
Beberapa bulan telah berlalu, kini Rili dan Alvin hanya tinggal menunggu hari saja menanti kelahiran buah hatinya.
Seharian itu Alvin merasa perutnya tidak nyaman seperti sakit perut tapi tidak bisa keluar. Jika tidak bertemu dengan client, dia tidak akan datang ke kafe hari itu. Bahkan sejak pagi dia sudah tidak enak makan, untuk sekedar minum pun tak enak.
"Vin, kamu pucat banget?" Adit masuk ke dalam kantor dan melihat sahabatnya itu sedang bersandar pada meja. "Kamu gak papa kan?"
Keringat telah membasahi kening Alvin. "Dari tadi pagi perut aku mulas terus hilang terus mulas lagi. Dan sekarang tambah parah. Sampai aku minum obat magh tetap aja."
Adit mengerutkan dahinya. Tanda-tanda yang dinyatakan Alvin itu semacam... "Jangan-jangan udah waktunya melahirkan. Selama ini kan kamu yang merasakan ngidam."
Seketika Alvin menegakkan dirinya. Hal itu sama sekali tidak terlintas di pikirannya karena saking sibuknya memikirkan rasa sakit. "Kenapa aku gak kepikiran soal itu."
Alvin segera menghubungi Rili. "Hallo sayang, kamu gak kenapa-napa kan? Ngerasain sesuatu gak?" tanya Alvin dengan panik.
"Pinggang aku sedari tadi pegal banget Mas. Beberapa kali perut aku kencang banget. Ini juga rasanya kencang."
Alvin menelan salivanya sesaat. Ternyata benar apa kata Adit. "Aku pulang sekarang." Dia mematikan panggilannya lalu berdiri.
"Vin, kamu jangan nyetir dengan keadaan kayak gini. Di depan ada Aksa, biar dia yang antar kamu."
Alvin hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengambil tas slempangnya lalu keluar dari kantor.
"Aksa antar aku sekarang ya..." Mulas itu semakin terasa lagi yang membuat Alvin harus menekan perutnya kembali.
"Bos kenapa?" Aksa menahan tubuh bosnya itu yang membungkuk kesakitan.
"Istrinya mau lahiran," jawab Adit.
"Ya udah, ayo bos." Aksa menahan tubuh Alvin dengan tangannya dan mereka berjalan cepat keluar dari kafe.
Setelah masuk ke dalam mobil, Aksa segera tancap gas menuju rumah Alvin.
"Agak cepat ya Sa," Alvin merasa kalau Rili sudah akan pembukaan penuh karena dia sendiri merasakan mulas itu sudah seharian.
"Iya..." Aksa menambah kecepatan laju mobilnya.
"Kamu kapan datang ke Indonesia?" tanya Alvin saat rasa mulasnya mulai mereda lagi.
"Kemarin bos. Terima kasih kiriman videonya."
"Iya, ada undangan show juga dari Nada. Kamu datang dan langsung saja lamar dia." masih sempatnya Alvin memikurkan kisah cinta Aksa.
__ADS_1
"Iya bos."
"Selamat atas kesuksesan kamu."
"Iya bos, terima kasih. Ini semua juga berkat dukungan dari bos."
Obrolan sesaat di jalan menuju rumah Alvin. Setelah sampai di rumah, Alvin langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang."
Rili yang sedang duduk sambil mengelus perutnya itu kini mendongak, menatap Alvin bingung. "Kenapa Mas?"
"Ayo sayang cepetan. Kamu udah waktunya melahirkan." Di sisa tenaganya, Alvin meraih tubuh Rili dan merengkuhnya. "Mbak Lela, tolong ambilkan tas perlengkapan di kamar."
"Mbak Rili mau melahirkan?" Lela juga terkejut. "Iya saya ambilkan." Dengan langkah cepat Lela mengambil tas yang berada di kamar.
"Perut aku dari tadi cuma kencang aja Mas. Gak ngerasain mulas."
"Iya, aku yang mulas. Soalnya udah dari tadi pagi aku ngerasainnya. Baru ngerti sekarang. Aku takut kamu malah lahiran di jalan kalau gak buru-buru ke rumah sakit." Dengan bantuan Aksa mereka masuk ke dalam mobil.
Setelah memasukkan tas perlengkapan, Aksa segera tancap gas menuju rumah sakit.
"Mas, gak papa kan?" tanya Rili yang ikut khawatir melihat wajah pucat Alvin yang meringis kesakitan dengan peluh yang membanjiri pelipisnya. Benar-benar dunia terbalik.
"Jangan pikirkan aku. Kamu konsen sama diri kamu ya." Alvin mengusap perut Rili yang terasa semakin kencang. "Sayang sebentar ya.."
"Mas, perut aku tambah kencang sih. Pinggang aku sakit..." Rili sudah merasakan seperti ada dorongan dari dalam secara alami. Dia cengkeram kuat lengan Alvin.
"Sayang, tahan dulu sebentar lagi sampai. Aksa tambah kecepatannya." Alvin merasakan perut Rili semakin kencang ke bawah.
"Iya, ini sudah maksimal. Satu belokan lagi sampai," jawab Aksa dengan tergesa. Dia juga ikut panik. Ini pengalaman pertamanya mengantar orang mau lahiran.
"Mas, kayak ada dorongan dari dalam. Makin kuat Mas dorongannya. Gak bisa aku tahan." Rili semakin mencengkeram lengan Alvin dengan kuat.
"Iya sebentar lagi sampai."
"Mas, kayaknya ketubannya pecah."
"Hah?" Alvin meraba rok Rili yang basah. "Aksa, cepat!!"
"Iya, ini sudah berhenti di tempat parkir."
__ADS_1
Setelah mobil berhenti, Alvin segera keluar dari mobil dan membuka pintu Rili. Dia raih tubuh itu dengan susah payah karena rasa sakit semakin menderanya.
Aksa ikut menahan tubuh Rili saat Alvin hampir saja terjatuh. "Biar aku saja bos. Maaf ya Mbak Rili." Aksa langsung menggendong Rili dan membawanya berlari masuk ke rumah sakit.
Alvin mengikuti mereka dengan langkah gontai.
"Dokter tolong istri saya mau melahirkan, ketubannya sudah pecah." kata Alvin.
Aksa membaringkan tubuh Rili di brangkar lalu brangkar itu segera di dorong menuju ruang persalinan.
"Langsung menuju ruang persalinan sus. Sepertinya pembukaan sudah sempurna."
Rili menarik napasnya lagi. Dia sudah tidak bisa menahan lagi dorongan dari dalam itu.
"Sebentar, kakinya dibuka dulu. Iya, posisi seperti ini." Dokter segera mengecek jalan lahir. "Ubun-ubunnya sudah terlihat."
Rili semakin menggenggam lengan Alvin yang sangat dingin. "Mas..."
"Iya sayang, tinggal sedikit lagi." Rasa mulas itu semakin menjadi. Dia tahan, dia harus bisa menemani Rili.
"Mas..." Dorongan dari dalam kembali terasa. Rili mengejan dengan sekuat tenaganya mengikuti arahan Dokter.
"Iya bagus bunda.. Kepalanya sudah terlihat. Ayo tarik napas lagi dan dorong."
Rili melakukannya sekali lagi. Dan beberapa detik kemudian tangis bayi memenuhi ruangan bersalin itu dengan proses yang sangat cepat.
Tidak hanya Rili yang merasa lega. Tapi juga Alvin karena rasa sakit itu seketika menghilang. Walau kini tubuhnya terasa sangat lemas dan tenaganya sudah habis.
Mereka berdua tersenyum saat malaikat kecil mereka diletakkan di dada Rili. "Hai, cantik..."
Air mata itu lolos dari mata Alvin. Dia ikut merasakan sendiri bagaimana rasa ngidamnya selama mengandung dan sakitnya saat melahirkan.
"Makasih ya Mas. Mas Alvin mau merasakan semuanya." Air mata Rili juga tak bisa terbendung. Dia sangat bahagia bisa dicintai Alvin sampai sebesar ini. Dia adalah salah satu wanita yang beruntung.
"Sama-sama sayang." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rili. Lalu dia mengusap lembut pipi putrinya yang masih merah dan sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya itu.
"Ayla Elvara...." Ingin Alvin melanjutkan perkataannya tiba-tiba saja pandangannya kabur. Badannya semakin melemas dan akhirnya Alvin terjatuh tak sadarkan diri.
"Mas Alvin!!!" pekik Rili.
"Dokter Ayah bayi pingsan!!"
__ADS_1