
Masih ingat ceritanya Aksa yang di bab romansa di kafe, waktu dia main piano sama Nada terus Nada pecahin vas. Ini part bagian Rasya. Sebenarnya udah bisa diterawang ya di ceritanya Aksa, akhirnya Rasya sama siapa.. Waktu Alvin bilang sama Aksa kalau kakak iparnya mau melamar sekretarisnya dan kalau bendaharanya itu bagiannya Adit.. 🤠Maaf yang gak suka Rasya, skip-skip next saja.. 🤗
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Cantik banget." Alvin membungkukkan dirinya dengan dagu yang menempel di bahu Rili. Dia tatap pantulan wajah Rili di cermin setelah selesai bermake up.
Rili hanya mengulum senyumnya. Suaminya itu memang sangat manis.
"Berangkat yuk. Aku mau mastiin kesiapan dulu," ajak Alvin sambil menegakkan dirinya.
Rili berdiri dan bergelayut manja di lengan Alvin. Mereka keluar dari kamar dan turun dari tangga.
"Mbak Lela, nanti dikunci saja. Gak usah nunggu kami. Kita bawa kunci sendiri," kata Alvin pada Lela yang sudah bekerja selama satu minggu di rumah Alvin.
"Baik Mas."
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju mobil. Beberapa saat kemudian mobil mereka telah melaju menuju kafe.
"Kak Rasya yang mau melamar, aku yang deg-degan banget."
Alvin tersenyum lalu satu tangannya kini meraih tangan Rili yang berkeringat. "Tenang. Kali ini Rasya pasti berhasil."
"Semoga aja, Mas."
Alvin kembali fokus pada jalanan sore itu yang cukup macet. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kafe. Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe.
"Sayang kamu tunggu di kantor dulu ya," kata Alvin sambil menuntun Rili untuk duduk di sofa kantor.
"Iya Mas."
Satu kecupan singkat mendarat di pipi Rili sebelum Alvin meninggalkannya.
...***...
Malam itu, setelah Rasya menjemput Dira, dia segera melajukan mobilnya menuju kafe Alvin. Dadanya sudah berdebar-debar tidak karuan. Apalagi saat melihat Dira yang sangat terlihat cantik dengan gaun warna peach yang dia pakai malam itu.
Setelah sampai di kafe, mereka segera menuju taman kafe yang untuk sementara diubah menjadi private room untuk mereka.
__ADS_1
"Ada acara apa Pak?" tanya Dira tak mengerti. Dia melihat sekeliling taman itu yang berhiaskan bunga dan ada piano di sana. Sebelumnya Rasya bilang padanya bahwa ada acara makan malam dengan client nya tapi ternyata di tempat itu ada Rili dan Alvin.
"Acara kita," jawab Rasya sambil tersenyum simpul.
"Sebenarnya kita gak perlu ada di sini," bisik Alvin pada Rili yang sudah duduk di meja makan bersama dengan Rasya dan Dira juga.
"Tapi Kak Rasya minta kita nemeni dulu biar gak curiga," bisik Rili juga.
"Biar gak curiga atau Rasya yang gerogi?"
Rili tertawa. Iya, pasti Rasya sedang gerogi setengah mati.
Mereka berdua kini tersenyum saat Rasya dan Dira duduk di depan mereka. Hidangan sudah tersaji dengan cantik di atas meja.
"Ini ada acara apa?" tanya Dira lagi pada Rili dan Alvin.
"Hmm, makan-makan biasa. Iya... Kita memang kadang biasa makan di taman kayak gini," jawab Rili semampunya. Dia menyenggol tangan Alvin karena Alvin sedari tadi celingukan mencari Aksa sebagai pengiring musik tapi belum juga ada di tempat.
"Kita makan dulu." Akhirnya Alvin mengalihkan pandangannya. "Sayang, kamu mau makan apa?"
"Mas gak ada salad buah? Aku pengen yang seger-seger."
"Ih, Mas aku bisa sendiri." Meski demikian Rili tetap mau menerima suapan dari Alvin. "Gantian aku suapin." Mereka kini saling menyuapi.
Dira hanya tersenyum melihat mereka berdua. Mungkin dalam hatinya sedang bertanya. Kapan aku bisa seperti mereka?
Sedangkan Rasya, dia semakin tegang. Baru kali ini dia akan melakukan adegan romantis. Bahkan keringat mulai membasahi pelipisnya. Untuk seseorang yang berhati dingin dan kaku jelas sulit untuk bersikap romantis.
"Minum dulu Bang." Alvin menepuk tangan Rasya saat Aksa sudah duduk di dekat pianonya sebagai kode. Tapi Alvin juga bisa menangkap kegelisahan Rasya.
"Iya, sebentar." Rasya sengaja menunggu sampai Dira selesai makan. Kemudian dia meneguk minumannya hingga habis.
Kedua adiknya ini menahan tawa melihat kegerogian Rasya. Tentu, Rasya berbeda dengan Alvin yang sedari dulu selalu bersikap romantis secara terang-terangan.
Beberapa saat kemudian Rasya berdiri dan Alvin memberi kode pada Aksa agar bersiap memainkan lagunya.
Rasya menarik napas dalam. Dia kini mengambil mic. Saat Aksa mulai memainkan not balok bersama seorang gadis di sebelahnya, Rasya mulai bernyanyi.
__ADS_1
Menatap indahnya senyuman di wajahmu.. Membuatku terdiam dan terpaku...
Pandangan Dira kini tertuju pada Rasya. Jantungnya berdetak tak karuan. Apakah dia menyanyikan lagu ini untuknya? Lagu yang menjadi favoritnya dulu.
Mengerti akan hadirnya cinta terindah saat kau peluk mesra tubuhku...
Rasya berjalan mendekat, dia menggenggam tangan Dira dan mengajaknya berdiri di dekatnya.
Banyak kata... Yang tak mampu ku ungkapkan kepada dirimu...
Rili dan Alvin juga saling bergenggam tangan. Seorang jomblo akut kini akan segera melepas lajangnya. Tak lupa Rili merekam adegan itu agar bisa berbagi kebahagiaan pada kedua orang tuanya.
Aku ingin engkau selalu... Hadir dan temani aku...
Di setiap langkah yang meyakiniku.. Kau tercipta untukku...
Dira terus menatap paras rupawan itu. Ini benar-benar seperti mimpi. Dia tidak mengira Rasya akan mengungkapkan perasaannya lewat lagu romantis seperti ini. Bahkan lagu yang telah menjadi kenangan dirinya dan Rasya bertahun-tahun yang lalu
Meski waktu akan mampu... Memanggil seluruh ragaku..
Kuingin kau tahu, ku slalu milikmu...
Yang mencintaimu.. Sepanjang hidupku...
(Tercipta untukku by Ungu Band)
"Will you marry me??" Rasya berlutut di hadapan Dira sambil membuka sebuah kota bludru berwarna merah yang berisikan sebuah cincin perak yang cantik. Tangannya terulur ke hadapan Dira.
Dira sangat terkejut. Dia hanya mampu menggigit bibir bawahnya sambil menatap Rasya.
"Ayo, terima..." teriak Rili yang menyadarkan keterpakuan Dira.
"Kak Rasya serius??" tanya Dira lagi. Karena semua ini benar-benar seperti mimpi baginya.
"Of course. Aku cinta kamu dan hanya kamu yang aku cintai selamanya."
Dira tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku juga cinta sama Kak Rasya."
__ADS_1
Rasya tersenyum lalu dia memakaikan cincin itu di jari manis Dira. Setelah itu dia berdiri dan menarik Dira dalam pelukannya. Merasakan kebahagiaan yang membuncah. Penantiannya selama ini akhirnya berujung manis. Dia tidak pernah mengira, jalan takdirnya akan bersama Dira.
Kemana pun cinta itu pergi, dia pasti tahu jalan untuk kembali...