Nana keluar dari ruangan Rasya.
...***...
"Jadi aku nanti berangkat sama Kak Rasya?" tanya Rili saat menerima panggilan dari Alvin sore itu. "Iya, gak papa sih sekalian... Iya, sama Nana... Mas Adit??" Rili justru tertawa mendengar perkataan calon suaminya itu. "Ya udah, aku siap-siap dulu. Kita lihat saja nanti pasangan yang benar-benar saling mencintai itu yang mana... Kan bukan hanya kita yang jadi pemeran utama." Rili mematikan panggilannya. Dia tersenyum kecil, lalu segera bersiap diri.
Beberapa saat kemudian setelah Rili siap, dia menghampiri Rasya yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menatap layar ponselnya.
"Kak Rasya yang ganteng, jangan melamun di dekat pintu."
__ADS_1
Tatapan Rasya kini beralih pada adiknya. "Kamu udah siap? Yuk, berangkat jemput Nana dulu."
Mereka turun dari lantai dua, setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, mereka segera berangkat.
Dengan kecepatan sedang Rasya melajukan mobilnya menuju rumah Nana.
Rili menunggu mereka di mobil saat Rasya menjemput Nana ke rumahnya.
Dari kejauhan Rili melihat senyum sahabatnya mengembang.
"Kamu duduk di belakang saja sama Rili," kata Rasya si raja tega sama Nana.
"Whats!! Kirain kita berangkat cuma berdua, ternyata ada calon adik ipar yang gak tahu diri," kata Nana yang kini telah duduk di kursi belakang dengan terpaksa.
"Apa lo bilang?? Lo tuh, udah mending kita jemput, daripada lo berangkat sendiri."
Rasya mulai melajukan mobilnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya mendengar dua sahabat yang masih saja beradu argumen di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka telah berhenti di depan kafe Alvin. Mereka bertiga segera turun. Terlihat Alvin sedang mengobrol dengan Fandi dan Dira di depan kafe.
"Mas," Rili langsung mendekati Alvin dan bergelayut manja di lengan Alvin.
"Jadi ini, calon istri kamu yang adiknya Rasya itu."
Rili tersenyum menyapa Fandi dan Dira.
"Ya udah, kita masuk aja ngobrol di dalam." Alvin memimpin mereka masuk ke dalam kafenya.
Fandi menggandeng tangan Dira dengan mesra yang membuat hati seseorang di belakang mereka seolah memanas.
Mereka kini duduk dalam satu meja bundar yang cukup untuk berenam.
"Sya, dia pacar kamu?" Pertanyaan Fandi membuat keempat telinga yang ada di sana bersiap mendengar jawaban dari Rasya.
"Iya, dia pacar aku." Rasya menggenggam tangan Nana yang berada di atas meja demi menyempurnakan aktingnya.
Nana tersenyum merekah. Ya, walaupun ini memang bohong, tapi setidaknya ada setitik harapan untuk berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
Dira menghela napas kecil sambil mengalihkan pandangannya pada music corner.
Sedangkan Rili dan Alvin hanya saling senggol.
Hal lain yang tak terduga justru suara pecahan gelas yang cukup keras yang berada di dekat mereka.
"Mas Adit," pekik salah satu waitress.
"Iya, maaf aku gak sengaja nyenggol." Adit membantu waitress itu membersihkan serpihan gelas.
__ADS_1
"Dit," panggilan dari Alvin, membuat Adit mendongak. "Udah biarin dibersihkan Revi gak papa."
Adit kini mendekati meja mereka. Pandangannya bersirobok sesaat pada pasangan yang baru saja mengaku berpacaran itu.