
"Ada acara apa ini? Tumben kita semua di undang makan malam gini?" tanya Papi Rizal saat duduk semeja besar dengan keluarga Pak Iwan juga.
"Sepertinya ada kabar baik dari mereka." Pak Iwan tak kalah antusias menanti kabar yang akan disampaikan.
Tak hanya kedua orang tua Alvin dan Rili yang datang, tapi juga ada Rasya, Dea, Dira dan juga Nana yang berada di meja berbeda.
"Mas, Kak Zaki kok gak diundang juga sih?" tanya adik bontot Alvin itu secara terang-terangan dan cukup keras agar Alvin bisa mendengarnya.
"Emang Zaki apanya kamu sampai diundang segala. Masih orang luar." Alvin memang begitu suka menggoda adiknya itu.
"Lihat aja ya nanti, bakal aku masukin jadi orang dalam."
"Idih, emang Zaki mau sama kamu."
"Ih, Mas Alvin."
Mereka semua tertawa mendengar kakak beradik yang selalu bertengkar itu.
"Jadi apa nih beritanya?" tanya Bu Gita yang sudah sangat penasaran. Tapi melihat wajah bahagia Rili dan Alvin, dia sudah bisa menebak.
"Iya, sampai makanannya datang belum juga diumumkan." Hal yang sama dirasakan Mami Lisa. Dia sudah sangat penasaran. Apa memang benar dugaannya tentang Rili karena beberapa hari ini Rili tidak ke toko katanya sakit.
Rili menunjukkan hasil USG pada maminya yang memang duduk di dekatnya. "Calon cucu Mami."
Mami Lisa menatap hasil print out dengan mata berkacanya. "Beneran udah jadi? Selamat sayang." Mami Lisa langsung memeluk putrinya.
Hasil print out itu langsung direbut oleh Bu Gita. "Calon cucu Mama juga ini. Instant banget usianya udah 6 minggu. Hebat ya kalian."
"6 minggu?" Kedua bapak yang menang minim pengetahuan tentang kandungan itu terkejut.
"Alvin, sebelum nikah kamu udah nyicil dulu?" tanya Papi Rizal.
Ditanya seperti itu jelas Alvin menjadi gugup. meski dia memang nakal kalau pacaran tapi tidak pernah sampai sejauh itu berhubungan. "Eh, nggak Pi. Nggak pernah nyicil. Langsung kontan setelah nikah."
"Trus ini?" Pak Iwan juga bertanya perihal yang sama.
"Aduh, Papa ini. Emang dulu waktu nemenin Mama periksa gak dengar kata dokternya." Nu Gita tentu mengerti dengan keadaan itu.
"Nggak tahu Ma."
"Papi ini juga, masak gak ngerti."
"Papi lupa Mi."
Kedua ibu itu berdengus kesal. "Ya udahlah percuma juga dijelasin."
__ADS_1
"Ya udahlah, mau kontan atau nyicil sama-sama calon cucu kita."
Papi Rizal dan Pak Iwan tertawa. Ketika mereka sudah mulai berumur hal-hal seperti itu memang sudah tidak bisa masuk dalam otak mereka.
"Gimana? Morning sickness nya parah?" tanya Mami Lisa.
"Lumayan Mi. Makanya dua hari ini gak ke toko."
"Ya udah, untuk sementara kamu gak usah ke toko dulu. Istirahat di rumah."
"Ada ngidam aneh-aneh? Mumpung lagi hamil minta apa aja sama Alvin pasti dituruti," kata Bu Gita.
Alvin mencibir, "Mintanya sama orang lain. Mau makan aja minta masakannya Adit. Kalau makan masakan aku langsung mual." Alvin meletakkan makanan milik Rili. "Nih, sesuai pesanan kamu, masakannya Adit."
Mereka semua menertawakan Alvin yang justru tidak rela karena Rili mintanya sama orang lain.
"Bawaannya orang hamil itu beda-beda. Dedeknya gak mau ngerepotin ayahnya."
"Iya, tadi aja udah aku beliin mangga malah minta Rasya yang beliin. Padahal sama aja rasanya." Alvin merengkuh tubuh Rili gemas.
"Sip, aku juga harus siap jadi kakak siaga. Mau beli apa lagi besok?" tanya Rasya.
"Tuh, ditanyain sama Pak De. Minta yang mahal sekalian ya, Pak De uangnya banyak." kata Alvin sambil mendekat ke perut Rili.
Mereka semua tertawa melihat tingkah lucu mereka.
Adit yang kini ikut bergabung dengan mereka, duduk di sebelah Nana.
"Ikut seneng ya liat mereka," kata Adit yang sedari tadi melihat Nana tersenyum bahagia.
"Iya, manis banget mereka." Nana kini mulai bisa berdamai dengan hatinya. Dia sudah bisa merelakan Rasya bersama Dira.
"Nanti pulang aku antar ya?" tawar Adit.
"Oke, tapi gak nunggu sampai kafe tutup kan?".
"Nggak. Cuma sampai acara selesai saja."
Begitu juga dengan hubungan Nana dan Adit yang kian membaik. Walau cinta itu belum tumbuh di hati Nana, setidaknya Nana mulai membuka hatinya untuk Adit.
...***...
Beberapa hari telah berlalu, Rili masih saja mengalami morning sickness.
Bahkan hari itu saat akan ikut melamar ke rumah Dira, rasa mualnya semakin menjadi. Mungkin karena dorongan rasa bahagia yang membuat detak jantung lebih bekerja keras sehingga menekan perutnya.
__ADS_1
"Sayang, gak usah ikut acara deh kalau kamu mual kayak gini."
Hari sudah lumayan siang tapi Rili masih saja bergelung dengan selimut karena rasa mualnya. "Aku juga mau jadi saksi kisah cinta Kak Rasya." Perlahan Rili duduk.
"Kamu muntah terus dari tadi pagi. Minum dulu ya."
"Bentar Mas. Mas manisan mangga yang dibeliin Kak Rasya mana?"
Alvin meraih toples yang ada di atas nakas. "Tinggal dikit, nanti aku beliin ya."
Rili meraih toples itu dan memakannya agar rasa mualnya hilang. "Ih, aku maunya Kak Rasya yang beliin."
Alvin menghela napas panjang. "Ya udah nanti Rasya suruh beli satu kardus sekalian."
"Kok Mas Alvin sewot sih."
Alvin sedikit mencubit hidung mancung Rili. "Aku yang buat dedeknya ya harusnya aku yang repot cariin ngidamnya kamu. Ngapain harus Rasya juga yang beliin?!"
Rili justru bersandar di bahu Alvin. "Gak papa Mas. Itu tandanya kita sayang sama Mas Alvin. Jadi Mas Alvin bisa temani aku, gak perlu repot-repot beli."
Alvin tertawa kecil lalu mencium puncak kepala Rili. "Untung Rasya mau kamu repotin, tapi gak papa biar dia latihan. Akhirnya hati sebeku es itu akan segera mencair."
"Iya Mas. Aku ikut seneng." Tiba-tiba saja Rili menegakkan duduknya. "Siap-siap yuk Mas. Kita berangkat ke rumah Mami dulu."
"Kamu makan dulu?"
"Nanti aja di rumah Mami. Aku lagi pengen masakannya Mami." Rili turun dari ranjang dan membuka lemari. Dia memilih baju yang akan dia pakai. "Mas kita pakai warna silver ya. Kembaran." Tak hanya mengambil gaunnya tapi Rili juga menyiapkan kemeja milik suaminya.
Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah, kamu mandi dulu ya."
"Mandi bareng yuk Mas." Rili menarik tangan suaminya agar mengikutinya.
"Sayang nanti jadi tegang. Jangan ya."
"Gak papa Mas."
Akhirnya Alvin mengikuti keinginan Rili. "Ya udah biar aku solo karir aja."
Rili tertawa saat sudah berada dalam kamar mandi. Ketika mereka sudah melepas pakaiannya, Alvin benar-benar melakukannya sendiri. "Ya ampun Mas beneran mau solo karir."
"Iyalah. Kan katanya gak boleh dulu sama dokter."
"Kan katanya gak boleh sering-sering. Kalau dikit aja ya gak papa."
"Sayang..."
__ADS_1